Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Monday, December 14, 2015

Saturday, February 28, 2015

Anindya, Palu Arit dan Jatuh Cinta



Terhadap Anin, Anindya Kusuma Putri yang mahasiswi teknik Planologi Universitas Diponegoro (Undip) angkatan 2010 dan memenangi kontes Puteri Indonesia 2015, banyak mahasiswa Planologi yang satu kampus takut jatuh cinta. Khawatir ditolaknya. Ia cantik dan pintar. Juga aktif. Paling tidak itu yang diungkapkan rektor Undip, Prof Sudharto P Hadi, seperti yang ia dengar dari Riyan Sukarsa, anaknya yang seteman kuliah Anin.

20 Februari 2015 Anin memenangi kontes Puteri Indonesia ke-19. Namanya makin dikenal masyarakat meski cuma gara-gara hanya foto memakai kaos bersablon Palu Arit sewaktu ia berada di Vietnam. Warna kain merah dengan warna kuning sablon membuat baju itu tampak kian menyala. Ia unggah foto tersebut di Instagram. Dengan itu, sebagian masyarakat Indonesia tak setuju. Juga berang. Alasannya macam-macam. Ia beri klarifikasi bahwa pakai kaos itu hanya untuk menghormati kawan-kawan Vietnamnya saat kegiatan berkebun bersama.

Kita sering senang dengan kawan-kawan di luar dari ke-kita-an kita, yang entah apapun itu, misal saja memakai pakaian adat tradisional kita. Eh si Nelson Mandela orang Afrika Selatan suka pakai baju batik entah dalam apapun acara yang ia ada. Kita Senang ia menghormati, yang menurut kita itu budaya kita. Eh ada acara di kampung, ada orang Norwegia bisa dan berbahasa Indonesia. Ia pakai pakaian adat pula. Ia ingin hormati orang Indonesia setempat. Eh ada orang Batak sedang ikut acara di Jogja, ia pakai pakaian adat Jogja. Ia bilang buat hormati warga setempat. Eh Anin di Vietnam pakai kaos bersablon Palu Arit buat rasa ke-Vietnaman-nya guna hormat dengan warga setempat.

Lalu apakah hanya karena memakai, apalagi hanya buat tujuan menghormati orang lain, benar-benar mencerminkan garis ideologi atau bahkan keyakinan seseorang? Apakah si Nelson Mandela benar-benar karena ia orang Indonesia? Apakah si orang Norwegia itu juga adalah sekonyong-konyong orang Indonesia hanya karena berpakaian adat dan berbahasa Indonesia? Apakah kawan Batak kita itu ujug-ujug berubah menjadi Jawa? Kawan-kawan Vietnam Anin tentu kemungkinan sangat besar senang, sebab Anin hormati mereka. Sama juga, kita senang sebab Nelson Mandela "mengiklankan" batik Indonesia. Kita senang mau-maunya si orang Norwegia itu pakai pakaian adat dan mahir berbahasa Indonesia pula. Konteksnya adalah saling menghormati. Logika sederhanaku soal keyakinan urusan hati. Siapa yang tahu hati seseorang.

Palu Arit sebuah lambang yang dipaham-ajarkan pemerintah Indonesia di sekolah-sekolah semenjak dini dengan asosiasi negatif. Ia lambang Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam versi sejarah "narasi resmi" yang dipaksakan pemerintah, partai ini dikonstruksi sebagai gerakan pemberontak yang berbahaya yang hendak menggulingkan dan mendirikan Indonesia dengan nafas komunisme pada 1948 di Madiun oleh tokoh-tokoh PKI. Karena ini adalah narasi pemerintah sebagai "pemenang" maka dengan mudah pemahaman ini menyebar dan dianggap satu-satunya kebenaran tunggal. Ini tercermin di situ Wikipedia misalnya. Di sana tercatat adalah Muso, tokoh PKI yang didukung Amir Sjarifuddin, Menteri Pertahanan saat itu, memporklamirkan Negara Soviet Indonesia pada 18 September 1948 yang ia sendiri sebagai presiden dan Sjarifuddin sebagai perdana menteri. Reaksi pemerintah adalah menumpasnya habis-habisan.

Singkatnya bahwa PKI adalah partai pemberontak yang hendak mengubah haluan negara menjadi komunis. Buntutnya adalah penumpasan tokoh-tokoh dan yang dianggap pengikut partai dan ideologi komunis secara besar-besaran terutama pada 1965. Sejak dan hingga akhir menjabat presiden, Soeharto telah melarang semua orang dan keturunannya yang terkait dengan ideologi komunis terhadap hak-hak warga negaranya. Siswa siapapun diwajibkan menonton film Pemberontakan G30 S/PKI yang selalu dipertontonkan setiap tanggal 30 Sepetember. Usaha stigmatisasi terhadap ideologi komunis oleh pemerintah ini sebegitu rupa dan tertanam di benak rakyat. Nalar sejarah masyarakat diperkosa puluhan tahun dengan perspektif tunggal. Imbasnya, jika siapa bicara atau apapun yang dianggap menyangkut ideologi komunisme maka akan berhadapan dengan rakyat yang mengidap sakit nalar yang sensitif.

