Tuesday, March 24, 2026

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026


Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah jalanan lurus yang lengang. Kanan dan kiri jalan hanya terhampar persawahan. Di bahu jalan pepohonan berbaris sepanjang jalan. Dari kejauhan takbir hari raya masih menggema. Tak terasa ada angin berhembus, dedaunan seperti khusyuk "bersemedi," berdiam diri tak bergerak. Seperti kata orang-orang, selama shalat idul fitri daun-daun tak bergeming. Aku masih menikmati ketenangan pagi itu. Dedaunan yang mematung, rumput yang tegak namun tenang, burung-burung berkicau (dalam pikiran kita mereka berkicau, barangkali mereka sedang bertakbir dalam bahasa mereka).




Sehari sebelumnya, Jum'at malam, 20 Maret 2026, pemerintah melakukan sidang Isbat dan menentukan awal bulan Syawal jatuh pada hari Sabtu, yang bertepatan dengan 21 Maret 2026 penanggalan Masehi. Sidang Isbat merupakan sebuah forum yang diselenggarakan pemerintah melalui kementerian agama untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriyah (penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan), dengan cara menggabungkan metode hisab (astronomi) dan pengamatan langsung melihat bulan (hilal). Sidang Isbat sering dilakukan ketika hendak menentukan awal bulan ramadan, Syawal (Idul Fitri) dan Dzulhijjah (Idul Adha). 


Dari jalanan sepi aku melanjutkan perjalanan pagi yang mengagumkan dalam ketenangan itu. Aku lewati perempuan-perempuan bermukenah dan lelaki-lelaki bersarung-peci berjalan kaki di pinggir jalan. Mereka hendak lakukan shalat Id. Aku harus memutar arah mencari jalan kecil lain di dalam perkampungan, jalan yang akan aku lewati dipakai untuk shalat Id mereka. Sekitar 5 km selanjutnya aku menyempatkan berhenti sejenak untuk mengambil foto orang-orang pergi ke masjid.

 

Sebuah kebiasaan kampung dengan tradisi pembuatan balon udara dari kertas minyak dengan berpendorong api masih dibuat. Jumlahnya tak sebanyak 20 tahun lalu. Tapi tradisi itu masih ada. Biasanya diterbangkan persis setelah pelaksanaan shalat Id berakhir. Di saat itulah, terkadang angin mulai berhembus. Tidak jarang, balon mengudara dengan manuver zigzag. Setelah hari pertama lebaran pada tiap sore berikutnya, balon-balon itu juga diterbangkan.

Begitulah, sekelumit perjalanan.




 



Saturday, March 14, 2026

Kami Bersama Andrie Yunus

 

Kamis petang, 12 Maret 2026, setelah Aksi Kamisan ke-901 di depan Istana Merdeka Jakarta, bersama kawan-kawan aku berbuka bareng dari sumbangan takjil yang banyak dari kawan. Kami mengerumuni panganan dan berbincang. Sebelumnya aku mendengar ada acara buka bersama di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), namun itu lebih kepada acara internal.
 
Kamis malam pukul 23:37 WIB, seorang pengendara motor berboncengan dengan seorang penumpang melaju dari arah Jalan Salemba I lalu mendadak memutar balik tepat di samping sebuah perempatan jalan dan jembatan di Jalan Talang, Jakarta Pusat. Setelah berputar mereka memelankan laju, bersiap dan menunggu seorang pengendara motor yang melaju dari Jalan Salemba I yang sama yang akan berpapasan dengan mereka. Tak lama menunggu, saat berpapasan, pembonceng motor dengan cepat menyiramkan cairan ke arah pengendara yang sudah ditunggu lalu kabur melarikan dengan cepat. Dengan tergesa korban penyiraman berhenti di pinggir jalan dan ia langsung berlari dan berteriak membuka helm dan pakaian. Motor tergeletak begitu saja. Air keras! Air keras! Warga berdatangan dan menolongnya. 

