Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts
Thursday, December 10, 2020
Sunday, May 08, 2016
Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"
Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15.
Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.
Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.
Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *
Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.
Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.
Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.
Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.
Monday, March 21, 2016
Sketsa Gereja dan Masjid: Bebas Damai
Dua tempat ibadah berlainan agama didirikan berdampingan. Indah, bukan?
Bagi para perusak kehidupan, wa bil khusus perusak kehidupan bebas berkeyakinan, pemandangan ini seyogiayanya dapat membuat mereka menumbuhkan kepekaan rasa saling mengasih sayangi kepada semesta. Trenyuh, terlalu sering mendengar teriakan dan yel-yel keributan atas nama agama begitu santer terdengar. Sebut saja; tuntutan pembatalan pembangunan sah, pembakaran dan penggusuran tempat ibadah di beberapa tempat, pengusiran kelompok minoritas, dan intoleransi lain sebagainya. The Wahid Institute rutin menerbitkan laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dengan tingkat intoleransi di daerah-daerah seluruh Indonesia baik yang dilakukan tanpa dan dengan dukungan perda-perda syari'ah. Jika membacanya sungguh miris. Data kekacauan itu justru meningkat.
Jika piknik ke tempat dengan situasi semacam ini, dua bangunan yang difungsikan sebagai tempat ibadah berlainan keyakinan, tanpa penjelasan kata pun cukup memberi makna yang jelas. Keduanya dipisahkan satu Jl. Kernolong Dalam IV, Kramat, Jakarta Pusat, sebuah gang pemukiman yang oleh warga sekitar disebut gang Petak, mengacu pada rumah-rumah petak di sekitar gang.
Usia gereja HKBP lebih muda dari masjid Al- Istikharah yang jauh lebih dulu ada. Gereja dibangun warga komunitas etnis Batak di sekitarnya pada era 1980-an. Sementara masjid lebih dulu ada. Awalnya masjid hanya sebuah surau kecil yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Di ruang utama ada mimbar. Luasnya masih tetap seperti surau-surau di kampung, sempit. Hanya terasnya yang lebih luas dan berkanopi. Ia kemudian dilabeli masjid.
Berkali-kali saya menjumpai dua bangunan peribadatan semacam ini di beberapa tempat. Pernah juga saya masuki satu tempat yang difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam, Yahudi, dan lain-lain. Penamaan tempat ibadah hanya perspektif dari masing-masing pemeluknya. Pada intinya ia hanya sebuah atau bahkan BUKAN bangunan sama sekali, namun yang dilihat adalah manfaat apa yang bisa difungsikan; tempat beribadah.
Beberapa orang tua berjalan melintasi tempat saya menggambar. Begitu juga perempuan-perempuan muda yang manis. "Ibadah Minggu malam," seorang ibu menjawab sapaan seorang bapak di samping saya. Mereka menuju gereja.
Sebenarnya ini kegiatan usai saya ikut acara rutin Indonesia's Sketchers di bekas gedung STOVIA yang difungsikan menjadi museum Kebangkitan Nasional siang kemarin. Saya ajak kawan pegiat Indonesia's Sketchers buat melanjutkan bikin sketsa di kawasan Kramat dan Cikini yang dibelah sungai Ciliwung ini. Ia mengiyakan. Sebelumnya bapak berkeluarga ini hendak pulang. Ah, andai saja orang-orang termasuk perempuan-perempuan muda manis itu berhenti dan menonton saya menggambar lalu kami berbincang-bincang. Saya sungguh tak bisa menghentikannya, mereka hendak beribadah. Salam/damai selalu kita.
Mari Piknik!
Gelpen di kertas A3 (yg lalu pakai cat air)
21 | 03 | 2016
Saturday, January 30, 2016
Monday, December 14, 2015
Saturday, February 21, 2015
Monday, February 02, 2015
Berburu Celeng, eh, Komisaris Jenderal Polri Budi Gunawan!
Ketika lembaga-lembaga hukum negara dan penguasa tak mampu berkeadilan, maka humor tetap mengambil alihnya bahkan semenjak sebelum mereka memulai. Meski berhumor merupakan sesuatu yang dianggap berbahaya bagi yang tersindir olehnya.
