Sunday, December 22, 2013

Bikin Sketsa di Hari Ibu


Sampai sore tadi aku tak bisa menulis, anggap saja status, di facebook mengenai hari Ibu. Sore ini mendung, meski juga sedikit gerimis, tapi udara cukup segar. Aku suka suasananya. Lalu aku berjalan kaki keluar dengan segenap rasa, entah pergi kemana sejauh dua kilometer juga tanpa tujuan pasti. Tapi jelas bahwa aku membawa ransel ABRI berisi alat menggambarku. Juga aku tenteng tripod penyangga kamera. Sebelumnya, empat gorengan pisang berbungkus kertas yang aku beli, aku masukkan juga dalam ransel.

Dalam perjalananku, seorang perempuan entah bersuku apa dan siapa keluarganya, menangis sesenggukan. Sedang tangannya masih memegang telepon genggam. Seperti menunggu seseorang tapi ia lalu bangkit dan berjalan. Kami berpapasan di trotoar. Jangankan aku, ia sendiri tak dapat mencegah tetesan air matanya yang jatuh. Tetap, aku tak bisa berbuat apa-apa selain mendengar derai tangisnya yang tak gaduh saat ia berlalu di belakangku. Dalam perjalanan, yang entah kemana dan dimana aku akan berhenti, di benakku terngiang seorang perempuan muda yang menangis barusan. Terus menerus. Aku ingat ini hari Ibu.

Aku berhenti di sebuah halte pemberhentian berukuran panjang 1,5 meter yang lengang. Lebar trotoar sekira 1,5 meter juga. Melihat suasana tikungan jalanan dan lalu lintas yang tak ramah, bisa jadi halte ini tak pernah digunakan semestinya. Di samping halte, di atas trotoar, tenda warung makanan sedang dipancang dan dibentang. Pedagang makanan bersiap buka warung. Aku menyantap tiga pisang goreng bawaanku. Di halte ini aku menggambar hamparan rumah-rumah warga Rawasepat, Cililitan, Jakarta Timur. Rumah warga terletak lebih menjorok ke bawah dari pada jalanan. Jika dilihat dari jauh, halte dimana aku berada seperti berada di atas atap rumah.

Selesai menggabar aku santap satu pisang gorengku. Seorang ibu melewatiku lalu berhenti. Kami bincang-bincang soal kampung yang banjir dan sampai pula pada gambar menggambar saat ia lihat gambarku. Ia ramah. Ia lalu bercerita tentang anaknya yang sempat kuliah di Senirupa UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Anaknya juga banyak terima kerjaan permintaan karikatur, katanya. Ia menanyaiku aku bersekolah dimana. Kami terus bincang-bincang. Hingga ia mengatakan bahwa ia harus lanjutkan berjalan sampai lampu merah di pertigaan jalan. Ia pergi dan aku tetap di sana beberapa saat. Tak lama aku beranjak pulang.

Di Hari Ibu aku temukan pengalaman bertemu dua perempuan. Perempuan muda yang sedih dan perempuan riang seusia di bawah ibuku. Oh iya, dengan ibuku, aku sudah lama tak bertemu. Kami baik-baik saja. Aku masih ingat terakhir kali aku memeluknya. Tepat ketika kami (aku, adik dan keluarga lain), meletakkannya di tanah. Setelah itu aku kerap kali bertemu dengannya dalam mimpi. Allahummaghfir laha warhamha wa'afiha wa'fu 'anha.



Saturday, December 07, 2013

Caricature of Nelson Mandela


Caricature of Nelson Mandela



Lahir/Born: July 18, 1918, Mvezo, South Africa  
Meninggal/Died: December 5, 2013

Sunday, November 24, 2013

Drawing Dasar/Basic Drawing


Menggambar Drawing Dasar/Basic Drawing.

Menggambar, bagi yang merasa masih belum bisa, dirasakan begitu sangat susah untuk mempelajarinya. Tapi ketika melihat seseorang menggambar nampak begitu mudah dan menyenangkan saat seseorang itu mengerjakannya. Terutama melihat hasil akhir dari sebuah karya gambar/lukisan/produk kita sering terkagum-kagum. Melihatnya bisa juga timbul keheranan (dan tentu jangan sampai menjadi pening) hanya karena kita terlalu berpikir keras bagaimana cara membuatnya tapi tak menemukan jawabannya. 