Korban penyerangan itu adalah Andrie Yunus, wakil koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Tengah malam itu, ia baru saja selesai melakukan advokasi publik dan perekaman siniar (podcast) dengan tema "Remiliterisasi dan judicial review UU TNI di kantor YLBHI. Lokasi kejadian penyerangan tak jauh dari kantor YLBHI, hanya beberapa ratus meter. Korban dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan. 

Koalisi Masyarakat Sipil menggelar konferensi pers pada Jum'at, 13 Maret 2026 pukul 16:00 WIB di kantor YLBHI. Koalisi mengecam tindak kejahatan ini. Dimas Aryo, Koordinator KontraS menyebut bahwa ini bukan hanya alarm demokrasi, tapi jurang demokrasi. Mantan penyidik KPK (2007-2021) Novel Baswedan yang juga pernah diserang dengan penyiraman air keras mengatakan bahwa sebelumnya telah melihat dari cctv bahwa serangan ini terorganisir dengan percobaan pembunuhan dengan menyiram ke arah wajah yang artinya bisa menghentikan pernafasan dan paling tidak mengalami cacat permanen. Kejahatan ini tidak terkait masalah personal Andrie, tambahnya. 

Andrie adalah orang yang vokal untuk membela dan mengadvokasi korban dan orang banyak. Keberaniannya bisa dilihat salah satu contohnya pada saat penggodokan RUU TNI secara diam-diam oleh anggota DPR di sebuah hotel. Ia dengan beberapa kawan-kawan merangsek masuk dan memprotes acara "senyap" ilegal itu. Ia orang yang mencintai negaranya, ia berdiri bersama korban. Namun, sungguh miris bahwa berbuat baik pun berakibat menjadi korban kebiadaban kejahatan.

Kami mengecam dan menuntut pengusutan tuntas tindak kejahatan biadab ini.


Konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil sehari pasca penyerangan penyiraman air keras Andrie Yunus di kantor YLBHI.



Berikut pernyataan sikap koalisi masyarakat sipil:






 

Thursday, February 26, 2026

Aksi Kamisan 899 - Jakarta


Wiwin Suryadinata, ibu kandung Ita Mardinata (korban kekerasan kejahatan pemerkosaan dan pembunuhan Mei 1998), hadir dan memberikan refleksinya di Aksi Kamisan ke-899 di depan Istana Merdeka, Jakarta (26/02/2026). Setelah hampir 30 tahun tidak muncul di publik karena harus bersembunyi, menyelamatkan dan mengasingkan diri di bukit. Ia muncul ke publik di Jakarta.

Sebelumnya, ia datang ke Jakarta memberikan kesaksian tentang kejahatan pemerkosaan dan pembunuhan Mei 1998 dalam gugatan penyangkalan perkosaan massal Mei 1998 oleh Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jakarta.






Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui siaran Pers Kementerian Kebudayaan Nomor 151/Sipers/A4/HM.00.005/2025 yang juga dalam unggahan media sosial pada 16 Juni 2025, secara jelas menyangkal dan meniadakan fakta sejarah tentang perkosaan massal. Fadli Zon juga mendelegitimasi laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dengan mempersoalkan istilah "perkosaan massal."




Kuliah jalanan oleh Herlambang P. Wiratraman, dosen hukum Universitas Gajah Mada.









Sunday, February 22, 2026

Almarhum Arianto Tawakal

 


Arianto Tawakal (14 tahun), siswa Madrasah Tsanawiyah tewas dianiaya Bripda Masias Siahaya, seorang anggota brimob di Tual, Maluku Tenggara. Arianto dipukul dengan helm taktikal saat ia melintas mengendarai sepeda motor pada Kamis, 19/02/2026. 

Monday, February 09, 2026

Tahanan Politik: Gerry & Reyhan



Catatan singkat.
Sidang terdakwa Gerry dan Reyhan dengan agenda pemeriksaan saksi digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (9/02/2026) pukul 21.00 WIB. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan 1 saksi fakta dan 3 anggota polri.

