Showing posts with label live sketch. Show all posts
Showing posts with label live sketch. Show all posts

Wednesday, December 23, 2020

Mengurus Perpanjangan SIM

Petugas memanggil peserta perpanjangan SIM untuk mengisi formulir pendaftaran


Pukul 6.30 aku berangkat menuju Blok M Square, Jakarta. Setiba di tempat pukul 7-an, masih lengang. Pedagang kue masih belum bubar, beberapa masih melayani pembeli termasuk melayaniku. Aku beli lemper seharga Rp. 1.500. 

“Sepuluh ribu dapat 7,” sahut si teteh saat kukeluarkan uang Rp 10.000 tanpa bertanya aku akan beli berapa. Lumayan, pikirku, buat sarapan nanti di lt. 3A. 


Usai membeli lemper aku kembali ke basement, sebelumnya aku sudah ke basement lalu terpikir beli sarapan aja dulu. Sepagi itu, pintu mal bahkan belum dibuka, harus naik melalui lift barang di basement. Atau, dari samping jalur basement bisa naik pakai kendaraan yang sekaligus parkir dimana tepat persis di pintu masuk lantai 3A.

Kursi-kursi tertata rapi ketika aku tiba di lantai yang aku tuju, 3A. Gelap. Hanya ada dua orang duduk di




deretan kursi depan antrean, selebihnya ada dua sekuriti di ujung yang sedang mencatat orang yang punya tujuan sama denganku.

“Boleh lihat kartu identitasnya?”

Aku menyodorkan KTP untuk dicatat namaku di urutan nomor 6 antrian pendaftaran perpanjangan SIM di Gerai SIM A & C Polda Metrojaya di Blok M Square. Sekuriti itu bilang, petugas Polda datang dan akan panggil dari data antrean ini sekitar pukul 9-an buat isi formulir perpanjangan. Pelayanan dimulai pukul 10. 


Sepagi yang sepi ini aku antri setelah kemarin aku datang pukul 13 yang tentu saja tak dapat jatah kuota buat daftar, sebab hanya dibatasi 70 orang saja. Informasi yang aku tahu jam operasional dimulai pukul 13.00-20.00. Ada perubahan sejak pandemi ini, aku pikir. Pelayanan dimulai pukul 10-14.


Sementara masih pukul 7.30, aku bikin beberapa sketsa sembari menunggu petugas datang. Satu, dua, tiga dan seterusnya orang berdatangan dan mendaftarkan namanya ke sekuriti. Dari guru, sopir ojek online, karyawan swasta, laki perempuan, pekerja kantoran, berkaos pendek, berkemeja dan menjadi catata semua baju harus berkerah.


Seorang petugas pria telah datang pukul 9 dan beri informasi mengenai tata cara dan biaya. Ia panggil satu persatu daftar antrian dan membagikan formulir setelah pendaftar menyetor fotokopi KTP dan SIM asli. KTP asli dikembalikan sementara SIM asli disimpannya.

“Ini (formulir) diisi dulu nanti dikembalikan ke saya lagi, ya,” bilangnya. Aku isi formulir yang sudah distaples dengan fotokopi KTP-SIM itu. 


Seorang bertanya sambil menunjuk kotak-kotak yang isinya aku juga nggak paham tapi aku tahu yang dia tanyakan, “ini diisi nggak?”

“Coret silang saja yang kotak ‘Perpanjangan’,” jawabku.



Orang-orang menunggu pemanggilan 




Sketsa toko sukucadang kendaraan motor


Para pengunjung bersorak ketika lampu lantai itu dihidupkan jelang pukul 10.


Pintu loket dibuka. Pukul 10 lewat sedikit, ia memanggil ulang sesuai antrian awal untuk proses perekaman. Di dalam, seorang ibu berdiri dan bercermin sambil  menata diri. Petugas itu datang lagi usai pemanggilan.

“Ibu duduk saja dulu, kursinya pas, kok, sudah dihitung untuk 8 orang.”

Tiap proses kelompok ada 8 orang. 


Setelah perekaman selesai, kami menunggu di luar ruang bersama para pendaftar lain kurang lebih 10 menit untuk menunggu pencetakan SIM. Satu persatu dipanggil ke loket buat ambil SIM dan sekaligus bayar. Lalu, giliranku.

“Ada uang pas saja?”

“Nggak ada, pak”

Aku diberi SIM baru dengan kembalian dua lembar Rp 10.000 setelah aku setor Rp 150.000.

“Terima kasih, pak.”


Selesai pukul 10.30 lantas aku pulang. Di luar gedung udara sudah panas.

Sunday, May 08, 2016

Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"



Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15. 

Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.

Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.

Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *

Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.

Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.

Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.

Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.

Monday, March 21, 2016

Sketsa Gereja dan Masjid: Bebas Damai






Dua tempat ibadah berlainan agama didirikan berdampingan. Indah, bukan?

Bagi para perusak kehidupan, wa bil khusus perusak kehidupan bebas berkeyakinan, pemandangan ini seyogiayanya dapat membuat mereka menumbuhkan kepekaan rasa saling mengasih sayangi kepada semesta. Trenyuh, terlalu sering mendengar teriakan dan yel-yel keributan atas nama agama begitu santer terdengar. Sebut saja; tuntutan pembatalan pembangunan sah, pembakaran dan penggusuran tempat ibadah di beberapa tempat, pengusiran kelompok minoritas, dan intoleransi lain sebagainya. The Wahid Institute rutin menerbitkan laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dengan tingkat intoleransi di daerah-daerah seluruh Indonesia baik yang dilakukan tanpa dan dengan dukungan perda-perda syari'ah. Jika membacanya sungguh miris. Data kekacauan itu justru meningkat. 

Jika piknik ke tempat dengan situasi semacam ini, dua bangunan yang difungsikan sebagai tempat ibadah berlainan keyakinan, tanpa penjelasan kata pun cukup memberi makna yang jelas. Keduanya dipisahkan satu Jl. Kernolong Dalam IV, Kramat, Jakarta Pusat, sebuah gang pemukiman yang oleh warga sekitar disebut gang Petak, mengacu pada rumah-rumah petak di sekitar gang.

Usia gereja HKBP lebih muda dari masjid Al- Istikharah yang jauh lebih dulu ada. Gereja dibangun warga komunitas etnis Batak di sekitarnya pada era 1980-an. Sementara masjid lebih dulu ada. Awalnya masjid hanya sebuah surau kecil yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Di ruang utama ada mimbar. Luasnya masih tetap seperti surau-surau di kampung, sempit. Hanya terasnya yang lebih luas dan berkanopi.  Ia kemudian dilabeli masjid. 

Berkali-kali saya menjumpai dua bangunan peribadatan semacam ini di beberapa tempat. Pernah juga saya masuki satu tempat yang difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam, Yahudi, dan lain-lain. Penamaan tempat ibadah hanya perspektif dari masing-masing pemeluknya. Pada intinya ia hanya sebuah atau bahkan BUKAN bangunan sama sekali, namun yang dilihat adalah manfaat apa yang bisa difungsikan; tempat beribadah.

Beberapa orang tua berjalan melintasi tempat saya menggambar. Begitu juga perempuan-perempuan muda yang manis. "Ibadah Minggu malam," seorang ibu menjawab sapaan seorang bapak di samping saya. Mereka menuju gereja.

Sebenarnya ini kegiatan usai saya ikut acara rutin Indonesia's Sketchers di bekas gedung STOVIA yang difungsikan menjadi museum Kebangkitan Nasional siang kemarin. Saya ajak kawan pegiat Indonesia's Sketchers buat melanjutkan bikin sketsa di kawasan Kramat dan Cikini yang dibelah sungai Ciliwung ini. Ia mengiyakan. Sebelumnya bapak berkeluarga ini hendak pulang. Ah, andai saja orang-orang termasuk perempuan-perempuan muda manis itu berhenti dan menonton saya menggambar lalu kami berbincang-bincang. Saya sungguh tak bisa menghentikannya, mereka hendak beribadah. Salam/damai selalu kita.

Mari Piknik! 

Gelpen di kertas A3 (yg lalu pakai cat air)
21 | 03 | 2016

Friday, December 05, 2014

Diskusi Membongkar Mitos Keperawanan



Diskusi Membongkar Mitos Keperawanan di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, 16.00-18.00. Diskusi diadakan Bi-monthly Thematic Discussion (BITES). Pada diskusi ini, Kombes Polisi Sri Rumiati, dr. Ramona, Andreas Harsono, Firliana Purwanti hadir dan bicara. Diskusi ini bagian dari mempersoalkan tes keperawanan yang terjadi di institusi POLRI.
Saya hadir dan bikin beberapa sketsa. Berikut 3 dari beberapa sketsa yang saya hasilkan selama diskusi.

