Showing posts with label drawing. Show all posts
Showing posts with label drawing. Show all posts

Sunday, May 08, 2016

Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"



Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15. 

Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.

Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.

Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *

Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.

Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.

Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.

Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.

Thursday, March 05, 2015

Menolak Hukuman Mati | No Death Penalty


MENOLAK HUKUMAN MATI | NO DEATH PENALTY

Menolak Hukuman Mati terhadap terpidana bukan berarti merupakan menerima kejahatan yang diperbuatnya. Hukuman mati merupakan hukuman yang tak akan pernah bisa ditarik kembali jika terjadi adanya bukti baru yang dapat meringankan atau menambah berat hukuman sebelumnya atau bahkan dapat membebaskan seseorang dari hukuman fatal; kematian. Bagaimana jika seseorang telah divonis mati dan telah dieksekusi sementara ada bukti-bukti baru yang meringankan, misalnya, pengakuan pelaku/saksi yang sebenarnya. Di sinilah pentingnya menghapus hukuman mati. Tentu saja hukuman ini bisa diganti dengan hukuman yang seberat-beratnya sesuai nalar keadilan. Dengan demikian, kesalahan memvonis mati sebab ketidaktelitian atau adanya bukti dan kesaksian baru tersebut dapat diminamlisir. Jika terjadi bukti baru (novum) yang meringkankan/membebaskan, maka terpidana bisa direhabilitasi hak-hak kewargaannya: pembersihan nama, ganti rugi dan lain-lain. 

Ada banyak kasus dari "kesalahan" putusan hukuman mati namun ternyata ada bukti-bukti baru yang diajukan dan itu justru membebaskan dari segala tuntutan. Jika demikian maka siapa yang akan bertanggungjawab atas hak kemanusiaan yang "dihilangkan" tersebut.

Tuesday, August 12, 2014

Robin Williams died


Robin Williams dies. I drew this caricature as one of my doodles. I did this on my afternoon journey on August 8, 2011. Today, August 12, 2014 the press media report the death of Robin Williams. I remember that I ever drew him. I found and upload it then.

Monday, March 03, 2014

Umbu Landu Paranggi, "Presiden Malioboro"



==================================================================
Berikut catatan Muhammad (Emha) Ainun Nadjib (Cak Nun) tentang Umbu Landu Paranggi 
dalam web pribadinya: https://www.caknun.com/2012/presiden-malioboro/
==================================================================

 

Untuk Umbu

Presiden Malioboro

 

Malioboro

Syukur kepada Tuhan yang memperkenankan saya berjumpa dengan Umbu Landu Paranggi. Satu-satunya orang yang pernah digelari sebagai Presiden Malioboro oleh media massa, kalangan intelektual, aktivis kebudayaan 42 tahun yang lalu. Di zaman ketika orang masih mengerti bagaimana menghormati keindahan. Di kurun waktu tatkala manusia masih punya perhatian yang jujur kepada rohani, masih menjunjung kebaikan dan masih percaya kepada kebenaran.

Kemudian sebagai “jebolan Universitas Malioboro”, hampir setengah abad saya lalui jalan sesat, dan kini saya terjebak di kurungan peradaban di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan kekuasaan, mentuhankan harta benda, bersimpuh kepada kemenangan, serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka keunggulan.

Secara teknis saya mengenal Umbu sebagai pemegang rubrik puisi dan sastra di Mingguan “Pelopor Yogya” yang berkantor di ujung utara Jl Malioboro Yogyakarta. Bersama ratusan teman-teman yang belajar nulis puisi dan karya sastra, kami bergabung dalam “Persada Studi Klub”. Puluhan tahun kemudian saya menyadari bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair, dan ternyata yang saya pelajari dari Umbu bukanlah penulisan puisi, melainkan “Kehidupan Puisi” – demikian menurut idiom Umbu sendiri.