Kesaksian satu saksi fakta membingungkan; berubah-ubah keterangannya tak sesuai BAP hingga penasihat hukum terdakwa dan hakim memperingatkan saksi bahwa ia sudah melakukan sumpah. Ketiga polisi yang bertugas berjaga baik di gerbang DPR maupun di Polda Metrojaya saat demonstrasi terjadi sama sekali tidak terkait dengan kedua terdakwa. Ketiganya sama sekali tidak melihat kedua terdakwa saat aksi protes, apalagi melihatnya membawa dan melempar botol bom molotov.


Gerry menilai kesaksian tiga anggota polri tersebut tidak relevan. Hakim mengingatkan JPU kembali untuk menghadirkan saksi terkait. Hakim ketua ketuk palu menutup persidangan pukul 22 WIB. Sidang lanjutan digelar Rabu mendatang, 18/02/2026.
#courtroom #courtroomsketch #sidang #tapol

Friday, June 18, 2021

Aceh Female Flogging Squad


On Dec. 10, 2019 the first female flogger whipped a woman in public, in Banda Aceh.


 

Wednesday, December 23, 2020

Mengurus Perpanjangan SIM

Petugas memanggil peserta perpanjangan SIM untuk mengisi formulir pendaftaran


Pukul 6.30 aku berangkat menuju Blok M Square, Jakarta. Setiba di tempat pukul 7-an, masih lengang. Pedagang kue masih belum bubar, beberapa masih melayani pembeli termasuk melayaniku. Aku beli lemper seharga Rp. 1.500. 

“Sepuluh ribu dapat 7,” sahut si teteh saat kukeluarkan uang Rp 10.000 tanpa bertanya aku akan beli berapa. Lumayan, pikirku, buat sarapan nanti di lt. 3A. 


Usai membeli lemper aku kembali ke basement, sebelumnya aku sudah ke basement lalu terpikir beli sarapan aja dulu. Sepagi itu, pintu mal bahkan belum dibuka, harus naik melalui lift barang di basement. Atau, dari samping jalur basement bisa naik pakai kendaraan yang sekaligus parkir dimana tepat persis di pintu masuk lantai 3A.

Kursi-kursi tertata rapi ketika aku tiba di lantai yang aku tuju, 3A. Gelap. Hanya ada dua orang duduk di




deretan kursi depan antrean, selebihnya ada dua sekuriti di ujung yang sedang mencatat orang yang punya tujuan sama denganku.

“Boleh lihat kartu identitasnya?”

Aku menyodorkan KTP untuk dicatat namaku di urutan nomor 6 antrian pendaftaran perpanjangan SIM di Gerai SIM A & C Polda Metrojaya di Blok M Square. Sekuriti itu bilang, petugas Polda datang dan akan panggil dari data antrean ini sekitar pukul 9-an buat isi formulir perpanjangan. Pelayanan dimulai pukul 10. 


Sepagi yang sepi ini aku antri setelah kemarin aku datang pukul 13 yang tentu saja tak dapat jatah kuota buat daftar, sebab hanya dibatasi 70 orang saja. Informasi yang aku tahu jam operasional dimulai pukul 13.00-20.00. Ada perubahan sejak pandemi ini, aku pikir. Pelayanan dimulai pukul 10-14.


Sementara masih pukul 7.30, aku bikin beberapa sketsa sembari menunggu petugas datang. Satu, dua, tiga dan seterusnya orang berdatangan dan mendaftarkan namanya ke sekuriti. Dari guru, sopir ojek online, karyawan swasta, laki perempuan, pekerja kantoran, berkaos pendek, berkemeja dan menjadi catata semua baju harus berkerah.


Seorang petugas pria telah datang pukul 9 dan beri informasi mengenai tata cara dan biaya. Ia panggil satu persatu daftar antrian dan membagikan formulir setelah pendaftar menyetor fotokopi KTP dan SIM asli. KTP asli dikembalikan sementara SIM asli disimpannya.

