LOMBA KARTUN NASIONAL MKIB 2009 PEREMPUAN INDONESIA MASA KINI
LKN MKIB 2009 telah ditutup pada tanggal 1 April 2009, dengan total peserta mencapai 236 orang dan jumlah karya 459 gambar. Penilaian dan penjurian dilaksanakan di Museum Kartun Indonesia Bali pada hari Jumat, 3 April 2009 dihadiri oleh keempat Dewan Juri yaitu :
1. Pramono R. Pramoedjo (Ketua)
2. Priyanto Sunarto (anggota)
3. Putu Wirata Dwikora (anggota)
4. Mas Ruscitadewi (anggota)
Dan, setelah melihat, menimbang kemudian memutuskan bahwa nama-nama berikut ini adalah para pemenangnya:
• Pemenang I : Tommy Thomdean (Jakarta), judul Caleg Takut Istri
• Pemenang II : Eko Wahyu Widiyanto (Semarang), judul Emansipasi Wanita
• Pemenang III : Basnendar (Solo), judul Gelombang Emansipasi
• Harapan 1 : Muchid Rahmat (Kaliwungu), judul Berjuang Menuju Kesetaraan Gender
• Harapan 2 : Joko Luwarso (Jakarta), judul Demi Cinta
• Harapan 3 : Zaenal Abidin (Kendal), judul Genk Cewek / Nero
Penyerahan hadiah kepada para pemenang 1, 2 dan 3 Lomba Kartun Nasional akan diadakan pada hari Sabtu, 18 April 2009 di Museum Kartun Indonesia Bali pada pukul 18.00 wita, bertepatan dengan pembukaan pameran kartun Perempuan Indonesia Masa Kini yang akan dibuka oleh Ayu Laksmi (seniman bali). Piagam penghargaan kepada para pemenang harapan dan para peserta yang karyanya terpilih untuk dipamerkan dalam Pameran Kartun Perempuan Indonesia Masa Kini akan dikirimkan ke alamat masing-masing.
Berikut nama-nama peserta pameran kartun Perempuan Indonesia Masa Kini yang karyanya dipamerkan di Museum Kartun Indonesia Bali, 18 – 28 April 2009 :
Abdul Aziz
Achmad Cholid
Adiet Firmansyah
Ady Riyadi
Alam Senjaya Putra
Agus Doni Prasetyo
Agustu Suprapto
Arif E.H
Basnendar H
Budi Santoso
Cons. Tri Handoko
C. Warsono
Danny Adil S.H
Diki Sutanto
Dini Tresna Dewi N
Djoko Susilo
Eko Wahyu Widiyanto
Faisal UA
Fatchurrahman
Feri Widyo
Gede Lingga Ananta K.P
I Komang Swakarma Satwika
I Wayan Dania
Ika Wartika Burhan
Ikhsan Dwiono
Joko Luwarso
Kartika Suyata
M. Rois Abidin
Muchid Rahmat
Much. Sobirin
Muhammad Najib
Nassirun
R. Sugiri
Rizki Alam Katamsi
Ronny
Slamet Widodo
Sjahidul Haq Chotib
Syafrudin
Tauris Mustafa
Tommy Thomdean
Tony F. Wicaksono
Wahyudi
Zaenal Abidin
Zainal Beta
Selamat kepada para pemenang dan terima kasih kepada seluruh peserta Lomba Kartun Nasional MKIB 2009 dan Pameran Kartun Perempuan Indonesia Masa Kini atas partisipasi dan semangatnya. Salam Kartun!
Hormat kami,
Ruth Onduko
Ketua Pelaksana LKN MKIB 2009
& Pameran Kartun Perempuan Indonesia Masa Kini
Saturday, April 18, 2009
Thursday, January 29, 2009
OPINION
Jajanan Otak-Otak berbahan calon legislatif

BLT jilid ironis

Besar Koalisi Dari Pada Konsep

Lembaga Legislatif Adalah Ladang Bisnis

Dana Tak Jelas

Hidup Adalah Citra (Lotion kulit?)

They're all creation, save them.

BLT jilid ironis

Besar Koalisi Dari Pada Konsep

Lembaga Legislatif Adalah Ladang Bisnis

Dana Tak Jelas

Hidup Adalah Citra (Lotion kulit?)

