Showing posts with label Sketsa sketch. Show all posts
Showing posts with label Sketsa sketch. Show all posts

Sunday, May 08, 2016

Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"



Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15. 

Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.

Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.

Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *

Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.

Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.

Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.

Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.

Tuesday, June 24, 2014

Adam Malik Batubara, Indonesia's Third Vice President




Adam Malik Batubara (22 July 1917 – 5 September 1984) was Indonesia's third vice president, a senior diplomat, and one of the pioneers of Indonesian journalism.

Wednesday, June 18, 2014

Caricature of Franck Ribéry - Karikatur Franck Ribéry


Caricature of Franck Henry Pierre Ribéry, a French international soccer player.

This Tuesday evening, June 17, I have just attended the opening of the PARABOLA Cartoon Exhibition 2014 as a welcome to the World Cup 2014 at Bentara Budaya Jakarta. I met my some cartoonists, caricaturists, artists and friends whom I know nothing so long about them. Some guys asked me which caricature artworks of me on the exhibition. I said I show you nothing. I missed this event. I did not join this event as an artist participant to show the artwork but the instructor and speaker for a caricature workshop on next June 19.

I got a discussion together with two friends of me on night late. I went home and I sketched this artwork as I did the same face, Franck Ribéry, on yesterday night. I sketched another one, then I have three of Franck Ribéry's caricatures. I did this three times as an interesting thing to do. As much as I do exercise and explore the shape of the same person, I am sure it will be good for the next level on how technically understanding of caricature art. More practice, exercise, and explore there will be a good impact then.

Monday, June 02, 2014

Sketsa & Sekelumit Cerita Warga Korban Lumpur Lapindo

Warga membangun Sanggar AL FAZ, tempat kegiatan untuk anak-anak warga korban Lumpur Lapindo dan sekitarnya.




Pada peringatan 8 tahun Lumpur Lapindo 29 Mei 2014 ini saya mengunjungi warga korban Lumpur Lapindo. Delapan tahun warga korban berjuang mendapatkan hak-haknya kembali sepenuhnya, meski tak mungkin pada kehidupan sosial, moral, sejarah mereka dan lain-lain. Paling tidak pasca bencana ini hak untuk tempat tinggal dan pekerjaan sehari-hari. Sementara itu, mereka sekarang mulai membangun kembali kehidupan sosialnya dari awal.


Sehamparan lumpur yang meluap dan mengubur ratusan hektare.
PT. Lapindo Brantas, perusahaan milik grup Bakrie (Abu Rizal Bakrie (ARB)), melakukan eksplorasi di kawasan Sidoarjo ini mengakibatkan meluapnya lumpur dan menenggelamkan desa-desa di tiga kecamatan yaitu Tanggulangin, Jabon dan Porong. Ribuan warga diungsikan. PT. Lapindo Brantas abai akan tanggungjawabnya. Negara tak hadir mendampingi warga. Negara memberi dana talangan untuk ganti rugi terhadap warga korban. Ini berarti dana diambil dari dana rakyat secara kolektif. PT. Lapindo Brantas tak tersentuh secara hukum maka ini merupakan salah satu kekalahan negara oleh korporasi.



29 Mei 2006 lumpur menyembur ke permukaan di desa Renokenongo, kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo. Upaya pembendungan dilakukan seminggu ke depan dengan membangun tanggul dari pasir dan batu di sekitar sumber semburan. Lumpur semburan meluas dan bendungan tak kuat menahan. Usaha pertama ini gagal. Kini bendungan dibuat lebih lebar hingga mencapai 640 hektare. Upaya penanggulangan ini ini terus dilakukan. Yaitu:

1. Snubbing Unit dimulai awal bulan Juli 2006 (Gagal)
2. Side Tracking (Pengeboran menyamping) dimulai akhir bulan Juli 2006 (Gagal)
3. Relief Well (pengeboran miring) pertengahan Agustus 2006, sebanyak 2 kali relif well masing-masing di Desa Renokenongo dan Siring (gagal)
4. Memasukkan bola beton dimulai Sabtu (24/2/2007). Sebanyak 397 bola dari beton sudah dimasukkan (gagal).
5. Pembuatan saluran pelimpah (spill way) untuk membuang lumpur ke Sungai Porong, dimulai sejak awal Desember 2006 di Desa Pejarakan.
Aliran air bercampur lumpur berbau menyengat.