“Ini (formulir) diisi dulu nanti dikembalikan ke saya lagi, ya,” bilangnya. Aku isi formulir yang sudah distaples dengan fotokopi KTP-SIM itu. 


Seorang bertanya sambil menunjuk kotak-kotak yang isinya aku juga nggak paham tapi aku tahu yang dia tanyakan, “ini diisi nggak?”

“Coret silang saja yang kotak ‘Perpanjangan’,” jawabku.



Orang-orang menunggu pemanggilan 




Sketsa toko sukucadang kendaraan motor


Para pengunjung bersorak ketika lampu lantai itu dihidupkan jelang pukul 10.


Pintu loket dibuka. Pukul 10 lewat sedikit, ia memanggil ulang sesuai antrian awal untuk proses perekaman. Di dalam, seorang ibu berdiri dan bercermin sambil  menata diri. Petugas itu datang lagi usai pemanggilan.

“Ibu duduk saja dulu, kursinya pas, kok, sudah dihitung untuk 8 orang.”

Tiap proses kelompok ada 8 orang. 


Setelah perekaman selesai, kami menunggu di luar ruang bersama para pendaftar lain kurang lebih 10 menit untuk menunggu pencetakan SIM. Satu persatu dipanggil ke loket buat ambil SIM dan sekaligus bayar. Lalu, giliranku.

“Ada uang pas saja?”

“Nggak ada, pak”

Aku diberi SIM baru dengan kembalian dua lembar Rp 10.000 setelah aku setor Rp 150.000.

“Terima kasih, pak.”


Selesai pukul 10.30 lantas aku pulang. Di luar gedung udara sudah panas.

Sunday, February 09, 2020

Anggota DPR 2019, Poligami, Tidur di Hari Pertama Kerja


Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil pemilu 2019 tampil bersama ketiga istrinya pada pergantian anggota DPR periode 2014-2019 di komplek DPR Senayan, Oktober 2019 lalu. Esoknya, pada hari pertama kerja ia dipotret fotografer pada saat ia tidur di gedung DPR.

Saturday, November 02, 2019

RKUHP


Wacana merevisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) menuai protes keras setelah tahu dalam Rancangan KUHP (RKUHP) memuat pasal-pasal yang lebih aneh dan semakin memperbesar peluang mengkriminalisasikan orang. 

Sunday, May 08, 2016

Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"



Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15. 

Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.

Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.

Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *

Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.

Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.

Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.

Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.

Monday, March 21, 2016

Sketsa Gereja dan Masjid: Bebas Damai






Dua tempat ibadah berlainan agama didirikan berdampingan. Indah, bukan?

Bagi para perusak kehidupan, wa bil khusus perusak kehidupan bebas berkeyakinan, pemandangan ini seyogiayanya dapat membuat mereka menumbuhkan kepekaan rasa saling mengasih sayangi kepada semesta. Trenyuh, terlalu sering mendengar teriakan dan yel-yel keributan atas nama agama begitu santer terdengar. Sebut saja; tuntutan pembatalan pembangunan sah, pembakaran dan penggusuran tempat ibadah di beberapa tempat, pengusiran kelompok minoritas, dan intoleransi lain sebagainya. The Wahid Institute rutin menerbitkan laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dengan tingkat intoleransi di daerah-daerah seluruh Indonesia baik yang dilakukan tanpa dan dengan dukungan perda-perda syari'ah. Jika membacanya sungguh miris. Data kekacauan itu justru meningkat. 

Jika piknik ke tempat dengan situasi semacam ini, dua bangunan yang difungsikan sebagai tempat ibadah berlainan keyakinan, tanpa penjelasan kata pun cukup memberi makna yang jelas. Keduanya dipisahkan satu Jl. Kernolong Dalam IV, Kramat, Jakarta Pusat, sebuah gang pemukiman yang oleh warga sekitar disebut gang Petak, mengacu pada rumah-rumah petak di sekitar gang.

