Showing posts with label sketch. Show all posts
Showing posts with label sketch. Show all posts

Wednesday, December 23, 2020

Mengurus Perpanjangan SIM

Petugas memanggil peserta perpanjangan SIM untuk mengisi formulir pendaftaran


Pukul 6.30 aku berangkat menuju Blok M Square, Jakarta. Setiba di tempat pukul 7-an, masih lengang. Pedagang kue masih belum bubar, beberapa masih melayani pembeli termasuk melayaniku. Aku beli lemper seharga Rp. 1.500. 

“Sepuluh ribu dapat 7,” sahut si teteh saat kukeluarkan uang Rp 10.000 tanpa bertanya aku akan beli berapa. Lumayan, pikirku, buat sarapan nanti di lt. 3A. 


Usai membeli lemper aku kembali ke basement, sebelumnya aku sudah ke basement lalu terpikir beli sarapan aja dulu. Sepagi itu, pintu mal bahkan belum dibuka, harus naik melalui lift barang di basement. Atau, dari samping jalur basement bisa naik pakai kendaraan yang sekaligus parkir dimana tepat persis di pintu masuk lantai 3A.

Kursi-kursi tertata rapi ketika aku tiba di lantai yang aku tuju, 3A. Gelap. Hanya ada dua orang duduk di




deretan kursi depan antrean, selebihnya ada dua sekuriti di ujung yang sedang mencatat orang yang punya tujuan sama denganku.

“Boleh lihat kartu identitasnya?”

Aku menyodorkan KTP untuk dicatat namaku di urutan nomor 6 antrian pendaftaran perpanjangan SIM di Gerai SIM A & C Polda Metrojaya di Blok M Square. Sekuriti itu bilang, petugas Polda datang dan akan panggil dari data antrean ini sekitar pukul 9-an buat isi formulir perpanjangan. Pelayanan dimulai pukul 10. 


Sepagi yang sepi ini aku antri setelah kemarin aku datang pukul 13 yang tentu saja tak dapat jatah kuota buat daftar, sebab hanya dibatasi 70 orang saja. Informasi yang aku tahu jam operasional dimulai pukul 13.00-20.00. Ada perubahan sejak pandemi ini, aku pikir. Pelayanan dimulai pukul 10-14.


Sementara masih pukul 7.30, aku bikin beberapa sketsa sembari menunggu petugas datang. Satu, dua, tiga dan seterusnya orang berdatangan dan mendaftarkan namanya ke sekuriti. Dari guru, sopir ojek online, karyawan swasta, laki perempuan, pekerja kantoran, berkaos pendek, berkemeja dan menjadi catata semua baju harus berkerah.


Seorang petugas pria telah datang pukul 9 dan beri informasi mengenai tata cara dan biaya. Ia panggil satu persatu daftar antrian dan membagikan formulir setelah pendaftar menyetor fotokopi KTP dan SIM asli. KTP asli dikembalikan sementara SIM asli disimpannya.

“Ini (formulir) diisi dulu nanti dikembalikan ke saya lagi, ya,” bilangnya. Aku isi formulir yang sudah distaples dengan fotokopi KTP-SIM itu. 


Seorang bertanya sambil menunjuk kotak-kotak yang isinya aku juga nggak paham tapi aku tahu yang dia tanyakan, “ini diisi nggak?”

“Coret silang saja yang kotak ‘Perpanjangan’,” jawabku.



Orang-orang menunggu pemanggilan 




Sketsa toko sukucadang kendaraan motor


Para pengunjung bersorak ketika lampu lantai itu dihidupkan jelang pukul 10.


Pintu loket dibuka. Pukul 10 lewat sedikit, ia memanggil ulang sesuai antrian awal untuk proses perekaman. Di dalam, seorang ibu berdiri dan bercermin sambil  menata diri. Petugas itu datang lagi usai pemanggilan.

“Ibu duduk saja dulu, kursinya pas, kok, sudah dihitung untuk 8 orang.”

Tiap proses kelompok ada 8 orang. 


Setelah perekaman selesai, kami menunggu di luar ruang bersama para pendaftar lain kurang lebih 10 menit untuk menunggu pencetakan SIM. Satu persatu dipanggil ke loket buat ambil SIM dan sekaligus bayar. Lalu, giliranku.

“Ada uang pas saja?”

“Nggak ada, pak”

Aku diberi SIM baru dengan kembalian dua lembar Rp 10.000 setelah aku setor Rp 150.000.

“Terima kasih, pak.”


Selesai pukul 10.30 lantas aku pulang. Di luar gedung udara sudah panas.

Monday, March 21, 2016

Sketsa Gereja dan Masjid: Bebas Damai






Dua tempat ibadah berlainan agama didirikan berdampingan. Indah, bukan?

Bagi para perusak kehidupan, wa bil khusus perusak kehidupan bebas berkeyakinan, pemandangan ini seyogiayanya dapat membuat mereka menumbuhkan kepekaan rasa saling mengasih sayangi kepada semesta. Trenyuh, terlalu sering mendengar teriakan dan yel-yel keributan atas nama agama begitu santer terdengar. Sebut saja; tuntutan pembatalan pembangunan sah, pembakaran dan penggusuran tempat ibadah di beberapa tempat, pengusiran kelompok minoritas, dan intoleransi lain sebagainya. The Wahid Institute rutin menerbitkan laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dengan tingkat intoleransi di daerah-daerah seluruh Indonesia baik yang dilakukan tanpa dan dengan dukungan perda-perda syari'ah. Jika membacanya sungguh miris. Data kekacauan itu justru meningkat. 

Jika piknik ke tempat dengan situasi semacam ini, dua bangunan yang difungsikan sebagai tempat ibadah berlainan keyakinan, tanpa penjelasan kata pun cukup memberi makna yang jelas. Keduanya dipisahkan satu Jl. Kernolong Dalam IV, Kramat, Jakarta Pusat, sebuah gang pemukiman yang oleh warga sekitar disebut gang Petak, mengacu pada rumah-rumah petak di sekitar gang.