Akibat semburan :
- Pipa gas milik PT Pertamina yang membentang di sekitar semburan lumpur meledak pada 22 November 2006, sebanyak 17 orang meninggal.

- Sekitar 640 hektare kawasan di 3 kecamatan terendam lumpur. Kawasan yang terendam meliputi :
1. Kecamatan Porong :
Desa Jatirejo, Siring, Renokenongo, dan Mindi.

2. Kecamatan Jabon :
Desa Pejarakan, Kedungcangkring, dan Besuki.

3. Kecamatan Tanggulangin :
Desa Kedungbendo, Ketapang dan Kalitengah.
- Jumlah pengungsi :
1. Pengungsi pertama (sebelum pipa gas meledak) 2.605 keluarga dari 9.936 jiwa.
2. Pengungsi kedua (setelah pipa gas meledak) 2.278 keluarga dari 9.028 jiwa.
3. Pengungsi pengungsian gelombang ke-tiga sebanyak 937 keluarga dari 3.250 jiwa.
- Gedung atau bangunan yang terendam dan hancur :
1. Tempat tinggal/rumah : 10.426 unit
2. Sekolah 33 unit
3. Kantor pemerintahan 4 unit
4. Pabrik 30 perusahaan dengan jumlah pekerja mencapai dua ribu orang.
5. Tempat ibadah 65 unit
6. Pondok pesantren 3 buah

Lumpur yang menggumpal mengering.

Sementara ini ganti rugi warga korban tanggungan PT. Lapindo Brantas masih tersendat-sendat pembayarannya. Dana talangan ganti rugi yang menjadi tanggungan negara sudah dilunasi oleh negara, namun negara abai terhadap tugasnya seusai pembayaran itu, tak ada pendampingan. "Setelah pembayaran lunas, negara sudah tak memikirkan lagi warganya, silakan mau hidup dan mati dengan cara apa," ujar cak Irsyad.

Data diambil dari:
Suarasurabaya.net

Wednesday, March 12, 2014

Sketsa Penumpang Kereta Commuter


Sketsa seorang penumpang kereta commuter sedang tidur.

Sore hari kemarin aku lakukan perjalanan lagi. Lari sore. Dalam perjalanan kerap kali bertemu kawan-kawanku. Itu sering sewaktu kami ada dalam kereta yang sama atau saat berhenti. Sore kemarin bertemu dengan seorang kawan. Sore kemarin lusa juga bertemu kawan yang lain saat kereta berhenti. Mereka pergi bekerja, aku pergi berkegiatan jalan sore.

Dari waktu petang tiba hingga pukul 20 aku berlama-lama di satu tempat menyejukkan jasmani ruhani. Lalu aku jalan kaki lagi dan mampir di warung untuk makan. Pukul 21.30 aku bergegas ke stasiun untuk pulang naik kereta commuter pukul 22.

Selama perjalanan yang sekitar 15 menit di dalam kereta, aku bikin sketsa tiga halaman buku sketsa ukuran 14 cm x 10 cm atau A6. Sesekali jeda bikin sketsa, beberapa orang nampak heran memandangiku. Aku berdiri di dekat pintu. Ada yang mendekat dan menonton penasaran.

Aku lanjutkan bikin sketsa. Sketsa penumpang berdidi belum lengkap sebadan penuh, aku tutup buku sketsa sambil bergegas keluar gerbong. Aku sudah sampai di stasiun tujuan. Beberapa penumpang melongok heran saat aku keluar sekelebatan.