Antara Tugu hingga Kraton, terdapat empat (4) jalan. Pertama, Margoutomo. Terusannya, sesudah rel KA, bernama Malioboro. Jalan lanjutannya adalah Margomulyo. Kemudian dari Kantor Pos hingga Kraton adalah Jalan Pangurakan. Sekarang jalan itu bernama Jl. Mangkubumi dan Jl. Jendral Ahmad Yani: wacananya, filosofinya, kesadaran sejarahnya, sudah mengalami perubahan dan penyempitan, dari falsafah karakter manusia ke catatan romantisme sejarah. Hari ini bahkan Malioboro adalah pariwisata, kapitalisme dan hedonism pop.

 

Wali Pengembara

Ketika berdiri, kepemimpinan kesultanan Yogya meyakini bahwa setiap manusia sebaiknya memastikan dirinya menempuh “jalan utama”. Tafsir atas “jalan utama” sangat banyak. Bisa pengutamaan akal dan budi, bukan menomersatukan pencapaian kekuasaan, kesejahteraan ekonomi atau eksistensialisme “ngelmu katon” alias kemasyhuran yang pop dan industrial. Bisa juga jalan utama adalah “berbadan sehat, berbudi tinggi, berpengetahuan luas, berpikiran bebas”, atau apapun yang intinya memaksimalkan peran kemanusiaan untuk fungsi “rahmat bagi seluruh alam semesta”.

Untuk menguji diri dalam pilihan jalan utama, maka “Malio-boro”. “Malio” artinya “jadilah Wali”, mengelola posisi kekhalifahan, menjadi wakil Tuhan untuk memperindah dunia, “mamayu hayuning bawana”. Malioboro artinya jadilah Wali yang mengembara (“boro”): mengeksplorasi potensi-potensi kemanusiaan, penjelajahan intelektual, eksperimentasi kreatif, berkelana di langit ruhani. Nanti akan tiba di jalan kemuliaan (Margo-mulyo). Dalam idiom Islam, yang diperoleh bukan hanya ilham (inspirasi) dari Tuhan, tapi juga fadhilah (kelebihan), ma’unah (keistimewaan) dan karomah (kemuliaan).

Di ujung jalan Margomulyo, orang menapaki Pangurakan. Jiwanya sudah “urakan” (ingat Perkemahan Kaum Urakan-nya Rendra di awal 1970an?): sudah berani mentalak kepentingan dunia dari hatinya, “ya dunya ghurri ghoiri, laqat thalaqtuka tsalatsatan”: wahai dunia, rayulah yang selain aku saja, sebab kamu sudah kutalak-tiga. Bahkan “diri sendiri” sudah ditalak, karena “diri sejati” adalah kesediaannya untuk berbagi, kerelaannya untuk menomersatukan orang banyak. Parameter manusia bukanlah “siapa dia”, melainkan “seberapa pengabdiannya kepada sesama”.

Memilih Presiden 2014 sangat mudah: pandangi wajahnya dan pelajari perilaku hidupnya, apakah penempuh jalan Margoutomo, Malioboro dan Margomulyo. Raja-raja sejati nenek moyang kita mengakhiri hidupnya dengan merohanikan diri, menjadi Begawan, Pandita, Panembahan. Raja yang sibuk mengatur agar penguasa berikutnya adalah sanak familinya, tidak punya kwalitas memasuki jiwa Pangurakan, karena memang tidak pernah memilih jalan utama, mewali-pengembara sehinga lolos masuk jalan mulia.

 

Kekasih Umbu

Ah, tetapi itu terlalu muluk. Untuk Presiden Malioboro ini saya kembali saja ke sesuatu yang kecil dan sepele.

Menjelang tengah malam, di tahun 1973, Umbu datang ke kamar kost saya dan mengajak pergi. Sebagaimana biasa saya langsung tancap, berjalan cepat mengejar langkah Umbu yang panjang-panjang. Hampir tiap malam kami jalan kaki menempuh sekitar 15 sd 20 km di jalanan Yogya. Sebulan dua bulan sekali kami mengukur jarak Yogya ke Magelang, ke Klaten, ke Wates, ke Parangtritis, dengan jalan kaki. Atau duduk saja di trotoar sesudah toko-toko tutup hingga pagi para pelajar berangkat sekolah.