Narasi Resmi ini adalah versi tunggal pemerintah. Pemerintah menolak banyak sumber lain yang berbeda bahkan dari para pelaku sejarah sekalipun. Bahwa pemerintah tidak akan pernah merevisi "kebenaran" tunggalnya dan tidak akan pernah menerima fakta lainnya. Misal saja bagaimana narasi Soemarsono dalam buku Revolusi Agustus Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah (Hasta Mitra, 2008) yang merupakan penuturan Soemarsono sebagai pelaku sejarah di seputar peristiwa Madiun ini. Tentang kesaksian lain, bahkan dari para pembunuh-pembunuh korban di Sumatera Utara yang sempat dinarasi-filmkan dengan Jagal atau versi judul Inggrisnya, The Act of Killing, juga Senyap. Dua film yang digarap Joshua Oppenheimer yang menghebohkan dan membikin gerah pemerintah dan sekelumit kelompok radikal pendukung pemerintah. Dua film tersebut me-reka ulang bagaimana eksekusi-eksekusi dilakukan dan siapa-siapa korban yang bahkan tak terkait dengan partai dan ideologi ini. Pemerintah sama sekali masih abai meskipun rejim reformasi telah berjalan sejak 1998.


***

Anin pakai kaos merah bersablon kuning palu arit menyala bercaping pula di Vietnam itu aku asik dan enak saja lihatinya. Apalagi ia juga tak suka bersolek. Kalau soal jatuh cinta padanya aku tak takut. Kenapa mesti takut kalau memang itu sesungguhnya. Bukankah Tuhan adalah Rahman Rahim. Aku tak bisa menolak anugerah-Nya.

Sejak Kamis malam 26 Februari hingga sekarang ini, aku mengunjungi kampus kelasnya. Jauh-jauh dan pagi sekali aku berangkat dari Jakarta ke kampus Undipku di Semarang. Entah dimana, Anin tak kulihat. Di pelataran hanya aku temui pampangan spanduk di depan gedung Planologi. Sebuah ucapan selamat atas menang kontes Puteri Indonesianya.

28 Februari 2015

Tuesday, January 13, 2015

Rekening Gendut Komjen. Budi Gunawan


The Corruption Eradication Commission (KPK) names a chief police presidential nominee Comm. Gen. Budi Gunawan as a graft suspect on Tuesday, January 13, 2015. According to the investigation is about the police general's suspicious bank accounts

KPK tetapkan tersangka calon Kapolri Komjen. Budi Gunawan yang diajukan presiden Joko "Jokowi" Widodo sebagai tersangka pada Selasa, 13/01/2015, dalam kasus rekening gendut indikasi gratifikasi.

Monday, December 01, 2014

Buku Filep Karma: SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG




Beberapa tahun lalu aku sempat memulai bikin kartun dan lukisan Filep Karma. Dalam kartunku, presiden SBY menawari Karma keringanan dengan mengurangi masa hukuman penjara. Filep Karma menolak, sebab ia tak bersalah. Jika ia terima keringanan tersebut sama saja ia terima dan akui dirinya bersalah. Filep Jacob Samuel Karma adalah pegawai negeri Jayapura kelahiran Biak tahun 1959.
Di atas menara air dekat pelabuhan berkibar bendera Bintang Kejora, lambang kemerdekaan bangsa Papua. Ia dan demonstran lainnya diburu dan ditembaki, lalu ditangkap aparat gabungan. Peristiwa ini dikenal Biak Berdarah 6 Juli 1998. Pemerintah Republik Indonesia penjarakan Filep Karma dan menjatuhinya hukuman penjara 6,5 tahun. Pada tahun yang sama ia ajukan banding. Ia bebas.
Pada 1 Desember 2004 ia pidato soal peminggiran etnik Papua di tanah Papua dengan memasang bendera Bintang Kejora. Lagi, pemerintah Indonesia menangkap dan menjatuhinya hukuman 15 tahun penjara dengan tuduhan makar. Karma adalah tokoh yang menuntut Papua merdeka secara damai. 10 tahun dipenjara pemerintah Indonesia, ia bikin buku. Judulnya SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG, Rasialisme Indonesia di Tanah Papua. Hari ini, 1 Desember 2014 ia diluncurkan di Papua.

Thursday, June 05, 2014

Karikatur | Caricature





Karikatur, caricature (bahasa Inggris), karikatur (bahasa Jerman), caricatuur (bahasa Belanda) semuanya berasal dari kata caricare (bahasa Italia, berarti melebih-lebihkan). Kata caricare sendiri ada hubungannya dengan kata lain, caratere (bahasa Italia), artinya character (bahasa Inggris), karakter (bahasa Belanda) dan dalam bahasa Indonesia artinya watak. Caricare ini juga berkaitan dengan kata “cara” (bahasa Spanyol) artinya wajah.