Wednesday, September 18, 2013

Step by Step making Caricature

Pertukaran Karikatur adalah sebuah grup di Facebook untuk saling berbagi antar karikaturis dari seluruh dunia. Kami saling mengkarikaturkan satu sama lain.
 -------------------------------------------
I did this as a return caricature. Tony CBR from France made me a caricature. We call this a caricature exchange.


s



Monday, September 09, 2013

Talented illustrator Sri Priyatham

I try scratching as afternoon doodling yesterday. Sri Priyatham is a talented illustrator living in Hyderabad. He and I connect on Facebook and he has certain characteristic on his drawing especially on shading.

Sunday, August 25, 2013

Berlebihan - overuse


Mana tangannyaaaaa...! | Put your hands up! Parodi gejala "gadget" dan "smartphone" yang makin mengganggu. Dalam keseharian ketika berada di suatu tempat umum, di angkutan bus, kereta, di mall, di tempat makan, di taman dan lain-lain, sering saya rasakan suasana begitu dingin. Kehangatan suasana aspek sosial yang dulu terbangun, misalnya, dengan bincang-bincang tersingkirkan oleh kesibukan masing-masing dalam penggunaan perangkat ini. Penggunaan yang berlebihan.

Monday, July 15, 2013

15 Juli Ulang tahun Rembrandt ke 407

Hari ini, 15 Juli 2013, adalah 407 tahun lalu kapan Perupa Belanda Rembrandt Harmenszoon van Rijn dilahirkan. Kita lebih sering mengenalnya dengan Rembrandt. Ia salah seorang paling penting dalam sejarah seni rupa di Belanda. Pun, ia juga salah seorang perupa besar dalam sejarah seni rupa lukisan dan "printmaking" di Eropa, bahkan dunia.

Ada hal penting bagi kita untuk merenungi kembali hakikat-hakikat kelahiran dan kematian kita; hidup kita. Seberapa lama usia atau hidup seseorang bukanlah hal penting, tapi hal yang paling penting justru kemanfaatan apa yang ia perbuat pada rentang waktu hidupnya. Kita banyak mendengar, mengenal ide-ide, gagasan-gagasan, penemuan-penemuan, apa yang diperbuat seseorang yang lantas kita menyebutnya sebagai kemanfaatan. Kemanfaatan bagi sesama, bagi pengetahuan, bagi alam semesta inilah yang langgeng.

Kita mengenal Soekarno dan para pendiri negara bangsa ini, KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahid Hasyim, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain. Mereka tiada, tapi apa yang mereka perjuangkan kita rasakan sekarang. Ada Muhammad SAW, Gandhi, Martin Luther, Mother Theresa, Ibrahim Lincoln, Ibnu Khaldun, Ibnu Farabi, Ibnu Sina, Rembrandt, Raden Saleh dan lain-lain. Hidup mereka memiliki kemanfaatan. Rata-rata usia mereka tak sampai 100 tahun, tapi kemanfaatannya sepanjang lama.
 
Gambarku ini aku buat pada tahun 2006 lalu. Aku berkunjung ke Jakarta untuk keperluan kegiatan perkuliahanku. Dalam persinggahanku aku bikin gambar-gambar semacam ini. Aku  perlu banyak berlatih atau bisa disebut kegiatan nggambarku ini sebagai iseng-iseng.

Monday, July 08, 2013

Penjual Sekoteng, Semarang


Penjual Sekoteng Khas Cirebon di Jl. Pahlawan, Semarang, Senin malam, 8 Juli 2013. 

Pada kesempatan kali ini saya adakan perjalanan ke Semarang. Beberapa kali pula selama di Semarang saya bertandang ke Jl. Pahlawan yang merupakan dimana kantor gubernur Jawa Tengah berada. Beberapa tahun terakhir Jl. Pahlawan didatangi banyak warga terutama pada sore hingga malam hari. Itu terjadi setelah perbaikan-perbaikan fasilitas umum berupa penataan dan pelebaran trotoar. Tak hanya sebagai area pedestrian, trotoar yang lebarnya kurang lebih 5 meter itu juga digunakan warga sebagai area kegiatan atau sekedar untuk kongkow-kongkow dan menikmati malam.