Umbu mengajak saya “mlaku”, bukan “mlaku-mlaku”. “Jalan”, bukan “jalan-jalan”. Ada beda sangat besar antara “ngepit” dengan “pit-pitan”, antara naik sepeda dengan bareng-bareng bersepeda gembira. Sangat beda antara bekerja dengan hiburan, antara berjuang dengan iseng-iseng, antara makan beneran dengan mencicipi, antara jalan kaki sunggugan dengan jalan-jalan. Kalau pakai konsep waktu: yang satu menghayati, lainnya melompat. Yang satu mendalami, lainnya menerobos. Yang satu merenungi, lainnya memenggal.

Harian lokal Yogya pernah memuat foto sangat besar almarhum Prof. Dr. Umar Kayam di halaman depan sedang naik sepeda, menempuh jarak 150 meter dari Bulaksumur B-12 ke kantornya di E-12. Pak Bon kantor menyongsong juragannya, menyodorkan koran itu dan nyeletuk: “Bapak ampuh tenan. Baru mulai kemarin naik sepeda ke kantor sudah keluar di koran. Kok saya sudah 30 tahun lebih naik sepeda 30-an km tiap hari pulang pergi dari Gunung Kidul ke kantor, kok ndak masuk koran ya Pak..”  Maklumlah Pak Bon tidak mengerti apa-apa tentang jurnalisme. Sambil jalan kaki dengan Umbu saya tersenyum-senyum sendiri kalau ingat protesnya Pak Bon.

Malam itu Umbu menerobos Keraton Yogya bagian tengah dari arah barat, menempuh sekitar 3 km, Umbu mengajak berhenti di warung kecil seberang THR. Duduk. Pesan teh nasgithel, berjam-jam tidak bicara sepatah katapun, ah-uh-ah-uh sendiri-sendiri, hingga pukul empat fajar hari. Beberapa kali dengan dua jari Umbu mengambil batangan rokok di kedalaman sakunya tanpa menoleh ke saya — jangankan mengeluarkan bungkusnya dan menawarkan agar saya juga menikmatinya.

Ketika jam empat tiba, Umbu bergumam lirih, “Coba lihat keluar, Em….”. Saya bertanya, “Lihat apa, Mas?”, dia menjawab, “Perhatikan nanti ada Bis Malam dari Malang masuk Yogya….”. Saya melompat keluar, berdiri, berjaga-jaga di tepi jalan. Sebab saya mengerti, “Bus” nya tidak penting, tapi “kota Malang” itu sakral baginya. Ia berkait erat dengan kekasih hatinya.

Umbu sedang sangat jatuh cinta kepada seorang pelukis mahasiswi ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) asal Malang, gadis hitam manis, kurus, bergigi gingsul. Umbu mengambil saya sebagai tenaga outsourcing gratisan untuk mengerjakan program-program cintanya. Job description saya mengamati rumah tempat ia kost, posisi kamarnya, arah pintunya, route kegiatannya, dan yang terpenting meneliti apakah si gadis pernah memakai rok. Sebab rata-rata pelukis wanita berpakaian lelaki. Kalau sempat melihatnya pakai rok, harus didata apakah maksi, midi ataukah mini. Ketika pada suatu malam Minggu saya diperintahkan untuk bertamu ke rumah gadis itu sebagai “Duta Cinta”, jauh malam sesudahnya saya diinterogasi: “Apakah dia nemuin Emha pakai rok? Bagaimana bentuk kakinya?”

Ketika mendadak Bis Malam “AA” meluncur dari arah selatan, saya kaget. Langsung saya teriak dan berlari memberitahu Umbu. Tapi dia tidak menunjukkan perilaku seperti lelaki yang jatuh cinta dan rela berjam-jam menunggu kekasihnya tiba. Di dalam warung Umbu tetap menundukkan wajah, mengisap rokok, tidak bereaksi kepada teriakan saya. Justru ketika suara bis menderu, wajahnya makin menunduk.

