Friday, October 24, 2014

Membuat Karikatur





Revolusi Mental


Foto: salah satu karya seni patung dalam pameran Trienal "VERSI" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran dibuka Rabu 22 Oktober lalu, dan akan terus dipamerkan beberapa hari ke depan.


Barangkali kita ingat cerita batu yang berlubang sebab tetes demi tetes air yang terjatuh diatasnya, yang barangkali telah berlangsung sekian puluh bahkan ratusan tahun.

Jargon Revolusi Mental kental kaitannya dengan babak baru kemenangan kepemimpinan pemerintahan yang baru saja dimulai. Revolusi Mental, jika dipahami benar-benar, tidak mudah hanya memerlukan waktu singkat apalagi hanya dengan 5 tahun,10 tahun, 15 tahun dan seterusnya.
Contoh saja. Jika kita pergi ke satu tempat kita akan lihat pada bagaimana keruwetan akibat pola pikir pengguna jalan, misal saja pengendara kendaraan bermotor dan lain-lain, atau pengguna kereta. Mengamati kekacauan mereka barang sejenak, paling tidak kita akan dapat menyimpulkan meski tak banyak. Keruwetan itu produk kebiasaan pola pikir yang dilakukan selama bertahun-tahun. 

Lalu bagaimana mengharapkan kebiasaan orang yang dilakukan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dapat diubah dalam sekejap (revolusi). Tentu saja dalam kaitan pemerintahan yang baru, Revolusi Mental bukan jaminan akan sesegera terwujud. Adalah pemerintah dan rakyat yang saling bergerak sinergi satu sama lain. Pemerintah mendukung dan menyediakan sarana prasarana, membenahi aparaturnya dan lain sebagainya sementara rakyat juga perlu berbenah diri, mengubah kebiasaan buruk.

Tentu bukan hanya 5 tahun, 10 tahun untuk mengobati "penyakit" kebiasaan mental. Dalam bahasa ungkap Gus Mus (KH. A. Musthofa Bisri), kepala semua orang harus dicopot dan diganti dengan yang baru karena kepala yang lama sudah rusak.

Monday, October 20, 2014

Ambiguitas Harga Tiket Kereta Api


Pendingin udara gerbong kereta berfungsi baik pada jam pemberangkatan awal pagi kereta Ekonomi AC Menoreh, Jum’at 17 Oktober 2014 jurusan Semarang - Jakarta. Menjelang pukul 07.50-an penumpang mulai memasuki gerbong. Kereta berangkat pukul 08.00. Seorang ibu datang menemukan nomor dan menempati kursinya, bertepatan aku datang. Ia angkat kardus ke tempat penyimpanan bagasi. “Sudah. Kuat,” sahutnya saat aku tanya apakah itu berat. Aku taruh ranselku di sebelah kardusnya. Kami duduk bersebelahan.

Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.

“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.

Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.

Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.

Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.

Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.

Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.

Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.


Friday, October 03, 2014

FPI, Polisi, Ahok.

FPI (Front Pembela Islam) bentrok dengan polisi. Bentrokan terjadi saat demonstrasi FPI di gedung DPRD dan Balai Kota DKI Jakarta. FPI protes terhadap pengangkatan Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur DKI Jakarta, Jum'at, 3 Oktober 2014.

Saturday, September 27, 2014

DPR - People Council Representative of Indonesia


Aku baca berita online dini hari dan aku dapati informasi mengenai voting sidang paripurna anggota DPR terkait RUU Pilkada. Lantas aku menulis di bawah ini.

226 anggota DPR memilih pilkada melalui DPRD (tak langsung), sementara 135 anggota lainnya memilih pilkada melalui warga (langsung). Dan partai pengecut yang Walked Out itu bernama Demokrat. Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri yang mengurus permasalahan E-KTP saja tidak becus, sebagai inisiator RUU pilkada ini. Batinku, pilkada melalui anggota DPRD berpotensi besar terhadap praktik-praktik korupsi. Bagaimana bisa hak orang banyak yang bisa sangat berbeda pikiran diwakilkan hanya oleh seorang anggota legislatif.