Dalam Encyclopedie International karikatur diartikan sebagai “a satire in a pictorial and sculptural form.” Artinya bahwa sindiran dalam bentuk gambar (dua dimensi) dan sculptural (tiga dimensi). Dalam Encyclopedie Britanica, caricature is the distorted presentation of a person, type or action, commonly a silent feature, is seized upon the exaggerated, or pictures or animals, birds or vegetables are substituted for barts of human being or analogy is made to animal actions
Karikatur sebagai penyajian/penggambaran seseorang dalam keadaan terdistorsi, yang dibuat secara berlebihan (mengadopsi bentuk) dari binatang, burung, atau sayur-sayuran, buah-buahan yang menggantikan bagian-bagian (anatomi) dari manusia sebagai analogi. Analogi itu bisa dimaksudkan sebagai sifat-sifat yang menyamai binatang dan lain-lain, namun itu tidak selalu dimaksudkan seperti itu.

Wajah, dalam karikatur, tentu saja memegang peranan penting dalam penggambaran watak seseorang dengan ciri-cirinya yang khas yang kemudian ditonjolkan atau dilebih-lebihkan (exaggeration) itu.


Jadi, karikatur adalah cara menggambarkan orang (wajah) dengan sengaja melebih-lebihkan atau mendistorsi ciri khas bagian tertentu dari suatu objek, penampilan mereka dan sifat-sifat karakteristik mereka namun tetap mempertahankan kemiripan.
"Caricatures are a way of portraying people by intentionally exaggerating or distorting their appearance and their characteristic traits while still maintaining a likeness."

In practice, creating a caricature depends on two equally important elements (Ada dua elemen yang sama penting dalam membuat karikatur):
  1. The visual experience; how we see the subject’s features, the impression we have of the subject’s physical appearance. (Pengalaman visual kita, yaitu bagaimana kesan kita melihat penampilan seseorang itu secara fisik. Misal saja bentuk wajahnya bulat, kotak, lonjong, hidungnya mancung, mulut lebar, bibir tebal dll).
  2. Knowledge (or intuition) of the intimate character of the person (Pengetahuan atau intuisi kita terhadap watak seseorang). 



Monday, June 02, 2014

Sketsa & Sekelumit Cerita Warga Korban Lumpur Lapindo

Warga membangun Sanggar AL FAZ, tempat kegiatan untuk anak-anak warga korban Lumpur Lapindo dan sekitarnya.




Pada peringatan 8 tahun Lumpur Lapindo 29 Mei 2014 ini saya mengunjungi warga korban Lumpur Lapindo. Delapan tahun warga korban berjuang mendapatkan hak-haknya kembali sepenuhnya, meski tak mungkin pada kehidupan sosial, moral, sejarah mereka dan lain-lain. Paling tidak pasca bencana ini hak untuk tempat tinggal dan pekerjaan sehari-hari. Sementara itu, mereka sekarang mulai membangun kembali kehidupan sosialnya dari awal.


Sehamparan lumpur yang meluap dan mengubur ratusan hektare.
PT. Lapindo Brantas, perusahaan milik grup Bakrie (Abu Rizal Bakrie (ARB)), melakukan eksplorasi di kawasan Sidoarjo ini mengakibatkan meluapnya lumpur dan menenggelamkan desa-desa di tiga kecamatan yaitu Tanggulangin, Jabon dan Porong. Ribuan warga diungsikan. PT. Lapindo Brantas abai akan tanggungjawabnya. Negara tak hadir mendampingi warga. Negara memberi dana talangan untuk ganti rugi terhadap warga korban. Ini berarti dana diambil dari dana rakyat secara kolektif. PT. Lapindo Brantas tak tersentuh secara hukum maka ini merupakan salah satu kekalahan negara oleh korporasi.



29 Mei 2006 lumpur menyembur ke permukaan di desa Renokenongo, kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo. Upaya pembendungan dilakukan seminggu ke depan dengan membangun tanggul dari pasir dan batu di sekitar sumber semburan. Lumpur semburan meluas dan bendungan tak kuat menahan. Usaha pertama ini gagal. Kini bendungan dibuat lebih lebar hingga mencapai 640 hektare. Upaya penanggulangan ini ini terus dilakukan. Yaitu:

1. Snubbing Unit dimulai awal bulan Juli 2006 (Gagal)
2. Side Tracking (Pengeboran menyamping) dimulai akhir bulan Juli 2006 (Gagal)
3. Relief Well (pengeboran miring) pertengahan Agustus 2006, sebanyak 2 kali relif well masing-masing di Desa Renokenongo dan Siring (gagal)
4. Memasukkan bola beton dimulai Sabtu (24/2/2007). Sebanyak 397 bola dari beton sudah dimasukkan (gagal).
5. Pembuatan saluran pelimpah (spill way) untuk membuang lumpur ke Sungai Porong, dimulai sejak awal Desember 2006 di Desa Pejarakan.
Aliran air bercampur lumpur berbau menyengat.