Yang menarik, Polwan Sri beri testimoni dan pengalaman bagaimana pada tahun 1984, saat ia kena wajib militer dan harus ikuti tes dua jari. Ia lalu berdinas sebagai Polisi Wanita. Sri bilang, yang penting calon polwan harus baik stamina dan mentalnya, bukan keperawanannya. Karena dia harus menolong orang tanpa pamrih. Selama ini polwan hanya dianggap mampu mengerjakan pekerjaan kantor dan tugas di luar kantor hanya dilakukan polisi laki-laki. Patriarkhis, lanjutnya. Padahal, ia pengin polwan ditugaskan misalnya di daerah konflik sebab banyak korban perempuan dan anak. Polwan Sri satu-satunya polwan yang ditugaskan di daerah konflik (Aceh). "Mungkin karena saya terlalu vokal, dan "dibuang," padahal kita tidak pernah tahu juga kapan dan dimana kematian akan datang, kan, " ceritanya.

Sebab Polwan Sri datang hadiri diskusi ini, ada utusan mabes Polri memantau. Seorang Jenderal di mabes Polri keberatan ada anggotanya bicara tes keperawanan

Thursday, November 27, 2014

Caricature Sketch

Today I visit Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD, Faculty of Fine Art & Design), Tarumanagara University. The university organize a sketching & drawing contest for senior high school. I attend there and do sketching. I meet Sony, a lecturer. I make him a caricature sketch. Here it is.





Monday, November 03, 2014

Sketsa Penumpang Commuter



Penumpang commuter line, Minggu petang, 2 Nopember 2014, Jakarta.

Jelang selesai bikin sketsa ini, para penumpang segera panik dan menutup tirai jendela gerbong setelah mendapat arahan dari operator commuter. Pasalnya terjadi tawuran di sekitar rel stasiun Manggarai. Perjalanan ditunda kurang lebih 10 menit menunggu laporan situasi aman.

charcoal di kertas. 

Wednesday, September 03, 2014

Mengunjungi Kota Lama, Semarang (lagi)



Selasa sore kemarin, 02 September 2014, aku jalan-jalan sore di sekitar Jl. Gajahmada, Semarang. Ada dua kawan sudah berada di tempat saat aku tiba. Kami bikin sketsa hingga maghrib tiba. Dua kawan ini pulang. Aku melanjutkan jalan-jalan. Menyusuri gang dan tak disangka aku keluar di ujung gang masjid kauman Johar. Mampir sebentar di masjid lalu pergi dan menggambar di belakang gereja Blenduk, Kota Lama Semarang. Berikut hasil menggambar di kegelapan belakang samping gereja Blenduk.

Pukul 20.30 aku lantas mampir di kantor tabloid Cempaka. Bertemu kawan-kawan hangat hingga pukul 22.00. Aku bergegas pulang dengan pertimbangan angkutan yang semakin malam semakin jarang ada.

2 menit sekeluarku dari kantor seorang kawan yang lain memberi kabar apakah aku masih di kantor. Kami lalu bertemu di gereja Blenduk lalu ngobrol barang sebentar. Tak lama, ia mengantarku menunggu angkutan hingga di Java Mall, jarak yang cukup jauh dari gereja Blenduk. Aku membatin, pukul 22.00 angkutan sudah jarang sekali lewat. Jalanan juga relatif sepi. Dingin.

Menunggu dalam waktu yang lumayan di depan mall, datanglah angkutan. Kami berpisah.

Monday, August 11, 2014

Sketsa Kota Lama Semarang


Aku ingat pada pertengahan Agustus 2010 naik kereta dari stasiun Pasar Senen, Jakarta dan turun di stasiun Tawang, Semarang. Setiba di stasiun siang itu dengan ransel carrier berat aku berjalan kaki hingga ke kawasan Kota Lama. Kota Lama tak jauh dari stasiun, jaraknya kurang lebih 300 meter.

Aku duduk di seberang taman, belakangan aku tahu itu taman Srigunting. Taman Srigunting berlokasi di samping gereja Blenduk. Siang jelang sore aku menggambar gambar perspektif sudut jalan dengan gereja dari seberang taman. Suasana saat itu belum seramai sekarang.

Minggu sore kemarin aku menggambar di tempat yang sama. Aku menggambar sudut berlawanan dari gambar tahun 2010. Secara fisik Kota Lama tak berubah, karena memang statusnya sebagai kawasan cagar budaya. Di sana terdapat banyak bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah. Jika menonton film GIE (Soe Hok Gie) tentu saja ada adegan yang dibuat di Kota Lama ini.

Beberapa tahun terakhir suasana taman dan Kota Lama mulai ramai dipenuhi kegiatan. Seperti ada gerakan untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat tentang sejarah. Tak heran jika beberapa program acara berbasis seni budaya dihelat di kawasan ini. Misal saja, beberapa waktu lalu sempat aku berkunjung, ada pameran gambar, foto, pentas lakon kesenian tradisional, kelompok-kelompok kreatif dan lain-lain.