Semula saya pikir si kekasih akan turun di depan THR karena kencan dengan Umbu. Ternyata kemudian saya ketahui bahwa si kekasih bukan sedang naik bis dari Malang ke Yogya. Umbu hanya menikmati nuansa bahwa jalur Malang-Yogya itu paralel dengan jalur cinta yang sedang dialaminya. Ia cukup mendengar suara bus itu lewat, cukup baginya untuk menghadirkan kekhusyukan cintanya. Begitu bus sudah lewat, Umbu mengajak saya pulang, dia ke ujung Malioboro utara, saya balik ke barat Keraton.

Beberapa hari kemudian Umbu memerintahkan agar saya beli tiket bus malam Yogya-Malang pp. Saya mengantarkannya sampai bus berangkat. Dia melaju. Subuh tiba di Malang, Umbu turun sebelum Tugu masuk pusat kota Malang. Jalan kaki masuk ke wilayah timur. Melintasi Jl Diponegoro, di situ rumah sang kekasih. Berjalan cepat, menundukan wajah, tidak sesekonpun berani menoleh ke rumah si gadis pujaan. Kemudian berputar balik ke jalan besar, mencegat bis menuju Surabaya, terus ke Yogya. Sorenya sudah datang lagi ke tempat kost saya: duduk, ah-uh-ah-uh, mengambil batang demi batang rokok dari sakunya dengan jepitan dua jari-jarinya. Tak ada kata tak ada huruf hingga pagi.

 

“Kehidupan Puisi”

Beberapa tahun kemudian Umbu pindah tinggal di Bali. Demikian juga si kekasih rohaninya, diperistri oleh seorang tokoh di Bali, kelak Tuhan memanggilnya ketika bermain surfing di pantai, sebagaimana Umbu sepanjang hidupnya “surfing” di atas gelombang demi gelombang, tanpa pernah mungkin bertempat tinggal di atas gemuruh lautan.

Siapapun pasti menyebut percintaan Umbu itu “platonik”, pengkhayal, hidup tidak di dunia nyata. Dunia yang gegap gempita ini memang tidak nyata bagi Umbu. Maka ia tidak pernah memburu wanita itu untuk disentuh dan diperistrikannya. Sampai hari ini Umbu mengayomi anak-anak muda belajar menulis puisi, tapi Umbu sendiri menjauhi eksistensi sebagai penyair. Di tahun 1973 puluhan puisinya akan dimuat oleh Majalah “Horizon” elite media sastra di era 1970an: Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas.

Sejak 50 tahun silam meninggalkan harta kekayaan dan kekuasaannya sebagai “Pangeran” di Sumba. Di pinggiran Denpasar ia menempati rumah tepi hutan karena ia menghormati  temannya yang membikinkan rumah itu. Umbu tiap saat berjalan kaki menjauh dari segala sesuatu yang semua orang di muka bumi mengejarnya. Ia menyebut seluruh keputusannya itu dengan idiom “kehidupan puisi”. Saya mengenalinya sebagai “zuhud”: berpuasa dari kemewahan dan gegap gempita dunia. Ia meninggalkan harta, kekuasaan, wanita, kemasyhuran dan menyimpan uang dalam bungkusan plastik dipendam di tanah.

Saya bukan siapa-siapa di dunia, tetapi kapan ada yang tanya siapa Guru saya, baru nama Umbu yang pernah saya sebut. Puluhan tahun saya berkeliling berjumpa dengan jutaan orang. Rata-rata mereka adalah orang memperlakukan saya sebagai keranjang sampah untuk mengeluhkan dunia, membuang kesedihan dan frustrasi, menumpahkan kebingungan dan rasa tertekan oleh keadaan-keadaan dunia yang menindas mereka. Kecuali Umbu: ia bahagia dan khusyu dalam kesunyian dan “ketiadaan”nya.