Ada persoalan pola pikir/mind set.  Barangkali begini:

Dalam keseharian, pengalaman visual kita hanya terlalu sering dimanjakan oleh citra visual produk-produk yang sudah jadi. Sangat jarang kita (mau) berpikir bahwa produk jadi itu juga mengalami proses. Meski masih dalam tahap pikiran, kita hendaknya melihat dan memahami itu bahwa produk itu memiliki tahapan proses. Misal saja produk rumah tangga, alat elektronik, kemacetan, dan lain sebagainya. 

Kemacetan? Ya, kemacetan adalah sebuah produk. Bisa jadi itu hasil akhir atau masih tahap proses untuk hasil akhir yang lebih buruk. Ketika melihat (atau berada di dalam) kemacetan, kita mengeluh tanpa mencoba mengurai proses kenapa ada kemacetan. Jika sadar, kita akan tanggap untuk mencoba berpikir mencari akar-akarnya, tahapan-tahapannya dan lain-lain. Ada banyak kemungkinan; setiap orang ingin menaiki kendaraan masing-masing (ego besar), bertambahnya angkutan pribadi, kurang layaknya angkutan umum, tak bertambahnya infrastruktur, buruknya infrastruktur, kecelakaan mendadak, iring-iringan pejabat, lampu lalu lintas mati dan kemungkinan-kemungkinan lain. Nah, itu adalah rangkaian yang ketika berakumulasi menjadi sebuah rentetan proses timbulnya kemacetan. Ini hanya analogi terkait produk tadi.

Saat melihat produk-produk jadi itulah kita tak berpikir bahwa produk itu mengalami proses desain yang bisa saja meliputi tahap sketsa, drawing, sampai pada tahap pembentukan tiga dimensinya dalam bentuk hasil akhir. Produk telepon genggam, laptop, meja, kursi, juga dibuat berdasar sketsa (pola/rancangan) dan proses seterusnya. Termasuk film, juga ada story board (sketsa adegan yang berbentuk panel-panel bercerita). Kita memang jarang melihat proses-proses itu, apalagi memang secara umum tak dipublikasikan. Contoh, seperti belajar mengendarai sepeda, kita akan butuh banyak latihan, teknik, keseimbangan dan lain-lain. Paling tidak, kita memahami bahwa semua itu memiliki proses. Dan tentu kita akan mengalami proses untuk bisa menggambar. 

Ada masalah pemahaman pola pikir kita yang barangkali sering luput bahwa seakan semuanya tak memiliki proses. Ini bisa dikarenakan seringnya kita disuguhi citra visual akhir yang memukau. Yang terpenting lagi kita memang senang dan mau melakukannya. Karena senang itulah kadang-kadang kita lupa bahwa kita sedang berproses. Kita begitu menikmatinya. 

Itu soal pola pikir, selanjutnya diharapkan menikmati proses yang menyenangkan itu.



Contoh gambar di atas adalah menggambar bentuk. 
 => Pemahaman alat. Sketsa, perspektif, pemahaman pencahayaan, arsir, dimensi, dan lain-lain. Untuk gambar lebih besar/detil dari coret-coretan ini bisa klik di sini: GAMBAR.

Lalu bagaimana prosesnya? Alat bisa berupa apapun; pensil, bolpen, kertas, karton, dan lain-lain. Alat itu hanya medium, gunakan apa yang kita punya. Tidak punya apa-apa? Maka itu keuntungan kita untuk  terus berpikir bagaimana caranya untuk membuat sesuatu menjadi alat kita. Jika kita punya beberapa, kita bisa gunakan beberapa alat itu.