Kali ini aku berkunjung ke Semarang dan di sini sedang diadakan pameran sketsa dalam rangka dua tahun kelompok Arsisketur di Galeri Semarang. Beberapa kawan juga datang dari luar Semarang; Sidoarjo, Jogja, Bali dan lain-lain. Bertepatan pula sedang diadakan pasar Klithikan, menjual benda-benda kuno dan lain-lain, yang dijadwalkan setiap sebulan sekali yaitu pada hari Minggu pada minggu kedua.

Sunday, June 15, 2014

Live caricature drawing at Erasmus Huis





Live caricature drawing at Erasmus Huis, Jakarta, June 4, 2010. This is on opening Hiperbola Cartoon Exhibition as a celebrate World Cup 2010.

Monday, June 02, 2014

Sketsa & Sekelumit Cerita Warga Korban Lumpur Lapindo

Warga membangun Sanggar AL FAZ, tempat kegiatan untuk anak-anak warga korban Lumpur Lapindo dan sekitarnya.




Pada peringatan 8 tahun Lumpur Lapindo 29 Mei 2014 ini saya mengunjungi warga korban Lumpur Lapindo. Delapan tahun warga korban berjuang mendapatkan hak-haknya kembali sepenuhnya, meski tak mungkin pada kehidupan sosial, moral, sejarah mereka dan lain-lain. Paling tidak pasca bencana ini hak untuk tempat tinggal dan pekerjaan sehari-hari. Sementara itu, mereka sekarang mulai membangun kembali kehidupan sosialnya dari awal.


Sehamparan lumpur yang meluap dan mengubur ratusan hektare.
PT. Lapindo Brantas, perusahaan milik grup Bakrie (Abu Rizal Bakrie (ARB)), melakukan eksplorasi di kawasan Sidoarjo ini mengakibatkan meluapnya lumpur dan menenggelamkan desa-desa di tiga kecamatan yaitu Tanggulangin, Jabon dan Porong. Ribuan warga diungsikan. PT. Lapindo Brantas abai akan tanggungjawabnya. Negara tak hadir mendampingi warga. Negara memberi dana talangan untuk ganti rugi terhadap warga korban. Ini berarti dana diambil dari dana rakyat secara kolektif. PT. Lapindo Brantas tak tersentuh secara hukum maka ini merupakan salah satu kekalahan negara oleh korporasi.



29 Mei 2006 lumpur menyembur ke permukaan di desa Renokenongo, kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo. Upaya pembendungan dilakukan seminggu ke depan dengan membangun tanggul dari pasir dan batu di sekitar sumber semburan. Lumpur semburan meluas dan bendungan tak kuat menahan. Usaha pertama ini gagal. Kini bendungan dibuat lebih lebar hingga mencapai 640 hektare. Upaya penanggulangan ini ini terus dilakukan. Yaitu:

1. Snubbing Unit dimulai awal bulan Juli 2006 (Gagal)
2. Side Tracking (Pengeboran menyamping) dimulai akhir bulan Juli 2006 (Gagal)
3. Relief Well (pengeboran miring) pertengahan Agustus 2006, sebanyak 2 kali relif well masing-masing di Desa Renokenongo dan Siring (gagal)
4. Memasukkan bola beton dimulai Sabtu (24/2/2007). Sebanyak 397 bola dari beton sudah dimasukkan (gagal).
5. Pembuatan saluran pelimpah (spill way) untuk membuang lumpur ke Sungai Porong, dimulai sejak awal Desember 2006 di Desa Pejarakan.
Aliran air bercampur lumpur berbau menyengat.

Akibat semburan :
- Pipa gas milik PT Pertamina yang membentang di sekitar semburan lumpur meledak pada 22 November 2006, sebanyak 17 orang meninggal.

- Sekitar 640 hektare kawasan di 3 kecamatan terendam lumpur. Kawasan yang terendam meliputi :
1. Kecamatan Porong :
Desa Jatirejo, Siring, Renokenongo, dan Mindi.

2. Kecamatan Jabon :
Desa Pejarakan, Kedungcangkring, dan Besuki.

3. Kecamatan Tanggulangin :
Desa Kedungbendo, Ketapang dan Kalitengah.
- Jumlah pengungsi :
1. Pengungsi pertama (sebelum pipa gas meledak) 2.605 keluarga dari 9.936 jiwa.
2. Pengungsi kedua (setelah pipa gas meledak) 2.278 keluarga dari 9.028 jiwa.
3. Pengungsi pengungsian gelombang ke-tiga sebanyak 937 keluarga dari 3.250 jiwa.
- Gedung atau bangunan yang terendam dan hancur :
1. Tempat tinggal/rumah : 10.426 unit
2. Sekolah 33 unit
3. Kantor pemerintahan 4 unit
4. Pabrik 30 perusahaan dengan jumlah pekerja mencapai dua ribu orang.
5. Tempat ibadah 65 unit
6. Pondok pesantren 3 buah

Lumpur yang menggumpal mengering.