Di mana-mana sajapun orang riuh rendah mengejar dunia, tetapi di mana-manapun saja orang ribut curhat tentang dunia. Ke manapun saya pergi, ke delapan penjuru angin, dari bawah sampai atas, pada segmen dan level sosial yang manapun, yang terutama saya dengar dan disampaikan kepada saya adalah keluhan-keluhan tentang dunia: kemiskinan, kesulitan mencari nafkah, susahnya dapat kerjaan, seretnya usaha.

Terkadang saya balik tanya, dengan terminologi Agama: “Lha kamu hidup ini mencari dunia atau akhirat?”. Kalau ia menjawab “mencari dunia”, saya tuding “salahmu sendiri dunia kok dijadikan tujuan”. Kalau jawabannya “mencari akhirat”, saya katakan “kalau kamu mencari akhirat kenapa mengeluhkan dunia”. Kan sudah jelas sejak dahulu kala bahwa “urip ming mampir ngombe”, hidup hanya mampir minum. Namanya juga mampir, singgah sejenak, bukan bertempat tinggal. Sudah jelas dunia hanya tempat persinggahan sementara di tengah perjalanan, kok disangka kampung halaman.

Sayangnya Tuhan menyatakan – dan mungkin memang sengaja menskenario demikian — “kebanyakan manusia tidak mau berpikir”, atau minimal “banyak di antara manusia yang tidak menggunakan akal”. Karena kemalasan mengolah logika dan sistem ratio, orang menyangka “dunia” dan “akhirat” itu dua hal yang berpolarisasi, berjarak dan bahkan bertentangan. Orang ketakutan menyikapi dunia kritis karena mengira kalau mencari akhirat maka tak mendapatkan dunia. Orang mengira kalau tidak habis-habisan kejar uang maka ia tidak memperoleh uang.

Mengejar uang adalah pekerjaan dunia, pekerjaan paling rendah. Bekerja keras adalah pekerjaan akhirat, di mana dunia adalah salah satu tahap persinggahannya untuk diolah. Orang yang fokusnya bekerja keras memperoleh lebih banyak uang dibanding orang yang fokusnya adalah mengejar uang. Orang yang yang mencari dunia, mungkin mendapatkan dunia, mungkin tidak. Orang yang mengerjakan akhirat, ia pasti dapat akhirat dan pasti memperoleh dunia.

Begitu kumuh dan joroknya situasi ummat manusia berebut dunia. Dan begitu indah dan bercahayanya “kehidupan puisi” Umbu. Suatu hari saya mohon izin untuk membuktikan bahwa keindahan sesungguhnya adalah puncak kebenaran dan kebaikan. Peradaban manusia sampai hari ini menjalankan salah sangka yang luar biasa terhadap keindahan.

Sunday, November 24, 2013

Drawing Dasar/Basic Drawing


Menggambar Drawing Dasar/Basic Drawing.

Menggambar, bagi yang merasa masih belum bisa, dirasakan begitu sangat susah untuk mempelajarinya. Tapi ketika melihat seseorang menggambar nampak begitu mudah dan menyenangkan saat seseorang itu mengerjakannya. Terutama melihat hasil akhir dari sebuah karya gambar/lukisan/produk kita sering terkagum-kagum. Melihatnya bisa juga timbul keheranan (dan tentu jangan sampai menjadi pening) hanya karena kita terlalu berpikir keras bagaimana cara membuatnya tapi tak menemukan jawabannya. 

Ada persoalan pola pikir/mind set.  Barangkali begini:

Dalam keseharian, pengalaman visual kita hanya terlalu sering dimanjakan oleh citra visual produk-produk yang sudah jadi. Sangat jarang kita (mau) berpikir bahwa produk jadi itu juga mengalami proses. Meski masih dalam tahap pikiran, kita hendaknya melihat dan memahami itu bahwa produk itu memiliki tahapan proses. Misal saja produk rumah tangga, alat elektronik, kemacetan, dan lain sebagainya. 