Kita bisa memulai dengan menggores-gores sederhana, entah bentuk apapun. Nikmati pengalaman menggores itu. Nikmat, apanya yang nikmat? Kita bisa mempermainkan tekanan ringan, sedang, dan kuat saat menggores. Juga, mempermainkan kecepatan, sedang dan lambat guratan-guratan itu. Termasuk pula gaya memegang alat itu. Kita lakukan terus menerus. Kita bisa amati dan pelajari garis dan coretan-coretan itu lalu bandingkan pada saat kita menggores. Termasuk goresan dari penggunaan alat yang berbeda itu. Ketika tekanan goresan dikuatkan, maka hasilnya akan berbeda dengan saat menggores dengan tekanan ringan. Itu akan membentuk pendapat/kesimpulan sederhana kita tentang dunia gores-menggores dari pengalaman sederhana itu. Sampai disini, kalau kita menikmatinya, kita sudah mulai lupa bahwa kita sedang mencapai satu tahapan proses. 

Selanjutnya kita bisa menggambar benda-benda di sekitar kita, tentu bisa dengan bentuk sederhana. Kita amati dan mencoba pahami bentuknya, mana yang lebih gelap, mana yang lebih terang dan seterusnya. Minimal setiap hari kita mencoba membuat goresan-goresan. Kita terapkan seperti tiap kali kita makan setiap hari.

Dari penggunaan alat yang berbeda itu akan memberi kita kesimpulan-kesimpulan sementara yang sederhana. Itu bisa terkait dengan karakteristiknya. Alat-alat/medium berbeda itu dibuat dengan bahan berbeda pula sehingga berkemungkinan besar akan menghasilkan efek yang berbeda pula.



Dibuat dengan menggunakan pensil, charcoal, dan pastel di kertas bertekstur. Lalu adakah perbedaan karakteristik material itu? Yang berwarna itu seperti kapur adalah pastel, sementara yang hitam pekat dan lunak adalah charcoal, dan garis-garis dengan kehitaman sedang dan sedikit mengkilat adalah pensil EB (setara dengan 7B). Untuk gambar lebih besar bisa klik kanan pada gambar, lalu pilih "Open Link in New Tab".

"Drawing" diartikan sebagai "gambar/menggambar". Namun, dalam terminologi kesenirupaan "drawing" tak sekadar sebagai gambar, namun ia menjangkau lebih dari sekadar "gambar" itu. Drawing merupakan salah satu bentuk ekspresi seni rupa yang menggunakan (sejumlah) alat gambar dengan yang berkaitan dengan goresan garis dan bidang. Alat gores ini biasanya berupa pensil grafit (karbon, salah satunya secara umum dikenal jenis pensil B=Black (2B, 3B, 4B dst.), HB=Hard Black dan lain-lain), tinta dan pena, charcoal, kapur, pastel, akrilik, penghapus dan beberapa lainnya. Selain itu material yang lain untuk medium drawing biasanya kertas, karton, kanvas, plastik, papan kayu dan lainnya.

Sementara itu terlebih dulu, selanjutnya bisa disumbang lagi, eh disambung lagi.

Tuesday, November 12, 2013

Gambar Nusantara/Hindia Belanda

Demi memberi informasi kepada kawan yang bertanya di media sosial Facebook terkait siapa ilustrator yang sering bikin ilustrasi nusantara. Lalu terutama ilustrator Belanda pada kurun tahun 1700-an. Untuk menanggapi secara pas akan lebih sulit dalam waktu singkat. Perlu waktu untuk riset. Namun segera saya buka buku karya seorang serdadu Inggris yang setelah bertugas di pulau Jawa pada tahun 1813. Berikut dua gambar yang saya unggah.


Gambar prosesi pemakaman seorang kapitan Batavia keturunan China, Oei Yoen Koa. Digambar oleh seniman dari Rach School pada tahun 1784. Johannes Rach, seniman asal Denmark, tinggal dan bekerja di Batavia sebagai pegawai perusahaan Hindia Belanda Timur Belanda antara tahun 1762 - 1783. Ia dan bersama rekan-rekannya banyak membuat gambar tentang Hindia Belanda.




Gambar berjudul "Semarang from the Land Side" digambar oleh Joseph Jeakes. Joseph Jeakes seorang pelukis yang juga ahli tatah asal London.  Gambar-gambarnya ia pamerkan di Royal Academy antara tahun  1796 - 1809.