Sementara ini ganti rugi warga korban tanggungan PT. Lapindo Brantas masih tersendat-sendat pembayarannya. Dana talangan ganti rugi yang menjadi tanggungan negara sudah dilunasi oleh negara, namun negara abai terhadap tugasnya seusai pembayaran itu, tak ada pendampingan. "Setelah pembayaran lunas, negara sudah tak memikirkan lagi warganya, silakan mau hidup dan mati dengan cara apa," ujar cak Irsyad.

Data diambil dari:
Suarasurabaya.net

Wednesday, March 12, 2014

Sketsa Penumpang Kereta Commuter


Sketsa seorang penumpang kereta commuter sedang tidur.

Sore hari kemarin aku lakukan perjalanan lagi. Lari sore. Dalam perjalanan kerap kali bertemu kawan-kawanku. Itu sering sewaktu kami ada dalam kereta yang sama atau saat berhenti. Sore kemarin bertemu dengan seorang kawan. Sore kemarin lusa juga bertemu kawan yang lain saat kereta berhenti. Mereka pergi bekerja, aku pergi berkegiatan jalan sore.

Dari waktu petang tiba hingga pukul 20 aku berlama-lama di satu tempat menyejukkan jasmani ruhani. Lalu aku jalan kaki lagi dan mampir di warung untuk makan. Pukul 21.30 aku bergegas ke stasiun untuk pulang naik kereta commuter pukul 22.

Selama perjalanan yang sekitar 15 menit di dalam kereta, aku bikin sketsa tiga halaman buku sketsa ukuran 14 cm x 10 cm atau A6. Sesekali jeda bikin sketsa, beberapa orang nampak heran memandangiku. Aku berdiri di dekat pintu. Ada yang mendekat dan menonton penasaran.

Aku lanjutkan bikin sketsa. Sketsa penumpang berdidi belum lengkap sebadan penuh, aku tutup buku sketsa sambil bergegas keluar gerbong. Aku sudah sampai di stasiun tujuan. Beberapa penumpang melongok heran saat aku keluar sekelebatan.

Monday, February 10, 2014

Sketsa, 10 Februari 2014



Petang tadi jalan keluar, ada keperluan sebentar. Sengaja tak bawa buku sketsa kecuali pensil dan boplen saat hendak pergi. Usai tuntaskan keperluan akan mampir di toko buku. Aku bermaksud beli buku sketsa. Saat mampir di toko buku, buku sketsa yang aku cari telah terbeli. Aku kemudian berlalu menuju stasiun dan naik kereta. Aku sempat unggah foto gerbong kereta yang lengang.

Sesampai di satu tempat aku duduk dan minum kopi di warung. Mengisi kekosonganku, kepada si empunya warung aku minta kertas cokelat pembungkus nasi. Aku bikin sketsa yang diunggah ini.

Kertas itu penuh sketsa, aku hendak pulang. Tiba-tiba angin kencang berhembus, gerimis turun lalu hujan. Aku menunggui hujan reda, aku minta kertas lagi dan menggambar. Hujan tak juga berhenti, aku berniat terobos semak-semak untuk sampai ke stasiun. Sebelum menerobos, aku juga tak lupa minta satu kertas lagi untuk bekal bikin sketsa saat pulang di dalam kereta. Total aku minta tiga kertas.

Senin malam, 10 Februari 2014

Kiri: Seorang penumpang commuter baca koran. Kanan: Calon penumpang commuter menunggu commuter datang.


Para penumpang kereta Comuter

Sunday, December 22, 2013

Bikin Sketsa di Hari Ibu


Sampai sore tadi aku tak bisa menulis, anggap saja status, di facebook mengenai hari Ibu. Sore ini mendung, meski juga sedikit gerimis, tapi udara cukup segar. Aku suka suasananya. Lalu aku berjalan kaki keluar dengan segenap rasa, entah pergi kemana sejauh dua kilometer juga tanpa tujuan pasti. Tapi jelas bahwa aku membawa ransel ABRI berisi alat menggambarku. Juga aku tenteng tripod penyangga kamera. Sebelumnya, empat gorengan pisang berbungkus kertas yang aku beli, aku masukkan juga dalam ransel.