Senin pagi ini, 02/02/2015, sidang perdana praperadilan yang diajukan Komisaris Jenderal Budi Gunawan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang sesuai agenda dimulai pukul 09.00.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tak jarang menghasilkan keputusan-keputusan "aneh." Sidang praperadilan Budi Gunawan ini akan dipimpin hakim tunggal Sarpin Rizaldi. Rizaldi pernah delapan kali dilaporkan ke Komisi Yudisial (KY) menyangkut putusan, proses persidangan dan suap.
Sunday, January 25, 2015
Friday, January 23, 2015
Presiden - KPK - POLRI 23 Januari 2015
23/01/2015
Siang ini saya tak sempat hadir di KPK guna ikut beri dukungan. Sebagai gantinya saya bikin kartun ini. Hari ini Bambang WIdjayanto, salah satu pimpinan KPK, ditangkap bareskrim Polri tanpa alasan jelas sesaat usai mengantar anaknya bersekolah. Diduga ini rentetan dari buntut pencalonan tunggal Komisaris Jenderal Budi Gunawan oleh presiden Joko "Jokowi" Widodo. Tak berselang lama dicalonkan, KPK menetapkan Gunawan sebagai tersangka atas dugaan aliran dana tak biasa. Media menyebutnya rekening gendut.
Friday, January 16, 2015
Friday, September 26, 2014
UU Pilkada dan Politik Mesum Wakil Rakyat
Aku baca berita online dini hari dan aku dapati informasi mengenai
voting sidang paripurna anggota DPR terkait RUU Pilkada. Lantas aku
menulis di bawah ini.
226 anggota DPR memilih pilkada melalui DPRD (tak langsung), sementara 135 anggota lainnya memilih pilkada melalui warga (langsung). Dan partai pengecut yang Walked Out itu bernama Demokrat. Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri yang mengurus permasalahan E-KTP saja tidak becus, sebagai inisiator RUU pilkada ini. Batinku, pilkada melalui anggota DPRD berpotensi besar terhadap praktik-praktik korupsi. Bagaimana bisa hak orang banyak yang bisa sangat berbeda pikiran diwakilkan hanya oleh seorang anggota legislatif.
Terlintas candaan pikiran yang menggoda dipikiranku bahwa ini tampak hanya merupakan akal-akalan dan skenario besar, terutama bukan hanya bagaimana memperluas akses politik transaksional dan praktik korupsi, melainkan juga adanya rekayasa matang memunculkan konflik besar seperti pada tahun 1998 dengan siapa yang akan ditumbang-kambinghitamkan pada tataran pucuk pemerintahan. Hasil voting yang sudah dapat diprediksi sebelumnya ini, dapat memicu reaksi besar warga. Gamawan mengakui pembahasan draft RUU oleh pemerintah ini sudah sedang disusunbahas semenjak 2011.
Jika yang menjadi keberatan dalam pemilu langsung adalah perihal biaya tinggi, tentu bukan alasan tepat. Biaya pemilu murah, yang menyebabkan anggapan ongkos pemilu mahal adalah disebabkan biaya kampanye yang harus dikeluarkan oleh calon-calon legislatif maupun eksekutif. Ada salah satu contoh menarik yang dapat dijadikan rujukan betapa biaya pemilu itu murah, kita dapat pelajari dan membandingkan bagaimana pemilu dan pilkada lain dengan pilkada di kabupaten Bantaeng pada tahun 2013.
Bupati kabupaten Bantaeng 2013 terpilih, Nurdin Abdullah, seorang akademisi, memperoleh suara 82 % yang itu bahkan tanpa atribut kampanye. Ia bahkan diminta warga Bantaeng untuk mencalonkan diri pada pilkada 2013 itu. Alasannya ia diakui mampu menjalankan dan membuktikan kinerjanya pada periode sebelumnya. Dengan tingkat kepercayaan warga atas kinerjanya, ia meraup suara bahkan tanpa berkampanye. Pilkada 2013 di kabupaten Bantaeng sama sekali tanpa atribut kampanye seperti pada pemilu dan pilkada-pilkada di daerah lain. Warga bahkan menginginkannya untuk terus menerus memimpin Bantaeng. Teladan yang baik. Itu bukti bahwa pemilu murah!