Terlintas candaan pikiran yang menggoda dipikiranku bahwa ini tampak hanya merupakan akal-akalan dan skenario besar, terutama bukan hanya bagaimana memperluas akses politik transaksional dan praktik korupsi, melainkan juga adanya rekayasa matang memunculkan konflik besar seperti pada tahun 1998 dengan siapa yang akan ditumbang-kambinghitamkan pada tataran pucuk pemerintahan. Hasil voting yang sudah dapat diprediksi sebelumnya ini, dapat memicu reaksi besar warga. Gamawan mengakui pembahasan draft RUU oleh pemerintah ini sudah sedang disusunbahas semenjak 2011.



Jika yang menjadi keberatan dalam pemilu langsung adalah perihal biaya tinggi, tentu bukan alasan tepat. Biaya pemilu murah, yang menyebabkan anggapan ongkos pemilu mahal adalah disebabkan biaya kampanye yang harus dikeluarkan oleh calon-calon legislatif maupun eksekutif. Ada salah satu contoh menarik yang dapat dijadikan rujukan betapa biaya pemilu itu murah, kita dapat pelajari dan membandingkan bagaimana pemilu dan pilkada lain dengan pilkada di kabupaten Bantaeng pada tahun 2013.

Bupati kabupaten Bantaeng 2013 terpilih, Nurdin Abdullah, seorang akademisi, memperoleh suara 82 % yang itu bahkan tanpa atribut kampanye. Ia bahkan diminta warga Bantaeng untuk mencalonkan diri pada pilkada 2013 itu. Alasannya ia diakui mampu menjalankan dan membuktikan kinerjanya pada periode sebelumnya. Dengan tingkat kepercayaan warga atas kinerjanya, ia meraup suara bahkan tanpa berkampanye. Pilkada 2013 di kabupaten Bantaeng sama sekali tanpa atribut kampanye seperti pada pemilu dan pilkada-pilkada di daerah lain. Warga bahkan menginginkannya untuk terus menerus memimpin Bantaeng. Teladan yang baik. Itu bukti bahwa pemilu murah!

Pada kasus RUU Pilkada ini, aku masih tak mengerti logika para pemilih dan pemuja (buta) partai yang wakilnya saat ini memilih pilkada tak langsung yaitu melalui DPRD. Kelakuan politik mesum mereka adalah juga karena ulah pemilihnya pada pemilu 2009 lalu.

Pada saat pemilu, calon-calon legislatif dan eksekutif merengek dan mengemisi rakyat, sebagai timbal balik rakyat hanya tak mau berharap berlebih apapun apalagi mengemis bahkan dalam bentuk materi, melainkan rakyat hanya minta wakil-wakilnya lakukan amanah dan tugas kelegislatifan dan keeksekutifan dengan BECUS!

Tentu kita dapat menggugat UU Pilkada ini melalui Mahkamah Konstitusi (MK). 
Haris Azhar dari lembaga KontraS menulis melalui akun Facebooknya begini :
" Kamu menolak UU Pilkada? Kamu ngga mau hak suara kamu diambil DPRD alias Parpol kan? AYO ikut jadi penggugat ke MK. Kirim nama kamu dan No tlp utk tindak lanjut ke +62 822 17770002. Siapkan KTP ya... Kita lawan penjahat politik. Salam, Haris Azhar, KontraS"
 
Oooh, wakil-wakil yang mesum hasil ulah pemilihnya itu!

Friday, September 26, 2014

UU Pilkada dan Politik Mesum Wakil Rakyat

Aku baca berita online dini hari dan aku dapati informasi mengenai voting sidang paripurna anggota DPR terkait RUU Pilkada. Lantas aku menulis di bawah ini.

226 anggota DPR memilih pilkada melalui DPRD (tak langsung), sementara 135 anggota lainnya memilih pilkada melalui warga (langsung). Dan partai pengecut yang Walked Out itu bernama Demokrat. Gamawan Fauzi, Menteri Dalam Negeri yang mengurus permasalahan E-KTP saja tidak becus, sebagai inisiator RUU pilkada ini. Batinku, pilkada melalui anggota DPRD berpotensi besar terhadap praktik-praktik korupsi. Bagaimana bisa hak orang banyak yang bisa sangat berbeda pikiran diwakilkan hanya oleh seorang anggota legislatif.