They're all creation, save them.
Wednesday, January 28, 2009
Kampanye a la pejabat negara
Oleh: Ikrar Nusa Bhakti

Pemilu kurang dari tiga bulan lagi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, masing-masing didampingi oleh kelompok menteri yang berbeda, belakangan ini seringkali meninggalkan ibukota negara untuk mengunjungi berbagai daerah. Ini merupakan perpaduan antara acara resmi kenegaraan dan kampanye politik, secara terpisah bagi Partai Demokrat dan Partai Golkar. Pekan lalu saja, Presiden SBY melakukan “safari lompat katak” dari Batam di Kepulauan Riau ke Sorong dan Manokwari di Papua Barat. Dalam perjalanan pergi dan pulang, Presiden dan rombongan mampir di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Bali. Di Papua Barat Presiden SBY selain membantu para korban gempa juga menyerahkan dana sebesar Rp 150 milyar untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Anehnya, Gubernur Papua Barat Abraham Atururi yang terpilih sebagai gubernur dengan dukungan PDI-P pada dua tahun lalu, justru mengatakan,”Dana ini akan ditawarkan kepada kita (rakyat Papua Barat) jika presiden terpilih kembali. Karena itu saya berdoa agar bapak SBY jadi presiden kita lagi.” Mendengar ucapan itu Presiden dan ibu negara tersenyum. PNPM Mandiri adalah salah satu program utama yang dicanangkan SBY pada 2007 (The Jakarta Post, January 24, 2009).
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla tak henti-hentinya menyambangi pesantren-pesantren di tanah Jawa. Kamis pekan lalu misalnya, Wapres Jusuf Kalla mengunjungi pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Di hadapan sekitar 12000 santri, Wapres mengatakan bahwa pemerintah tidak membedakan dana pendidikan bagi sekolah umum dan pesantren. Para Kyai di Lirboyo sebaliknya juga membuka diri bagi Partai Golkar. Di hadapan para petani di Jawa Timur, Wapres juga menyetakan akan mempertahankan agar harga beras tetap tinggi agar petani tidak dirugikan (The Jakarta Post, January 24, 2009).
Tak hanya presiden dan wakil presiden yang belakangan ini kerap kali ke daerah, para menteri pun sudah lebih dahulu melakukannya. Sambil menyelam minum air, dalam setiap kesempatan ke daerah mereka tak menghilangkan kesempatan untuk berkampanye bagi partainya. Kita tak tahu, lembaga mana yang akan mengaudit pengeluaran para pejabat tinggi negara itu, apakah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Suka tidak suka, kunjungan resmi yang diselingi kampanye politik jelas-jelas menggunakan uang negara yang juga uang rakyat.
Pekan lalu Menteri Dalam Negeri Mardiyanto menyatakan bahwa Depdagri sudah menyiapkan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur aturan kampanye bagi para pejabat negara, antara lain, bagi para menteri yang akan mencalonkan diri untuk menjadi anggota DPR, presiden atau wapres, harus mengundurkan diri. PP ini memang positif tapi agak aneh. Mengapa ia hanya mengatur untuk para menteri saja? Bagaimana dengan presiden dan wakil presiden. Di negara mana pun, seorang Presiden, Wapres, Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri, dan para menteri tidak harus mengundurkan diri dari jabatannya jika ia mencalonkan diri kembali. Aturan ini memang ditujukan agar pejabat negara tidak menyalahgunakan kekuasaannya menggunakan dana negara untuk kampanye politik. Aturan semacam ini juga ada di berbagai negara, auditnya juga jelas dilakukan setelah pemilu berlangsung. Anehnya mengapa para menteri harus mundur? Ini untuk mencegah penghamburan uang negara atau agar Presiden tidak menghadapi saingan dari bekas para menterinya seperti ketika SBY menantang mantan bosnya, Presiden Megawati Sukarnoputri, pada pemilu 2004?
Dalam dua bulan terakhir ini kampanye mengenai keberhasilan PNPM Mandiri juga secara menggebu-gebu diiklankan berbagai suratkabar, radio dan televisi, seolah-olah itu adalah bentuk dari keberhasilan program pemerintah SBY sejak 2007. Padahal kita tahu PNPM (Mandiri) bukanlah program baru. Program ini sudah ada sejak sebelum era reformasi, dijalankan oleh Departemen Dalam Negeri dengan nama Program Pembangunan Kecamatan (PPK). Nama program itu diubah oleh Presiden SBY pada 2007. Dana bagi program ini juga tak sepenuhnya dari anggaran pemerintah murni. Sebagian berasal dari hutang lunak (loan) dari Bank Dunia yang jumlahnya tidak terlalu besar, total dalam sepuluh tahun terakhir ini sekitar AS$400 juta. Tahun 2009 ini pemerintah juga meminta dari Bank Dunia sekitar AS$300.000 untuk PNPM.