Pada kasus RUU Pilkada ini, aku masih tak mengerti logika para pemilih dan pemuja (buta) partai yang wakilnya saat ini memilih pilkada tak langsung yaitu melalui DPRD. Kelakuan politik mesum mereka adalah juga karena ulah pemilihnya pada pemilu 2009 lalu.
Pada saat pemilu, calon-calon legislatif dan eksekutif merengek dan mengemisi rakyat, sebagai timbal balik rakyat hanya tak mau berharap berlebih apapun apalagi mengemis bahkan dalam bentuk materi, melainkan rakyat hanya minta wakil-wakilnya lakukan amanah dan tugas kelegislatifan dan keeksekutifan dengan BECUS!
Tentu kita dapat menggugat UU Pilkada ini melalui Mahkamah Konstitusi (MK).
226 anggota DPR memilih pilkada melalui DPRD (tak langsung), sementara 135 anggota lainnya memilih pilkada melalui warga (langsung). Dan partai pengecut yang Walked Out itu bernama Demokrat. Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri yang mengurus permasalahan E-KTP saja tidak becus, sebagai inisiator RUU pilkada ini. Batinku, pilkada melalui anggota DPRD berpotensi besar terhadap praktik-praktik korupsi. Bagaimana bisa hak orang banyak yang bisa sangat berbeda pikiran diwakilkan hanya oleh seorang anggota legislatif.
Terlintas candaan pikiran yang menggoda dipikiranku bahwa ini tampak hanya merupakan akal-akalan dan skenario besar, terutama bukan hanya bagaimana memperluas akses politik transaksional dan praktik korupsi, melainkan juga adanya rekayasa matang memunculkan konflik besar seperti pada tahun 1998 dengan siapa yang akan ditumbang-kambinghitamkan pada tataran pucuk pemerintahan. Hasil voting yang sudah dapat diprediksi sebelumnya ini, dapat memicu reaksi besar warga. Gamawan mengakui pembahasan draft RUU oleh pemerintah ini sudah sedang disusunbahas semenjak 2011.
Jika yang menjadi keberatan dalam pemilu langsung adalah perihal biaya tinggi, tentu bukan alasan tepat. Biaya pemilu murah, yang menyebabkan anggapan ongkos pemilu mahal adalah disebabkan biaya kampanye yang harus dikeluarkan oleh calon-calon legislatif maupun eksekutif. Ada salah satu contoh menarik yang dapat dijadikan rujukan betapa biaya pemilu itu murah, kita dapat pelajari dan membandingkan bagaimana pemilu dan pilkada lain dengan pilkada di kabupaten Bantaeng pada tahun 2013.
Bupati kabupaten Bantaeng 2013 terpilih, Nurdin Abdullah, seorang akademisi, memperoleh suara 82 % yang itu bahkan tanpa atribut kampanye. Ia bahkan diminta warga Bantaeng untuk mencalonkan diri pada pilkada 2013 itu. Alasannya ia diakui mampu menjalankan dan membuktikan kinerjanya pada periode sebelumnya. Dengan tingkat kepercayaan warga atas kinerjanya, ia meraup suara bahkan tanpa berkampanye. Pilkada 2013 di kabupaten Bantaeng sama sekali tanpa atribut kampanye seperti pada pemilu dan pilkada-pilkada di daerah lain. Warga bahkan menginginkannya untuk terus menerus memimpin Bantaeng. Teladan yang baik. Itu bukti bahwa pemilu murah!
Pada kasus RUU Pilkada ini, aku masih tak mengerti logika para pemilih dan pemuja (buta) partai yang wakilnya saat ini memilih pilkada tak langsung yaitu melalui DPRD. Kelakuan politik mesum mereka adalah juga karena ulah pemilihnya pada pemilu 2009 lalu.
Pada saat pemilu, calon-calon legislatif dan eksekutif merengek dan mengemisi rakyat, sebagai timbal balik rakyat hanya tak mau berharap berlebih apapun apalagi mengemis bahkan dalam bentuk materi, melainkan rakyat hanya minta wakil-wakilnya lakukan amanah dan tugas kelegislatifan dan keeksekutifan dengan BECUS!