Akibat semburan :
- Pipa gas milik PT Pertamina yang membentang di sekitar semburan lumpur meledak pada 22 November 2006, sebanyak 17 orang meninggal.

- Sekitar 640 hektare kawasan di 3 kecamatan terendam lumpur. Kawasan yang terendam meliputi :
1. Kecamatan Porong :
Desa Jatirejo, Siring, Renokenongo, dan Mindi.

2. Kecamatan Jabon :
Desa Pejarakan, Kedungcangkring, dan Besuki.

3. Kecamatan Tanggulangin :
Desa Kedungbendo, Ketapang dan Kalitengah.
- Jumlah pengungsi :
1. Pengungsi pertama (sebelum pipa gas meledak) 2.605 keluarga dari 9.936 jiwa.
2. Pengungsi kedua (setelah pipa gas meledak) 2.278 keluarga dari 9.028 jiwa.
3. Pengungsi pengungsian gelombang ke-tiga sebanyak 937 keluarga dari 3.250 jiwa.
- Gedung atau bangunan yang terendam dan hancur :
1. Tempat tinggal/rumah : 10.426 unit
2. Sekolah 33 unit
3. Kantor pemerintahan 4 unit
4. Pabrik 30 perusahaan dengan jumlah pekerja mencapai dua ribu orang.
5. Tempat ibadah 65 unit
6. Pondok pesantren 3 buah

Lumpur yang menggumpal mengering.

Sementara ini ganti rugi warga korban tanggungan PT. Lapindo Brantas masih tersendat-sendat pembayarannya. Dana talangan ganti rugi yang menjadi tanggungan negara sudah dilunasi oleh negara, namun negara abai terhadap tugasnya seusai pembayaran itu, tak ada pendampingan. "Setelah pembayaran lunas, negara sudah tak memikirkan lagi warganya, silakan mau hidup dan mati dengan cara apa," ujar cak Irsyad.

Data diambil dari:
Suarasurabaya.net

Monday, May 26, 2014

Skandal Korupsi Dana Haji

Kamis, 22 Mei 2014, KPK (Komite Pemberantasan Korupsi) menetapkan Menteri Agama, Suryadharma Ali, sebagai tersangka korupsi dana haji tahun 2012-2013.

Saturday, December 07, 2013

Caricature of Nelson Mandela


Caricature of Nelson Mandela



Lahir/Born: July 18, 1918, Mvezo, South Africa  
Meninggal/Died: December 5, 2013

Wednesday, February 06, 2013

Karikatur Bu Anik

Anik Rakhmawati seorang dosen seni rupa.
Tak ada kecemberutan ketika tahu dan lantas menyikapi karikatur semacam ini. Apalagi menganggap ini sebagai sebuah penghinaan terhadapnya. Ya, justru beliau girang dengan ini, tampak gembira sekali. Aku hanya hormat padanya dengan bikin ini. Ya, seharusnya karikatur tak lagi disikapi sebagai sebuah bentuk pelecehan, tapi bisa menjadi bentuk lain yang sejak awal memang mengandung humor. Aku senang bahwa beliau gembira dengan ini.

Tuesday, February 05, 2013

Diskusi Penanda "Pengganggu" Logika

Berikut adalah apa yang saya tulis mengenai penanda pada gambar, atau bahasa visual di sebuah media jejaring sosial Facebook. Yang bila dipahami dengan logika linier tentu akan berbeda hasilnya. Maka kenapa di sekolah kita mempelajari gaya bahasa (majas dll), semiotika, dalam bahasa Arab ada ilmu Mantiq/Balaghah. Ternyata mendapat beragam respon dan reaksi dari apa yang saya tulis. Dan, terjadi saling berkomentar yang terkesan berdebat. Untuk menghindari perdebatan saya berusaha untuk mengundang kawan-kawan lain untuk barangkali saja memiliki pandangan berbeda, bukan untuk menguatkan atau menyudutkan salah satu pendapat. Inilah komentar-komentar itu.