Kedua gambar di atas adalah dua dari 30-an gambar yang ada dalam buku "PENAKLUKAN PULAU JAWA." Mayor William Thorn adalah penulisnya. Ia seorang serdadu kerajaan Inggris yang pernah bertugas dalam ekspedisi ke pulau Jawa. Ia berusia 30-an pada saat bertugas ke jawa, sama seperti Raffles. Ia mengundurkan diri dari kedinasan militer dan kembali ke Inggris pada Juli 1813. Ia lalu menyelesaikan bukunya ini dan menerbitkannya di London pada tahun 1815 dengan harga 3.3 poundsterling. Sebagian gambar-gambar sketsa dan drawing dalam bukunya kemungkinan ia menemukan di Jawa lalu dibawa ke London.

Friday, October 11, 2013

Video Caricature Roger Federer


Sketsa karikatur, saya presentasikan di acara bertema "Warrior of Art Against The Titan" pada 24 September 2013 lalu di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong. Senang lihat mahasiswa perhatikan. Mereka banyak tanya dan antusias. Ada sekitar 200 mahasiswa. Sempat pula saya mendemokan sketsa dengan media charcoal dan cat air.

Thursday, September 26, 2013

JAKARTA TRAFFIC JAM


Dokumentasi jalan-jalan iseng 2012 di kawasan Sudirman & Gatot Soebroto.

Kebijakan pemerintah pusat dengan mencanangkan mobil murah sungguh ironis. Betapa dungunya kebijakan itu. Mobil murah dengan impor namun dengan harga di bawah Rp 100 juta atau antara Rp 90 juta hingga Rp 100 juta dikatakan sebagai barang murah. Siapa bilang orang miskin hendak memilikinya dengan embel-embel murah. Tingkat kemampuan ekonomi ditentukan oleh mampunya membeli murahnya sebuah mobil. Dipaksakan memang. Ada agenda tersembunyi dengan semakin dekat pemilu 2014.

Membenahi dan menambah angkutan transportasi masal adalah kebijakan yang tepat. Itu yang di sebut angkutan yang murah, namun bermanfaat. Pemprov DKI yang sedang getol memberantas kemacetan dengan gencar memperbaiki moda transportasi masal jelas-jelas menyesalkan kebijakan busuk ini. Para pengambil kebijakan pemerintah pusat tak memiliki logika yang benar. Kabinet yang tak waras.

Wednesday, September 18, 2013

Step by Step making Caricature

Pertukaran Karikatur adalah sebuah grup di Facebook untuk saling berbagi antar karikaturis dari seluruh dunia. Kami saling mengkarikaturkan satu sama lain.
 -------------------------------------------
I did this as a return caricature. Tony CBR from France made me a caricature. We call this a caricature exchange.


s



Monday, September 09, 2013

Talented illustrator Sri Priyatham

I try scratching as afternoon doodling yesterday. Sri Priyatham is a talented illustrator living in Hyderabad. He and I connect on Facebook and he has certain characteristic on his drawing especially on shading.

Sunday, August 25, 2013

Berlebihan - overuse


Mana tangannyaaaaa...! | Put your hands up! Parodi gejala "gadget" dan "smartphone" yang makin mengganggu. Dalam keseharian ketika berada di suatu tempat umum, di angkutan bus, kereta, di mall, di tempat makan, di taman dan lain-lain, sering saya rasakan suasana begitu dingin. Kehangatan suasana aspek sosial yang dulu terbangun, misalnya, dengan bincang-bincang tersingkirkan oleh kesibukan masing-masing dalam penggunaan perangkat ini. Penggunaan yang berlebihan.

Monday, July 15, 2013

15 Juli Ulang tahun Rembrandt ke 407

Hari ini, 15 Juli 2013, adalah 407 tahun lalu kapan Perupa Belanda Rembrandt Harmenszoon van Rijn dilahirkan. Kita lebih sering mengenalnya dengan Rembrandt. Ia salah seorang paling penting dalam sejarah seni rupa di Belanda. Pun, ia juga salah seorang perupa besar dalam sejarah seni rupa lukisan dan "printmaking" di Eropa, bahkan dunia.