Suasana kota Semarang dengan banyaknya warga yang datang di ruang publik ini memberi dampak terhadap munculnya roda perekonomian. Sepanjang trotoar di seberang kantor gubernur akan banyak dijumpai penyedia jasa alat olah raga seperti sepatu roda (inline skate) juga sepeda-sepeda skuter mini. Di sisi jalan ada banyak penjual makanan dan minuman. Ada penjual kacang, penjual sekoteng, penjual kopi dan lain-lain. Berbaur dengan para penjual makanan dan minuman juga terdapat parkir motor dadakan di sepanjang trotoar.

Penataan fasilitas umum dan sosial ini memberi efek yang bagus dengan warga memanfaatkan ruang publik yang menjadi haknya. Akan tetapi gejala ini juga memunculkan permasalahan baru. Misal saja sampah. Beberapa warga masih terlihat membuang sampah seenaknya meskipun tempat sampah sudah disediakan. Hal ini hampir secara umum terjadi di beberapa tempat umum, tak hanya di Semarang. Masalah lain lagi misal saja parkir. Seorang petugas parkir bahkan hanya memberi selembar karcis foto kopi lalu meminta tarif parkir Rp 2.000. Ia hanya memiliki satu karcis asli.  Permasalahan lain juga muncul, maraknya pengemis. Ada permasalahan sosial yang krusial. Bermunculan pengemis ini sering mengiringi perkembangan pembangunan suatu daerah. Kita sering tak bisa membedakan manakah pengemis karena tekanan kebutuhan hidup, pengemis karena pekerjaan, atau pengemis bagian dari sindikat.

Dari sedikit gejala positif negatif yang muncul itu, paling tidak, pemerintah provinsi/kota Semarang sudah beranjak dari stagnanisasi seperti kota-kota lain yang parahnya cenderung mundur. Namun menjadi harapan besar bahwa pemprov Jateng ataupun Pemkot Semarang tak hanya berfokus pada pembangunan ibu kota provinsi, melainkan juga pada daerah pinggir kota dan daerah-daerah lain yang dinaunginya. Semarang dan daerah-daerah lain, semoga selalu berbenah sesuai janji-janji kampanye kalian.

Friday, May 10, 2013

Sketsa malam

Hingga pukul 22.00, Kamis, 09 Mei 2013 aku duduk-duduk di depan Kalibata City Square dari pukul 20.40. Kehadiranku di sana ya cuma iseng dan duduk-duduk sambil amati aktifitas warga yang keluar dan masuk, pergi dan datang. Sketsa yang aku bikin ini sketsa suasana di halte yang dibangun Kalibata City. Ada taksi yang menunggu antrian, sementara sepeda motor juga diparkir disana. Ada juga beberapa penjual mangkal disana.

Saat aku bikin ini, suara perempuan mengagetkanku, "mas, saya dong yang digambar". Sontak saja aku menoleh. Rupanya mereka tiga gadis belia, juga berambut panjang. Segera aku membalasnya, "ayo duduk-duduk di sini dong". Hanya saja mereka berlalu begitu saja.

Yang mengisengiku tadi gadis berpakaian hitam. Mereka jinjing tas. Dengan tampilan celana pendek mereka cukup menggemaskan. Pandanganku hanya mengikuti langkah mereka. Tak lama siluet mereka bahkan tak tampak lagi. Aku masih melanjutkan sketsaku. Tak lama aku beranjak pulang. Dan hanya memutar, tak lama pula aku telah sampai di tempat istirahat.

Jakarta.
Pena dan cat air di kertas.

Thursday, January 17, 2013

Yuriy Kosoboukin [1950-2013]

Master kartun Ukraina meninggal dunia. Mengetahui berita ini dari beberapa orang admin Irancartoon.com yang menuliskannya di facebook mereka. Saat buka website irancarton di sana terpampang slide kartun-kartun Yuriy. Berikut surat irancartoon kepada keluarga Yuriy.

A Letter To His Family
We were so very saddened and devastated by the news that Yuriy Kosoboukin is died.
We know words cannot really help you right now, but please know how very much we care and feel for you in your loss. 