Usia gereja HKBP lebih muda dari masjid Al- Istikharah yang jauh lebih dulu ada. Gereja dibangun warga komunitas etnis Batak di sekitarnya pada era 1980-an. Sementara masjid lebih dulu ada. Awalnya masjid hanya sebuah surau kecil yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Di ruang utama ada mimbar. Luasnya masih tetap seperti surau-surau di kampung, sempit. Hanya terasnya yang lebih luas dan berkanopi.  Ia kemudian dilabeli masjid. 

Berkali-kali saya menjumpai dua bangunan peribadatan semacam ini di beberapa tempat. Pernah juga saya masuki satu tempat yang difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam, Yahudi, dan lain-lain. Penamaan tempat ibadah hanya perspektif dari masing-masing pemeluknya. Pada intinya ia hanya sebuah atau bahkan BUKAN bangunan sama sekali, namun yang dilihat adalah manfaat apa yang bisa difungsikan; tempat beribadah.

Beberapa orang tua berjalan melintasi tempat saya menggambar. Begitu juga perempuan-perempuan muda yang manis. "Ibadah Minggu malam," seorang ibu menjawab sapaan seorang bapak di samping saya. Mereka menuju gereja.

Sebenarnya ini kegiatan usai saya ikut acara rutin Indonesia's Sketchers di bekas gedung STOVIA yang difungsikan menjadi museum Kebangkitan Nasional siang kemarin. Saya ajak kawan pegiat Indonesia's Sketchers buat melanjutkan bikin sketsa di kawasan Kramat dan Cikini yang dibelah sungai Ciliwung ini. Ia mengiyakan. Sebelumnya bapak berkeluarga ini hendak pulang. Ah, andai saja orang-orang termasuk perempuan-perempuan muda manis itu berhenti dan menonton saya menggambar lalu kami berbincang-bincang. Saya sungguh tak bisa menghentikannya, mereka hendak beribadah. Salam/damai selalu kita.

Mari Piknik! 

Gelpen di kertas A3 (yg lalu pakai cat air)
21 | 03 | 2016

Saturday, January 10, 2015

Sidang Lanjutan Terdakwa Gulat Medali Emas Manurung 05/01/2015

Jaksa Roy Riadi dan saksi M Yafis, kepala Bapeda Provinsi Riau dalam sidang kasus suap alih fungsi hutan terdakwa Gulat Medali Emas Manurung, di Pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi), Jakarta, Senin (01/01/2015). 

Suasana sidang lanjutan terdakwa Gulat Medali Emas Manurung mendengarkan saksi-saksi



Ketua MPR RI Zulkifli Hasan beri keterangan selaku saksi mantan Menteri Kehutanan.


Zulkifli Hasan (saksi), Majelis Hakim, Jaksa, Gulat dan tim penasihat hukum melihat Barang Bukti. 

Friday, December 05, 2014

Diskusi Membongkar Mitos Keperawanan



Diskusi Membongkar Mitos Keperawanan di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, 16.00-18.00. Diskusi diadakan Bi-monthly Thematic Discussion (BITES). Pada diskusi ini, Kombes Polisi Sri Rumiati, dr. Ramona, Andreas Harsono, Firliana Purwanti hadir dan bicara. Diskusi ini bagian dari mempersoalkan tes keperawanan yang terjadi di institusi POLRI.
Saya hadir dan bikin beberapa sketsa. Berikut 3 dari beberapa sketsa yang saya hasilkan selama diskusi.

Yang menarik, Polwan Sri beri testimoni dan pengalaman bagaimana pada tahun 1984, saat ia kena wajib militer dan harus ikuti tes dua jari. Ia lalu berdinas sebagai Polisi Wanita. Sri bilang, yang penting calon polwan harus baik stamina dan mentalnya, bukan keperawanannya. Karena dia harus menolong orang tanpa pamrih. Selama ini polwan hanya dianggap mampu mengerjakan pekerjaan kantor dan tugas di luar kantor hanya dilakukan polisi laki-laki. Patriarkhis, lanjutnya. Padahal, ia pengin polwan ditugaskan misalnya di daerah konflik sebab banyak korban perempuan dan anak. Polwan Sri satu-satunya polwan yang ditugaskan di daerah konflik (Aceh). "Mungkin karena saya terlalu vokal, dan "dibuang," padahal kita tidak pernah tahu juga kapan dan dimana kematian akan datang, kan, " ceritanya.

Sebab Polwan Sri datang hadiri diskusi ini, ada utusan mabes Polri memantau. Seorang Jenderal di mabes Polri keberatan ada anggotanya bicara tes keperawanan

Monday, November 03, 2014

Sketsa Penumpang Commuter



Penumpang commuter line, Minggu petang, 2 Nopember 2014, Jakarta.

Jelang selesai bikin sketsa ini, para penumpang segera panik dan menutup tirai jendela gerbong setelah mendapat arahan dari operator commuter. Pasalnya terjadi tawuran di sekitar rel stasiun Manggarai. Perjalanan ditunda kurang lebih 10 menit menunggu laporan situasi aman.

charcoal di kertas. 

Wednesday, September 03, 2014

Mengunjungi Kota Lama, Semarang (lagi)



Selasa sore kemarin, 02 September 2014, aku jalan-jalan sore di sekitar Jl. Gajahmada, Semarang. Ada dua kawan sudah berada di tempat saat aku tiba. Kami bikin sketsa hingga maghrib tiba. Dua kawan ini pulang. Aku melanjutkan jalan-jalan. Menyusuri gang dan tak disangka aku keluar di ujung gang masjid kauman Johar. Mampir sebentar di masjid lalu pergi dan menggambar di belakang gereja Blenduk, Kota Lama Semarang. Berikut hasil menggambar di kegelapan belakang samping gereja Blenduk.

Pukul 20.30 aku lantas mampir di kantor tabloid Cempaka. Bertemu kawan-kawan hangat hingga pukul 22.00. Aku bergegas pulang dengan pertimbangan angkutan yang semakin malam semakin jarang ada.