Ada hal penting bagi kita untuk merenungi kembali hakikat-hakikat kelahiran dan kematian kita; hidup kita. Seberapa lama usia atau hidup seseorang bukanlah hal penting, tapi hal yang paling penting justru kemanfaatan apa yang ia perbuat pada rentang waktu hidupnya. Kita banyak mendengar, mengenal ide-ide, gagasan-gagasan, penemuan-penemuan, apa yang diperbuat seseorang yang lantas kita menyebutnya sebagai kemanfaatan. Kemanfaatan bagi sesama, bagi pengetahuan, bagi alam semesta inilah yang langgeng.

Kita mengenal Soekarno dan para pendiri negara bangsa ini, KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahid Hasyim, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain. Mereka tiada, tapi apa yang mereka perjuangkan kita rasakan sekarang. Ada Muhammad SAW, Gandhi, Martin Luther, Mother Theresa, Ibrahim Lincoln, Ibnu Khaldun, Ibnu Farabi, Ibnu Sina, Rembrandt, Raden Saleh dan lain-lain. Hidup mereka memiliki kemanfaatan. Rata-rata usia mereka tak sampai 100 tahun, tapi kemanfaatannya sepanjang lama.
 
Gambarku ini aku buat pada tahun 2006 lalu. Aku berkunjung ke Jakarta untuk keperluan kegiatan perkuliahanku. Dalam persinggahanku aku bikin gambar-gambar semacam ini. Aku  perlu banyak berlatih atau bisa disebut kegiatan nggambarku ini sebagai iseng-iseng.

Monday, July 08, 2013

Penjual Sekoteng, Semarang


Penjual Sekoteng Khas Cirebon di Jl. Pahlawan, Semarang, Senin malam, 8 Juli 2013. 

Pada kesempatan kali ini saya adakan perjalanan ke Semarang. Beberapa kali pula selama di Semarang saya bertandang ke Jl. Pahlawan yang merupakan dimana kantor gubernur Jawa Tengah berada. Beberapa tahun terakhir Jl. Pahlawan didatangi banyak warga terutama pada sore hingga malam hari. Itu terjadi setelah perbaikan-perbaikan fasilitas umum berupa penataan dan pelebaran trotoar. Tak hanya sebagai area pedestrian, trotoar yang lebarnya kurang lebih 5 meter itu juga digunakan warga sebagai area kegiatan atau sekedar untuk kongkow-kongkow dan menikmati malam.

Suasana kota Semarang dengan banyaknya warga yang datang di ruang publik ini memberi dampak terhadap munculnya roda perekonomian. Sepanjang trotoar di seberang kantor gubernur akan banyak dijumpai penyedia jasa alat olah raga seperti sepatu roda (inline skate) juga sepeda-sepeda skuter mini. Di sisi jalan ada banyak penjual makanan dan minuman. Ada penjual kacang, penjual sekoteng, penjual kopi dan lain-lain. Berbaur dengan para penjual makanan dan minuman juga terdapat parkir motor dadakan di sepanjang trotoar.

Penataan fasilitas umum dan sosial ini memberi efek yang bagus dengan warga memanfaatkan ruang publik yang menjadi haknya. Akan tetapi gejala ini juga memunculkan permasalahan baru. Misal saja sampah. Beberapa warga masih terlihat membuang sampah seenaknya meskipun tempat sampah sudah disediakan. Hal ini hampir secara umum terjadi di beberapa tempat umum, tak hanya di Semarang. Masalah lain lagi misal saja parkir. Seorang petugas parkir bahkan hanya memberi selembar karcis foto kopi lalu meminta tarif parkir Rp 2.000. Ia hanya memiliki satu karcis asli.  Permasalahan lain juga muncul, maraknya pengemis. Ada permasalahan sosial yang krusial. Bermunculan pengemis ini sering mengiringi perkembangan pembangunan suatu daerah. Kita sering tak bisa membedakan manakah pengemis karena tekanan kebutuhan hidup, pengemis karena pekerjaan, atau pengemis bagian dari sindikat.