Tentu kita dapat menggugat UU Pilkada ini melalui Mahkamah Konstitusi (MK).
Haris Azhar dari lembaga KontraS menulis melalui akun Facebooknya begini :
" Kamu menolak UU Pilkada? Kamu ngga mau hak suara kamu diambil DPRD alias
Parpol kan? AYO ikut jadi penggugat ke MK. Kirim nama kamu dan No tlp
utk tindak lanjut ke +62 822 17770002. Siapkan KTP ya... Kita lawan
penjahat politik. Salam, Haris Azhar, KontraS"
Oooh, wakil-wakil yang mesum hasil ulah pemilihnya itu!
Tuesday, February 05, 2013
Diskusi Penanda "Pengganggu" Logika
Berikut adalah apa yang saya tulis mengenai penanda pada gambar, atau bahasa visual di sebuah media jejaring sosial Facebook. Yang bila dipahami dengan logika linier tentu akan berbeda hasilnya. Maka kenapa di sekolah kita mempelajari gaya bahasa (majas dll), semiotika, dalam bahasa Arab ada ilmu Mantiq/Balaghah. Ternyata mendapat beragam respon dan reaksi dari apa yang saya tulis. Dan, terjadi saling berkomentar yang terkesan berdebat. Untuk menghindari perdebatan saya berusaha untuk mengundang kawan-kawan lain untuk barangkali saja memiliki pandangan berbeda, bukan untuk menguatkan atau menyudutkan salah satu pendapat. Inilah komentar-komentar itu.
Toni Malakian shared a photo.
Toni Malakian shared a photo.
Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan setengah manusia dan setengah hewan. Sama seperti dalam kalimat yang mengandung metafora, kita tak bisa memaknai kalimat itu apa adanya. Pembubuhan atau pemuatan penanda-penanda itu cara "nakal" untuk membuat sesuatu menjadi satire. Dan itu mempermainkan logika kita, maka kita tak bisa hanya cuma mengandalkan logika matematis linier karena logika akan menolak itu.
LHI PKS
Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan seten...See more
Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan seten...See more
- Ayun Wahyu, Boedy Hp, Sekar Baruna and 36 others like this.
- Toni Malakian Pak Sabariman Rubianto Sinung seharusnya tak berat
Pak Dan Ardana Siswasumarta kayak puyer kepala ces pleng
Pak Husnawi I-a banyakan impor ya - Dan Ardana Siswasumarta Karikatur anda bisa menghilangkan rasa pusing orang2 yang merindukan kejujuran dan bersih nya aroma kekotoran di negeri ini mas...
- Toni Malakian haha buatku nggak masalah mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov, kalaupun ada yang bikin begitu ya makasih sekali, tertantang mau bikin sapi berkepalaku? Silakan, dengan senang hati kuterima
- Taufiqov Ipotsky Yuniartonov sebelum menghina orang lain, coba hina dirimu, kakakmu, ibumu, ayahmu, gurumu dam orang2 yg kamu sayangi.... bagaimana? berani....?? apakah masih bisa menghilangkan rasa pusing ??
- Taufiqov Ipotsky Yuniartonov just kidding... cuma mau bilang, kalau sebuah karya yg jadi itu belumlah selesai, karena ttp harus ada pertanggung jawaban kepada publik, dan Tuhan (di akherat kelak)
- Toni Malakian siiip hehe... bahasan disini adalah bagaimana membaca sebuah gambar dengan penandanya/simbol. Bukan dalam tataran untuk hina menghina seseorang. Jauh dari itu. Dirasa itu adalah penghinaan atau pujian maka itu tergantung pada tafsir masing-masing atas gambar itu. Wilayah tafsir dan apresiasi memang luas. Apalagi dalam konteks seni karikatur yang juga sebagai bagian dari dunia kesenirupaan yang penuh dengan tanda, tafsir dan lain-lain. Apalagi dengan konteks jaman dengan apa yang terjadi di dalamnya. Semoga mas Taufiqov memahami konteks apa yg dibahas disini, menyoal bahasa tanda sebagai sesuatu yang "mengganggu" logika linier.