2 menit sekeluarku dari kantor seorang kawan yang lain memberi kabar apakah aku masih di kantor. Kami lalu bertemu di gereja Blenduk lalu ngobrol barang sebentar. Tak lama, ia mengantarku menunggu angkutan hingga di Java Mall, jarak yang cukup jauh dari gereja Blenduk. Aku membatin, pukul 22.00 angkutan sudah jarang sekali lewat. Jalanan juga relatif sepi. Dingin.

Menunggu dalam waktu yang lumayan di depan mall, datanglah angkutan. Kami berpisah.

Tuesday, August 12, 2014

Robin Williams died


Robin Williams dies. I drew this caricature as one of my doodles. I did this on my afternoon journey on August 8, 2011. Today, August 12, 2014 the press media report the death of Robin Williams. I remember that I ever drew him. I found and upload it then.

Monday, August 11, 2014

Sketsa Kota Lama Semarang


Aku ingat pada pertengahan Agustus 2010 naik kereta dari stasiun Pasar Senen, Jakarta dan turun di stasiun Tawang, Semarang. Setiba di stasiun siang itu dengan ransel carrier berat aku berjalan kaki hingga ke kawasan Kota Lama. Kota Lama tak jauh dari stasiun, jaraknya kurang lebih 300 meter.

Aku duduk di seberang taman, belakangan aku tahu itu taman Srigunting. Taman Srigunting berlokasi di samping gereja Blenduk. Siang jelang sore aku menggambar gambar perspektif sudut jalan dengan gereja dari seberang taman. Suasana saat itu belum seramai sekarang.

Minggu sore kemarin aku menggambar di tempat yang sama. Aku menggambar sudut berlawanan dari gambar tahun 2010. Secara fisik Kota Lama tak berubah, karena memang statusnya sebagai kawasan cagar budaya. Di sana terdapat banyak bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah. Jika menonton film GIE (Soe Hok Gie) tentu saja ada adegan yang dibuat di Kota Lama ini.

Beberapa tahun terakhir suasana taman dan Kota Lama mulai ramai dipenuhi kegiatan. Seperti ada gerakan untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat tentang sejarah. Tak heran jika beberapa program acara berbasis seni budaya dihelat di kawasan ini. Misal saja, beberapa waktu lalu sempat aku berkunjung, ada pameran gambar, foto, pentas lakon kesenian tradisional, kelompok-kelompok kreatif dan lain-lain.

Kali ini aku berkunjung ke Semarang dan di sini sedang diadakan pameran sketsa dalam rangka dua tahun kelompok Arsisketur di Galeri Semarang. Beberapa kawan juga datang dari luar Semarang; Sidoarjo, Jogja, Bali dan lain-lain. Bertepatan pula sedang diadakan pasar Klithikan, menjual benda-benda kuno dan lain-lain, yang dijadwalkan setiap sebulan sekali yaitu pada hari Minggu pada minggu kedua.

Tuesday, June 24, 2014

Adam Malik Batubara, Indonesia's Third Vice President




Adam Malik Batubara (22 July 1917 – 5 September 1984) was Indonesia's third vice president, a senior diplomat, and one of the pioneers of Indonesian journalism.

Wednesday, June 18, 2014

Caricature of Franck Ribéry - Karikatur Franck Ribéry


Caricature of Franck Henry Pierre Ribéry, a French international soccer player.

This Tuesday evening, June 17, I have just attended the opening of the PARABOLA Cartoon Exhibition 2014 as a welcome to the World Cup 2014 at Bentara Budaya Jakarta. I met my some cartoonists, caricaturists, artists and friends whom I know nothing so long about them. Some guys asked me which caricature artworks of me on the exhibition. I said I show you nothing. I missed this event. I did not join this event as an artist participant to show the artwork but the instructor and speaker for a caricature workshop on next June 19.

I got a discussion together with two friends of me on night late. I went home and I sketched this artwork as I did the same face, Franck Ribéry, on yesterday night. I sketched another one, then I have three of Franck Ribéry's caricatures. I did this three times as an interesting thing to do. As much as I do exercise and explore the shape of the same person, I am sure it will be good for the next level on how technically understanding of caricature art. More practice, exercise, and explore there will be a good impact then.

Wednesday, March 12, 2014

Sketsa Penumpang Kereta Commuter


Sketsa seorang penumpang kereta commuter sedang tidur.

Sore hari kemarin aku lakukan perjalanan lagi. Lari sore. Dalam perjalanan kerap kali bertemu kawan-kawanku. Itu sering sewaktu kami ada dalam kereta yang sama atau saat berhenti. Sore kemarin bertemu dengan seorang kawan. Sore kemarin lusa juga bertemu kawan yang lain saat kereta berhenti. Mereka pergi bekerja, aku pergi berkegiatan jalan sore.

Dari waktu petang tiba hingga pukul 20 aku berlama-lama di satu tempat menyejukkan jasmani ruhani. Lalu aku jalan kaki lagi dan mampir di warung untuk makan. Pukul 21.30 aku bergegas ke stasiun untuk pulang naik kereta commuter pukul 22.

Selama perjalanan yang sekitar 15 menit di dalam kereta, aku bikin sketsa tiga halaman buku sketsa ukuran 14 cm x 10 cm atau A6. Sesekali jeda bikin sketsa, beberapa orang nampak heran memandangiku. Aku berdiri di dekat pintu. Ada yang mendekat dan menonton penasaran.

Aku lanjutkan bikin sketsa. Sketsa penumpang berdidi belum lengkap sebadan penuh, aku tutup buku sketsa sambil bergegas keluar gerbong. Aku sudah sampai di stasiun tujuan. Beberapa penumpang melongok heran saat aku keluar sekelebatan.