Dalam perjalananku, seorang perempuan entah bersuku apa dan siapa keluarganya, menangis sesenggukan. Sedang tangannya masih memegang telepon genggam. Seperti menunggu seseorang tapi ia lalu bangkit dan berjalan. Kami berpapasan di trotoar. Jangankan aku, ia sendiri tak dapat mencegah tetesan air matanya yang jatuh. Tetap, aku tak bisa berbuat apa-apa selain mendengar derai tangisnya yang tak gaduh saat ia berlalu di belakangku. Dalam perjalanan, yang entah kemana dan dimana aku akan berhenti, di benakku terngiang seorang perempuan muda yang menangis barusan. Terus menerus. Aku ingat ini hari Ibu.

Aku berhenti di sebuah halte pemberhentian berukuran panjang 1,5 meter yang lengang. Lebar trotoar sekira 1,5 meter juga. Melihat suasana tikungan jalanan dan lalu lintas yang tak ramah, bisa jadi halte ini tak pernah digunakan semestinya. Di samping halte, di atas trotoar, tenda warung makanan sedang dipancang dan dibentang. Pedagang makanan bersiap buka warung. Aku menyantap tiga pisang goreng bawaanku. Di halte ini aku menggambar hamparan rumah-rumah warga Rawasepat, Cililitan, Jakarta Timur. Rumah warga terletak lebih menjorok ke bawah dari pada jalanan. Jika dilihat dari jauh, halte dimana aku berada seperti berada di atas atap rumah.

Selesai menggabar aku santap satu pisang gorengku. Seorang ibu melewatiku lalu berhenti. Kami bincang-bincang soal kampung yang banjir dan sampai pula pada gambar menggambar saat ia lihat gambarku. Ia ramah. Ia lalu bercerita tentang anaknya yang sempat kuliah di Senirupa UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Anaknya juga banyak terima kerjaan permintaan karikatur, katanya. Ia menanyaiku aku bersekolah dimana. Kami terus bincang-bincang. Hingga ia mengatakan bahwa ia harus lanjutkan berjalan sampai lampu merah di pertigaan jalan. Ia pergi dan aku tetap di sana beberapa saat. Tak lama aku beranjak pulang.

Di Hari Ibu aku temukan pengalaman bertemu dua perempuan. Perempuan muda yang sedih dan perempuan riang seusia di bawah ibuku. Oh iya, dengan ibuku, aku sudah lama tak bertemu. Kami baik-baik saja. Aku masih ingat terakhir kali aku memeluknya. Tepat ketika kami (aku, adik dan keluarga lain), meletakkannya di tanah. Setelah itu aku kerap kali bertemu dengannya dalam mimpi. Allahummaghfir laha warhamha wa'afiha wa'fu 'anha.



Friday, October 11, 2013

Video Caricature Roger Federer


Sketsa karikatur, saya presentasikan di acara bertema "Warrior of Art Against The Titan" pada 24 September 2013 lalu di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong. Senang lihat mahasiswa perhatikan. Mereka banyak tanya dan antusias. Ada sekitar 200 mahasiswa. Sempat pula saya mendemokan sketsa dengan media charcoal dan cat air.

Wednesday, September 18, 2013

Step by Step making Caricature

Pertukaran Karikatur adalah sebuah grup di Facebook untuk saling berbagi antar karikaturis dari seluruh dunia. Kami saling mengkarikaturkan satu sama lain.
 -------------------------------------------
I did this as a return caricature. Tony CBR from France made me a caricature. We call this a caricature exchange.


s



Monday, July 08, 2013

Penjual Sekoteng, Semarang


Penjual Sekoteng Khas Cirebon di Jl. Pahlawan, Semarang, Senin malam, 8 Juli 2013. 

Pada kesempatan kali ini saya adakan perjalanan ke Semarang. Beberapa kali pula selama di Semarang saya bertandang ke Jl. Pahlawan yang merupakan dimana kantor gubernur Jawa Tengah berada. Beberapa tahun terakhir Jl. Pahlawan didatangi banyak warga terutama pada sore hingga malam hari. Itu terjadi setelah perbaikan-perbaikan fasilitas umum berupa penataan dan pelebaran trotoar. Tak hanya sebagai area pedestrian, trotoar yang lebarnya kurang lebih 5 meter itu juga digunakan warga sebagai area kegiatan atau sekedar untuk kongkow-kongkow dan menikmati malam.

Suasana kota Semarang dengan banyaknya warga yang datang di ruang publik ini memberi dampak terhadap munculnya roda perekonomian. Sepanjang trotoar di seberang kantor gubernur akan banyak dijumpai penyedia jasa alat olah raga seperti sepatu roda (inline skate) juga sepeda-sepeda skuter mini. Di sisi jalan ada banyak penjual makanan dan minuman. Ada penjual kacang, penjual sekoteng, penjual kopi dan lain-lain. Berbaur dengan para penjual makanan dan minuman juga terdapat parkir motor dadakan di sepanjang trotoar.