Terlintas candaan pikiran yang menggoda dipikiranku bahwa ini tampak hanya merupakan akal-akalan dan skenario besar, terutama bukan hanya bagaimana memperluas akses politik transaksional dan praktik korupsi, melainkan juga adanya rekayasa matang memunculkan konflik besar seperti pada tahun 1998 dengan siapa yang akan ditumbang-kambinghitamkan pada tataran pucuk pemerintahan. Hasil voting yang sudah dapat diprediksi sebelumnya ini, dapat memicu reaksi besar warga. Gamawan mengakui pembahasan draft RUU oleh pemerintah ini sudah sedang disusunbahas semenjak 2011.


Jika yang menjadi keberatan dalam pemilu langsung adalah perihal biaya tinggi, tentu bukan alasan tepat. Biaya pemilu murah, yang menyebabkan anggapan ongkos pemilu mahal adalah disebabkan biaya kampanye yang harus dikeluarkan oleh calon-calon legislatif maupun eksekutif. Ada salah satu contoh menarik yang dapat dijadikan rujukan betapa biaya pemilu itu murah, kita dapat pelajari dan membandingkan bagaimana pemilu dan pilkada lain dengan pilkada di kabupaten Bantaeng pada tahun 2013.

Bupati kabupaten Bantaeng 2013 terpilih, Nurdin Abdullah, seorang akademisi, memperoleh suara 82 % yang itu bahkan tanpa atribut kampanye. Ia bahkan diminta warga Bantaeng untuk mencalonkan diri pada pilkada 2013 itu. Alasannya ia diakui mampu menjalankan dan membuktikan kinerjanya pada periode sebelumnya. Dengan tingkat kepercayaan warga atas kinerjanya, ia meraup suara bahkan tanpa berkampanye. Pilkada 2013 di kabupaten Bantaeng sama sekali tanpa atribut kampanye seperti pada pemilu dan pilkada-pilkada di daerah lain. Warga bahkan menginginkannya untuk terus menerus memimpin Bantaeng. Teladan yang baik. Itu bukti bahwa pemilu murah!

Pada kasus RUU Pilkada ini, aku masih tak mengerti logika para pemilih dan pemuja (buta) partai yang wakilnya saat ini memilih pilkada tak langsung yaitu melalui DPRD. Kelakuan politik mesum mereka adalah juga karena ulah pemilihnya pada pemilu 2009 lalu.

Pada saat pemilu, calon-calon legislatif dan eksekutif merengek dan mengemisi rakyat, sebagai timbal balik rakyat hanya tak mau berharap berlebih apapun apalagi mengemis bahkan dalam bentuk materi, melainkan rakyat hanya minta wakil-wakilnya lakukan amanah dan tugas kelegislatifan dan keeksekutifan dengan BECUS!

Tentu kita dapat menggugat UU Pilkada ini melalui Mahkamah Konstitusi (MK). 
Haris Azhar dari lembaga KontraS menulis melalui akun Facebooknya begini :
" Kamu menolak UU Pilkada? Kamu ngga mau hak suara kamu diambil DPRD alias Parpol kan? AYO ikut jadi penggugat ke MK. Kirim nama kamu dan No tlp utk tindak lanjut ke +62 822 17770002. Siapkan KTP ya... Kita lawan penjahat politik. Salam, Haris Azhar, KontraS"
 
Oooh, wakil-wakil yang mesum hasil ulah pemilihnya itu!

