Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Friday, June 18, 2021

Aceh Female Flogging Squad


On Dec. 10, 2019 the first female flogger whipped a woman in public, in Banda Aceh.


 

Sunday, February 09, 2020

Anggota DPR 2019, Poligami, Tidur di Hari Pertama Kerja


Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil pemilu 2019 tampil bersama ketiga istrinya pada pergantian anggota DPR periode 2014-2019 di komplek DPR Senayan, Oktober 2019 lalu. Esoknya, pada hari pertama kerja ia dipotret fotografer pada saat ia tidur di gedung DPR.

Saturday, November 02, 2019

RKUHP


Wacana merevisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) menuai protes keras setelah tahu dalam Rancangan KUHP (RKUHP) memuat pasal-pasal yang lebih aneh dan semakin memperbesar peluang mengkriminalisasikan orang. 

Sunday, May 08, 2016

Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"



Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15. 

Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.

Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.

Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *

Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.

Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.

Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.

Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.

Monday, December 14, 2015

Thursday, March 05, 2015

Menolak Hukuman Mati | No Death Penalty


MENOLAK HUKUMAN MATI | NO DEATH PENALTY

Menolak Hukuman Mati terhadap terpidana bukan berarti merupakan menerima kejahatan yang diperbuatnya. Hukuman mati merupakan hukuman yang tak akan pernah bisa ditarik kembali jika terjadi adanya bukti baru yang dapat meringankan atau menambah berat hukuman sebelumnya atau bahkan dapat membebaskan seseorang dari hukuman fatal; kematian. Bagaimana jika seseorang telah divonis mati dan telah dieksekusi sementara ada bukti-bukti baru yang meringankan, misalnya, pengakuan pelaku/saksi yang sebenarnya. Di sinilah pentingnya menghapus hukuman mati. Tentu saja hukuman ini bisa diganti dengan hukuman yang seberat-beratnya sesuai nalar keadilan. Dengan demikian, kesalahan memvonis mati sebab ketidaktelitian atau adanya bukti dan kesaksian baru tersebut dapat diminamlisir. Jika terjadi bukti baru (novum) yang meringkankan/membebaskan, maka terpidana bisa direhabilitasi hak-hak kewargaannya: pembersihan nama, ganti rugi dan lain-lain. 

Ada banyak kasus dari "kesalahan" putusan hukuman mati namun ternyata ada bukti-bukti baru yang diajukan dan itu justru membebaskan dari segala tuntutan. Jika demikian maka siapa yang akan bertanggungjawab atas hak kemanusiaan yang "dihilangkan" tersebut.

Monday, December 01, 2014

Buku Filep Karma: SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG




Beberapa tahun lalu aku sempat memulai bikin kartun dan lukisan Filep Karma. Dalam kartunku, presiden SBY menawari Karma keringanan dengan mengurangi masa hukuman penjara. Filep Karma menolak, sebab ia tak bersalah. Jika ia terima keringanan tersebut sama saja ia terima dan akui dirinya bersalah. Filep Jacob Samuel Karma adalah pegawai negeri Jayapura kelahiran Biak tahun 1959.
Di atas menara air dekat pelabuhan berkibar bendera Bintang Kejora, lambang kemerdekaan bangsa Papua. Ia dan demonstran lainnya diburu dan ditembaki, lalu ditangkap aparat gabungan. Peristiwa ini dikenal Biak Berdarah 6 Juli 1998. Pemerintah Republik Indonesia penjarakan Filep Karma dan menjatuhinya hukuman penjara 6,5 tahun. Pada tahun yang sama ia ajukan banding. Ia bebas.
Pada 1 Desember 2004 ia pidato soal peminggiran etnik Papua di tanah Papua dengan memasang bendera Bintang Kejora. Lagi, pemerintah Indonesia menangkap dan menjatuhinya hukuman 15 tahun penjara dengan tuduhan makar. Karma adalah tokoh yang menuntut Papua merdeka secara damai. 10 tahun dipenjara pemerintah Indonesia, ia bikin buku. Judulnya SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG, Rasialisme Indonesia di Tanah Papua. Hari ini, 1 Desember 2014 ia diluncurkan di Papua.

Wednesday, November 19, 2014

Shock Therapy BBM



Pengalihan alokasi subsidi BBM yang dianggap masyarakat sebagai harga BBM naik dan tak memihak wong cuilik, dalam perspektif lain adalah shock therapy. Orang dirangsang berpikir bijak. Dengan menerima itu orang berpikir untuk hemat energi dan hemat harta, mengurangi yang tak perlu (konsumerisme), rela berbagi subsidi. Juga orang perlu hemat bicara dan komentar yang tak perlu, akan tetapi orang bersama-sama lakukan pengawasan terhadap pelaksanaan alokasi pengalihan subsidi BBM ke sektor lain tersebut.

Saturday, September 27, 2014

DPR - People Council Representative of Indonesia


Aku baca berita online dini hari dan aku dapati informasi mengenai voting sidang paripurna anggota DPR terkait RUU Pilkada. Lantas aku menulis di bawah ini.

226 anggota DPR memilih pilkada melalui DPRD (tak langsung), sementara 135 anggota lainnya memilih pilkada melalui warga (langsung). Dan partai pengecut yang Walked Out itu bernama Demokrat. Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri yang mengurus permasalahan E-KTP saja tidak becus, sebagai inisiator RUU pilkada ini. Batinku, pilkada melalui anggota DPRD berpotensi besar terhadap praktik-praktik korupsi. Bagaimana bisa hak orang banyak yang bisa sangat berbeda pikiran diwakilkan hanya oleh seorang anggota legislatif.

