Showing posts with label public. Show all posts
Showing posts with label public. Show all posts
Saturday, January 30, 2016
Monday, October 20, 2014
Ambiguitas Harga Tiket Kereta Api
Pendingin
udara gerbong kereta berfungsi baik pada jam pemberangkatan awal pagi
kereta Ekonomi AC Menoreh, Jum’at 17 Oktober 2014 jurusan Semarang -
Jakarta. Menjelang pukul 07.50-an penumpang mulai memasuki gerbong.
Kereta berangkat pukul 08.00. Seorang ibu datang menemukan nomor dan
menempati kursinya, bertepatan aku datang. Ia angkat kardus ke tempat
penyimpanan bagasi. “Sudah. Kuat,” sahutnya saat aku tanya apakah itu
berat. Aku taruh ranselku di sebelah kardusnya. Kami duduk bersebelahan.
Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.
“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.
Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.
Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.
Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.
Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.
Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.
Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.
Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.
“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.
Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.
Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.
Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.
Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.
Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.
Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.

Monday, January 21, 2013
Sunday, January 20, 2013
Almarhum A Rafiq (5 Maret 1948 – 19 Januari 2013)
Waktu aku masih kecil sekali, sekitar 1996-1998, di layar kaca atau radio masih sering lagu-lagu A Rafiq diperdengarkan. Suaranya khas. Tak cuma itu, penyanyi dangdut satu ini nyentrik lain dari pada yang lain di Indonesia dalam hal penampilan. Kostum penampilannya bergaya kerah baju lebar dan celana longgar di ujung. Dia Elvis Presley-nya Indonesia dengan genre dangdut. Sabtu, 19 Januari 2013, kemarin ia meninggal dunia karena masalah kesehatan.
A tribute untuk mendiang A Rafiq.
A tribute untuk mendiang A Rafiq.
Labels:
caricature,
caricature karikatur caricaturist,
cartoon,
cartoonist,
dangdut,
ilustrasi,
Karikatur,
karikaturis,
Kartun,
Kartunis,
people,
portrait,
public,
Publik Figur,
puisi,
sajak,
sastra,
sastrawan,
tokoh
Thursday, January 17, 2013
Yuriy Kosoboukin [1950-2013]
Master kartun Ukraina meninggal dunia. Mengetahui berita ini dari beberapa orang admin Irancartoon.com yang menuliskannya di facebook mereka. Saat buka website irancarton di sana terpampang slide kartun-kartun Yuriy. Berikut surat irancartoon kepada keluarga Yuriy.
A Letter To His Family
We were so very saddened and devastated by the news that Yuriy Kosoboukin is died.
We know words cannot really help you right now, but please know how very much we care and feel for you in your loss.
Yuriy was such a caring and talented person, and he truly touched our lives.
We will never forget the trip that he came to Iran...
Such a sweet and inspiring soul, we will miss that smile very much.
We are so saddened by losing him from our lives.
Please, let us know if there is any way we can help you .
Our loves and support will always be here for you in your time of need. Once again, we are so sorry for your loss.
Our loves to you.
irancartoon
Goresan kartun Yuriy sangat khas. Bagi para kartunis maupun pemerhati dan pembacanya, dengan tanpa melihat tanda tangan/nama pembuatnya sudah bisa ditebak siapa kartunisnya. Seperti kartun dari master-master lainnya, kartun-kartun Yuriy nyaris tanpa kata (kartun non-verbal) namun pembaca tak sulit memahami maksudnya. Kepiawaiannya menggunakan simbol juga cara ungkapnya luar biasa.
Pengungkapan makna/maksud secara visual melalui tanda atau simbol ini sangatlah tidak mudah.
Memang ada kartun verbal, artinya kartun yang dapat dibangun kelucuan/humornya melalui menambahkan kata-kata ke dalam kartun itu. Biasanya itu seperti balon kata. Namun kartun non-verbal (tanpa kata) inilah yang lebih sulit diproduksi ketimbang kartun verbal. Selain kejelian dalam memahami persoalan juga yang lebih sulit bagaimana mengkomunikasikannya ke dalam media gambar melalui tanda-tanda/simbol, namun tetap mengandung unsur humor. Cara dan daya ungkap permasalahan yang kemudian bahkan diparodikan, komunikatif, humoris dan ironis semacam inilah yang jarang dikuasai orang. Tapi Yuriy adalah pengecualian. Ia ahlinya.
Informasi masih dari Irancartoon, berikut ini biografi, foto-foto dan juga karya-karyanya:
Biografi
Galeri foto
Galeri foto2
A Letter To His Family
We were so very saddened and devastated by the news that Yuriy Kosoboukin is died.
We know words cannot really help you right now, but please know how very much we care and feel for you in your loss.
Yuriy was such a caring and talented person, and he truly touched our lives.
We will never forget the trip that he came to Iran...
Such a sweet and inspiring soul, we will miss that smile very much.
We are so saddened by losing him from our lives.
Please, let us know if there is any way we can help you .
Our loves and support will always be here for you in your time of need. Once again, we are so sorry for your loss.