Monday, March 03, 2014

Umbu Landu Paranggi, "Presiden Malioboro"



==================================================================
Berikut catatan Muhammad (Emha) Ainun Nadjib (Cak Nun) tentang Umbu Landu Paranggi 
dalam web pribadinya: https://www.caknun.com/2012/presiden-malioboro/
==================================================================

 

Untuk Umbu

Presiden Malioboro

 

Malioboro

Syukur kepada Tuhan yang memperkenankan saya berjumpa dengan Umbu Landu Paranggi. Satu-satunya orang yang pernah digelari sebagai Presiden Malioboro oleh media massa, kalangan intelektual, aktivis kebudayaan 42 tahun yang lalu. Di zaman ketika orang masih mengerti bagaimana menghormati keindahan. Di kurun waktu tatkala manusia masih punya perhatian yang jujur kepada rohani, masih menjunjung kebaikan dan masih percaya kepada kebenaran.

Kemudian sebagai “jebolan Universitas Malioboro”, hampir setengah abad saya lalui jalan sesat, dan kini saya terjebak di kurungan peradaban di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan kekuasaan, mentuhankan harta benda, bersimpuh kepada kemenangan, serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka keunggulan.

Secara teknis saya mengenal Umbu sebagai pemegang rubrik puisi dan sastra di Mingguan “Pelopor Yogya” yang berkantor di ujung utara Jl Malioboro Yogyakarta. Bersama ratusan teman-teman yang belajar nulis puisi dan karya sastra, kami bergabung dalam “Persada Studi Klub”. Puluhan tahun kemudian saya menyadari bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair, dan ternyata yang saya pelajari dari Umbu bukanlah penulisan puisi, melainkan “Kehidupan Puisi” – demikian menurut idiom Umbu sendiri.

Antara Tugu hingga Kraton, terdapat empat (4) jalan. Pertama, Margoutomo. Terusannya, sesudah rel KA, bernama Malioboro. Jalan lanjutannya adalah Margomulyo. Kemudian dari Kantor Pos hingga Kraton adalah Jalan Pangurakan. Sekarang jalan itu bernama Jl. Mangkubumi dan Jl. Jendral Ahmad Yani: wacananya, filosofinya, kesadaran sejarahnya, sudah mengalami perubahan dan penyempitan, dari falsafah karakter manusia ke catatan romantisme sejarah. Hari ini bahkan Malioboro adalah pariwisata, kapitalisme dan hedonism pop.

 

Wali Pengembara

Ketika berdiri, kepemimpinan kesultanan Yogya meyakini bahwa setiap manusia sebaiknya memastikan dirinya menempuh “jalan utama”. Tafsir atas “jalan utama” sangat banyak. Bisa pengutamaan akal dan budi, bukan menomersatukan pencapaian kekuasaan, kesejahteraan ekonomi atau eksistensialisme “ngelmu katon” alias kemasyhuran yang pop dan industrial. Bisa juga jalan utama adalah “berbadan sehat, berbudi tinggi, berpengetahuan luas, berpikiran bebas”, atau apapun yang intinya memaksimalkan peran kemanusiaan untuk fungsi “rahmat bagi seluruh alam semesta”.

Untuk menguji diri dalam pilihan jalan utama, maka “Malio-boro”. “Malio” artinya “jadilah Wali”, mengelola posisi kekhalifahan, menjadi wakil Tuhan untuk memperindah dunia, “mamayu hayuning bawana”. Malioboro artinya jadilah Wali yang mengembara (“boro”): mengeksplorasi potensi-potensi kemanusiaan, penjelajahan intelektual, eksperimentasi kreatif, berkelana di langit ruhani. Nanti akan tiba di jalan kemuliaan (Margo-mulyo). Dalam idiom Islam, yang diperoleh bukan hanya ilham (inspirasi) dari Tuhan, tapi juga fadhilah (kelebihan), ma’unah (keistimewaan) dan karomah (kemuliaan).

Di ujung jalan Margomulyo, orang menapaki Pangurakan. Jiwanya sudah “urakan” (ingat Perkemahan Kaum Urakan-nya Rendra di awal 1970an?): sudah berani mentalak kepentingan dunia dari hatinya, “ya dunya ghurri ghoiri, laqat thalaqtuka tsalatsatan”: wahai dunia, rayulah yang selain aku saja, sebab kamu sudah kutalak-tiga. Bahkan “diri sendiri” sudah ditalak, karena “diri sejati” adalah kesediaannya untuk berbagi, kerelaannya untuk menomersatukan orang banyak. Parameter manusia bukanlah “siapa dia”, melainkan “seberapa pengabdiannya kepada sesama”.

Memilih Presiden 2014 sangat mudah: pandangi wajahnya dan pelajari perilaku hidupnya, apakah penempuh jalan Margoutomo, Malioboro dan Margomulyo. Raja-raja sejati nenek moyang kita mengakhiri hidupnya dengan merohanikan diri, menjadi Begawan, Pandita, Panembahan. Raja yang sibuk mengatur agar penguasa berikutnya adalah sanak familinya, tidak punya kwalitas memasuki jiwa Pangurakan, karena memang tidak pernah memilih jalan utama, mewali-pengembara sehinga lolos masuk jalan mulia.

 

Kekasih Umbu

Ah, tetapi itu terlalu muluk. Untuk Presiden Malioboro ini saya kembali saja ke sesuatu yang kecil dan sepele.

Menjelang tengah malam, di tahun 1973, Umbu datang ke kamar kost saya dan mengajak pergi. Sebagaimana biasa saya langsung tancap, berjalan cepat mengejar langkah Umbu yang panjang-panjang. Hampir tiap malam kami jalan kaki menempuh sekitar 15 sd 20 km di jalanan Yogya. Sebulan dua bulan sekali kami mengukur jarak Yogya ke Magelang, ke Klaten, ke Wates, ke Parangtritis, dengan jalan kaki. Atau duduk saja di trotoar sesudah toko-toko tutup hingga pagi para pelajar berangkat sekolah.

Umbu mengajak saya “mlaku”, bukan “mlaku-mlaku”. “Jalan”, bukan “jalan-jalan”. Ada beda sangat besar antara “ngepit” dengan “pit-pitan”, antara naik sepeda dengan bareng-bareng bersepeda gembira. Sangat beda antara bekerja dengan hiburan, antara berjuang dengan iseng-iseng, antara makan beneran dengan mencicipi, antara jalan kaki sunggugan dengan jalan-jalan. Kalau pakai konsep waktu: yang satu menghayati, lainnya melompat. Yang satu mendalami, lainnya menerobos. Yang satu merenungi, lainnya memenggal.