Usia gereja HKBP lebih muda dari masjid Al- Istikharah yang jauh lebih dulu ada. Gereja dibangun warga komunitas etnis Batak di sekitarnya pada era 1980-an. Sementara masjid lebih dulu ada. Awalnya masjid hanya sebuah surau kecil yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Di ruang utama ada mimbar. Luasnya masih tetap seperti surau-surau di kampung, sempit. Hanya terasnya yang lebih luas dan berkanopi.  Ia kemudian dilabeli masjid. 

Berkali-kali saya menjumpai dua bangunan peribadatan semacam ini di beberapa tempat. Pernah juga saya masuki satu tempat yang difungsikan sebagai tempat ibadah umat Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam, Yahudi, dan lain-lain. Penamaan tempat ibadah hanya perspektif dari masing-masing pemeluknya. Pada intinya ia hanya sebuah atau bahkan BUKAN bangunan sama sekali, namun yang dilihat adalah manfaat apa yang bisa difungsikan; tempat beribadah.

Beberapa orang tua berjalan melintasi tempat saya menggambar. Begitu juga perempuan-perempuan muda yang manis. "Ibadah Minggu malam," seorang ibu menjawab sapaan seorang bapak di samping saya. Mereka menuju gereja.

Sebenarnya ini kegiatan usai saya ikut acara rutin Indonesia's Sketchers di bekas gedung STOVIA yang difungsikan menjadi museum Kebangkitan Nasional siang kemarin. Saya ajak kawan pegiat Indonesia's Sketchers buat melanjutkan bikin sketsa di kawasan Kramat dan Cikini yang dibelah sungai Ciliwung ini. Ia mengiyakan. Sebelumnya bapak berkeluarga ini hendak pulang. Ah, andai saja orang-orang termasuk perempuan-perempuan muda manis itu berhenti dan menonton saya menggambar lalu kami berbincang-bincang. Saya sungguh tak bisa menghentikannya, mereka hendak beribadah. Salam/damai selalu kita.

Mari Piknik! 

Gelpen di kertas A3 (yg lalu pakai cat air)
21 | 03 | 2016

Friday, January 29, 2016

Souvenir Buat Kawan


Kawan saat kuliahku, sekira seminggu lalu, memintaiku untuk membikinkan karikatur dirinya bersama calon istrinya. Ia hendak bikin lamaran pada Sabtu besok, 30 Januari 2016 ini. Ada beberapa gambar lain yang harus diselesaikan, dalam seminggu ini. Ini adalah gambar kedua. Ia hendak bikin dua frame. 

Sudah hampir beberapa bulan sejak Agustus 2015 lalu aku tak menggambar wajah seperti ini, terutama karikatur. Yang ini aku membikinkannya gambar potret saja. Meski menggambar karikatur menyenangkan, tapi setelah beberapa lama tak menggambar, rasanya perlu latihan keras lagi untuk menggambar karikatur, bahkan untuk menggambar potret sekalipun. Tentu saja baik gambar potret maupun karikatur sama-sama membutuhkan ketelitian, juga bagaimana membangun suasana atau orang bilang "mood."


****

Sudah sejak awal Juli 2015 atau dua minggu sebelum lebaran Idul Fitri aku meninggalkan Jakarta. Sejak saat itu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk berkunjung menemui kawan-kawan dan berkegiatan. Sambil bepergian tapi juga mengerjakan pekerjaan yang harus segera diselesaikan karena pemberitahuan yang mendadak namun dengan tenggat waktu yang tak panjang. Akhir Januari 2016 ini aku baru kembali ke Jakarta. Hampir 7 bulan lamanya meninggalkan Jakarta.