Dari pengalaman beberapa media pers misalnya. ada beberapa tokoh politik yang dengan senang hati bahkan meminta karikatur tentang dirinya yang digambarkan terdistorsi dengan bentuk binatang (mungkin bagi orang lain ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya) itu dikirimkan ke rumahnya. Terakhir dengar adalah dari seorang redaktur tv, dia cerita soal Sutan Bhatoegana yg meminta karikatur semacam itu, bahkan dia sangat senang dan tertawa terbahak-bahak dan berbuntut dia ingin memiliki karikatur itu.
Cerita lagi, Pak Sukardi Rinakit, penulis dan juga beberapa predikat lain, pernah menelponku dan aku tak tahu siapa yg telpon waktu itu karena memang tak punya nomornya, dia perkenalkan diri. Di telpon dia tertawa menertawakan karikatur dirinya dan kedua orang temannya yang digambar olehku. Mungkin bagi orang lain itu hal sangat memalukan, karena sudah mereduksi dan menambahi bentuk-bentuk fisiknya yang jauh dari bentuk proporsi sebenarnya. Tak ada yang salah dengan itu, mereka bahkan sangat setuju, itulah dunia karikatur. Lagi, terakhir menggambar live di sebuah acara, anggap saja seseorang biasa, tampaknya adalah sopir dari tuannya, dia meminta untuk wajahnya "dihancurkan." Ternyata dia tertawa senang tak karuan. Beberapa yang lain tak suka, dan terutama memang di Indonesia. Aku tak perlu membandingkan Indonesia dengan apresiasi di Eropa dan Amerika. Di sana mereka jauh meninggalkan "kekolotan" berpikir kita.
Artinya itu kembali pada diri sendiri bagaimana menafsirkan itu sebagai sebuah bentuk penghinaan atau bukan. Mereka yang pada saat terkena isu panas pun bahkan tertawa dan ingin memiliki karikatur itu. Ini masalah penafsiran masing-masing. Bagaimana kita mau berkembang kalau gambar yang semacam itu disikapi sebagai sebuah penghinaan yang merupakan bagian dari proses berpikir. Masa kita berpikir saja kok nggak boleh, sampai harus "ditakut-takuti" dengan pertanggungjawaban terhadap Tuhan sekalipun. Pertanggungjawaban terhadap Tuhan itu masing-masing lah, jangan khawatir. Tuhan sudah punya programnya sendiri.Bukan berarti menentang Tuhan loh, atau tak takut. Tapi biarkan akal kita dipergunakan untuk berpikir untuk mencari dan mencari hehehe...
Beneran loh karikatur di Indonesia itu masih belum se"liar" dan gahar di luaran sana. Masih hangat, kemarin-kemarin karikatur Netanyahu muncul di sebuah media pers di Inggris bertepatan dengan peringatan Holocaust. Padahal mungkin baru sekali itu mereka tampilkan karikatur Netanyahu. Israel tak terima dengan itu. Apa bedanya dengan karikatur-karikatur yang sering memunculkan presiden Assad yg berlumuran darah, tapi publik juga diam saja, artinya ya itu ada masalah penafsiran yang berbeda. Bahkan pembuat karikatur Netanyahu sama sekali tak tahu kalau hari itu adalah hari peringatan Holocaust. Sama sekali pembuatnya tak berpikir bahwa itu untuk hari holocaust, dia bahkan berpendapat bahwa ya begitulah Netanyahu selama ini.
Dan beneran tak merasa dihina meskipun ada kawan-kawan yg bikin karikaturku bahkan menurut orang lain memalukan. Aku pikir banyak sudah aku mempermalukan diri sendiri kok, hanya saja karena tak tahu malu, jadi nggak merasa malu hehe. Bukan itu, tapi ya karena itu kuanggap bukan sebagai sebuah penghinaan atau pelecehan fisik atau melecehkan ciptaan Tuhan. Kita kembali pada kemampuan diri untuk seberapa jauh memandang sebuah karya. hehe
Apakah menurut mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov gambar di atas dianggap sebagai sebuah penghinaan? - Taufiqov Ipotsky Yuniartonov bagi saya iya, padahal belum di putuskan LHI itu memang pelakunya.... sayapun sering juga berpikir liar, tapi saya belum punya jawabannya kalau nanti Tuhan meminta pertanggung jawaban karya2 saya yg liar itu..... dan bagi saya proses berpikir yg liar cukup dilakukan dalam inkubasi pikiran dan hati saya, tidak perlu semua orang ikut terlibat dan bagi saya pertanggung jawaban di hadapan Tuhan itu adalah keniscayaan, bukan sekedar ancaman utk menakut2i. Tapi Tuhan juga tidak diktator kok, karena masing2 pekerjaan akan berlaku hukum sebab-akibat, maka kita pun musti percaya ada konsekwensi yg akan kita terima..... just reminding mas...
