Monday, July 15, 2013

15 Juli Ulang tahun Rembrandt ke 407

Hari ini, 15 Juli 2013, adalah 407 tahun lalu kapan Perupa Belanda Rembrandt Harmenszoon van Rijn dilahirkan. Kita lebih sering mengenalnya dengan Rembrandt. Ia salah seorang paling penting dalam sejarah seni rupa di Belanda. Pun, ia juga salah seorang perupa besar dalam sejarah seni rupa lukisan dan "printmaking" di Eropa, bahkan dunia.

Ada hal penting bagi kita untuk merenungi kembali hakikat-hakikat kelahiran dan kematian kita; hidup kita. Seberapa lama usia atau hidup seseorang bukanlah hal penting, tapi hal yang paling penting justru kemanfaatan apa yang ia perbuat pada rentang waktu hidupnya. Kita banyak mendengar, mengenal ide-ide, gagasan-gagasan, penemuan-penemuan, apa yang diperbuat seseorang yang lantas kita menyebutnya sebagai kemanfaatan. Kemanfaatan bagi sesama, bagi pengetahuan, bagi alam semesta inilah yang langgeng.

Kita mengenal Soekarno dan para pendiri negara bangsa ini, KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahid Hasyim, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain. Mereka tiada, tapi apa yang mereka perjuangkan kita rasakan sekarang. Ada Muhammad SAW, Gandhi, Martin Luther, Mother Theresa, Ibrahim Lincoln, Ibnu Khaldun, Ibnu Farabi, Ibnu Sina, Rembrandt, Raden Saleh dan lain-lain. Hidup mereka memiliki kemanfaatan. Rata-rata usia mereka tak sampai 100 tahun, tapi kemanfaatannya sepanjang lama.
 
Gambarku ini aku buat pada tahun 2006 lalu. Aku berkunjung ke Jakarta untuk keperluan kegiatan perkuliahanku. Dalam persinggahanku aku bikin gambar-gambar semacam ini. Aku  perlu banyak berlatih atau bisa disebut kegiatan nggambarku ini sebagai iseng-iseng.

Monday, July 08, 2013

Penjual Sekoteng, Semarang


Penjual Sekoteng Khas Cirebon di Jl. Pahlawan, Semarang, Senin malam, 8 Juli 2013. 

Pada kesempatan kali ini saya adakan perjalanan ke Semarang. Beberapa kali pula selama di Semarang saya bertandang ke Jl. Pahlawan yang merupakan dimana kantor gubernur Jawa Tengah berada. Beberapa tahun terakhir Jl. Pahlawan didatangi banyak warga terutama pada sore hingga malam hari. Itu terjadi setelah perbaikan-perbaikan fasilitas umum berupa penataan dan pelebaran trotoar. Tak hanya sebagai area pedestrian, trotoar yang lebarnya kurang lebih 5 meter itu juga digunakan warga sebagai area kegiatan atau sekedar untuk kongkow-kongkow dan menikmati malam.

Suasana kota Semarang dengan banyaknya warga yang datang di ruang publik ini memberi dampak terhadap munculnya roda perekonomian. Sepanjang trotoar di seberang kantor gubernur akan banyak dijumpai penyedia jasa alat olah raga seperti sepatu roda (inline skate) juga sepeda-sepeda skuter mini. Di sisi jalan ada banyak penjual makanan dan minuman. Ada penjual kacang, penjual sekoteng, penjual kopi dan lain-lain. Berbaur dengan para penjual makanan dan minuman juga terdapat parkir motor dadakan di sepanjang trotoar.

Penataan fasilitas umum dan sosial ini memberi efek yang bagus dengan warga memanfaatkan ruang publik yang menjadi haknya. Akan tetapi gejala ini juga memunculkan permasalahan baru. Misal saja sampah. Beberapa warga masih terlihat membuang sampah seenaknya meskipun tempat sampah sudah disediakan. Hal ini hampir secara umum terjadi di beberapa tempat umum, tak hanya di Semarang. Masalah lain lagi misal saja parkir. Seorang petugas parkir bahkan hanya memberi selembar karcis foto kopi lalu meminta tarif parkir Rp 2.000. Ia hanya memiliki satu karcis asli.  Permasalahan lain juga muncul, maraknya pengemis. Ada permasalahan sosial yang krusial. Bermunculan pengemis ini sering mengiringi perkembangan pembangunan suatu daerah. Kita sering tak bisa membedakan manakah pengemis karena tekanan kebutuhan hidup, pengemis karena pekerjaan, atau pengemis bagian dari sindikat.