Yuriy was such a caring and talented person, and he truly touched our lives.
We will never forget the trip that he came to Iran...

Such a sweet and inspiring soul, we will miss that smile very much.
We are so saddened by losing him from our lives.

Please, let us know if there is any way we can help you .
Our loves and support will always be here for you in your time of need. Once again, we are so sorry for your loss.
Our loves to you.
irancartoon


Goresan kartun Yuriy sangat khas. Bagi para kartunis maupun pemerhati dan pembacanya, dengan tanpa melihat tanda tangan/nama pembuatnya sudah bisa ditebak siapa kartunisnya. Seperti kartun dari master-master lainnya, kartun-kartun Yuriy nyaris tanpa kata (kartun non-verbal) namun pembaca tak sulit memahami maksudnya. Kepiawaiannya menggunakan simbol juga cara ungkapnya luar biasa.
Pengungkapan makna/maksud secara visual melalui tanda atau simbol ini sangatlah tidak mudah.

Memang ada kartun verbal, artinya kartun yang dapat dibangun kelucuan/humornya melalui menambahkan kata-kata ke dalam kartun itu. Biasanya itu seperti balon kata. Namun kartun non-verbal (tanpa kata) inilah yang lebih sulit diproduksi ketimbang kartun verbal. Selain kejelian dalam memahami persoalan juga yang lebih sulit bagaimana mengkomunikasikannya ke dalam media gambar melalui tanda-tanda/simbol, namun tetap mengandung unsur humor. Cara dan daya ungkap permasalahan yang kemudian bahkan diparodikan, komunikatif, humoris dan ironis semacam inilah yang jarang dikuasai orang. Tapi Yuriy adalah pengecualian. Ia ahlinya.

Informasi masih dari Irancartoon, berikut ini biografi, foto-foto dan juga karya-karyanya:
Biografi
Galeri foto
Galeri foto2

Thursday, January 10, 2013

Spontanitas dalam Goresan Sketsa


"Menggambar sebuah objek dengan
spontan dan tak punya kewajiban untuk
mempermanis gambar tersebut rasanya
menjadi kebebasan mutlak mereka."

Sketcher atau penyeket, yang tergabung dalam Indonesia’s Sketchers, memang mengamini kebebasan
tersebut. Bagaimana tidak, jika kebanyakan hasil dari menggambar akan lebih menarik perhatian dan disebut indah ketika goresan gambar tersebut tertata dengan rapi, disketsa, keindahan itu terlihat bila sebuah gambar dengan garis-garis yang agak karutmarut berhasil menunjukkan
ciri ataupun sisi humanis dari sebuah objek.

Bebas, spontan, dan tidak membutuhkan keakuratan garis barangkali menjadi paham yang digunakan oleh para penyeket. Mensketsa objek nyata yang ada di hadapan mereka dalam beberapa menit dilakukan oleh para penyeket dengan menggunakan paham tersebut.

Kawasan Pasar Antik, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Koordinator Program Indonesia’s Sketchers Nashir Setiawan mengatakan, meski spontan dan bebas,sketsa yang dilakukan kelompoknya tersebut memang tidak dilakukan lewat objek yang hanya ada di khayalan atau tidak nyata.”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan. Makanya, digambarnya pun langsung pakai pen. Jika ada garis yang salah atau kurang akurat, tidak masalah jika langsung ditabrak. Tapi yang pasti sketsa itu hasil dari gambar melihat langsung sebuah objek,bukan dari foto ataupun imajiner,”tuturnya.

Penyeket yang juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu menceritakan bahwa aktivitas yang dilakukan Indonesia’s Sketchers selama ini memang tidak memiliki kriteria khusus dalam penentuan objek. Meski begitu, program bernama Sketsa Bersama yang dilakukan satu bulan sekali itu biasa memilih tempat tempat pusat keramaian.