- Toni Malakian Ya saya tak mengingkari perihal soal tuhan ya, soal kebaikan berbalas pahala, kejahatan berbalas neraka. Saya tak mau bermusuhan denganNya bahkan. Atau saya juga tak berarti mendahului keputusan pengadilan atau bahkan keputusan Tuhan. Kalau mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov menganggap itu sebagai sebuah penghinaan, ya itu nggak masalah, itu pendapat, itu jelas tafsir anda. Saya tak harus memaksa anda untuk memahami itu sebagai sesuatu yang lain.
Sebenarnya paham apa nggak dengan konteks yang dibahas disini? Ini masalah penanda yang "nakal" terhadap logika. Ini bukan masalah dia bersalah atau bukan, dia bangsat atau alim, dia jelek atau baik. Bukan itu Sekali lagi bukan itu
Coba dimana letaknya kalau saya menyatakan bahwa dia pelakunya, dia yang bersalah?
Coba dipahami dulu konteksnya. - Toni Malakian Baiklah kita undang beberapa kawan-kawan barangkali bisa menambah pengetahuan soal ini. Ini bukan soal mencari yang pro dan kontra, tapi melihat pada sisi yang baiknya, karena ini wilayah diskusi. Baiknya kita juga minta dengar pedapat yang lain.
Bagaimana pendapat kawan-kawan?
Sabariman Rubianto Sinung
Djoko Susilo
Joko Luwarso
Jan Praba
Yoncah Yono - Sekar Baruna Dalam diri manusia itu ada naluri kebinatangan itu fakta lhoo .. Makanya dalam zodiak Leo misalnya orang yg lahir antara Juli-agustus digambarkan sebagai singa .. Aku rasa penggambaran seniman kalo dikaitkan dengan sisi spiritual dah pasti gak nyambung .. So lihatlah karya sebagai karya saja ..
- Djoko Susilo ehem ehem.....dalam konteks ilustrasi kiita mengenal beragam bentuk dan cara untuk mewujudkannya.....dalam hal gambar diatas, lepas dari benar atau salah...menurut saya sebagai karya karikatur sudah mengena dengan konteks peristiwanya.....simpel dan ikonik , tak perlu menjelaskan panjang lebar....tentunya akan menimbulkan beragam tafsir, disitulah letak keberhasilan sebuah ilustrasi........
- Toni Malakian Ayun Wahyu Saya undang kawan-kawan bukan karena untuk memperdebatkan atau mencari pro kontra, atau untuk menguatkan pendapat satu sama lain, tapi lebih kepada berdiskusi. Karena ternyata bahwa hal-hal semacam ini masih tabu.
- Djoko Susilo betul....sebuah ilustrasi memang bisa menimbulkan multitafsir tergantung dari sudut mana membacanya....
- Sekar Baruna Aku rasa sejak jaman dulu .. Seniman-seniman kartunis melakukan protes atau demo akan hal yg tidak di sukainya melalui karya2nya .. Sebagai contoh ya seperti karya mas Toni ini .. Ini menurutku adalah bentuk protes akan ketidakadilan dan kesewenangan .. Seniman tdk berdemo di jalanan .. Tapi berdemo dgn karya-nya
- Ayun Wahyu seorang seniman bebas mengekpresikan gejolak dan kegelisahan hatinya melalui karya seni yg dihasilkannya.. pun seperti juga karikatur..illustrasi atau apapun itu... dan orang lain pun bisa dan bebas menafsirkannya atau memberikan apresiasinya... namun satu sudut pandang saja tak cukup untuk memberi 'vonis' terhadap sebuah karya seni.. spt karya di atas...