Dari sedikit gejala positif negatif yang muncul itu, paling tidak, pemerintah provinsi/kota Semarang sudah beranjak dari stagnanisasi seperti kota-kota lain yang parahnya cenderung mundur. Namun menjadi harapan besar bahwa pemprov Jateng ataupun Pemkot Semarang tak hanya berfokus pada pembangunan ibu kota provinsi, melainkan juga pada daerah pinggir kota dan daerah-daerah lain yang dinaunginya. Semarang dan daerah-daerah lain, semoga selalu berbenah sesuai janji-janji kampanye kalian.

Friday, May 10, 2013

Sketsa malam

Hingga pukul 22.00, Kamis, 09 Mei 2013 aku duduk-duduk di depan Kalibata City Square dari pukul 20.40. Kehadiranku di sana ya cuma iseng dan duduk-duduk sambil amati aktifitas warga yang keluar dan masuk, pergi dan datang. Sketsa yang aku bikin ini sketsa suasana di halte yang dibangun Kalibata City. Ada taksi yang menunggu antrian, sementara sepeda motor juga diparkir disana. Ada juga beberapa penjual mangkal disana.

Saat aku bikin ini, suara perempuan mengagetkanku, "mas, saya dong yang digambar". Sontak saja aku menoleh. Rupanya mereka tiga gadis belia, juga berambut panjang. Segera aku membalasnya, "ayo duduk-duduk di sini dong". Hanya saja mereka berlalu begitu saja.

Yang mengisengiku tadi gadis berpakaian hitam. Mereka jinjing tas. Dengan tampilan celana pendek mereka cukup menggemaskan. Pandanganku hanya mengikuti langkah mereka. Tak lama siluet mereka bahkan tak tampak lagi. Aku masih melanjutkan sketsaku. Tak lama aku beranjak pulang. Dan hanya memutar, tak lama pula aku telah sampai di tempat istirahat.

Jakarta.
Pena dan cat air di kertas.

Monday, April 29, 2013

Medium Cat Air (2)






Medium untuk membuat gambar ada banyak ragam, dari yang tradisional sampai digital. Medium tradisional juga bisa disebut medium konvensional yang memanfaatkan beberapa alat dengan menggoreskan, menuangkan, atau meletakkannya di satu bidang secara langsung.  Sementara medium digital berbeda dengan medium konvensional tradisional. Medium digital memanfaatkan seperangkat alat yang sudah dirancang khusus secara digital. Misal saja dengan menggunakan aplikasi/software yang diciptakan untuk itu, seperti Aplikasi Photoshop, Corel Painter, Art Rage, dan semacamnya dengan menggunakan mouse/mouse pen/touch pad.

Menggambar dengan menggunakan medium Cat Air (Watercolor/Aquarelle) memiliki tantangan tersendiri. Medium ini berbeda dari beberapa medium lainnya. Cat yang berbasis air dengan teknik-teknik tertentu (transaparan, wet on wet dan lain-lain) ini hampir hasilnya selalu tak terduga setelah gambar mengalami tahap akhir yaitu kering. Cat Air umumnya diaplikasikan pada medium lain sebagai bidang gambarnya, yaitu kertas. Kertas ini dibuat secara khusus untuk medium Cat Air, namun selain kertas jenis ini juga bisa dicoba. Tak tertentu pada hanya kertas khusus Cat Air atau kertas, Cat Air bisa juga diaplikasikan pada medium yang lain yang bisa terus dikembangkan. Misalnya pada kanvas, Hardboard, kain, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan semangat eksplorasi sehingga memunculkan alternatif medium-medium baru juga teknik-teknik yang lain. Melalui semangat ekslporasi inilah akan muncul berbagai macam hal yang berkaitan dengan medium Cat Air dan menjadikannya lebih kaya.

Ada semacam adagium bahwa medium Cat Air ini cukup "ditakuti" terutama orang-orang yang tak terbiasa dengan Cat Air. Karena karakteristiknya yang cair, mudah bercampur dan menyatu namun tak mudah dikendalikan, teknik sapuan yang secukupnya (karena secara umum menggunakan bidang kertas), juga kita tak tahu dari hasil akhirnya seperti apa karena ketakterdugaan itu. Berbeda dengan medium cat lain misalnya Cat Minyak (Oil Color) dan Akrilik (Acrylic) dimana medium-medium ini sekali salah masih mudah untuk dikoreksi dengan memberi sapuan berikutnya sesuai yang diinginkan. Namun, dibandingkan dengan medium Cat Air ini berbeda.