Penataan fasilitas umum dan sosial ini memberi efek yang bagus dengan warga memanfaatkan ruang publik yang menjadi haknya. Akan tetapi gejala ini juga memunculkan permasalahan baru. Misal saja sampah. Beberapa warga masih terlihat membuang sampah seenaknya meskipun tempat sampah sudah disediakan. Hal ini hampir secara umum terjadi di beberapa tempat umum, tak hanya di Semarang. Masalah lain lagi misal saja parkir. Seorang petugas parkir bahkan hanya memberi selembar karcis foto kopi lalu meminta tarif parkir Rp 2.000. Ia hanya memiliki satu karcis asli.  Permasalahan lain juga muncul, maraknya pengemis. Ada permasalahan sosial yang krusial. Bermunculan pengemis ini sering mengiringi perkembangan pembangunan suatu daerah. Kita sering tak bisa membedakan manakah pengemis karena tekanan kebutuhan hidup, pengemis karena pekerjaan, atau pengemis bagian dari sindikat.

Dari sedikit gejala positif negatif yang muncul itu, paling tidak, pemerintah provinsi/kota Semarang sudah beranjak dari stagnanisasi seperti kota-kota lain yang parahnya cenderung mundur. Namun menjadi harapan besar bahwa pemprov Jateng ataupun Pemkot Semarang tak hanya berfokus pada pembangunan ibu kota provinsi, melainkan juga pada daerah pinggir kota dan daerah-daerah lain yang dinaunginya. Semarang dan daerah-daerah lain, semoga selalu berbenah sesuai janji-janji kampanye kalian.

Friday, May 10, 2013

Sketsa malam

Hingga pukul 22.00, Kamis, 09 Mei 2013 aku duduk-duduk di depan Kalibata City Square dari pukul 20.40. Kehadiranku di sana ya cuma iseng dan duduk-duduk sambil amati aktifitas warga yang keluar dan masuk, pergi dan datang. Sketsa yang aku bikin ini sketsa suasana di halte yang dibangun Kalibata City. Ada taksi yang menunggu antrian, sementara sepeda motor juga diparkir disana. Ada juga beberapa penjual mangkal disana.

Saat aku bikin ini, suara perempuan mengagetkanku, "mas, saya dong yang digambar". Sontak saja aku menoleh. Rupanya mereka tiga gadis belia, juga berambut panjang. Segera aku membalasnya, "ayo duduk-duduk di sini dong". Hanya saja mereka berlalu begitu saja.

Yang mengisengiku tadi gadis berpakaian hitam. Mereka jinjing tas. Dengan tampilan celana pendek mereka cukup menggemaskan. Pandanganku hanya mengikuti langkah mereka. Tak lama siluet mereka bahkan tak tampak lagi. Aku masih melanjutkan sketsaku. Tak lama aku beranjak pulang. Dan hanya memutar, tak lama pula aku telah sampai di tempat istirahat.

Jakarta.
Pena dan cat air di kertas.

Thursday, January 10, 2013

Spontanitas dalam Goresan Sketsa


"Menggambar sebuah objek dengan
spontan dan tak punya kewajiban untuk
mempermanis gambar tersebut rasanya
menjadi kebebasan mutlak mereka."

Sketcher atau penyeket, yang tergabung dalam Indonesia’s Sketchers, memang mengamini kebebasan
tersebut. Bagaimana tidak, jika kebanyakan hasil dari menggambar akan lebih menarik perhatian dan disebut indah ketika goresan gambar tersebut tertata dengan rapi, disketsa, keindahan itu terlihat bila sebuah gambar dengan garis-garis yang agak karutmarut berhasil menunjukkan
ciri ataupun sisi humanis dari sebuah objek.

Bebas, spontan, dan tidak membutuhkan keakuratan garis barangkali menjadi paham yang digunakan oleh para penyeket. Mensketsa objek nyata yang ada di hadapan mereka dalam beberapa menit dilakukan oleh para penyeket dengan menggunakan paham tersebut.

Kawasan Pasar Antik, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Koordinator Program Indonesia’s Sketchers Nashir Setiawan mengatakan, meski spontan dan bebas,sketsa yang dilakukan kelompoknya tersebut memang tidak dilakukan lewat objek yang hanya ada di khayalan atau tidak nyata.”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan. Makanya, digambarnya pun langsung pakai pen. Jika ada garis yang salah atau kurang akurat, tidak masalah jika langsung ditabrak. Tapi yang pasti sketsa itu hasil dari gambar melihat langsung sebuah objek,bukan dari foto ataupun imajiner,”tuturnya.

