Friday, June 27, 2008

Masdi "Pak Bei" Soenardi meninggal dunia


image source: http://blog.faniez.net/2007/04/09/buku-pak-bei/


Jam setengah tujuh, saban minggu pagi, aku jalan-jalan ke kawedanan kaliwungu. Kadang aku, sepupu, abangku atau berempat, bertiga hanya untuk minum kopi. Tentu saja sambil nongkrong di kios koran. Aku bawa KOMPAS sama Suara Merdeka saat pulang.

Di KOMPAS ada panji komingnya Dwi Koen, Soekribo'nya Ismail, dan lainnya. Suara merdeka ada cantrik'nya Pri GS, kartun lepas dan tentu saja Pak Bei Masdi. Tiap hari Minggu aku memang sering beli koran itu. Tentu untuk bacaan santai, budaya, humaniora, seni, dan lainnya. selain itu ada yang lebih penting lagi; aku ingin tertawa dan terbahak-bahak dengan melihat halaman-halaman kartun itu.

Tapi kini, ada yang hilang; kartunis pencipta tokoh Pak Bei, Masdi Soenardi telah tiada. Turut berduka atas kepergiannya. Semoga diterima di sisiNya. Aamiin.

***


Masdi "Pak Bei" Meninggal
Bercita-cita Dirikan Sanggar Tari Rakyat Borobudur



TAK hanya keluarga dan sahabat, Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur juga sangat kehilangan dengan berpulangnya Masdi Soenardi (64), Rabu (25/6) dini hari sekitar pukul 02.30 di rumahnya Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Mantan kartunis Harian Suara Merdeka dengan rubrik ’’Pak Bei’’, menetap di tanah kelahiran istrinya, Murtilam, di pinggir Kali Sileng.

Almarhum bisa merangkul seniman di kaki Candi Borobudur, sehingga dia didaulat menjadi penasihat Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur.
’’Kemarin (24/6) Pak Bei sehari tiga kali ke rumah saya, pagi, kemudian siang ketika mengantar istrinya belanja, dan sore hari. Minta diadakan pertemuan seniman pada 29 Juni 2008 membahas rencana mendirikan sanggar seni tari rakyat Borobudur. Jenengan menyiapkan kuenya, wedange saya,’’ kata Ketua Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Borobudur, Sucoro menirukan permintaan Masdi.

Karena itu, Pimpinan Warung Info Jagad Cleguk Borobudur itu seakan tidak percaya ketika diberitahu ’’Pak Bei’’ meninggal. Cita-cita almarhum, sanggar seni tari itu untuk nguri-uri kesenian rakyat yang banyak tersebar di daerah tersebut.

Film Pak Bei

Bukan hanya itu cita-cita almarhum yang belum terealisasi. Sucoro menerangkan, dalam waktu dekat cerita ’’Pak Bei’’ akan dibuat film, pemain utamanya Susilo, yang dikenal sebagai Den Baguse Ngarso pada serial TVRI Yogyakarta.

Pesan Pak Kancil-panggilan akrab Masdi, keberhasilan karyanya difilmkan agar bisa dicontoh seniman Borobudur. ’’Ini contoh bagi seniman-seniman muda Borobudur agar terus berkarya. Suatu saat karyanya pasti akan dihargai,’’ ungkap Sucoro mengutip petuah almarhum.

Pelukis Borobudur, Umar Chusaeni mengatakan, almarhum merupakan kartunis di Jateng yang karyanya sangat menarik. Dia juga penyemangat seniman di Borobudur. Setelah pulang ke kampung halamannya, almarhum diterima baik semua seniman di sini, bahkan dianggap sebagai tokoh panutan. ’’Masukan-masukannya sangat positif bagi kemajuan seni di Borobudur. Kami sangat kehilangan seorang tokoh seniman,’’ kata Umar yang berjumpa tiga hari yang lalu.

Murtilam, istrinya, tidak menyangka kalau suaminya akan meninggalkan keluarga selamanya. Sehabis nonton acara ’’Empat Mata’’ almarhum mengeluh sesak napas. Dia memang menderita penyakit jantung, dan sudah tujuh bulan tidak kontrol ke dokter. Alasannya, kondisi badannya sangat sehat. ’’Saya berusaha minta bantuan tetangga untuk mengantarnya ke dokter. Bapak saat itu tiduran di kursi, saya kira memang sudah tidur. Ketika dibangunkan ternyata sudah meninggal,’’ ungkapnya sendu.

Edi Warsito, anak kedua almarhum membenarkan ayahnya memang bercita-cita mendirikan sanggar seni di pinggir rumahnya. Namun rencana itu mundur terus karena terbentur dana.

Masdi meninggalkan istri, Murtilam, empat anak dan tiga cucu. Keempat anaknya adalah Sutopo Wintarto, Edi Warsito, Dahono Fitrianto, dan Inten Esti Pratiwi. Cucunya, Aria Danang Wijanarko, Ariana Nareswari, dan Luna Cahya Kinasih. Selamat jalan Pak Bei, karyamu tetap dikenang sepanjang masa, dan pasti dilanjutkan para seniman di kaki Candi Borobudur. (Doddy Ardjono-62)

Source: www.suaramerdeka. com, 26 Juni 2008

No comments:

Post a Comment