”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan.
Makanya, digambarnya pun
langsung pakai pen.”
NASHIR SETIAWAN
[Koordinator Program
Indonesia’s Sketchers]


Sebelum menggelar Sketsa Bersama, mereka terlebih dahulu berkumpul dan berembuk untuk menentukan lokasi menggambar mereka. ”Biasanya kalau sudah ketemu lokasinya, kita akan menentukan objek apa dari sekitar tempat tersebut yang dapat digambar. Tidak semua bisa digambar karena yang digambar itu harus objek yang bisa mencirikan atau salah satu keunikan wilayah tersebut,”katanya.

Nashir mengatakan, tempat wisata ramai menjadi salah satu tempat yang tepat untuk gelaran rutin mereka. ”Kita pilih tempat yang lebih terbuka. Ini juga agar dapat diapresiasi oleh orang lain,” imbuhnya. Pada saat itulah, tambah Nashir, Indonesia’s Sketchers kemudian menemukan orangorang baru yang tertarik dengan dunia gambar-menggambar ini. Tidak sampai di situ,kegiatan mensketsa ini pun kemudian mempersilakan para anggota Indonesia’s Sketchers atau masyarakat yang baru bergabung untuk menggelar hasil sketsa mereka.

Sketsa-sketsa tersebut digelar bukan untuk dijual, melainkan dipajang agar dapat langsung dikomentari apakah masih kurang atau sudah bagus. Kegiatan para anggota Indonesia’s Sketchers ini juga dapat dilihat dengan mudah di ruang seni terbuka seperti Taman Suropati ataupun Kota Tua. Mereka lebih sering mensketsa bangunan atau landscape.

Pertunjukan Wayang kulit di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta.

Menurut Nashir,objek tersebut dapat disketsa dengan lebih cepat dibandingkan menggunakan manusia sebagai objek. ”Memang kalau bertemu itu kita lebih banyak menggambar landscape karena lebih cepat. Objek yang stay dan tidak bergerak, lebih membutuhkan sedikit waktu. Sedangkan menggambar orang itu pasti akan lebih banyak waktu karena mereka bergerak,”katanya.

Salah satu anggota Indonesia’s Sketchers Toni Malakian menceritakan pada awalnya sebuah sketsa dibuat tanpa perlu menggunakan teknik. Sulit mungkin,namun ada kesenangan tersendiri yang dihasilkan dari sketsa-sketsa tersebut. ”Untuk awalnya sebenarnya enggak perlu pakai teknik. Kita pakai intuisi aja, pakai feeling, dan kejelian mengamati,” katanya.

Dari sana, kata Toni, penyeket akan mengasah kepekaannya dalam mengamati sebuah objek. Merekam objek dengan cepat dalam ingatan adalah hal yang penting. ”Saya sering menggambar orang.Lagi asyikasyiknya bikin sketsa, eh dia pergi. Tapi, itulah asyiknya. Karena kita sudah menghafal bentuk kaki atau elemen lainnya, jadi bisa kita teruskan sendiri,” akunya.

Indonesia’s Sketchers awalnya dibentuk karena keinginan seorang wanita bernama Atit Dwi Indarty, 27, yang merasa penyeket di Indonesia tidak memiliki wadah sendiri. Padahal di dunia sudah ada Urban Sketchers yang anggotanya terdiri atas para penyeket dari seluruh dunia. Usut punya usut, Atit akhirnya bertemu Dhar Chedar,43,yang merupakan kontributor Urban Sketchers di Indonesia.

Dari sanalah keduanya mengumpulkan para penyeket Indonesia dalam satu komunitas dan akhirnya terbentuk pada Agustus 2009. Nashir mengatakan bahwa Indonesia’s Sketchers saat ini sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota, baik yang aktif ataupun tidak aktif dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta ada sekitar 1.500 orang,yang aktif di angka 30-50 orang. Dalam waktu dekat ini, Nashir mengatakan, Indonesia’s Sketchers berencana bertemu untuk membahas program lebih lanjut yang akan mereka lakukan. ●  Harian Seputar Indonesia | Reporter: Megiza

*Liputan Indonesia's Sketchers di Harian Seputar Indonesia.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...