Harian lokal Yogya pernah memuat foto sangat besar almarhum Prof. Dr. Umar Kayam di halaman depan sedang naik sepeda, menempuh jarak 150 meter dari Bulaksumur B-12 ke kantornya di E-12. Pak Bon kantor menyongsong juragannya, menyodorkan koran itu dan nyeletuk: “Bapak ampuh tenan. Baru mulai kemarin naik sepeda ke kantor sudah keluar di koran. Kok saya sudah 30 tahun lebih naik sepeda 30-an km tiap hari pulang pergi dari Gunung Kidul ke kantor, kok ndak masuk koran ya Pak..”  Maklumlah Pak Bon tidak mengerti apa-apa tentang jurnalisme. Sambil jalan kaki dengan Umbu saya tersenyum-senyum sendiri kalau ingat protesnya Pak Bon.

Malam itu Umbu menerobos Keraton Yogya bagian tengah dari arah barat, menempuh sekitar 3 km, Umbu mengajak berhenti di warung kecil seberang THR. Duduk. Pesan teh nasgithel, berjam-jam tidak bicara sepatah katapun, ah-uh-ah-uh sendiri-sendiri, hingga pukul empat fajar hari. Beberapa kali dengan dua jari Umbu mengambil batangan rokok di kedalaman sakunya tanpa menoleh ke saya — jangankan mengeluarkan bungkusnya dan menawarkan agar saya juga menikmatinya.

Ketika jam empat tiba, Umbu bergumam lirih, “Coba lihat keluar, Em….”. Saya bertanya, “Lihat apa, Mas?”, dia menjawab, “Perhatikan nanti ada Bis Malam dari Malang masuk Yogya….”. Saya melompat keluar, berdiri, berjaga-jaga di tepi jalan. Sebab saya mengerti, “Bus” nya tidak penting, tapi “kota Malang” itu sakral baginya. Ia berkait erat dengan kekasih hatinya.

Umbu sedang sangat jatuh cinta kepada seorang pelukis mahasiswi ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) asal Malang, gadis hitam manis, kurus, bergigi gingsul. Umbu mengambil saya sebagai tenaga outsourcing gratisan untuk mengerjakan program-program cintanya. Job description saya mengamati rumah tempat ia kost, posisi kamarnya, arah pintunya, route kegiatannya, dan yang terpenting meneliti apakah si gadis pernah memakai rok. Sebab rata-rata pelukis wanita berpakaian lelaki. Kalau sempat melihatnya pakai rok, harus didata apakah maksi, midi ataukah mini. Ketika pada suatu malam Minggu saya diperintahkan untuk bertamu ke rumah gadis itu sebagai “Duta Cinta”, jauh malam sesudahnya saya diinterogasi: “Apakah dia nemuin Emha pakai rok? Bagaimana bentuk kakinya?”

Ketika mendadak Bis Malam “AA” meluncur dari arah selatan, saya kaget. Langsung saya teriak dan berlari memberitahu Umbu. Tapi dia tidak menunjukkan perilaku seperti lelaki yang jatuh cinta dan rela berjam-jam menunggu kekasihnya tiba. Di dalam warung Umbu tetap menundukkan wajah, mengisap rokok, tidak bereaksi kepada teriakan saya. Justru ketika suara bis menderu, wajahnya makin menunduk.

Semula saya pikir si kekasih akan turun di depan THR karena kencan dengan Umbu. Ternyata kemudian saya ketahui bahwa si kekasih bukan sedang naik bis dari Malang ke Yogya. Umbu hanya menikmati nuansa bahwa jalur Malang-Yogya itu paralel dengan jalur cinta yang sedang dialaminya. Ia cukup mendengar suara bus itu lewat, cukup baginya untuk menghadirkan kekhusyukan cintanya. Begitu bus sudah lewat, Umbu mengajak saya pulang, dia ke ujung Malioboro utara, saya balik ke barat Keraton.

Beberapa hari kemudian Umbu memerintahkan agar saya beli tiket bus malam Yogya-Malang pp. Saya mengantarkannya sampai bus berangkat. Dia melaju. Subuh tiba di Malang, Umbu turun sebelum Tugu masuk pusat kota Malang. Jalan kaki masuk ke wilayah timur. Melintasi Jl Diponegoro, di situ rumah sang kekasih. Berjalan cepat, menundukan wajah, tidak sesekonpun berani menoleh ke rumah si gadis pujaan. Kemudian berputar balik ke jalan besar, mencegat bis menuju Surabaya, terus ke Yogya. Sorenya sudah datang lagi ke tempat kost saya: duduk, ah-uh-ah-uh, mengambil batang demi batang rokok dari sakunya dengan jepitan dua jari-jarinya. Tak ada kata tak ada huruf hingga pagi.

 

“Kehidupan Puisi”

Beberapa tahun kemudian Umbu pindah tinggal di Bali. Demikian juga si kekasih rohaninya, diperistri oleh seorang tokoh di Bali, kelak Tuhan memanggilnya ketika bermain surfing di pantai, sebagaimana Umbu sepanjang hidupnya “surfing” di atas gelombang demi gelombang, tanpa pernah mungkin bertempat tinggal di atas gemuruh lautan.

Siapapun pasti menyebut percintaan Umbu itu “platonik”, pengkhayal, hidup tidak di dunia nyata. Dunia yang gegap gempita ini memang tidak nyata bagi Umbu. Maka ia tidak pernah memburu wanita itu untuk disentuh dan diperistrikannya. Sampai hari ini Umbu mengayomi anak-anak muda belajar menulis puisi, tapi Umbu sendiri menjauhi eksistensi sebagai penyair. Di tahun 1973 puluhan puisinya akan dimuat oleh Majalah “Horizon” elite media sastra di era 1970an: Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas.

