Thursday, November 27, 2008

Thursday, November 13, 2008

Super Seto

Seto Mulyadi lahir di Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951. Ia dikenal sebagai psikolog anak, pembawa acara program anak dan pemerhati masalah anak-anak. Bahkan akibat 'kepiawaiannya', pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini, dipercaya untuk kali kedua sebagai Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Dengan jabatan tersebut, pria penerima Men’s Obsession Award 2006 itu menjadi sasaran pengaduan bagi mereka yang menghadapi persoalan anak. Termasuk kasus 'rebutan' anak yang banyak dialami oleh para selebritis yang mengalami perceraian.

Kak Seto yang pernah menjadi pembawa acara televisi program anak-anak bersama dengan Henny Purwonegoro itu, sering mengungkapkan keprihatinan kondisi anak di Indonesia. Terutama mereka yang menjadi korban kekerasan dan terpaksa tidak bisa menjalani perkembangan secara normal.

Kak Seto sendiri adalah suami dari Deviana dan bapak bagi Eka Putri Duta Sari (18), Bimo Dwi Putra Utama (15), Shelomita Kartika Putri Maharani (10), dan Nindya Putri Catur Permatasari (8). Ia memiliki saudara kembar bernama Kresno Mulyadi (Kak Kresno) yang juga seorang psikolog anak dan juga memiliki kakak Maruf Mulyadi.
Sumber data profil: Kapanlagi.com

Saturday, November 01, 2008

Karikatur - Syekh "P"

Beberapa hari yang lalu, khususnya di daerah semarang, kabar seorang anak usia 11 tahun dinikahi pria berumur menggemparkan.

adalah Lutviana Ulfah, reamaja yang baru duduk di kelas satu smp itu dinikahi Pujiono Cahyo Widianto, seorang pengusaha kaligrafi yang juga pemilik pondok pesantren miftahul jannah di semarang. ia menyebut dirinya sendiri dengan syekh puji.

secara UU negara pernikahan itu sama sekali tak sah karena melanggar usia salah satu peserta nikah, Lutfiana Ulfa berusia 12tahun. Menurut UU PERKAWINAN NOMOR 1 TAHUN 1974 (1/1974) pada bab II pasal 7 ayat 1 bahwa disebutkan:

(1). Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

bahkah ia berencana akan menikahi dua perempuan yang lebih muda lagi. landasan pujiono bukan pada UU itu, melainkan pada historis agama. pujiono tak peduli dengan Peraturan itu, apalagi seruan KPAI, komisi perlindungan anak indonesia.
BERLANJUT

Saturday, July 12, 2008

Friday, July 11, 2008

Ion Victor Antonescu

Ion Victor Antonescu (June 15, 1882, Piteşti – June 1, 1946, near Jilava) was the prime minister and conducător (Leader) of Romania during World War II from September 4, 1940 to August 23, 1944.

Friday, June 27, 2008

Masdi "Pak Bei" Soenardi meninggal dunia


image source: http://blog.faniez.net/2007/04/09/buku-pak-bei/


Jam setengah tujuh, saban minggu pagi, aku jalan-jalan ke kawedanan kaliwungu. Kadang aku, sepupu, abangku atau berempat, bertiga hanya untuk minum kopi. Tentu saja sambil nongkrong di kios koran. Aku bawa KOMPAS sama Suara Merdeka saat pulang.

Di KOMPAS ada panji komingnya Dwi Koen, Soekribo'nya Ismail, dan lainnya. Suara merdeka ada cantrik'nya Pri GS, kartun lepas dan tentu saja Pak Bei Masdi. Tiap hari Minggu aku memang sering beli koran itu. Tentu untuk bacaan santai, budaya, humaniora, seni, dan lainnya. selain itu ada yang lebih penting lagi; aku ingin tertawa dan terbahak-bahak dengan melihat halaman-halaman kartun itu.

Tapi kini, ada yang hilang; kartunis pencipta tokoh Pak Bei, Masdi Soenardi telah tiada. Turut berduka atas kepergiannya. Semoga diterima di sisiNya. Aamiin.

***


Masdi "Pak Bei" Meninggal
Bercita-cita Dirikan Sanggar Tari Rakyat Borobudur



TAK hanya keluarga dan sahabat, Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur juga sangat kehilangan dengan berpulangnya Masdi Soenardi (64), Rabu (25/6) dini hari sekitar pukul 02.30 di rumahnya Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Mantan kartunis Harian Suara Merdeka dengan rubrik ’’Pak Bei’’, menetap di tanah kelahiran istrinya, Murtilam, di pinggir Kali Sileng.

