Saturday, March 15, 2008

INDONESIA CARTOON CARICATURE MUSEUM

1. PRAMONO
Pagi 13 maret 2008 tak seperti pagi biasanya. Di Ngurah Rai terik matahari menyengat. setiap pagi atau bahkan seharian saya jarang menikmati sinar matahari. lebih banyak di kamar dan tentu saja tidur.

Beberapa nomor kontak aku hubungi. Mas Darminto, budayawan juga penulis dan tentu seorang kartunis menyarankan aku datang langsung ke Sunset Road 85, nama jalan. Di sana aku akan ketemu mas Fahmi, salah seorang yang bertugas di museum.

Sunset Road. Berkendara menggunakan taksi 15 menit dari bandara. "pak, tolong ke sunset road ya. nomor 85." Saya bayar 6o ribu rupiah.

Jalanan tak terlalu padat, kontras dengan Jakarta sehari-hari. Mendekati Sunset Road 85, sepanduk berderetan. Ada putih, kuning, merah, juga hitam dengan tulisan dan gambar kontras. "CARTOON FOR PEACE." Begitu bunyi tulisan itu, juga gambar kartun dengan tangan terentang dan pena di mulut. Terbang.

Tepat di Sunset Road no 85 terpampang tulisan MUSEUM KARTUN INDONESIA.

Spanduk-spanduk dengan warna menyolok mata berjejer. Persis bendera-bendera orang kawinan di kampung-kampung. beberapa motor dan mobil diparkir di depan gedung. Pagi itu masih sepi, beberapa orang jalan kesana kemari membereskan pekerjaannya.


Ada gong, gamelan jawa, batang pohon pisang, dan deretan alat permainan di saung, orang semarang menyebutnya joglo. "Nanti malam akan dipentaskan wayang kartun," kata salah seorang yang aku temui. Wayang kartun, bahannya tak beda dengan wayang kulit. Ki Bagong Subardjo dalangnya, seorang kartunis dari Jogja.

mbak, mas Fahmi ada?

Sayang, malam itu aku tak sempat nonton pertunjukannya. Lebih banyak nguping sambil ngobrol dengan kartunis-kartunis kawakan. Pak GM (GM Sudharta), Pak Dwi Koen, Pak Pram, Pak Pris,

BERSAMBUNG....

2. JANGO3. PRIS

Tuesday, February 26, 2008

an interactive graphic



Di surat kabar-surat kabar cetak, kita temukan infografis. Biasanya di halaman pertama. Bentuknya kotak, balok, atau apapun dengan detail urutan peristiwa. Lengkap dengan ilustrasi modelnya. Ada yang bagus-bagus. Tak jarang yang cukup sederhana.

Banyaknya berita yang harus dimuat terkadang mengurangi jatah space infografis. Parahnya lagi surat kabar itu lebih mementingkan iklan operator telpon seluler atau cuma iklan pribadi surat kabar ketimbang pendukung berita itu. Akibatnya infografis susah dipahami. Data terlalu banyak dengan space cekak. Esoknya pembaca tak berlangganan surat kabar itu. Mungkin.

Sesekali mengunjungi surat kabar luar negeri. USA TODAY. Cukup online saja. Di sana terdapat grafis interaktif. Lebih detail. tak terlalu memerlukan space yang besar, jika tak diperlukan. Grafis Interaktif, demikian USATODAY menyebutnya.

Ini menarik. Mungkin kita tak bakal menemukan hal semacam itu di halaman website-website surat kabar indonesia versi digital. Online. Info grafis versi cetak pun jarang ditemukan di halaman-halaman website surat kabar Indonesia. Untungnya tempo interaktif memasang infografis versi cetaknya.

Tuesday, February 19, 2008

Sunday, February 17, 2008

Public Figure

1. Armenia's Prime Minister and presidential candidate Serzh Sarksyan answers a journalist's question during an interview with Reuters in his office in Yerevan February 16, 2008. Armenia will hold presidential elections on February 19



2. Director Errol Morris, the Jury Grand Prix, during a news conference after the 58th Berlinale International Film Festival in Berlin, February 16, 2008. Morris was awarded for his movie 'Standard Operation Procedure'

Monday, February 11, 2008

Masters

Julian Pena-Pai ::
Born in April 14, 1948 in Giurgiu, lives and works in Ploiesti. The School of Fine Arts and Technical College of Architecture.