Kemacetan? Ya, kemacetan adalah sebuah produk. Bisa jadi itu hasil akhir atau masih tahap proses untuk hasil akhir yang lebih buruk. Ketika melihat (atau berada di dalam) kemacetan, kita mengeluh tanpa mencoba mengurai proses kenapa ada kemacetan. Jika sadar, kita akan tanggap untuk mencoba berpikir mencari akar-akarnya, tahapan-tahapannya dan lain-lain. Ada banyak kemungkinan; setiap orang ingin menaiki kendaraan masing-masing (ego besar), bertambahnya angkutan pribadi, kurang layaknya angkutan umum, tak bertambahnya infrastruktur, buruknya infrastruktur, kecelakaan mendadak, iring-iringan pejabat, lampu lalu lintas mati dan kemungkinan-kemungkinan lain. Nah, itu adalah rangkaian yang ketika berakumulasi menjadi sebuah rentetan proses timbulnya kemacetan. Ini hanya analogi terkait produk tadi.

Saat melihat produk-produk jadi itulah kita tak berpikir bahwa produk itu mengalami proses desain yang bisa saja meliputi tahap sketsa, drawing, sampai pada tahap pembentukan tiga dimensinya dalam bentuk hasil akhir. Produk telepon genggam, laptop, meja, kursi, juga dibuat berdasar sketsa (pola/rancangan) dan proses seterusnya. Termasuk film, juga ada story board (sketsa adegan yang berbentuk panel-panel bercerita). Kita memang jarang melihat proses-proses itu, apalagi memang secara umum tak dipublikasikan. Contoh, seperti belajar mengendarai sepeda, kita akan butuh banyak latihan, teknik, keseimbangan dan lain-lain. Paling tidak, kita memahami bahwa semua itu memiliki proses. Dan tentu kita akan mengalami proses untuk bisa menggambar. 

Ada masalah pemahaman pola pikir kita yang barangkali sering luput bahwa seakan semuanya tak memiliki proses. Ini bisa dikarenakan seringnya kita disuguhi citra visual akhir yang memukau. Yang terpenting lagi kita memang senang dan mau melakukannya. Karena senang itulah kadang-kadang kita lupa bahwa kita sedang berproses. Kita begitu menikmatinya. 

Itu soal pola pikir, selanjutnya diharapkan menikmati proses yang menyenangkan itu.



Contoh gambar di atas adalah menggambar bentuk. 
 => Pemahaman alat. Sketsa, perspektif, pemahaman pencahayaan, arsir, dimensi, dan lain-lain. Untuk gambar lebih besar/detil dari coret-coretan ini bisa klik di sini: GAMBAR.

Lalu bagaimana prosesnya? Alat bisa berupa apapun; pensil, bolpen, kertas, karton, dan lain-lain. Alat itu hanya medium, gunakan apa yang kita punya. Tidak punya apa-apa? Maka itu keuntungan kita untuk  terus berpikir bagaimana caranya untuk membuat sesuatu menjadi alat kita. Jika kita punya beberapa, kita bisa gunakan beberapa alat itu.

Kita bisa memulai dengan menggores-gores sederhana, entah bentuk apapun. Nikmati pengalaman menggores itu. Nikmat, apanya yang nikmat? Kita bisa mempermainkan tekanan ringan, sedang, dan kuat saat menggores. Juga, mempermainkan kecepatan, sedang dan lambat guratan-guratan itu. Termasuk pula gaya memegang alat itu. Kita lakukan terus menerus. Kita bisa amati dan pelajari garis dan coretan-coretan itu lalu bandingkan pada saat kita menggores. Termasuk goresan dari penggunaan alat yang berbeda itu. Ketika tekanan goresan dikuatkan, maka hasilnya akan berbeda dengan saat menggores dengan tekanan ringan. Itu akan membentuk pendapat/kesimpulan sederhana kita tentang dunia gores-menggores dari pengalaman sederhana itu. Sampai disini, kalau kita menikmatinya, kita sudah mulai lupa bahwa kita sedang mencapai satu tahapan proses. 