Our loves to you.
irancartoon
Goresan kartun Yuriy sangat khas. Bagi para kartunis maupun pemerhati dan pembacanya, dengan tanpa melihat tanda tangan/nama pembuatnya sudah bisa ditebak siapa kartunisnya. Seperti kartun dari master-master lainnya, kartun-kartun Yuriy nyaris tanpa kata (kartun non-verbal) namun pembaca tak sulit memahami maksudnya. Kepiawaiannya menggunakan simbol juga cara ungkapnya luar biasa.
Pengungkapan makna/maksud secara visual melalui tanda atau simbol ini sangatlah tidak mudah.
Memang ada kartun verbal, artinya kartun yang dapat dibangun kelucuan/humornya melalui menambahkan kata-kata ke dalam kartun itu. Biasanya itu seperti balon kata. Namun kartun non-verbal (tanpa kata) inilah yang lebih sulit diproduksi ketimbang kartun verbal. Selain kejelian dalam memahami persoalan juga yang lebih sulit bagaimana mengkomunikasikannya ke dalam media gambar melalui tanda-tanda/simbol, namun tetap mengandung unsur humor. Cara dan daya ungkap permasalahan yang kemudian bahkan diparodikan, komunikatif, humoris dan ironis semacam inilah yang jarang dikuasai orang. Tapi Yuriy adalah pengecualian. Ia ahlinya.
Informasi masih dari Irancartoon, berikut ini biografi, foto-foto dan juga karya-karyanya:
Biografi
Galeri foto
Galeri foto2
Sunday, January 06, 2013
Jaya Suprana?
Sempat bikin beberapa sketsa Jaya Suprana di sela keterbatasan waktu, karena ada beberapa pekerjaan yang ketat yang harus diselesaikan. Sketsa-sketsa itu rencana diikutkan untuk lomba karikatur Jaya Suprana tahun 2013 ini. Salah satu sketsa itu adalah yang ini. Entah ada beberapa hal yang menurut pribadi masih banyak kekurangan dengan penggarapan ini terutama pada anatomi sekitar mata. Tapi memang menikmati ketika membuat ini, coret-coreta arsir misalnya, itu menyenangkan. Itu serasa tanpa beban, spontan.
Ada banyak yang bisa dieksplorasi dari tokoh ini baik dari ide maupun bentuk secara anatomikal untuk dieksagerasi/dilebih-lebihkan. Namun, membuat sketsa-sketsa ini tampaknya hanya mengisi jeda waktu istirahat dari kepala yang penat dari pekerjaan yang lain. Meski ada beberapa ide lain untuk mendeformasi pada bagian wajah dan isi di dalam kepalanya. Sketsa-sketsa ini tak terselesaikan menjadi karya final untuk dikirim ke panitia lomba. Secara keseluruhan mengerjakannya memang menyenangkan.
Ada banyak yang bisa dieksplorasi dari tokoh ini baik dari ide maupun bentuk secara anatomikal untuk dieksagerasi/dilebih-lebihkan. Namun, membuat sketsa-sketsa ini tampaknya hanya mengisi jeda waktu istirahat dari kepala yang penat dari pekerjaan yang lain. Meski ada beberapa ide lain untuk mendeformasi pada bagian wajah dan isi di dalam kepalanya. Sketsa-sketsa ini tak terselesaikan menjadi karya final untuk dikirim ke panitia lomba. Secara keseluruhan mengerjakannya memang menyenangkan.
Saturday, December 29, 2012
SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA - WS Rendra
SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
Oleh :
W.S. Rendra
Oleh :
W.S. Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Jakarta 1 Desember 1977Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Sunday, February 17, 2008
Public Figure
1.
Armenia's Prime Minister and presidential candidate Serzh Sarksyan answers a journalist's question during an interview with Reuters in his office in Yerevan February 16, 2008. Armenia will hold presidential elections on February 19
2.
Director Errol Morris, the Jury Grand Prix, during a news conference after the 58th Berlinale International Film Festival in Berlin, February 16, 2008. Morris was awarded for his movie 'Standard Operation Procedure'
Armenia's Prime Minister and presidential candidate Serzh Sarksyan answers a journalist's question during an interview with Reuters in his office in Yerevan February 16, 2008. Armenia will hold presidential elections on February 192.
Director Errol Morris, the Jury Grand Prix, during a news conference after the 58th Berlinale International Film Festival in Berlin, February 16, 2008. Morris was awarded for his movie 'Standard Operation Procedure'
Subscribe to:
Posts (Atom)
A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026
Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...
-
BIENNALE JAKARTA 2006 179 Pengurutan Nama di bawah ini berdasarkan Abjad ABAS ALIBASYAH, Jakarta Pelukis Abas Alibasyah, lahir di Purwakarta...
-
KMAREN SAYA ULTAH TAPI TAK MERAYAKANNYA. SAYA MERAYAKANNYA DENGAN MENGERJAKAN TUGAS-TUGAS KULIAH; TUGAS UAS. HEBAT YA SAYA. MALAM ITU, SAYA ...