Almarhum bisa merangkul seniman di kaki Candi Borobudur, sehingga dia didaulat menjadi penasihat Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur.
’’Kemarin (24/6) Pak Bei sehari tiga kali ke rumah saya, pagi, kemudian siang ketika mengantar istrinya belanja, dan sore hari. Minta diadakan pertemuan seniman pada 29 Juni 2008 membahas rencana mendirikan sanggar seni tari rakyat Borobudur. Jenengan menyiapkan kuenya, wedange saya,’’ kata Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur, Sucoro menirukan permintaan Masdi.

Karena itu, Pimpinan Warung Info Jagad Cleguk Borobudur itu seakan tidak percaya ketika diberitahu ’’Pak Bei’’ meninggal. Cita-cita almarhum, sanggar seni tari itu untuk nguri-uri kesenian rakyat yang banyak tersebar di daerah tersebut.

Film Pak Bei

Bukan hanya itu cita-cita almarhum yang belum terealisasi. Sucoro menerangkan, dalam waktu dekat cerita ’’Pak Bei’’ akan dibuat film, pemain utamanya Susilo, yang dikenal sebagai Den Baguse Ngarso pada serial TVRI Yogyakarta.

Pesan Pak Kancil-panggilan akrab Masdi, keberhasilan karyanya difilmkan agar bisa dicontoh seniman Borobudur. ’’Ini contoh bagi seniman-seniman muda Borobudur agar terus berkarya. Suatu saat karyanya pasti akan dihargai,’’ ungkap Sucoro mengutip petuah almarhum.

Pelukis Borobudur, Umar Chusaeni mengatakan, almarhum merupakan kartunis di Jateng yang karyanya sangat menarik. Dia juga penyemangat seniman di Borobudur. Setelah pulang ke kampung halamannya, almarhum diterima baik semua seniman di sini, bahkan dianggap sebagai tokoh panutan. ’’Masukan-masukannya sangat positif bagi kemajuan seni di Borobudur. Kami sangat kehilangan seorang tokoh seniman,’’ kata Umar yang berjumpa tiga hari yang lalu.

Murtilam, istrinya, tidak menyangka kalau suaminya akan meninggalkan keluarga selamanya. Sehabis nonton acara ’’Empat Mata’’ almarhum mengeluh sesak napas. Dia memang menderita penyakit jantung, dan sudah tujuh bulan tidak kontrol ke dokter. Alasannya, kondisi badannya sangat sehat. ’’Saya berusaha minta bantuan tetangga untuk mengantarnya ke dokter. Bapak saat itu tiduran di kursi, saya kira memang sudah tidur. Ketika dibangunkan ternyata sudah meninggal,’’ ungkapnya sendu.

Edi Warsito, anak kedua almarhum membenarkan ayahnya memang bercita-cita mendirikan sanggar seni di pinggir rumahnya. Namun rencana itu mundur terus karena terbentur dana.

Masdi meninggalkan istri, Murtilam, empat anak dan tiga cucu. Keempat anaknya adalah Sutopo Wintarto, Edi Warsito, Dahono Fitrianto, dan Inten Esti Pratiwi. Cucunya, Aria Danang Wijanarko, Ariana Nareswari, dan Luna Cahya Kinasih. Selamat jalan Pak Bei, karyamu tetap dikenang sepanjang masa, dan pasti dilanjutkan para seniman di kaki Candi Borobudur. (Doddy Ardjono-62)

Source: www.suaramerdeka. com, 26 Juni 2008

Tuesday, June 24, 2008

PEOPLE

Hermawan Kartajaya



Rhenald Kasali
Soesilo Bambang Yudhoyono [SBY]


Monday, June 16, 2008

COACH

AFSHIN QOTBI, AN IRANIAN-AMERICAN FOOTBALL MANAGER AND LUIZ FELIPE SCOLARI

Tuesday, April 29, 2008

Tahu Sumedang

Seorang pedagang tahu menjajakan dagangannya di KRL (Kereta Rel Listrik) ekonomi tujuan Jakarta-Bogor.

Pedagang: tahu,, tarahu,,, tahu sumedang.. tahu sumedang....!
Penumpang 1: mas, saya tahu, Sumedang deket Bandung kan?
Penumpang 2:?
Penumpang 3,4,5:?%&*(#....???
Pedagang:????

