Sunday, January 17, 2016

Kartun Nakal | Naughty Cartoon

Kartun karya Danny Shanahan

Danny Shanahan bekerja hampir 30 tahun di majalah The New Yorker, sebuah majalah Amerika yang khas berilustrasi kartun penuh. Selama 25 tahun ia menempati posisi salah satu staf kartunis. Meski demikian, karya-karyanya beserta karya kartunis lainnya tak serta merta dimuat. Dalam sekali terbit satu edisi mingguan, ada 500 ratusan lebih kartun yang masuk ke redaksi. Biasanya hanya 20 kartun yang diseleksi untuk dipajang. Salah satunya kartun ini. Wajar saja dengan jumlah sebanyak itu, meski sebuah kartun dengan ide bagus, lucu dan nakal akan menghadapi persaingan ide yang sama dengan ratusan lainnya yang juga kartunis reguler/biasa mengirim.


Kartun-kartun yang tak masuk seleksi dari mulai yang paling lucu, dungu, tolol, nakal, tidak dibuang di tempat sampah. Mereka dikumpulkan dan dipilih untuk diterbitkan menjadi buku. Isinya, tentu, tak hanya kartun-kartun Shanahan, tapi juga kartun dari kartunis-kartunis bagus lainnya. 


Adalah Matthew Diffee, seorang penulis yang juga kartunis kontributor The New Yorker. Banyak karyanya yang tampil di majalah tersebut dan majalah Texas Monthly. Ia yang mengumpulkan dan menamai koleksi kartun-kartun "buangan" tersebut menjadi buku "The Best of the Rejection Collection: 293 Cartoons That Were Too Dumb, Too Dark, or Too Naughty for The New Yorker." Ia juga menyunting dua seri buku koleksi kartun yang sama; The Rejection Collection Cartoons You Never Saw, and Never Will See, in The New Yorker dan The Rejection Collection Vol. 2 The Cream of the Crap. Sayangnya buku-buku ini, seperti buku bergambar yang diimpor lainnya, belum banyak ditemui di toko buku di Indonesia, kecuali hanya sedikit saja. Dan, MAHAL. :D


Apa yang dilakukan Diffee, sekilas saya pikir, adalah sebuah ikhtiar/usaha menyelamatkan kartun itu sendiri, ide, menghindari plagiasi (penjiplakan), repetisi (pengulangan) ide, menjadi arsip yang berharga dan tentu menjadi kekuatan daya hidup; humor.


Monday, December 14, 2015

Thursday, December 03, 2015

Tentara dan Polisi (di Papua)

"Jadilah tentara dan polisi yang baik. Jangan sewenang-wenang. Biar dia sudah tua, warga akan tetap kasih hormat," ujar seorang lelaki Papua usia 40 tahunan.
=========================================================
Sore itu dengan seorang kawan, aku berkeliling ke kampung-kampung, keluar masuk hutan. Di dalam perjalanan hendak pulang kami menawari tumpangan kepada seorang bapak yang hendak berjalan kaki ke rumahnya yang jauh. Kebetulan kami satu arah. Sudah sore. Usianya sekitar 60-an tahun.
Di dalam perjalanan kami bicara-bicara. Ia bilang bahwa ia dulu anggota polisi. Kesatuan Brimob. Karena anggota brimob ditugaskan di kota, ia jarang bisa berkumpul bersama keluarga di kampung. Ia lalu diberi pilihan bisa pindah tugas dekat dengan keluarga seperti keinginannya, asal ia keluar dari anggota brimob. Ia lalu memilih kembali menjadi polisi biasa, polisi atur lalu lintas sehingga ia bisa bertugas di tempat dekat keluarga. Ia lalu pensiun.
Kami lalu mampir ke rumah seseorang yang kami kenal. Kami bicara soal tanaman kebun di samping halaman rumahnya. Soal memarut kelapa buat bikin minyak obat. Soal bikin pupuk buat kasih subur tanaman. Aku lihat tanaman daun bawangnya tumbuh bagus. Bapak pensiunan polisi juga ikut bercengkerama bersama. Semakin sore ia lalu berpamitan buat melanjutkan perjalanan pulang dengan jalan kaki.
Bapak rumah yang kami sambangi itu lalu bercerita soal si bapak pensiunan polisi. Dulu bapak tadi itu polisi, anggota brimob. Dia sama kita punya kulit dan rambut. Dia orang Papua juga. Tapi saat jadi anggota brimob perlakuannya kasar sama warganya sendiri. Dia polisi jahat. Suka pukul-pukul orang tanpa tahu apa alasannya. Setelah dia pensiun, warga tak pernah menghormatinya sama sekali. Dibiarkan saja. Tidak dianggap. Kasihan.
"Jadilah tentara dan polisi yang baik. Jangan sewenang-wenang. Biar dia sudah tua, warga akan tetap kasih hormat," katanya.

Wednesday, October 14, 2015

Manusia Manusiawi

Apalah arti menjadi seorang muslim, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Yahudi, Ateis, tentara, polisi, pejabat, anggota dewan, seniman, jurnalis, ayah, ibu, anak, dan lain-lain, bila tidak didasari jiwa rasa kemanusiaan. Manusia memandang manusia lain sebagai sesama manusia menjadi pendekatan yang sangat asik ketimbang memandang dari predikatnya.

Hingga sekarang ini intoleransi menjamur, berbeda sedikit saja dituduh kafir, saling hasut, serang, hantam, bakar, bom, bunuh. Manusia intoleran seperti tak sabar untuk mempercepat kiamat terjadi.

Thursday, March 05, 2015

Kartun: Kisruh APBD "Siluman" DKI Jakarta



#SENILAWANKORUPSI


Menolak Hukuman Mati | No Death Penalty


MENOLAK HUKUMAN MATI | NO DEATH PENALTY

Menolak Hukuman Mati terhadap terpidana bukan berarti merupakan menerima kejahatan yang diperbuatnya. Hukuman mati merupakan hukuman yang tak akan pernah bisa ditarik kembali jika terjadi adanya bukti baru yang dapat meringankan atau menambah berat hukuman sebelumnya atau bahkan dapat membebaskan seseorang dari hukuman fatal; kematian. Bagaimana jika seseorang telah divonis mati dan telah dieksekusi sementara ada bukti-bukti baru yang meringankan, misalnya, pengakuan pelaku/saksi yang sebenarnya. Di sinilah pentingnya menghapus hukuman mati. Tentu saja hukuman ini bisa diganti dengan hukuman yang seberat-beratnya sesuai nalar keadilan. Dengan demikian, kesalahan memvonis mati sebab ketidaktelitian atau adanya bukti dan kesaksian baru tersebut dapat diminamlisir. Jika terjadi bukti baru (novum) yang meringkankan/membebaskan, maka terpidana bisa direhabilitasi hak-hak kewargaannya: pembersihan nama, ganti rugi dan lain-lain. 

Ada banyak kasus dari "kesalahan" putusan hukuman mati namun ternyata ada bukti-bukti baru yang diajukan dan itu justru membebaskan dari segala tuntutan. Jika demikian maka siapa yang akan bertanggungjawab atas hak kemanusiaan yang "dihilangkan" tersebut.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...