Tuesday, March 24, 2026

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026


Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah jalanan lurus yang lengang. Kanan dan kiri jalan hanya terhampar persawahan. Di bahu jalan pepohonan berbaris sepanjang jalan. Dari kejauhan takbir hari raya masih menggema. Tak terasa ada angin berhembus, dedaunan seperti khusyuk "bersemedi," berdiam diri tak bergerak. Seperti kata orang-orang, selama shalat idul fitri daun-daun tak bergeming. Aku masih menikmati ketenangan pagi itu. Dedaunan yang mematung, rumput yang tegak namun tenang, burung-burung berkicau (dalam pikiran kita mereka berkicau, barangkali mereka sedang bertakbir dalam bahasa mereka).




Sehari sebelumnya, Jum'at malam, 20 Maret 2026, pemerintah melakukan sidang Isbat dan menentukan awal bulan Syawal jatuh pada hari Sabtu, yang bertepatan dengan 21 Maret 2026 penanggalan Masehi. Sidang Isbat merupakan sebuah forum yang diselenggarakan pemerintah melalui kementerian agama untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah (penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan), dengan cara menggabungkan metode hisab (astronomi) dan pengamatan langsung melihat bulan (hilal). Sidang Isbat sering dilakukan ketika hendak menentukan awal bulan ramadan, Syawal (Idul Fitri) dan Dzulhijjah (Idul Adha). 


Dari jalanan sepi aku melanjutkan perjalanan pagi yang mengagumkan dalam ketenangan itu. Aku lewati perempuan-perempuan bermukenah dan lelaki-lelaki bersarung-peci berjalan kaki di pinggir jalan. Mereka hendak lakukan shalat Id. Aku harus memutar arah mencari jalan kecil lain di dalam perkampungan, jalan yang akan aku lewati dipakai untuk shalat Id mereka. Sekitar 5 km selanjutnya aku menyempatkan berhenti sejenak untuk mengambil foto orang-orang pergi ke masjid.

 

Sebuah kebiasaan kampung dengan tradisi pembuatan balon udara dari kertas minyak dengan berpendorong api masih dibuat. Jumlahnya tak sebanyak 20 tahun lalu. Tapi tradisi itu masih ada. Biasanya diterbangkan persis setelah pelaksanaan shalat Id berakhir. Di saat itulah, terkadang angin mulai berhembus. Tidak jarang, balon mengudara dengan manuver zigzag. Setelah hari pertama lebaran pada tiap sore berikutnya, balon-balon itu juga diterbangkan.

Begitulah, sekelumit perjalanan.




 



Saturday, March 14, 2026

Kami Bersama Andrie Yunus

 

Kamis petang, 12 Maret 2026, setelah Aksi Kamisan ke-901 di depan Istana Merdeka Jakarta, bersama kawan-kawan aku berbuka bareng dari sumbangan takjil yang banyak dari kawan. Kami mengerumuni panganan dan berbincang. Sebelumnya aku mendengar ada acara buka bersama di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), namun itu lebih kepada acara internal.
 
Kamis malam pukul 23:37 WIB, seorang pengendara motor berboncengan dengan seorang penumpang melaju dari arah Jalan Salemba I lalu mendadak memutar balik tepat di samping sebuah perempatan jalan dan jembatan di Jalan Talang, Jakarta Pusat. Setelah berputar mereka memelankan laju, bersiap dan menunggu seorang pengendara motor yang melaju dari Jalan Salemba I yang sama yang akan berpapasan dengan mereka. Tak lama menunggu, saat berpapasan, pembonceng motor dengan cepat menyiramkan cairan ke arah pengendara yang sudah ditunggu lalu kabur melarikan dengan cepat. Dengan tergesa korban penyiraman berhenti di pinggir jalan dan ia langsung berlari dan berteriak membuka helm dan pakaian. Motor tergeletak begitu saja. Air keras! Air keras! Warga berdatangan dan menolongnya. 

Korban penyerangan itu adalah Andrie Yunus, wakil koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Tengah malam itu, ia baru saja selesai melakukan advokasi publik dan perekaman siniar (podcast) dengan tema "Remiliterisasi dan judicial review UU TNI di kantor YLBHI. Lokasi kejadian penyerangan tak jauh dari kantor YLBHI, hanya beberapa ratus meter. Korban dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan. 

Koalisi Masyarakat Sipil menggelar konferensi pers pada Jum'at, 13 Maret 2026 pukul 16:00 WIB di kantor YLBHI. Koalisi mengecam tindak kejahatan ini. Dimas Aryo, Koordinator KontraS menyebut bahwa ini bukan hanya alarm demokrasi, tapi jurang demokrasi. Mantan penyidik KPK (2007-2021) Novel Baswedan yang juga pernah diserang dengan penyiraman air keras mengatakan bahwa sebelumnya telah melihat dari cctv bahwa serangan ini terorganisir dengan percobaan pembunuhan dengan menyiram ke arah wajah yang artinya bisa menghentikan pernafasan dan paling tidak mengalami cacat permanen. Kejahatan ini tidak terkait masalah personal Andrie, tambahnya. 

Andrie adalah orang yang vokal untuk membela dan mengadvokasi korban dan orang banyak. Keberaniannya bisa dilihat salah satu contohnya pada saat penggodokan RUU TNI secara diam-diam oleh anggota DPR di sebuah hotel. Ia dengan beberapa kawan-kawan merangsek masuk dan memprotes acara "senyap" ilegal itu. Ia orang yang mencintai negaranya, ia berdiri bersama korban. Namun, sungguh miris bahwa berbuat baik pun berakibat menjadi korban kebiadaban kejahatan.

Kami mengecam dan menuntut pengusutan tuntas tindak kejahatan biadab ini.


Konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil sehari pasca penyerangan penyiraman air keras Andrie Yunus di kantor YLBHI.



Berikut pernyataan sikap koalisi masyarakat sipil:






 

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...