Toni Malakian shared a photo.
21 hours ago ·
Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan setengah manusia dan setengah hewan. Sama seperti dalam kalimat yang mengandung metafora, kita tak bisa memaknai kalimat itu apa adanya. Pembubuhan atau pemuatan penanda-penanda itu cara "nakal" untuk membuat sesuatu menjadi satire. Dan itu mempermainkan logika kita, maka kita tak bisa hanya cuma mengandalkan logika matematis linier karena logika akan menolak itu.
LHI PKS

Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan setengah manusia dan setengah hewan. Sama seperti dalam kalimat yang mengandung metafora, kita tak bisa memaknai kalimat itu apa adanya. Pembubuhan atau pemuatan penanda-penanda itu cara "nakal" untuk membuat sesuatu menjadi satire. Dan itu mempermainkan logika kita, maka kita tak bisa hanya cuma mengandalkan logika matematis linier karena logika linier akan menolak itu.
LHI PKS

Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan seten...See more
2Like · · · · Promote
  • Anik Rakhmawati asiiikk wkwkkk ... lalu jenggot memang punya makna yg pada tempatnya ...
  • Arif Wahyudi hehehe..ketawanya khas
  • Toni Malakian wkwkwkwkwk wah jenggot (lagi) bu Anik Rakhmawati
    Arif Wahyudi
  • Dan Ardana Siswasumarta Ces Pleng kalau aku mengatakannya...
  • Husnawi I-a HAHAHAHAH......................SAPISAPISAPISAPI import
  • Toni Malakian Pak Sabariman Rubianto Sinung seharusnya tak berat
    Pak Dan Ardana Siswasumarta kayak puyer kepala ces pleng
    Pak Husnawi I-a banyakan impor ya
  • Dan Ardana Siswasumarta Karikatur anda bisa menghilangkan rasa pusing orang2 yang merindukan kejujuran dan bersih nya aroma kekotoran di negeri ini mas...
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov kalo kepalanya diganti kepala mas Toni gimana tuh...
  • Toni Malakian haha buatku nggak masalah mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov, kalaupun ada yang bikin begitu ya makasih sekali, tertantang mau bikin sapi berkepalaku? Silakan, dengan senang hati kuterima
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov sebelum menghina orang lain, coba hina dirimu, kakakmu, ibumu, ayahmu, gurumu dam orang2 yg kamu sayangi.... bagaimana? berani....?? apakah masih bisa menghilangkan rasa pusing ??
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov just kidding... cuma mau bilang, kalau sebuah karya yg jadi itu belumlah selesai, karena ttp harus ada pertanggung jawaban kepada publik, dan Tuhan (di akherat kelak)
  • Toni Malakian sebentar mas, nanti kita komen-komenan ya hehe, ada kerjaan revisi sbentar hehehe
  • Toni Malakian  siiip hehe... bahasan disini adalah bagaimana membaca sebuah gambar dengan penandanya/simbol. Bukan dalam tataran untuk hina menghina seseorang. Jauh dari itu. Dirasa itu adalah penghinaan atau pujian maka itu tergantung pada tafsir masing-masing atas gambar itu. Wilayah tafsir dan apresiasi memang luas. Apalagi dalam konteks seni karikatur yang juga sebagai bagian dari dunia kesenirupaan yang penuh dengan tanda, tafsir dan lain-lain. Apalagi dengan konteks jaman dengan apa yang terjadi di dalamnya. Semoga mas Taufiqov memahami konteks apa yg dibahas disini, menyoal bahasa tanda sebagai sesuatu yang "mengganggu" logika linier.

    Dari pengalaman beberapa media pers misalnya. ada beberapa tokoh politik yang dengan senang hati bahkan meminta karikatur tentang dirinya yang digambarkan terdistorsi dengan bentuk binatang (mungkin bagi orang lain ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya) itu dikirimkan ke rumahnya. Terakhir dengar adalah dari seorang redaktur tv, dia cerita soal Sutan Bhatoegana yg meminta karikatur semacam itu, bahkan dia sangat senang dan tertawa terbahak-bahak dan berbuntut dia ingin memiliki karikatur itu.

    Cerita lagi, Pak Sukardi Rinakit, penulis dan juga beberapa predikat lain, pernah menelponku dan aku tak tahu siapa yg telpon waktu itu karena memang tak punya nomornya, dia perkenalkan diri. Di telpon dia tertawa menertawakan karikatur dirinya dan kedua orang temannya yang digambar olehku. Mungkin bagi orang lain itu hal sangat memalukan, karena sudah mereduksi dan menambahi bentuk-bentuk fisiknya yang jauh dari bentuk proporsi sebenarnya. Tak ada yang salah dengan itu, mereka bahkan sangat setuju, itulah dunia karikatur. Lagi, terakhir menggambar live di sebuah acara, anggap saja seseorang biasa, tampaknya adalah sopir dari tuannya, dia meminta untuk wajahnya "dihancurkan." Ternyata dia tertawa senang tak karuan. Beberapa yang lain tak suka, dan terutama memang di Indonesia. Aku tak perlu membandingkan Indonesia dengan apresiasi di Eropa dan Amerika. Di sana mereka jauh meninggalkan "kekolotan" berpikir kita.