Terlintas candaan pikiran yang menggoda dipikiranku bahwa ini tampak hanya merupakan akal-akalan dan skenario besar, terutama bukan hanya bagaimana memperluas akses politik transaksional dan praktik korupsi, melainkan juga adanya rekayasa matang memunculkan konflik besar seperti pada tahun 1998 dengan siapa yang akan ditumbang-kambinghitamkan pada tataran pucuk pemerintahan. Hasil voting yang sudah dapat diprediksi sebelumnya ini, dapat memicu reaksi besar warga. Gamawan mengakui pembahasan draft RUU oleh pemerintah ini sudah sedang disusunbahas semenjak 2011.



Jika yang menjadi keberatan dalam pemilu langsung adalah perihal biaya tinggi, tentu bukan alasan tepat. Biaya pemilu murah, yang menyebabkan anggapan ongkos pemilu mahal adalah disebabkan biaya kampanye yang harus dikeluarkan oleh calon-calon legislatif maupun eksekutif. Ada salah satu contoh menarik yang dapat dijadikan rujukan betapa biaya pemilu itu murah, kita dapat pelajari dan membandingkan bagaimana pemilu dan pilkada lain dengan pilkada di kabupaten Bantaeng pada tahun 2013.

Bupati kabupaten Bantaeng 2013 terpilih, Nurdin Abdullah, seorang akademisi, memperoleh suara 82 % yang itu bahkan tanpa atribut kampanye. Ia bahkan diminta warga Bantaeng untuk mencalonkan diri pada pilkada 2013 itu. Alasannya ia diakui mampu menjalankan dan membuktikan kinerjanya pada periode sebelumnya. Dengan tingkat kepercayaan warga atas kinerjanya, ia meraup suara bahkan tanpa berkampanye. Pilkada 2013 di kabupaten Bantaeng sama sekali tanpa atribut kampanye seperti pada pemilu dan pilkada-pilkada di daerah lain. Warga bahkan menginginkannya untuk terus menerus memimpin Bantaeng. Teladan yang baik. Itu bukti bahwa pemilu murah!

Pada kasus RUU Pilkada ini, aku masih tak mengerti logika para pemilih dan pemuja (buta) partai yang wakilnya saat ini memilih pilkada tak langsung yaitu melalui DPRD. Kelakuan politik mesum mereka adalah juga karena ulah pemilihnya pada pemilu 2009 lalu.

Pada saat pemilu, calon-calon legislatif dan eksekutif merengek dan mengemisi rakyat, sebagai timbal balik rakyat hanya tak mau berharap berlebih apapun apalagi mengemis bahkan dalam bentuk materi, melainkan rakyat hanya minta wakil-wakilnya lakukan amanah dan tugas kelegislatifan dan keeksekutifan dengan BECUS!

Tentu kita dapat menggugat UU Pilkada ini melalui Mahkamah Konstitusi (MK). 
Haris Azhar dari lembaga KontraS menulis melalui akun Facebooknya begini :
" Kamu menolak UU Pilkada? Kamu ngga mau hak suara kamu diambil DPRD alias Parpol kan? AYO ikut jadi penggugat ke MK. Kirim nama kamu dan No tlp utk tindak lanjut ke +62 822 17770002. Siapkan KTP ya... Kita lawan penjahat politik. Salam, Haris Azhar, KontraS"
 
Oooh, wakil-wakil yang mesum hasil ulah pemilihnya itu!

Sunday, June 15, 2014

Live caricature drawing at Erasmus Huis





Live caricature drawing at Erasmus Huis, Jakarta, June 4, 2010. This is on opening Hiperbola Cartoon Exhibition as a celebrate World Cup 2010.

Tuesday, November 12, 2013

Gambar Nusantara/Hindia Belanda

Demi memberi informasi kepada kawan yang bertanya di media sosial Facebook terkait siapa ilustrator yang sering bikin ilustrasi nusantara. Lalu terutama ilustrator Belanda pada kurun tahun 1700-an. Untuk menanggapi secara pas akan lebih sulit dalam waktu singkat. Perlu waktu untuk riset. Namun segera saya buka buku karya seorang serdadu Inggris yang setelah bertugas di pulau Jawa pada tahun 1813. Berikut dua gambar yang saya unggah.


Gambar prosesi pemakaman seorang kapitan Batavia keturunan China, Oei Yoen Koa. Digambar oleh seniman dari Rach School pada tahun 1784. Johannes Rach, seniman asal Denmark, tinggal dan bekerja di Batavia sebagai pegawai perusahaan Hindia Belanda Timur Belanda antara tahun 1762 - 1783. Ia dan bersama rekan-rekannya banyak membuat gambar tentang Hindia Belanda.




Gambar berjudul "Semarang from the Land Side" digambar oleh Joseph Jeakes. Joseph Jeakes seorang pelukis yang juga ahli tatah asal London.  Gambar-gambarnya ia pamerkan di Royal Academy antara tahun  1796 - 1809.

Kedua gambar di atas adalah dua dari 30-an gambar yang ada dalam buku "PENAKLUKAN PULAU JAWA." Mayor William Thorn adalah penulisnya. Ia seorang serdadu kerajaan Inggris yang pernah bertugas dalam ekspedisi ke pulau Jawa. Ia berusia 30-an pada saat bertugas ke jawa, sama seperti Raffles. Ia mengundurkan diri dari kedinasan militer dan kembali ke Inggris pada Juli 1813. Ia lalu menyelesaikan bukunya ini dan menerbitkannya di London pada tahun 1815 dengan harga 3.3 poundsterling. Sebagian gambar-gambar sketsa dan drawing dalam bukunya kemungkinan ia menemukan di Jawa lalu dibawa ke London.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...