Wednesday, April 23, 2008

Cartoonist Partner died

Asep Hadiansyah.
The man is one of my partner cartoonists.He nicknamed himself as Asep on the newsprinted. His cartoon character is unique, I think.
****

It was 6:58 pm, april 19th 2008. The news editor came to one of his friend , an illustrator. He asked the partner where Asep is. No one knew where he was. The editor asked his partner, Usman Yulianto to call him since no one handled his jobs at the night. Other partners had their own full duties.

Partner said, "where are you, man?"
He said, "o, ya, I am on my way. I'll be there soon. However, It's raining"
But no one came into office while time got lateness. His partner handled his jobs.

9:30 pm other editor received a call. It's from hospital, hospital of PELNI Petamburan. It's twice call. The hospital informed and asked us whether Asep Hadiansyah works for the daily. The editor got confused because he only knew a cartoonist whose name is asep, he didn't know his full name. The editor confirmed to the cartoonist desk. We nodded of head. An editor and cartoonist went to the hospital. And we finally know that It's his last few words we heard on the phone.

God really loves him than what we do. He takes him.

Saturday, March 15, 2008

INDONESIA CARTOON CARICATURE MUSEUM

1. PRAMONO
Pagi 13 maret 2008 tak seperti pagi biasanya. Di Ngurah Rai terik matahari menyengat. setiap pagi atau bahkan seharian saya jarang menikmati sinar matahari. lebih banyak di kamar dan tentu saja tidur.

Beberapa nomor kontak aku hubungi. Mas Darminto, budayawan juga penulis dan tentu seorang kartunis menyarankan aku datang langsung ke Sunset Road 85, nama jalan. Di sana aku akan ketemu mas Fahmi, salah seorang yang bertugas di museum.

Sunset Road. Berkendara menggunakan taksi 15 menit dari bandara. "pak, tolong ke sunset road ya. nomor 85." Saya bayar 6o ribu rupiah.

Jalanan tak terlalu padat, kontras dengan Jakarta sehari-hari. Mendekati Sunset Road 85, sepanduk berderetan. Ada putih, kuning, merah, juga hitam dengan tulisan dan gambar kontras. "CARTOON FOR PEACE." Begitu bunyi tulisan itu, juga gambar kartun dengan tangan terentang dan pena di mulut. Terbang.

Tepat di Sunset Road no 85 terpampang tulisan MUSEUM KARTUN INDONESIA.

Spanduk-spanduk dengan warna menyolok mata berjejer. Persis bendera-bendera orang kawinan di kampung-kampung. beberapa motor dan mobil diparkir di depan gedung. Pagi itu masih sepi, beberapa orang jalan kesana kemari membereskan pekerjaannya.


Ada gong, gamelan jawa, batang pohon pisang, dan deretan alat permainan di saung, orang semarang menyebutnya joglo. "Nanti malam akan dipentaskan wayang kartun," kata salah seorang yang aku temui. Wayang kartun, bahannya tak beda dengan wayang kulit. Ki Bagong Subardjo dalangnya, seorang kartunis dari Jogja.

mbak, mas Fahmi ada?

Sayang, malam itu aku tak sempat nonton pertunjukannya. Lebih banyak nguping sambil ngobrol dengan kartunis-kartunis kawakan. Pak GM (GM Sudharta), Pak Dwi Koen, Pak Pram, Pak Pris,

BERSAMBUNG....

2. JANGO3. PRIS

Tuesday, February 26, 2008

an interactive graphic



Di surat kabar-surat kabar cetak, kita temukan infografis. Biasanya di halaman pertama. Bentuknya kotak, balok, atau apapun dengan detail urutan peristiwa. Lengkap dengan ilustrasi modelnya. Ada yang bagus-bagus. Tak jarang yang cukup sederhana.

Banyaknya berita yang harus dimuat terkadang mengurangi jatah space infografis. Parahnya lagi surat kabar itu lebih mementingkan iklan operator telpon seluler atau cuma iklan pribadi surat kabar ketimbang pendukung berita itu. Akibatnya infografis susah dipahami. Data terlalu banyak dengan space cekak. Esoknya pembaca tak berlangganan surat kabar itu. Mungkin.

Sesekali mengunjungi surat kabar luar negeri. USA TODAY. Cukup online saja. Di sana terdapat grafis interaktif. Lebih detail. tak terlalu memerlukan space yang besar, jika tak diperlukan. Grafis Interaktif, demikian USATODAY menyebutnya.