Sejak 50 tahun silam meninggalkan harta kekayaan dan kekuasaannya sebagai “Pangeran” di Sumba. Di pinggiran Denpasar ia menempati rumah tepi hutan karena ia menghormati  temannya yang membikinkan rumah itu. Umbu tiap saat berjalan kaki menjauh dari segala sesuatu yang semua orang di muka bumi mengejarnya. Ia menyebut seluruh keputusannya itu dengan idiom “kehidupan puisi”. Saya mengenalinya sebagai “zuhud”: berpuasa dari kemewahan dan gegap gempita dunia. Ia meninggalkan harta, kekuasaan, wanita, kemasyhuran dan menyimpan uang dalam bungkusan plastik dipendam di tanah.

Saya bukan siapa-siapa di dunia, tetapi kapan ada yang tanya siapa Guru saya, baru nama Umbu yang pernah saya sebut. Puluhan tahun saya berkeliling berjumpa dengan jutaan orang. Rata-rata mereka adalah orang memperlakukan saya sebagai keranjang sampah untuk mengeluhkan dunia, membuang kesedihan dan frustrasi, menumpahkan kebingungan dan rasa tertekan oleh keadaan-keadaan dunia yang menindas mereka. Kecuali Umbu: ia bahagia dan khusyu dalam kesunyian dan “ketiadaan”nya.

Di mana-mana sajapun orang riuh rendah mengejar dunia, tetapi di mana-manapun saja orang ribut curhat tentang dunia. Ke manapun saya pergi, ke delapan penjuru angin, dari bawah sampai atas, pada segmen dan level sosial yang manapun, yang terutama saya dengar dan disampaikan kepada saya adalah keluhan-keluhan tentang dunia: kemiskinan, kesulitan mencari nafkah, susahnya dapat kerjaan, seretnya usaha.

Terkadang saya balik tanya, dengan terminologi Agama: “Lha kamu hidup ini mencari dunia atau akhirat?”. Kalau ia menjawab “mencari dunia”, saya tuding “salahmu sendiri dunia kok dijadikan tujuan”. Kalau jawabannya “mencari akhirat”, saya katakan “kalau kamu mencari akhirat kenapa mengeluhkan dunia”. Kan sudah jelas sejak dahulu kala bahwa “urip ming mampir ngombe”, hidup hanya mampir minum. Namanya juga mampir, singgah sejenak, bukan bertempat tinggal. Sudah jelas dunia hanya tempat persinggahan sementara di tengah perjalanan, kok disangka kampung halaman.

Sayangnya Tuhan menyatakan – dan mungkin memang sengaja menskenario demikian — “kebanyakan manusia tidak mau berpikir”, atau minimal “banyak di antara manusia yang tidak menggunakan akal”. Karena kemalasan mengolah logika dan sistem ratio, orang menyangka “dunia” dan “akhirat” itu dua hal yang berpolarisasi, berjarak dan bahkan bertentangan. Orang ketakutan menyikapi dunia kritis karena mengira kalau mencari akhirat maka tak mendapatkan dunia. Orang mengira kalau tidak habis-habisan kejar uang maka ia tidak memperoleh uang.

Mengejar uang adalah pekerjaan dunia, pekerjaan paling rendah. Bekerja keras adalah pekerjaan akhirat, di mana dunia adalah salah satu tahap persinggahannya untuk diolah. Orang yang fokusnya bekerja keras memperoleh lebih banyak uang dibanding orang yang fokusnya adalah mengejar uang. Orang yang yang mencari dunia, mungkin mendapatkan dunia, mungkin tidak. Orang yang mengerjakan akhirat, ia pasti dapat akhirat dan pasti memperoleh dunia.

Begitu kumuh dan joroknya situasi ummat manusia berebut dunia. Dan begitu indah dan bercahayanya “kehidupan puisi” Umbu. Suatu hari saya mohon izin untuk membuktikan bahwa keindahan sesungguhnya adalah puncak kebenaran dan kebaikan. Peradaban manusia sampai hari ini menjalankan salah sangka yang luar biasa terhadap keindahan.

Monday, February 10, 2014

Sketsa, 10 Februari 2014



Petang tadi jalan keluar, ada keperluan sebentar. Sengaja tak bawa buku sketsa kecuali pensil dan boplen saat hendak pergi. Usai tuntaskan keperluan akan mampir di toko buku. Aku bermaksud beli buku sketsa. Saat mampir di toko buku, buku sketsa yang aku cari telah terbeli. Aku kemudian berlalu menuju stasiun dan naik kereta. Aku sempat unggah foto gerbong kereta yang lengang.

Sesampai di satu tempat aku duduk dan minum kopi di warung. Mengisi kekosonganku, kepada si empunya warung aku minta kertas cokelat pembungkus nasi. Aku bikin sketsa yang diunggah ini.

Kertas itu penuh sketsa, aku hendak pulang. Tiba-tiba angin kencang berhembus, gerimis turun lalu hujan. Aku menunggui hujan reda, aku minta kertas lagi dan menggambar. Hujan tak juga berhenti, aku berniat terobos semak-semak untuk sampai ke stasiun. Sebelum menerobos, aku juga tak lupa minta satu kertas lagi untuk bekal bikin sketsa saat pulang di dalam kereta. Total aku minta tiga kertas.

Senin malam, 10 Februari 2014

Kiri: Seorang penumpang commuter baca koran. Kanan: Calon penumpang commuter menunggu commuter datang.


Para penumpang kereta Comuter

Sunday, December 22, 2013

Bikin Sketsa di Hari Ibu


Sampai sore tadi aku tak bisa menulis, anggap saja status, di facebook mengenai hari Ibu. Sore ini mendung, meski juga sedikit gerimis, tapi udara cukup segar. Aku suka suasananya. Lalu aku berjalan kaki keluar dengan segenap rasa, entah pergi kemana sejauh dua kilometer juga tanpa tujuan pasti. Tapi jelas bahwa aku membawa ransel ABRI berisi alat menggambarku. Juga aku tenteng tripod penyangga kamera. Sebelumnya, empat gorengan pisang berbungkus kertas yang aku beli, aku masukkan juga dalam ransel.