- Mufty Fairuz menurut saya bebas bebas saja bro! namun yang jelas siapapun akan menghadapi pengadilan tertinggi kelak tanpa kebohongan karena yang menjadi saksi bukan mulut tapi tangan dan kaki. hehe..
- Yoncah Yono aku suka gambar diatas, aku melihat dan menyukai gambar bukan dari tafsirnya tapi dari bentuk gambarnya, kesulitannya... terserah nanti tafsirnya seperti apa, karena tiap orang pasti bakal beda penafsiran....
- Toni Malakian hehehehe Kalaupun saya ganti kepalanya dengan kepala yang lain, kepala saya misalnya, apakah kemudian bahwa disana dikatakan bahwa saya bersalah, atau saya pelakunya? Nah kan tidak, logikanya semacam itu. Coba dipahami dulu apa yang dibahas. Dengan penanda semacam itu apakah itu sebuah penghakiman dia bersalah? Ini hanya masalah membaca tanda bukan dengan keterkaitan peristiwa yang menghangat saat ini? Lalu hanya karena itu peristiwanya seperti itu kemudian penanda-penanda itu dianggap sebagai vonis yg bersangkutan bersalah?
Saya kira sangat berbahaya ketika gambar semacam ini disikapi sebagai alat untuk memvonis yang bersangkutan. Makanya kita kembali pada konteks penanda itu dengan peristiwa aktual ini.
Oya, Mufty Fairuz yang beragama Islam tentu mempercayai hukum Tuhan begitu, itu sudah jadi pengetahuan umum dalam konteks Islam. Baiklah sedikit contoh bahkan dalam ayat Al Qur'an ada penanda begini, saya harap anda tahu itu Yadullaha fawqo aydiyhim...Tangan Allah ada di atas tangan mereka. Apakah kita akan menafsirkan bahwa tangan allah seperti tangan yg kita punyai? Kemudian bertengger di atas tangan kita? tentu tidak begitu kan. Nah seperti itulah konteksnya dengan ini, yaitu penanda. Belum pada persoalan hukumnya apalagi pada pengadilan hukum tertinggi Tuhan. Terlalu jauh dan tinggi bahas itu.
Tenang kawan-kawan hehehe... - Toni Malakian Saya hanya mengetengahkan topik ini pada masalah penanda dan logika, bukan pada aspek hukumnya.
- Yoncah Yono aku pernah lihat karikatur anjing kepala manusia, itu karya orang bule.. terus apa kita berpikir kalau modelnya itu koruptor anjing,.. ternyata modelnya itu justru pencinta anjing... hhe
- Toni Malakian Saya kira penting bahwa hal-hal semacam itu kita seyogyanya punya wawasan yang lebih luas tak selalu terpatri pada soal penghinaan dll tapi ada kemungkinan-kemungkinan lain seperti yang dibilang mas Yoncah Yono
Perkembangan-perkembangan pengetahuan kebudayaan semakin meluas, jadi ya kita seharusnya tak perlu mengurung diri dalam tempurung ketabuan semacam itu.4 minutes ago · Like
- Ayun Wahyu ini ada sdikit kemiripan dg gambar suap 10jt saya, ada yg menganggap saya melecehkan perempuan.. weh..lha saya sendiri perempuan mosok mau merendahkan kaum saya sendiri.. saya menggambarkan fenomena.. tapi tafsir orang lain beda.. ya begitulah..
- Mufty Fairuz weitss saya tidak bermaksud berkontroversi dgn anda bro.. saya tenang tenang saja dan tidak mempermasalahkan karyamu.
- Toni Malakian hahaha... lah siapa yang bilang mau berdebat bro, nggaklah bro Mufty Fairuz masa kaya nggak tahu ente brooo... bukan gitulah maksudku, tadi aku cuma menimpali tentang pengadilan tertinggi itu. Artinya kita tempatkan dulu di kamar lain permasalahan soal...See More
- Mufty Fairuz ooh.. maksud saya, tentu saja karya tersebut muncul ketika hangat hangatnya kasus beliau diangkat. di pihaknya menganggap jebakan (mungkin bisa dibilang begitu) dan di lain pihak merupakan fakta. ya saya hanya menanggapi ringan dengan komen awal tadi bro! apakah kasus itu benar atau tidak saya ndak tahu..
