Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Monday, March 21, 2016

Sketsa Gereja dan Masjid: Bebas Damai






Dua tempat ibadah berlainan agama didirikan berdampingan. Indah, bukan?

Bagi para perusak kehidupan, wa bil khusus perusak kehidupan bebas berkeyakinan, pemandangan ini seyogiayanya dapat membuat mereka menumbuhkan kepekaan rasa saling mengasih sayangi kepada semesta. Trenyuh, terlalu sering mendengar teriakan dan yel-yel keributan atas nama agama begitu santer terdengar. Sebut saja; tuntutan pembatalan pembangunan sah, pembakaran dan penggusuran tempat ibadah di beberapa tempat, pengusiran kelompok minoritas, dan intoleransi lain sebagainya. The Wahid Institute rutin menerbitkan laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dengan tingkat intoleransi di daerah-daerah seluruh Indonesia baik yang dilakukan tanpa dan dengan dukungan perda-perda syari'ah. Jika membacanya sungguh miris. Data kekacauan itu justru meningkat. 

Jika piknik ke tempat dengan situasi semacam ini, dua bangunan yang difungsikan sebagai tempat ibadah berlainan keyakinan, tanpa penjelasan kata pun cukup memberi makna yang jelas. Keduanya dipisahkan satu Jl. Kernolong Dalam IV, Kramat, Jakarta Pusat, sebuah gang pemukiman yang oleh warga sekitar disebut gang Petak, mengacu pada rumah-rumah petak di sekitar gang.

Usia gereja HKBP lebih muda dari masjid Al- Istikharah yang jauh lebih dulu ada. Gereja dibangun warga komunitas etnis Batak di sekitarnya pada era 1980-an. Sementara masjid lebih dulu ada. Awalnya masjid hanya sebuah surau kecil yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Di ruang utama ada mimbar. Luasnya masih tetap seperti surau-surau di kampung, sempit. Hanya terasnya yang lebih luas dan berkanopi.  Ia kemudian dilabeli masjid. 

Berkali-kali saya menjumpai dua bangunan peribadatan semacam ini di beberapa tempat. Pernah juga saya masuki satu tempat yang difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam, Yahudi, dan lain-lain. Penamaan tempat ibadah hanya perspektif dari masing-masing pemeluknya. Pada intinya ia hanya sebuah atau bahkan BUKAN bangunan sama sekali, namun yang dilihat adalah manfaat apa yang bisa difungsikan; tempat beribadah.

Beberapa orang tua berjalan melintasi tempat saya menggambar. Begitu juga perempuan-perempuan muda yang manis. "Ibadah Minggu malam," seorang ibu menjawab sapaan seorang bapak di samping saya. Mereka menuju gereja.

Sebenarnya ini kegiatan usai saya ikut acara rutin Indonesia's Sketchers di bekas gedung STOVIA yang difungsikan menjadi museum Kebangkitan Nasional siang kemarin. Saya ajak kawan pegiat Indonesia's Sketchers buat melanjutkan bikin sketsa di kawasan Kramat dan Cikini yang dibelah sungai Ciliwung ini. Ia mengiyakan. Sebelumnya bapak berkeluarga ini hendak pulang. Ah, andai saja orang-orang termasuk perempuan-perempuan muda manis itu berhenti dan menonton saya menggambar lalu kami berbincang-bincang. Saya sungguh tak bisa menghentikannya, mereka hendak beribadah. Salam/damai selalu kita.

Mari Piknik! 

Gelpen di kertas A3 (yg lalu pakai cat air)
21 | 03 | 2016

Monday, October 20, 2014

Ambiguitas Harga Tiket Kereta Api


Pendingin udara gerbong kereta berfungsi baik pada jam pemberangkatan awal pagi kereta Ekonomi AC Menoreh, Jum’at 17 Oktober 2014 jurusan Semarang - Jakarta. Menjelang pukul 07.50-an penumpang mulai memasuki gerbong. Kereta berangkat pukul 08.00. Seorang ibu datang menemukan nomor dan menempati kursinya, bertepatan aku datang. Ia angkat kardus ke tempat penyimpanan bagasi. “Sudah. Kuat,” sahutnya saat aku tanya apakah itu berat. Aku taruh ranselku di sebelah kardusnya. Kami duduk bersebelahan.

Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.

“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.

Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.

Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.

Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.

Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.

Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.

Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.


A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...