Penyeket yang juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu menceritakan bahwa aktivitas yang dilakukan Indonesia’s Sketchers selama ini memang tidak memiliki kriteria khusus dalam penentuan objek. Meski begitu, program bernama Sketsa Bersama yang dilakukan satu bulan sekali itu biasa memilih tempat tempat pusat keramaian.

”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan.
Makanya, digambarnya pun
langsung pakai pen.”
NASHIR SETIAWAN
[Koordinator Program
Indonesia’s Sketchers]


Sebelum menggelar Sketsa Bersama, mereka terlebih dahulu berkumpul dan berembuk untuk menentukan lokasi menggambar mereka. ”Biasanya kalau sudah ketemu lokasinya, kita akan menentukan objek apa dari sekitar tempat tersebut yang dapat digambar. Tidak semua bisa digambar karena yang digambar itu harus objek yang bisa mencirikan atau salah satu keunikan wilayah tersebut,”katanya.

Nashir mengatakan, tempat wisata ramai menjadi salah satu tempat yang tepat untuk gelaran rutin mereka. ”Kita pilih tempat yang lebih terbuka. Ini juga agar dapat diapresiasi oleh orang lain,” imbuhnya. Pada saat itulah, tambah Nashir, Indonesia’s Sketchers kemudian menemukan orangorang baru yang tertarik dengan dunia gambar-menggambar ini. Tidak sampai di situ,kegiatan mensketsa ini pun kemudian mempersilakan para anggota Indonesia’s Sketchers atau masyarakat yang baru bergabung untuk menggelar hasil sketsa mereka.

Sketsa-sketsa tersebut digelar bukan untuk dijual, melainkan dipajang agar dapat langsung dikomentari apakah masih kurang atau sudah bagus. Kegiatan para anggota Indonesia’s Sketchers ini juga dapat dilihat dengan mudah di ruang seni terbuka seperti Taman Suropati ataupun Kota Tua. Mereka lebih sering mensketsa bangunan atau landscape.

Pertunjukan Wayang kulit di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta.

Menurut Nashir,objek tersebut dapat disketsa dengan lebih cepat dibandingkan menggunakan manusia sebagai objek. ”Memang kalau bertemu itu kita lebih banyak menggambar landscape karena lebih cepat. Objek yang stay dan tidak bergerak, lebih membutuhkan sedikit waktu. Sedangkan menggambar orang itu pasti akan lebih banyak waktu karena mereka bergerak,”katanya.

Salah satu anggota Indonesia’s Sketchers Toni Malakian menceritakan pada awalnya sebuah sketsa dibuat tanpa perlu menggunakan teknik. Sulit mungkin,namun ada kesenangan tersendiri yang dihasilkan dari sketsa-sketsa tersebut. ”Untuk awalnya sebenarnya enggak perlu pakai teknik. Kita pakai intuisi aja, pakai feeling, dan kejelian mengamati,” katanya.

Dari sana, kata Toni, penyeket akan mengasah kepekaannya dalam mengamati sebuah objek. Merekam objek dengan cepat dalam ingatan adalah hal yang penting. ”Saya sering menggambar orang.Lagi asyikasyiknya bikin sketsa, eh dia pergi. Tapi, itulah asyiknya. Karena kita sudah menghafal bentuk kaki atau elemen lainnya, jadi bisa kita teruskan sendiri,” akunya.

Indonesia’s Sketchers awalnya dibentuk karena keinginan seorang wanita bernama Atit Dwi Indarty, 27, yang merasa penyeket di Indonesia tidak memiliki wadah sendiri. Padahal di dunia sudah ada Urban Sketchers yang anggotanya terdiri atas para penyeket dari seluruh dunia. Usut punya usut, Atit akhirnya bertemu Dhar Chedar,43,yang merupakan kontributor Urban Sketchers di Indonesia.

Dari sanalah keduanya mengumpulkan para penyeket Indonesia dalam satu komunitas dan akhirnya terbentuk pada Agustus 2009. Nashir mengatakan bahwa Indonesia’s Sketchers saat ini sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota, baik yang aktif ataupun tidak aktif dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta ada sekitar 1.500 orang,yang aktif di angka 30-50 orang. Dalam waktu dekat ini, Nashir mengatakan, Indonesia’s Sketchers berencana bertemu untuk membahas program lebih lanjut yang akan mereka lakukan. ●  Harian Seputar Indonesia | Reporter: Megiza

*Liputan Indonesia's Sketchers di Harian Seputar Indonesia.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...