Selanjutnya kita bisa menggambar benda-benda di sekitar kita, tentu bisa dengan bentuk sederhana. Kita amati dan mencoba pahami bentuknya, mana yang lebih gelap, mana yang lebih terang dan seterusnya. Minimal setiap hari kita mencoba membuat goresan-goresan. Kita terapkan seperti tiap kali kita makan setiap hari.

Dari penggunaan alat yang berbeda itu akan memberi kita kesimpulan-kesimpulan sementara yang sederhana. Itu bisa terkait dengan karakteristiknya. Alat-alat/medium berbeda itu dibuat dengan bahan berbeda pula sehingga berkemungkinan besar akan menghasilkan efek yang berbeda pula.



Dibuat dengan menggunakan pensil, charcoal, dan pastel di kertas bertekstur. Lalu adakah perbedaan karakteristik material itu? Yang berwarna itu seperti kapur adalah pastel, sementara yang hitam pekat dan lunak adalah charcoal, dan garis-garis dengan kehitaman sedang dan sedikit mengkilat adalah pensil EB (setara dengan 7B). Untuk gambar lebih besar bisa klik kanan pada gambar, lalu pilih "Open Link in New Tab".

"Drawing" diartikan sebagai "gambar/menggambar". Namun, dalam terminologi kesenirupaan "drawing" tak sekadar sebagai gambar, namun ia menjangkau lebih dari sekadar "gambar" itu. Drawing merupakan salah satu bentuk ekspresi seni rupa yang menggunakan (sejumlah) alat gambar dengan yang berkaitan dengan goresan garis dan bidang. Alat gores ini biasanya berupa pensil grafit (karbon, salah satunya secara umum dikenal jenis pensil B=Black (2B, 3B, 4B dst.), HB=Hard Black dan lain-lain), tinta dan pena, charcoal, kapur, pastel, akrilik, penghapus dan beberapa lainnya. Selain itu material yang lain untuk medium drawing biasanya kertas, karton, kanvas, plastik, papan kayu dan lainnya.

Sementara itu terlebih dulu, selanjutnya bisa disumbang lagi, eh disambung lagi.

Tuesday, November 12, 2013

Gambar Nusantara/Hindia Belanda

Demi memberi informasi kepada kawan yang bertanya di media sosial Facebook terkait siapa ilustrator yang sering bikin ilustrasi nusantara. Lalu terutama ilustrator Belanda pada kurun tahun 1700-an. Untuk menanggapi secara pas akan lebih sulit dalam waktu singkat. Perlu waktu untuk riset. Namun segera saya buka buku karya seorang serdadu Inggris yang setelah bertugas di pulau Jawa pada tahun 1813. Berikut dua gambar yang saya unggah.


Gambar prosesi pemakaman seorang kapitan Batavia keturunan China, Oei Yoen Koa. Digambar oleh seniman dari Rach School pada tahun 1784. Johannes Rach, seniman asal Denmark, tinggal dan bekerja di Batavia sebagai pegawai perusahaan Hindia Belanda Timur Belanda antara tahun 1762 - 1783. Ia dan bersama rekan-rekannya banyak membuat gambar tentang Hindia Belanda.




Gambar berjudul "Semarang from the Land Side" digambar oleh Joseph Jeakes. Joseph Jeakes seorang pelukis yang juga ahli tatah asal London.  Gambar-gambarnya ia pamerkan di Royal Academy antara tahun  1796 - 1809.

Kedua gambar di atas adalah dua dari 30-an gambar yang ada dalam buku "PENAKLUKAN PULAU JAWA." Mayor William Thorn adalah penulisnya. Ia seorang serdadu kerajaan Inggris yang pernah bertugas dalam ekspedisi ke pulau Jawa. Ia berusia 30-an pada saat bertugas ke jawa, sama seperti Raffles. Ia mengundurkan diri dari kedinasan militer dan kembali ke Inggris pada Juli 1813. Ia lalu menyelesaikan bukunya ini dan menerbitkannya di London pada tahun 1815 dengan harga 3.3 poundsterling. Sebagian gambar-gambar sketsa dan drawing dalam bukunya kemungkinan ia menemukan di Jawa lalu dibawa ke London.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...