He started drawing in 1973 in URZICA-Humour Magazine.
He published over 3000 cartoons in magazines and newspapers in Romania and other countries. He illustrated 7 humour books. Since 1991 he is a free lancer and worked for : OPINIA PUBLICA, ZIARUL FINANCIAR, SOCUL COTIDIAN, CUGET LIBER and JURNALUL DE PRAHOVA daily newspapers.

Since 2001 he is cartoonist-editorialist at GAZETA PRAHOVEI daily newspaper and ECHINOX publishing house, art director.
Personal exhibitions: Ploiesti 1980, 1986, 1988, 1993, Giurgiu 1983, 1991, Bucharest 1984, Fredrikstad 1990(Norway), Tolentino 2001(Italy) and Tehran 2004 (Iran). Cartoonist of the Year 2002 in Romania.

Since 1979 he participated to some international exhibitions in Bulgaria, Italy, Turkey, Canada, Yugoslavia, Croatia, Macedonia, Belgium, Holland, Japan, France, Cuba, Poland, Germany, Brasil, Mexic, Spain, Norway, Indonesia,U.K., Russia, Ukraina, Korea, Iran, Israel, Taiwan, Australia, Argentina, Colombia, Slovakia, Albania, Slovenia, Portugal, Egypt, Cehia, Greece, USA, U.A. Emirates, China, Austria, Sweden, Cyprus, India and Romania (over 400 participations at international exhibitions).

AWARDS:
- 19 national prizes
- 75 international prizes

He was member of the international jury at Anglet 1986 (France), Istanbul – N.Hodja 1997 (Turkey), Beijing 2004 (China) and Tabriz 2004 (Iran).
Documentation trips in : France and Italy (1986), Turkey and Greece (1988), Belgium (1989), Ukraine and Norway (1990), Japan (1991), Germany (1990 and 1992), Turkey (1989, 1997,1998, 1999, 2001 and 2003), Italy (1999), Austria (2002), Serbia (2004), China 2004, Iran 2004 and Macedonia 2004.

Erdogan Karayel ::

Born in Istanbul, Turkey in 1956.

Have been painting from childhood up to 1976.
Have been drawing cartoons since 1976,
grauduated from Marmara University Istanbul,
Graphic Arts Section (1976-1982)

Have worked from1977 on, in both Graphics and Cartoons for weekly Humor Magazine (اarsaf, Ses, Girgir)

Published my albums:
-Renk-Leke-Cizgi,
-En Gurbettekiler,
-Bir warmis Bir Yokmus
-Hans and Hasan,
-Siyah beyazofkelerim

8 personel, 15 group exhibitions, my works were exhibited and awarded in
West Germany, Japan, Canada, Italy, Bulgaria, Jugoslavia, Cuba.

I have won 38 prizes.

I'm German-Turkish Humor Magazin
Don Quichotte's Chief.

http://www.ekarayel.com
http://www.donquichotte.at




Marco Toro ::


Marco Toro lives in London, England, where he has an established reputation for his finely crafted portraits of movie icons.
Toro’s icons of the silver screen are brought to life by his clean, sharp style, which conveys the essence of the actors and the characters he portrays.
When the English actor, Michael Caine, saw Toro’s portrait of him, he was so impressed that he insisted on signing the portrait himself. A unique endorsement of Toro’s work.
Toro lives and paints in London, England, where he teaches at the renowned Camberwell School of Art, a college of the University of the Arts London.

my classroom

Monday, January 28, 2008

sketsa2


Seorang wanita. Dulu sempat aku bertanya padanya perihal jiwa-jiwa. Tanpa kata kita bercerita, tentang gendhewa, warastha, bhayangkara... Ah aku telah lama tak jumpa dia.

Partner liputan dulu. Dia menyebut kerja bareng ini "Great Couple" liputan.
Mnurut yang satu ini, dia gak rela kalo sampe aku ganti pakaian lain selain jeans bututku yang sudah bolong-bolong itu. Dan tampaknya, kalo saja ia tahu, dia akan cemberut karna jeans itu tertinggal di rumah dan aku tak memakainya lagi. Apalagi dengan hem armyku, yang tentu sekarang tambah bulukan, dia bilang sungguh tak rela.

Dengan tas dan sepatu kemanaku pergi, dia akan tahu dalam jarak satu mil bahwa itu adalah aku. Hehehehe... ada saja dia ini.

sketsa1


Yang ini aku tak tahu siapa. Bahkan sekedar nama. Lebih tepatnya lupa. Tak sengaja kutemukan. Mungkin salah satu temannya temanku di salah satu web pencari teman. Ituloh yang rilesyensip-rilesyensip itu. Mungkin di prenster (friendster.red). Ya sekedar iseng 5 menit saja.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...