Ini menarik. Mungkin kita tak bakal menemukan hal semacam itu di halaman website-website surat kabar indonesia versi digital. Online. Info grafis versi cetak pun jarang ditemukan di halaman-halaman website surat kabar Indonesia. Untungnya tempo interaktif memasang infografis versi cetaknya.

Tuesday, February 19, 2008

Sunday, February 17, 2008

Public Figure

1. Armenia's Prime Minister and presidential candidate Serzh Sarksyan answers a journalist's question during an interview with Reuters in his office in Yerevan February 16, 2008. Armenia will hold presidential elections on February 19



2. Director Errol Morris, the Jury Grand Prix, during a news conference after the 58th Berlinale International Film Festival in Berlin, February 16, 2008. Morris was awarded for his movie 'Standard Operation Procedure'

Monday, February 11, 2008

Masters

Julian Pena-Pai ::
Born in April 14, 1948 in Giurgiu, lives and works in Ploiesti. The School of Fine Arts and Technical College of Architecture.

He started drawing in 1973 in URZICA-Humour Magazine.
He published over 3000 cartoons in magazines and newspapers in Romania and other countries. He illustrated 7 humour books. Since 1991 he is a free lancer and worked for : OPINIA PUBLICA, ZIARUL FINANCIAR, SOCUL COTIDIAN, CUGET LIBER and JURNALUL DE PRAHOVA daily newspapers.

Since 2001 he is cartoonist-editorialist at GAZETA PRAHOVEI daily newspaper and ECHINOX publishing house, art director.
Personal exhibitions: Ploiesti 1980, 1986, 1988, 1993, Giurgiu 1983, 1991, Bucharest 1984, Fredrikstad 1990(Norway), Tolentino 2001(Italy) and Tehran 2004 (Iran). Cartoonist of the Year 2002 in Romania.

Since 1979 he participated to some international exhibitions in Bulgaria, Italy, Turkey, Canada, Yugoslavia, Croatia, Macedonia, Belgium, Holland, Japan, France, Cuba, Poland, Germany, Brasil, Mexic, Spain, Norway, Indonesia,U.K., Russia, Ukraina, Korea, Iran, Israel, Taiwan, Australia, Argentina, Colombia, Slovakia, Albania, Slovenia, Portugal, Egypt, Cehia, Greece, USA, U.A. Emirates, China, Austria, Sweden, Cyprus, India and Romania (over 400 participations at international exhibitions).

AWARDS:
- 19 national prizes
- 75 international prizes

He was member of the international jury at Anglet 1986 (France), Istanbul – N.Hodja 1997 (Turkey), Beijing 2004 (China) and Tabriz 2004 (Iran).
Documentation trips in : France and Italy (1986), Turkey and Greece (1988), Belgium (1989), Ukraine and Norway (1990), Japan (1991), Germany (1990 and 1992), Turkey (1989, 1997,1998, 1999, 2001 and 2003), Italy (1999), Austria (2002), Serbia (2004), China 2004, Iran 2004 and Macedonia 2004.

Erdogan Karayel ::

Born in Istanbul, Turkey in 1956.

Have been painting from childhood up to 1976.
Have been drawing cartoons since 1976,
grauduated from Marmara University Istanbul,
Graphic Arts Section (1976-1982)

Have worked from1977 on, in both Graphics and Cartoons for weekly Humor Magazine (اarsaf, Ses, Girgir)

Published my albums:
-Renk-Leke-Cizgi,
-En Gurbettekiler,
-Bir warmis Bir Yokmus
-Hans and Hasan,
-Siyah beyazofkelerim

8 personel, 15 group exhibitions, my works were exhibited and awarded in
West Germany, Japan, Canada, Italy, Bulgaria, Jugoslavia, Cuba.

I have won 38 prizes.

I'm German-Turkish Humor Magazin
Don Quichotte's Chief.

http://www.ekarayel.com
http://www.donquichotte.at




Marco Toro ::


Marco Toro lives in London, England, where he has an established reputation for his finely crafted portraits of movie icons.
Toro’s icons of the silver screen are brought to life by his clean, sharp style, which conveys the essence of the actors and the characters he portrays.
When the English actor, Michael Caine, saw Toro’s portrait of him, he was so impressed that he insisted on signing the portrait himself. A unique endorsement of Toro’s work.
Toro lives and paints in London, England, where he teaches at the renowned Camberwell School of Art, a college of the University of the Arts London.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...