    Artinya itu kembali pada diri sendiri bagaimana menafsirkan itu sebagai sebuah bentuk penghinaan atau bukan. Mereka yang pada saat terkena isu panas pun bahkan tertawa dan ingin memiliki karikatur itu. Ini masalah penafsiran masing-masing. Bagaimana kita mau berkembang kalau gambar yang semacam itu disikapi sebagai sebuah penghinaan yang merupakan bagian dari proses berpikir. Masa kita berpikir saja kok nggak boleh, sampai harus "ditakut-takuti" dengan pertanggungjawaban terhadap Tuhan sekalipun. Pertanggungjawaban terhadap Tuhan itu masing-masing lah, jangan khawatir. Tuhan sudah punya programnya sendiri.Bukan berarti menentang Tuhan loh, atau tak takut. Tapi biarkan akal kita dipergunakan untuk berpikir untuk mencari dan mencari hehehe...

    Beneran loh karikatur di Indonesia itu masih belum se"liar" dan gahar di luaran sana. Masih hangat, kemarin-kemarin karikatur Netanyahu muncul di sebuah media pers di Inggris bertepatan dengan peringatan Holocaust. Padahal mungkin baru sekali itu mereka tampilkan karikatur Netanyahu. Israel tak terima dengan itu. Apa bedanya dengan karikatur-karikatur yang sering memunculkan presiden Assad yg berlumuran darah, tapi publik juga diam saja, artinya ya itu ada masalah penafsiran yang berbeda. Bahkan pembuat karikatur Netanyahu sama sekali tak tahu kalau hari itu adalah hari peringatan Holocaust. Sama sekali pembuatnya tak berpikir bahwa itu untuk hari holocaust, dia bahkan berpendapat bahwa ya begitulah Netanyahu selama ini.

    Dan beneran tak merasa dihina meskipun ada kawan-kawan yg bikin karikaturku bahkan menurut orang lain memalukan. Aku pikir banyak sudah aku mempermalukan diri sendiri kok, hanya saja karena tak tahu malu, jadi nggak merasa malu hehe. Bukan itu, tapi ya karena itu kuanggap bukan sebagai sebuah penghinaan atau pelecehan fisik atau melecehkan ciptaan Tuhan. Kita kembali pada kemampuan diri untuk seberapa jauh memandang sebuah karya. hehe

    Apakah menurut mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov gambar di atas dianggap sebagai sebuah penghinaan?
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov bagi saya iya, padahal belum di putuskan LHI itu memang pelakunya.... sayapun sering juga berpikir liar, tapi saya belum punya jawabannya kalau nanti Tuhan meminta pertanggung jawaban karya2 saya yg liar itu..... dan bagi saya proses berpikir yg liar cukup dilakukan dalam inkubasi pikiran dan hati saya, tidak perlu semua orang ikut terlibat dan bagi saya pertanggung jawaban di hadapan Tuhan itu adalah keniscayaan, bukan sekedar ancaman utk menakut2i. Tapi Tuhan juga tidak diktator kok, karena masing2 pekerjaan akan berlaku hukum sebab-akibat, maka kita pun musti percaya ada konsekwensi yg akan kita terima..... just reminding mas...
  • Toni Malakian  Ya saya tak mengingkari perihal soal tuhan ya, soal kebaikan berbalas pahala, kejahatan berbalas neraka. Saya tak mau bermusuhan denganNya bahkan. Atau saya juga tak berarti mendahului keputusan pengadilan atau bahkan keputusan Tuhan. Kalau mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov menganggap itu sebagai sebuah penghinaan, ya itu nggak masalah, itu pendapat, itu jelas tafsir anda. Saya tak harus memaksa anda untuk memahami itu sebagai sesuatu yang lain.

    Sebenarnya paham apa nggak dengan konteks yang dibahas disini? Ini masalah penanda yang "nakal" terhadap logika. Ini bukan masalah dia bersalah atau bukan, dia bangsat atau alim, dia jelek atau baik. Bukan itu Sekali lagi bukan itu

    Coba dimana letaknya kalau saya menyatakan bahwa dia pelakunya, dia yang bersalah?
    Coba dipahami dulu konteksnya.
  • Toni Malakian Baiklah kita undang beberapa kawan-kawan barangkali bisa menambah pengetahuan soal ini. Ini bukan soal mencari yang pro dan kontra, tapi melihat pada sisi yang baiknya, karena ini wilayah diskusi. Baiknya kita juga minta dengar pedapat yang lain.