Dari sedikit gejala positif negatif yang muncul itu, paling tidak, pemerintah provinsi/kota Semarang sudah beranjak dari stagnanisasi seperti kota-kota lain yang parahnya cenderung mundur. Namun menjadi harapan besar bahwa pemprov Jateng ataupun Pemkot Semarang tak hanya berfokus pada pembangunan ibu kota provinsi, melainkan juga pada daerah pinggir kota dan daerah-daerah lain yang dinaunginya. Semarang dan daerah-daerah lain, semoga selalu berbenah sesuai janji-janji kampanye kalian.

Friday, May 10, 2013

Sketsa malam

Hingga pukul 22.00, Kamis, 09 Mei 2013 aku duduk-duduk di depan Kalibata City Square dari pukul 20.40. Kehadiranku di sana ya cuma iseng dan duduk-duduk sambil amati aktifitas warga yang keluar dan masuk, pergi dan datang. Sketsa yang aku bikin ini sketsa suasana di halte yang dibangun Kalibata City. Ada taksi yang menunggu antrian, sementara sepeda motor juga diparkir disana. Ada juga beberapa penjual mangkal disana.

Saat aku bikin ini, suara perempuan mengagetkanku, "mas, saya dong yang digambar". Sontak saja aku menoleh. Rupanya mereka tiga gadis belia, juga berambut panjang. Segera aku membalasnya, "ayo duduk-duduk di sini dong". Hanya saja mereka berlalu begitu saja.

Yang mengisengiku tadi gadis berpakaian hitam. Mereka jinjing tas. Dengan tampilan celana pendek mereka cukup menggemaskan. Pandanganku hanya mengikuti langkah mereka. Tak lama siluet mereka bahkan tak tampak lagi. Aku masih melanjutkan sketsaku. Tak lama aku beranjak pulang. Dan hanya memutar, tak lama pula aku telah sampai di tempat istirahat.

Jakarta.
Pena dan cat air di kertas.

Monday, April 29, 2013

Medium Cat Air (2)






Medium untuk membuat gambar ada banyak ragam, dari yang tradisional sampai digital. Medium tradisional juga bisa disebut medium konvensional yang memanfaatkan beberapa alat dengan menggoreskan, menuangkan, atau meletakkannya di satu bidang secara langsung.  Sementara medium digital berbeda dengan medium konvensional tradisional. Medium digital memanfaatkan seperangkat alat yang sudah dirancang khusus secara digital. Misal saja dengan menggunakan aplikasi/software yang diciptakan untuk itu, seperti Aplikasi Photoshop, Corel Painter, Art Rage, dan semacamnya dengan menggunakan mouse/mouse pen/touch pad.

Menggambar dengan menggunakan medium Cat Air (Watercolor/Aquarelle) memiliki tantangan tersendiri. Medium ini berbeda dari beberapa medium lainnya. Cat yang berbasis air dengan teknik-teknik tertentu (transaparan, wet on wet dan lain-lain) ini hampir hasilnya selalu tak terduga setelah gambar mengalami tahap akhir yaitu kering. Cat Air umumnya diaplikasikan pada medium lain sebagai bidang gambarnya, yaitu kertas. Kertas ini dibuat secara khusus untuk medium Cat Air, namun selain kertas jenis ini juga bisa dicoba. Tak tertentu pada hanya kertas khusus Cat Air atau kertas, Cat Air bisa juga diaplikasikan pada medium yang lain yang bisa terus dikembangkan. Misalnya pada kanvas, Hardboard, kain, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan semangat eksplorasi sehingga memunculkan alternatif medium-medium baru juga teknik-teknik yang lain. Melalui semangat ekslporasi inilah akan muncul berbagai macam hal yang berkaitan dengan medium Cat Air dan menjadikannya lebih kaya.

Ada semacam adagium bahwa medium Cat Air ini cukup "ditakuti" terutama orang-orang yang tak terbiasa dengan Cat Air. Karena karakteristiknya yang cair, mudah bercampur dan menyatu namun tak mudah dikendalikan, teknik sapuan yang secukupnya (karena secara umum menggunakan bidang kertas), juga kita tak tahu dari hasil akhirnya seperti apa karena ketakterdugaan itu. Berbeda dengan medium cat lain misalnya Cat Minyak (Oil Color) dan Akrilik (Acrylic) dimana medium-medium ini sekali salah masih mudah untuk dikoreksi dengan memberi sapuan berikutnya sesuai yang diinginkan. Namun, dibandingkan dengan medium Cat Air ini berbeda.