Kembali berada di Jakarta rasa-rasanya menemukan kembali Jakarta yang dulu. Tentu saja Jakarta berubah, ada yang berubah baik namun ada juga yang stagnan. Rasa-rasanya, ingin segera kembali ke kebun dan sawah-sawah. Satu minggu di Jakarta tak beraktifitas di luar. Hanya berdiam diri. Hari ke-8 bepergian iseng, seperti biasanya yang aku lakukan. Kamis petang aku pergi hanya untuk mencari makan dan menikmati petang dan melihat orang-orang di area-area publik. Di KRL, stasiun, dan lain-lain. Melakukan kegiatan sketching (membuat sketsa) dan bincang-bincang di KRL.
Ah, segera jalan-jalan iseng seperti biasanya lagi.

Oh iya, selamat menikah, kawan!

Monday, January 18, 2016

Salah Baca | Misreading


"Salah Baca"

Logika terbalik radikalis. Satu contoh, radikalis (baca: teroris yang mengatasnamakan agama Islam) dekade 1970-an yang mengacu pada gerakan sabotase Masjidil Haram Mekkah oleh geng Juhaiman al-Utaibi yang kemudian berkembang menjadi gerakan-gerakan radikalis yang menyebar hingga tahun-tahun belakangan ini berangkat dari logika yang keliru terhadap pembacaan teks-teks firman Tuhan. Kalamullah tersebut dijadikan alat legitimasi merebut kekuasaan dan atau menebar kebencian dengan dalih tegaknya syar'i dengan menamainya jihad. Kartun ini bersama ratusan karya lain diikutpamerkan di Galeri Nasional Indonesia dalam pameran Kartun Santri Nusantara, November 2015 lalu.


Sunday, January 17, 2016

Kartun Nakal | Naughty Cartoon

Kartun karya Danny Shanahan

Danny Shanahan bekerja hampir 30 tahun di majalah The New Yorker, sebuah majalah Amerika yang khas berilustrasi kartun penuh. Selama 25 tahun ia menempati posisi salah satu staf kartunis. Meski demikian, karya-karyanya beserta karya kartunis lainnya tak serta merta dimuat. Dalam sekali terbit satu edisi mingguan, ada 500 ratusan lebih kartun yang masuk ke redaksi. Biasanya hanya 20 kartun yang diseleksi untuk dipajang. Salah satunya kartun ini. Wajar saja dengan jumlah sebanyak itu, meski sebuah kartun dengan ide bagus, lucu dan nakal akan menghadapi persaingan ide yang sama dengan ratusan lainnya yang juga kartunis reguler/biasa mengirim.


Kartun-kartun yang tak masuk seleksi dari mulai yang paling lucu, dungu, tolol, nakal, tidak dibuang di tempat sampah. Mereka dikumpulkan dan dipilih untuk diterbitkan menjadi buku. Isinya, tentu, tak hanya kartun-kartun Shanahan, tapi juga kartun dari kartunis-kartunis bagus lainnya. 


Adalah Matthew Diffee, seorang penulis yang juga kartunis kontributor The New Yorker. Banyak karyanya yang tampil di majalah tersebut dan majalah Texas Monthly. Ia yang mengumpulkan dan menamai koleksi kartun-kartun "buangan" tersebut menjadi buku "The Best of the Rejection Collection: 293 Cartoons That Were Too Dumb, Too Dark, or Too Naughty for The New Yorker." Ia juga menyunting dua seri buku koleksi kartun yang sama; The Rejection Collection Cartoons You Never Saw, and Never Will See, in The New Yorker dan The Rejection Collection Vol. 2 The Cream of the Crap. Sayangnya buku-buku ini, seperti buku bergambar yang diimpor lainnya, belum banyak ditemui di toko buku di Indonesia, kecuali hanya sedikit saja. Dan, MAHAL. :D


Apa yang dilakukan Diffee, sekilas saya pikir, adalah sebuah ikhtiar/usaha menyelamatkan kartun itu sendiri, ide, menghindari plagiasi (penjiplakan), repetisi (pengulangan) ide, menjadi arsip yang berharga dan tentu menjadi kekuatan daya hidup; humor.


A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...