    Bag
    aimana pendapat kawan-kawan?
    Sabariman Rubianto Sinung

    Djoko Susilo

    Joko Luwarso

    Jan Praba

    Yoncah Yono
  • Sekar Baruna Dalam diri manusia itu ada naluri kebinatangan itu fakta lhoo .. Makanya dalam zodiak Leo misalnya orang yg lahir antara Juli-agustus digambarkan sebagai singa .. Aku rasa penggambaran seniman kalo dikaitkan dengan sisi spiritual dah pasti gak nyambung .. So lihatlah karya sebagai karya saja ..
  • Djoko Susilo ehem ehem.....dalam konteks ilustrasi kiita mengenal beragam bentuk dan cara untuk mewujudkannya.....dalam hal gambar diatas, lepas dari benar atau salah...menurut saya sebagai karya karikatur sudah mengena dengan konteks peristiwanya.....simpel dan ikonik , tak perlu menjelaskan panjang lebar....tentunya akan menimbulkan beragam tafsir, disitulah letak keberhasilan sebuah ilustrasi........
  • Ayun Wahyu semangat nakmas toni! bravo!
  • Toni Malakian Ayun Wahyu Saya undang kawan-kawan bukan karena untuk memperdebatkan atau mencari pro kontra, atau untuk menguatkan pendapat satu sama lain, tapi lebih kepada berdiskusi. Karena ternyata bahwa hal-hal semacam ini masih tabu.
  • Djoko Susilo betul....sebuah ilustrasi memang bisa menimbulkan multitafsir tergantung dari sudut mana membacanya....

    • Sekar Baruna Aku rasa sejak jaman dulu .. Seniman-seniman kartunis melakukan protes atau demo akan hal yg tidak di sukainya melalui karya2nya .. Sebagai contoh ya seperti karya mas Toni ini .. Ini menurutku adalah bentuk protes akan ketidakadilan dan kesewenangan .. Seniman tdk berdemo di jalanan .. Tapi berdemo dgn karya-nya
    • Ayun Wahyu seorang seniman bebas mengekpresikan gejolak dan kegelisahan hatinya melalui karya seni yg dihasilkannya.. pun seperti juga karikatur..illustrasi atau apapun itu... dan orang lain pun bisa dan bebas menafsirkannya atau memberikan apresiasinya... namun satu sudut pandang saja tak cukup untuk memberi 'vonis' terhadap sebuah karya seni.. spt karya di atas...
    • Mufty Fairuz menurut saya bebas bebas saja bro! namun yang jelas siapapun akan menghadapi pengadilan tertinggi kelak tanpa kebohongan karena yang menjadi saksi bukan mulut tapi tangan dan kaki. hehe..
    • Yoncah Yono aku suka gambar diatas, aku melihat dan menyukai gambar bukan dari tafsirnya tapi dari bentuk gambarnya, kesulitannya... terserah nanti tafsirnya seperti apa, karena tiap orang pasti bakal beda penafsiran....
    • Toni Malakian hehehehe Kalaupun saya ganti kepalanya dengan kepala yang lain, kepala saya misalnya, apakah kemudian bahwa disana dikatakan bahwa saya bersalah, atau saya pelakunya? Nah kan tidak, logikanya semacam itu. Coba dipahami dulu apa yang dibahas. Dengan penanda semacam itu apakah itu sebuah penghakiman dia bersalah? Ini hanya masalah membaca tanda bukan dengan keterkaitan peristiwa yang menghangat saat ini? Lalu hanya karena itu peristiwanya seperti itu kemudian penanda-penanda itu dianggap sebagai vonis yg bersangkutan bersalah?

      Saya kira sangat berbahaya ketika gambar semacam ini disikapi sebagai alat untuk memvonis yang bersangkutan. Makanya kita kembali pada konteks penanda itu dengan peristiwa aktual ini.

      Oya, Mufty Fairuz yang beragama Islam tentu mempercayai hukum Tuhan begitu, itu sudah jadi pengetahuan umum dalam konteks Islam. Baiklah sedikit contoh bahkan dalam ayat Al Qur'an ada penanda begini, saya harap anda tahu itu Yadullaha fawqo aydiyhim...Tangan Allah ada di atas tangan mereka. Apakah kita akan menafsirkan bahwa tangan allah seperti tangan yg kita punyai? Kemudian bertengger di atas tangan kita? tentu tidak begitu kan. Nah seperti itulah konteksnya dengan ini, yaitu penanda. Belum pada persoalan hukumnya apalagi pada pengadilan hukum tertinggi Tuhan. Terlalu jauh dan tinggi bahas itu.

      Tenang kawan-kawan hehehe...
    • Toni Malakian Saya hanya mengetengahkan topik ini pada masalah penanda dan logika, bukan pada aspek hukumnya.
    • Yoncah Yono aku pernah lihat karikatur anjing kepala manusia, itu karya orang bule.. terus apa kita berpikir kalau modelnya itu koruptor anjing,.. ternyata modelnya itu justru pencinta anjing... hhe
    • Toni Malakian Saya kira penting bahwa hal-hal semacam itu kita seyogyanya punya wawasan yang lebih luas tak selalu terpatri pada soal penghinaan dll tapi ada kemungkinan-kemungkinan lain seperti yang dibilang mas Yoncah Yono

      Perkembangan-perkembangan pengetahuan kebudayaan semakin meluas, jadi ya kita seharusnya tak perlu mengurung diri dalam tempurung ketabuan semacam itu.
      4 minutes ago · Like