Hampir 70% dari program PNPM Mandiri difokuskan untuk pembangunan infrastruktur, dari perbaikan sekolah, jembatan, jalan raya, puskesmas, koperasi dsb. Semua program itu bersifat bottom up alias dari bawah. Menariknya, program ini baru bisa berjalan baik jika ada supervisor di kabupaten dan para fasilitator yang semuanya digaji melalui proyek Bank Dunia (Community Development PNPM Support Facilities). Menariknya lagi, tak sedikit pemerintah kabupaten di Indonesia yang tidak tertarik untuk memberikan dana pendamping untuk program PNPM. Alasannya, karena ini program pemerintah pusat dan bukan pemerintah kabupaten. Alasan terselubungnya, PNPM dananya tidak bisa dikorupsi karena bersifat in kind (bukan bentuk duit tapi program jadi atau barang). Dari sisi masyarakat PNPM memang banyak manfaatnya, walau dari segi uang dananya amat kecil. Tanpa PNPM memang sulit bagi rakyat untuk menikmati pembangunan. Tapi dari sisi politik pemerintahan, ini mirip dengan gaya Orde Baru yang menerapkan program langsung dari pusat tapi melemahkan sistem pemerintahan lokal. Sisi buruk lainnya, program ini belakangan juga berbau politik, mirip dengan masa Orba, jika daerah tertentu tidak mendukung Golkar (masa lalu) daerah itu tidak dibangun. Kini bentuknya ialah kalau daerah ini memilih SBY lagi, maka dana PNPM akan digelontorkan lagi seperti di Manokwari itu.
Incumbent yang maju lagi dalam pemilu presiden memang lebih diuntungkan. Ia bisa mengklaim program pemerintah sebagai program partainya atau pribadinya. Ia bisa kampanye ke berbagai daerah berkedok kunjungan resmi. Ia bisa memerintahkan departemen pemerintah membangun bangunan di daerah basis lawan politiknya agar orang beralih mendukungnya, seperti yang terjadi di Tampak Siring, Bali. Ia juga bisa membuat peraturan pemerintah agar para menterinya tidak dapat bersaing dengan dirinya. Pertanyaannya, apakah itu bukan korupsi politik?
Sunday, January 25, 2009
Monday, January 19, 2009
Tuesday, January 06, 2009
Thursday, January 01, 2009
Thursday, November 27, 2008
Gellu Naum
Gellu Naum (1 august 1915, - 29 september 2001, Bucureşti)watercolours on paper. Nov. 2008
Thursday, November 13, 2008
Super Seto
Seto Mulyadi lahir di Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951. Ia dikenal sebagai psikolog anak, pembawa acara program anak dan pemerhati masalah anak-anak. Bahkan akibat 'kepiawaiannya', pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini, dipercaya untuk kali kedua sebagai Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).Dengan jabatan tersebut, pria penerima Men’s Obsession Award 2006 itu menjadi sasaran pengaduan bagi mereka yang menghadapi persoalan anak. Termasuk kasus 'rebutan' anak yang banyak dialami oleh para selebritis yang mengalami perceraian.
Kak Seto yang pernah menjadi pembawa acara televisi program anak-anak bersama dengan Henny Purwonegoro itu, sering mengungkapkan keprihatinan kondisi anak di Indonesia. Terutama mereka yang menjadi korban kekerasan dan terpaksa tidak bisa menjalani perkembangan secara normal.
Kak Seto sendiri adalah suami dari Deviana dan bapak bagi Eka Putri Duta Sari (18), Bimo Dwi Putra Utama (15), Shelomita Kartika Putri Maharani (10), dan Nindya Putri Catur Permatasari (8). Ia memiliki saudara kembar bernama Kresno Mulyadi (Kak Kresno) yang juga seorang psikolog anak dan juga memiliki kakak Maruf Mulyadi.
Sumber data profil: Kapanlagi.com
Saturday, November 01, 2008
Karikatur - Syekh "P"
Beberapa hari yang lalu, khususnya di daerah semarang, kabar seorang anak usia 11 tahun dinikahi pria berumur menggemparkan.adalah Lutviana Ulfah, reamaja yang baru duduk di kelas satu smp itu dinikahi Pujiono Cahyo Widianto, seorang pengusaha kaligrafi yang juga pemilik pondok pesantren miftahul jannah di semarang. ia menyebut dirinya sendiri dengan syekh puji.
secara UU negara pernikahan itu sama sekali tak sah karena melanggar usia salah satu peserta nikah, Lutfiana Ulfa berusia 12tahun. Menurut UU PERKAWINAN NOMOR 1 TAHUN 1974 (1/1974) pada bab II pasal 7 ayat 1 bahwa disebutkan:
(1). Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
bahkah ia berencana akan menikahi dua perempuan yang lebih muda lagi. landasan pujiono bukan pada UU itu, melainkan pada historis agama. pujiono tak peduli dengan Peraturan itu, apalagi seruan KPAI, komisi perlindungan anak indonesia.
BERLANJUT
Subscribe to:
Posts (Atom)
A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026
Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...
-
BIENNALE JAKARTA 2006 179 Pengurutan Nama di bawah ini berdasarkan Abjad ABAS ALIBASYAH, Jakarta Pelukis Abas Alibasyah, lahir di Purwakarta...
-
KMAREN SAYA ULTAH TAPI TAK MERAYAKANNYA. SAYA MERAYAKANNYA DENGAN MENGERJAKAN TUGAS-TUGAS KULIAH; TUGAS UAS. HEBAT YA SAYA. MALAM ITU, SAYA ...