Wednesday, September 03, 2014

Mengunjungi Kota Lama, Semarang (lagi)



Selasa sore kemarin, 02 September 2014, aku jalan-jalan sore di sekitar Jl. Gajahmada, Semarang. Ada dua kawan sudah berada di tempat saat aku tiba. Kami bikin sketsa hingga maghrib tiba. Dua kawan ini pulang. Aku melanjutkan jalan-jalan. Menyusuri gang dan tak disangka aku keluar di ujung gang masjid kauman Johar. Mampir sebentar di masjid lalu pergi dan menggambar di belakang gereja Blenduk, Kota Lama Semarang. Berikut hasil menggambar di kegelapan belakang samping gereja Blenduk.

Pukul 20.30 aku lantas mampir di kantor tabloid Cempaka. Bertemu kawan-kawan hangat hingga pukul 22.00. Aku bergegas pulang dengan pertimbangan angkutan yang semakin malam semakin jarang ada.

2 menit sekeluarku dari kantor seorang kawan yang lain memberi kabar apakah aku masih di kantor. Kami lalu bertemu di gereja Blenduk lalu ngobrol barang sebentar. Tak lama, ia mengantarku menunggu angkutan hingga di Java Mall, jarak yang cukup jauh dari gereja Blenduk. Aku membatin, pukul 22.00 angkutan sudah jarang sekali lewat. Jalanan juga relatif sepi. Dingin.

Menunggu dalam waktu yang lumayan di depan mall, datanglah angkutan. Kami berpisah.

Tuesday, August 12, 2014

Robin Williams died


Robin Williams dies. I drew this caricature as one of my doodles. I did this on my afternoon journey on August 8, 2011. Today, August 12, 2014 the press media report the death of Robin Williams. I remember that I ever drew him. I found and upload it then.

Monday, August 11, 2014

Sketsa Kota Lama Semarang


Aku ingat pada pertengahan Agustus 2010 naik kereta dari stasiun Pasar Senen, Jakarta dan turun di stasiun Tawang, Semarang. Setiba di stasiun siang itu dengan ransel carrier berat aku berjalan kaki hingga ke kawasan Kota Lama. Kota Lama tak jauh dari stasiun, jaraknya kurang lebih 300 meter.

Aku duduk di seberang taman, belakangan aku tahu itu taman Srigunting. Taman Srigunting berlokasi di samping gereja Blenduk. Siang jelang sore aku menggambar gambar perspektif sudut jalan dengan gereja dari seberang taman. Suasana saat itu belum seramai sekarang.

Minggu sore kemarin aku menggambar di tempat yang sama. Aku menggambar sudut berlawanan dari gambar tahun 2010. Secara fisik Kota Lama tak berubah, karena memang statusnya sebagai kawasan cagar budaya. Di sana terdapat banyak bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah. Jika menonton film GIE (Soe Hok Gie) tentu saja ada adegan yang dibuat di Kota Lama ini.

Beberapa tahun terakhir suasana taman dan Kota Lama mulai ramai dipenuhi kegiatan. Seperti ada gerakan untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat tentang sejarah. Tak heran jika beberapa program acara berbasis seni budaya dihelat di kawasan ini. Misal saja, beberapa waktu lalu sempat aku berkunjung, ada pameran gambar, foto, pentas lakon kesenian tradisional, kelompok-kelompok kreatif dan lain-lain.

Kali ini aku berkunjung ke Semarang dan di sini sedang diadakan pameran sketsa dalam rangka dua tahun kelompok Arsisketur di Galeri Semarang. Beberapa kawan juga datang dari luar Semarang; Sidoarjo, Jogja, Bali dan lain-lain. Bertepatan pula sedang diadakan pasar Klithikan, menjual benda-benda kuno dan lain-lain, yang dijadwalkan setiap sebulan sekali yaitu pada hari Minggu pada minggu kedua.

Monday, July 28, 2014

Caricature of Denzel Washington

Denzel Washington

Salah satu film yang baru saja saya tonton adalah The Flight. The Flight merupakan film tentang bagaimana kalkulasi dari berbagai faktor yang bisa saja sebabkan terjadinya kecelakaan pesawat. Keadaan cuaca, alat transportasi itu sendiri, dan faktor manusia. Denzel memerankan Capt. Whip Whitaker, seorang pilot pesawat komersial. Saya menonton beberapa film yang dibintangi Denzel.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...