Dalam perjalananku, seorang perempuan entah bersuku apa dan siapa keluarganya, menangis sesenggukan. Sedang tangannya masih memegang telepon genggam. Seperti menunggu seseorang tapi ia lalu bangkit dan berjalan. Kami berpapasan di trotoar. Jangankan aku, ia sendiri tak dapat mencegah tetesan air matanya yang jatuh. Tetap, aku tak bisa berbuat apa-apa selain mendengar derai tangisnya yang tak gaduh saat ia berlalu di belakangku. Dalam perjalanan, yang entah kemana dan dimana aku akan berhenti, di benakku terngiang seorang perempuan muda yang menangis barusan. Terus menerus. Aku ingat ini hari Ibu.

Aku berhenti di sebuah halte pemberhentian berukuran panjang 1,5 meter yang lengang. Lebar trotoar sekira 1,5 meter juga. Melihat suasana tikungan jalanan dan lalu lintas yang tak ramah, bisa jadi halte ini tak pernah digunakan semestinya. Di samping halte, di atas trotoar, tenda warung makanan sedang dipancang dan dibentang. Pedagang makanan bersiap buka warung. Aku menyantap tiga pisang goreng bawaanku. Di halte ini aku menggambar hamparan rumah-rumah warga Rawasepat, Cililitan, Jakarta Timur. Rumah warga terletak lebih menjorok ke bawah dari pada jalanan. Jika dilihat dari jauh, halte dimana aku berada seperti berada di atas atap rumah.

Selesai menggabar aku santap satu pisang gorengku. Seorang ibu melewatiku lalu berhenti. Kami bincang-bincang soal kampung yang banjir dan sampai pula pada gambar menggambar saat ia lihat gambarku. Ia ramah. Ia lalu bercerita tentang anaknya yang sempat kuliah di Senirupa UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Anaknya juga banyak terima kerjaan permintaan karikatur, katanya. Ia menanyaiku aku bersekolah dimana. Kami terus bincang-bincang. Hingga ia mengatakan bahwa ia harus lanjutkan berjalan sampai lampu merah di pertigaan jalan. Ia pergi dan aku tetap di sana beberapa saat. Tak lama aku beranjak pulang.

Di Hari Ibu aku temukan pengalaman bertemu dua perempuan. Perempuan muda yang sedih dan perempuan riang seusia di bawah ibuku. Oh iya, dengan ibuku, aku sudah lama tak bertemu. Kami baik-baik saja. Aku masih ingat terakhir kali aku memeluknya. Tepat ketika kami (aku, adik dan keluarga lain), meletakkannya di tanah. Setelah itu aku kerap kali bertemu dengannya dalam mimpi. Allahummaghfir laha warhamha wa'afiha wa'fu 'anha.



Sunday, November 24, 2013

Drawing Dasar/Basic Drawing


Menggambar Drawing Dasar/Basic Drawing.

Menggambar, bagi yang merasa masih belum bisa, dirasakan begitu sangat susah untuk mempelajarinya. Tapi ketika melihat seseorang menggambar nampak begitu mudah dan menyenangkan saat seseorang itu mengerjakannya. Terutama melihat hasil akhir dari sebuah karya gambar/lukisan/produk kita sering terkagum-kagum. Melihatnya bisa juga timbul keheranan (dan tentu jangan sampai menjadi pening) hanya karena kita terlalu berpikir keras bagaimana cara membuatnya tapi tak menemukan jawabannya. 

Ada persoalan pola pikir/mind set.  Barangkali begini:

Dalam keseharian, pengalaman visual kita hanya terlalu sering dimanjakan oleh citra visual produk-produk yang sudah jadi. Sangat jarang kita (mau) berpikir bahwa produk jadi itu juga mengalami proses. Meski masih dalam tahap pikiran, kita hendaknya melihat dan memahami itu bahwa produk itu memiliki tahapan proses. Misal saja produk rumah tangga, alat elektronik, kemacetan, dan lain sebagainya. 

Kemacetan? Ya, kemacetan adalah sebuah produk. Bisa jadi itu hasil akhir atau masih tahap proses untuk hasil akhir yang lebih buruk. Ketika melihat (atau berada di dalam) kemacetan, kita mengeluh tanpa mencoba mengurai proses kenapa ada kemacetan. Jika sadar, kita akan tanggap untuk mencoba berpikir mencari akar-akarnya, tahapan-tahapannya dan lain-lain. Ada banyak kemungkinan; setiap orang ingin menaiki kendaraan masing-masing (ego besar), bertambahnya angkutan pribadi, kurang layaknya angkutan umum, tak bertambahnya infrastruktur, buruknya infrastruktur, kecelakaan mendadak, iring-iringan pejabat, lampu lalu lintas mati dan kemungkinan-kemungkinan lain. Nah, itu adalah rangkaian yang ketika berakumulasi menjadi sebuah rentetan proses timbulnya kemacetan. Ini hanya analogi terkait produk tadi.

Saat melihat produk-produk jadi itulah kita tak berpikir bahwa produk itu mengalami proses desain yang bisa saja meliputi tahap sketsa, drawing, sampai pada tahap pembentukan tiga dimensinya dalam bentuk hasil akhir. Produk telepon genggam, laptop, meja, kursi, juga dibuat berdasar sketsa (pola/rancangan) dan proses seterusnya. Termasuk film, juga ada story board (sketsa adegan yang berbentuk panel-panel bercerita). Kita memang jarang melihat proses-proses itu, apalagi memang secara umum tak dipublikasikan. Contoh, seperti belajar mengendarai sepeda, kita akan butuh banyak latihan, teknik, keseimbangan dan lain-lain. Paling tidak, kita memahami bahwa semua itu memiliki proses. Dan tentu kita akan mengalami proses untuk bisa menggambar. 

Ada masalah pemahaman pola pikir kita yang barangkali sering luput bahwa seakan semuanya tak memiliki proses. Ini bisa dikarenakan seringnya kita disuguhi citra visual akhir yang memukau. Yang terpenting lagi kita memang senang dan mau melakukannya. Karena senang itulah kadang-kadang kita lupa bahwa kita sedang berproses. Kita begitu menikmatinya. 