Semoga saja bisa mengulas lebih lanjut.

Sunday, April 28, 2013

Medium Cat Air




Medium untuk membuat gambar ada banyak ragam, dari yang tradisional sampai digital. Medium tradisional juga bisa disebut medium konvensional yang memanfaatkan beberapa alat dengan menggoreskan, menuangkan, atau meletakkannya di satu bidang secara langsung.  Sementara medium digital berbeda dengan medium konvensional tradisional. Medium digital memanfaatkan seperangkat alat yang sudah dirancang khusus secara digital. Misal saja dengan menggunakan aplikasi/software yang diciptakan untuk itu, seperti Aplikasi Photoshop, Corel Painter, Art Rage, dan semacamnya dengan menggunakan mouse/mouse pen/touch pad.

Menggambar dengan menggunakan medium Cat Air (Watercolor/Aquarelle) memiliki tantangan tersendiri. Medium ini berbeda dari beberapa medium lainnya. Cat yang berbasis air dengan teknik-teknik tertentu (transaparan, wet on wet dan lain-lain) ini hampir hasilnya selalu tak terduga setelah gambar mengalami tahap akhir yaitu kering. Cat Air umumnya diaplikasikan pada medium lain sebagai bidang gambarnya, yaitu kertas. Kertas ini dibuat secara khusus untuk medium Cat Air, namun selain kertas jenis ini juga bisa dicoba. Tak tertentu pada hanya kertas khusus Cat Air atau kertas, Cat Air bisa juga diaplikasikan pada medium yang lain yang bisa terus dikembangkan. Misalnya pada kanvas, Hardboard, kain, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan semangat eksplorasi sehingga memunculkan alternatif medium-medium baru juga teknik-teknik yang lain. Melalui semangat ekslporasi inilah akan muncul berbagai macam hal yang berkaitan dengan medium Cat Air dan menjadi lebih kaya.

Friday, April 26, 2013

Perbincangan Gelar antara Kabayan dan Presiden

Presiden kita mulai mempercayai si Kabayan, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasannya.

"Kabayan," katanya suatu hari, "jaman perkembangan Islam dulu setiap pemimpin negara dari beberapa dinasti memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya, Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al- Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, gelar apakah yang pantas untukku yang ada nama Allah semacam itu?"

Cukup sulit, mengingat presiden kita yang satu ini adalah presiden yang kurang tanggap, pelamun, cengeng tapi mudah tersinggung. Tapi tak lama, si Kabayan menemukan jawabannya.
"Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu Billah* saja."

*Aku berlindung kepada Allah (darinya)
Cerita ini disesuaikan dengan kisah sufistik Nasruddin Hoja

Thursday, March 28, 2013

Sketsa Pasar Kembang, Cikini

Gathering & Sharing IS di Sarkem (Pasar Kembang) Cikini yang hampir tak sempat aku ikuti sepenuhnya, karena lagi-lagi seperti biasanya datang telat, membuatku paling enggak, ada sketsa yang aku buat.

Berlatar gedung yang beralih kepemilikan dari Manulife ke tangan institusi ESDM, kios Tri Pulya dan mobil pick up di belakangnya menjadi "model" sketsaku. Seusai anggota IS yang menyempatkan hadir pada Sabtu, 16 Maret lalu itu bubar, aku dan hanya beberapa kawan yang tersisa di sana.

Aku lihat pak Manka Sketsasuka juga bikin sketsa, yang lain berbincang. Seseorang mendekat di sampingku. Ketika kuanggap sketsa ini tak perlu dilanjutkan, karena memang berniat bikin sketsa, seseorang itu bilang, "dikasih nama dong mobil itu, mobil pak Irwan."

"Baik," sahutku. "Tri Pulya," katanya saat aku tanya nama kios itu. Dia tertawa dan melenggang. Aku tahu ternyata kios dan mobil pick up itu miliknya, pak Irwan.

Hanya aku dan pak Manka yang melanjutkan satu sketsa lagi. Mungkin lain waktu bisa aku masukkan di sini.

Cikini, Jakarta.
Pena dan cat air di kertas. 16 Maret 2013.

Wednesday, February 06, 2013

Luthfi Hasan Ishaaq

Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terendus ada keterkaitan dengan kasus impor sapi. 2013

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...