      • Ayun Wahyu ini ada sdikit kemiripan dg gambar suap 10jt saya, ada yg menganggap saya melecehkan perempuan.. weh..lha saya sendiri perempuan mosok mau merendahkan kaum saya sendiri.. saya menggambarkan fenomena.. tapi tafsir orang lain beda.. ya begitulah..
      • Yoncah Yono ternyata perempuan .. aku baru tahu kalau Ayun Wahyu itu perempuan... hahaha
      • Ayun Wahyu wekeke terpaksa ngaku deh. asem ki..
      • Sekar Baruna Biyen aku hampir naksir mbak ayun .. Tak pikir cowok .. Lha ganteng hare .. Bhahahah
      • Mufty Fairuz weitss saya tidak bermaksud berkontroversi dgn anda bro.. saya tenang tenang saja dan tidak mempermasalahkan karyamu.
      • Toni Malakian hahaha... lah siapa yang bilang mau berdebat bro, nggaklah bro Mufty Fairuz masa kaya nggak tahu ente brooo... bukan gitulah maksudku, tadi aku cuma menimpali tentang pengadilan tertinggi itu. Artinya kita tempatkan dulu di kamar lain permasalahan soal...See More
      • Mufty Fairuz ooh.. maksud saya, tentu saja karya tersebut muncul ketika hangat hangatnya kasus beliau diangkat. di pihaknya menganggap jebakan (mungkin bisa dibilang begitu) dan di lain pihak merupakan fakta. ya saya hanya menanggapi ringan dengan komen awal tadi bro! apakah kasus itu benar atau tidak saya ndak tahu..
      • Toni Malakian ya begitu itu, bukan membicarakan itu benar atau bersalah dalam pandangan keputusan hukum. Kasus itu memang benar sebagai sebuah fakta bahwa ada kasus semacam itu. Dia pelaku atau bukan, soal putusan bersalah atau tidak itu bukan wilayah kita, kecuali pengadilan dan perangkat terkait. ya begitulah namanya bahasa tulisan, terkadang perlu dibaca berulang-ulang untuk dipahami maksudnya. hehe
      • Mufty Fairuz apalagi kurang liat yg ijo ijo.. matanya jadi eror di depan kompi terus seperti saya ini..
      • Toni Malakian ya memang baiknya selingan kluyuran lihat yang ijo-ijo juga, maksudku pepohonan dan alam ...
      • Jan Praba beda kaca mata....
        12 minutes ago · Like


        • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov memang, akhirnya penafsiran sebuah ilustrasi secara pribadi masing2, saya juga gak memaksa bahwa penafsiran saya yg betul, cuma saya ingin menyampaikan bahwa ada yang tidak sependapat dan tidak sreg dgn penampilan ilustrasi ini....
        • Toni Malakian ya setuju, itu dikembalikan lagi soal memandang karya sebagai apa dan itu wajar saja. Kepala masing-masing berbeda. Yang saya bahas di sini adalah soal logika tanda, majas dll, lebih kepada semiotikanya. Karena sempat disinggung soal aspek hukum dia be...See More
        • 8 hours ago · Unlike · 1


          • Jiwenk Wae saluuuuut untuk penjabarannya, master Toni Malakian! untuk saya, seni adalah dunia kebebasan sesungguhnya, seni tidak mengenal benar dan salah karena dia bukan hukum, yang ada hanya bagus dan...... kurang bagus (hehe..). seni hanya pengungkapan pendapat sang seniman melalui karyanya, bukankah setiap orang bebas berpendapat? adalah kewajaran ada yang pro dan kontra, karena isi setiap kepala dipengaruhi oleh seberapa banyak wawasan yang di dapatnya. namun sangat tidak etis bila sebuah karya seni dihakimi oleh kepicikan berfikir, melihat sesuatu dari sudut sempit sebuah sisi, akan lebih bijak bila kita berusaha berempati pada sisi fikir sang seniman, memahami sesuatu bukan hanya dari apa yang dilihat mata telanjang, tetapi harus dipahami juga apa yang ada dibalik itu. untuk kontek agama, saya kira 'setiap perbuatan itu tergantung niat' dan itu sudah bukan urusan pendapat seseorang, tetapi urusan sipembuat dengan tuhannya. Dari isi diskusi di atas, saya mulai memahami kenapa dunia karikatur di Indonesia kurang berkembang dan diapresiasi publik.
          • Toni Malakian Menarik sekali pendapat yang disampaikan mas Jiwenk Wae .

            Meski dengan kaca mata yang berbeda, seperti yang disampaikan mas Jan Praba, seyogyanya bukan halangan untuk menemukan satu titik poin yang sama. Ibarat masuk ke rumah, tak mesti selalu harus d
            ari pintu depan, bisa juga melalui pintu samping atau belakang, ada banyak jalan, ada banyak kaca mata. Tentu saja bisa memahami jika kaca mata yang dipakai dalam posisi yang benar.

            Menarik bahkan menohok kepala kita dengan pernyataan ini " Dari isi diskusi di atas, saya mulai memahami kenapa dunia karikatur di Indonesia kurang berkembang dan diapresiasi publik."

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...