- Toni Malakian ya begitu itu, bukan membicarakan itu benar atau bersalah dalam pandangan keputusan hukum. Kasus itu memang benar sebagai sebuah fakta bahwa ada kasus semacam itu. Dia pelaku atau bukan, soal putusan bersalah atau tidak itu bukan wilayah kita, kecuali pengadilan dan perangkat terkait. ya begitulah namanya bahasa tulisan, terkadang perlu dibaca berulang-ulang untuk dipahami maksudnya. hehe
- Mufty Fairuz apalagi kurang liat yg ijo ijo.. matanya jadi eror di depan kompi terus seperti saya ini..
- Toni Malakian ya memang baiknya selingan kluyuran lihat yang ijo-ijo juga, maksudku pepohonan dan alam ...
- 12 minutes ago · Like
- Taufiqov Ipotsky Yuniartonov memang, akhirnya penafsiran sebuah ilustrasi secara pribadi masing2, saya juga gak memaksa bahwa penafsiran saya yg betul, cuma saya ingin menyampaikan bahwa ada yang tidak sependapat dan tidak sreg dgn penampilan ilustrasi ini....
- Toni Malakian ya setuju, itu dikembalikan lagi soal memandang karya sebagai apa dan itu wajar saja. Kepala masing-masing berbeda. Yang saya bahas di sini adalah soal logika tanda, majas dll, lebih kepada semiotikanya. Karena sempat disinggung soal aspek hukum dia be...See More
- 8 hours ago · Unlike · 1
-
- Jiwenk Wae saluuuuut untuk penjabarannya, master Toni Malakian! untuk saya, seni adalah dunia kebebasan sesungguhnya, seni tidak mengenal benar dan salah karena dia bukan hukum, yang ada hanya bagus dan...... kurang bagus (hehe..). seni hanya pengungkapan pendapat sang seniman melalui karyanya, bukankah setiap orang bebas berpendapat? adalah kewajaran ada yang pro dan kontra, karena isi setiap kepala dipengaruhi oleh seberapa banyak wawasan yang di dapatnya. namun sangat tidak etis bila sebuah karya seni dihakimi oleh kepicikan berfikir, melihat sesuatu dari sudut sempit sebuah sisi, akan lebih bijak bila kita berusaha berempati pada sisi fikir sang seniman, memahami sesuatu bukan hanya dari apa yang dilihat mata telanjang, tetapi harus dipahami juga apa yang ada dibalik itu. untuk kontek agama, saya kira 'setiap perbuatan itu tergantung niat' dan itu sudah bukan urusan pendapat seseorang, tetapi urusan sipembuat dengan tuhannya. Dari isi diskusi di atas, saya mulai memahami kenapa dunia karikatur di Indonesia kurang berkembang dan diapresiasi publik.
- Toni Malakian Menarik sekali pendapat yang disampaikan mas Jiwenk Wae .
Meski dengan kaca mata yang berbeda, seperti yang disampaikan mas Jan Praba, seyogyanya bukan halangan untuk menemukan satu titik poin yang sama. Ibarat masuk ke rumah, tak mesti selalu harus dari pintu depan, bisa juga melalui pintu samping atau belakang, ada banyak jalan, ada banyak kaca mata. Tentu saja bisa memahami jika kaca mata yang dipakai dalam posisi yang benar.
Menarik bahkan menohok kepala kita dengan pernyataan ini " Dari isi diskusi di atas, saya mulai memahami kenapa dunia karikatur di Indonesia kurang berkembang dan diapresiasi publik."
-
Subscribe to:
Posts (Atom)
A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026
Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...
-
BIENNALE JAKARTA 2006 179 Pengurutan Nama di bawah ini berdasarkan Abjad ABAS ALIBASYAH, Jakarta Pelukis Abas Alibasyah, lahir di Purwakarta...
-
On Dec. 10, 2019 the first female flogger whipped a woman in public, in Banda Aceh.




