Itu soal pola pikir, selanjutnya diharapkan menikmati proses yang menyenangkan itu.



Contoh gambar di atas adalah menggambar bentuk. 
 => Pemahaman alat. Sketsa, perspektif, pemahaman pencahayaan, arsir, dimensi, dan lain-lain. Untuk gambar lebih besar/detil dari coret-coretan ini bisa klik di sini: GAMBAR.

Lalu bagaimana prosesnya? Alat bisa berupa apapun; pensil, bolpen, kertas, karton, dan lain-lain. Alat itu hanya medium, gunakan apa yang kita punya. Tidak punya apa-apa? Maka itu keuntungan kita untuk  terus berpikir bagaimana caranya untuk membuat sesuatu menjadi alat kita. Jika kita punya beberapa, kita bisa gunakan beberapa alat itu.

Kita bisa memulai dengan menggores-gores sederhana, entah bentuk apapun. Nikmati pengalaman menggores itu. Nikmat, apanya yang nikmat? Kita bisa mempermainkan tekanan ringan, sedang, dan kuat saat menggores. Juga, mempermainkan kecepatan, sedang dan lambat guratan-guratan itu. Termasuk pula gaya memegang alat itu. Kita lakukan terus menerus. Kita bisa amati dan pelajari garis dan coretan-coretan itu lalu bandingkan pada saat kita menggores. Termasuk goresan dari penggunaan alat yang berbeda itu. Ketika tekanan goresan dikuatkan, maka hasilnya akan berbeda dengan saat menggores dengan tekanan ringan. Itu akan membentuk pendapat/kesimpulan sederhana kita tentang dunia gores-menggores dari pengalaman sederhana itu. Sampai disini, kalau kita menikmatinya, kita sudah mulai lupa bahwa kita sedang mencapai satu tahapan proses. 

Selanjutnya kita bisa menggambar benda-benda di sekitar kita, tentu bisa dengan bentuk sederhana. Kita amati dan mencoba pahami bentuknya, mana yang lebih gelap, mana yang lebih terang dan seterusnya. Minimal setiap hari kita mencoba membuat goresan-goresan. Kita terapkan seperti tiap kali kita makan setiap hari.

Dari penggunaan alat yang berbeda itu akan memberi kita kesimpulan-kesimpulan sementara yang sederhana. Itu bisa terkait dengan karakteristiknya. Alat-alat/medium berbeda itu dibuat dengan bahan berbeda pula sehingga berkemungkinan besar akan menghasilkan efek yang berbeda pula.



Dibuat dengan menggunakan pensil, charcoal, dan pastel di kertas bertekstur. Lalu adakah perbedaan karakteristik material itu? Yang berwarna itu seperti kapur adalah pastel, sementara yang hitam pekat dan lunak adalah charcoal, dan garis-garis dengan kehitaman sedang dan sedikit mengkilat adalah pensil EB (setara dengan 7B). Untuk gambar lebih besar bisa klik kanan pada gambar, lalu pilih "Open Link in New Tab".

"Drawing" diartikan sebagai "gambar/menggambar". Namun, dalam terminologi kesenirupaan "drawing" tak sekadar sebagai gambar, namun ia menjangkau lebih dari sekadar "gambar" itu. Drawing merupakan salah satu bentuk ekspresi seni rupa yang menggunakan (sejumlah) alat gambar dengan yang berkaitan dengan goresan garis dan bidang. Alat gores ini biasanya berupa pensil grafit (karbon, salah satunya secara umum dikenal jenis pensil B=Black (2B, 3B, 4B dst.), HB=Hard Black dan lain-lain), tinta dan pena, charcoal, kapur, pastel, akrilik, penghapus dan beberapa lainnya. Selain itu material yang lain untuk medium drawing biasanya kertas, karton, kanvas, plastik, papan kayu dan lainnya.

Sementara itu terlebih dulu, selanjutnya bisa disumbang lagi, eh disambung lagi.

Tuesday, November 12, 2013

Gambar Nusantara/Hindia Belanda

Demi memberi informasi kepada kawan yang bertanya di media sosial Facebook terkait siapa ilustrator yang sering bikin ilustrasi nusantara. Lalu terutama ilustrator Belanda pada kurun tahun 1700-an. Untuk menanggapi secara pas akan lebih sulit dalam waktu singkat. Perlu waktu untuk riset. Namun segera saya buka buku karya seorang serdadu Inggris yang setelah bertugas di pulau Jawa pada tahun 1813. Berikut dua gambar yang saya unggah.


Gambar prosesi pemakaman seorang kapitan Batavia keturunan China, Oei Yoen Koa. Digambar oleh seniman dari Rach School pada tahun 1784. Johannes Rach, seniman asal Denmark, tinggal dan bekerja di Batavia sebagai pegawai perusahaan Hindia Belanda Timur Belanda antara tahun 1762 - 1783. Ia dan bersama rekan-rekannya banyak membuat gambar tentang Hindia Belanda.




Gambar berjudul "Semarang from the Land Side" digambar oleh Joseph Jeakes. Joseph Jeakes seorang pelukis yang juga ahli tatah asal London.  Gambar-gambarnya ia pamerkan di Royal Academy antara tahun  1796 - 1809.

Kedua gambar di atas adalah dua dari 30-an gambar yang ada dalam buku "PENAKLUKAN PULAU JAWA." Mayor William Thorn adalah penulisnya. Ia seorang serdadu kerajaan Inggris yang pernah bertugas dalam ekspedisi ke pulau Jawa. Ia berusia 30-an pada saat bertugas ke jawa, sama seperti Raffles. Ia mengundurkan diri dari kedinasan militer dan kembali ke Inggris pada Juli 1813. Ia lalu menyelesaikan bukunya ini dan menerbitkannya di London pada tahun 1815 dengan harga 3.3 poundsterling. Sebagian gambar-gambar sketsa dan drawing dalam bukunya kemungkinan ia menemukan di Jawa lalu dibawa ke London.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...