Semoga saja bisa mengulas lebih lanjut.

Sunday, April 28, 2013

Medium Cat Air




Medium untuk membuat gambar ada banyak ragam, dari yang tradisional sampai digital. Medium tradisional juga bisa disebut medium konvensional yang memanfaatkan beberapa alat dengan menggoreskan, menuangkan, atau meletakkannya di satu bidang secara langsung.  Sementara medium digital berbeda dengan medium konvensional tradisional. Medium digital memanfaatkan seperangkat alat yang sudah dirancang khusus secara digital. Misal saja dengan menggunakan aplikasi/software yang diciptakan untuk itu, seperti Aplikasi Photoshop, Corel Painter, Art Rage, dan semacamnya dengan menggunakan mouse/mouse pen/touch pad.

Menggambar dengan menggunakan medium Cat Air (Watercolor/Aquarelle) memiliki tantangan tersendiri. Medium ini berbeda dari beberapa medium lainnya. Cat yang berbasis air dengan teknik-teknik tertentu (transaparan, wet on wet dan lain-lain) ini hampir hasilnya selalu tak terduga setelah gambar mengalami tahap akhir yaitu kering. Cat Air umumnya diaplikasikan pada medium lain sebagai bidang gambarnya, yaitu kertas. Kertas ini dibuat secara khusus untuk medium Cat Air, namun selain kertas jenis ini juga bisa dicoba. Tak tertentu pada hanya kertas khusus Cat Air atau kertas, Cat Air bisa juga diaplikasikan pada medium yang lain yang bisa terus dikembangkan. Misalnya pada kanvas, Hardboard, kain, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan semangat eksplorasi sehingga memunculkan alternatif medium-medium baru juga teknik-teknik yang lain. Melalui semangat ekslporasi inilah akan muncul berbagai macam hal yang berkaitan dengan medium Cat Air dan menjadi lebih kaya.

Friday, April 26, 2013

Perbincangan Gelar antara Kabayan dan Presiden

Presiden kita mulai mempercayai si Kabayan, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasannya.

"Kabayan," katanya suatu hari, "jaman perkembangan Islam dulu setiap pemimpin negara dari beberapa dinasti memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya, Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al- Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, gelar apakah yang pantas untukku yang ada nama Allah semacam itu?"

Cukup sulit, mengingat presiden kita yang satu ini adalah presiden yang kurang tanggap, pelamun, cengeng tapi mudah tersinggung. Tapi tak lama, si Kabayan menemukan jawabannya.
"Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu Billah* saja."

*Aku berlindung kepada Allah (darinya)
Cerita ini disesuaikan dengan kisah sufistik Nasruddin Hoja

Thursday, March 28, 2013

Sketsa Pasar Kembang, Cikini

Gathering & Sharing IS di Sarkem (Pasar Kembang) Cikini yang hampir tak sempat aku ikuti sepenuhnya, karena lagi-lagi seperti biasanya datang telat, membuatku paling enggak, ada sketsa yang aku buat.

Berlatar gedung yang beralih kepemilikan dari Manulife ke tangan institusi ESDM, kios Tri Pulya dan mobil pick up di belakangnya menjadi "model" sketsaku. Seusai anggota IS yang menyempatkan hadir pada Sabtu, 16 Maret lalu itu bubar, aku dan hanya beberapa kawan yang tersisa di sana.

Aku lihat pak Manka Sketsasuka juga bikin sketsa, yang lain berbincang. Seseorang mendekat di sampingku. Ketika kuanggap sketsa ini tak perlu dilanjutkan, karena memang berniat bikin sketsa, seseorang itu bilang, "dikasih nama dong mobil itu, mobil pak Irwan."

"Baik," sahutku. "Tri Pulya," katanya saat aku tanya nama kios itu. Dia tertawa dan melenggang. Aku tahu ternyata kios dan mobil pick up itu miliknya, pak Irwan.

Hanya aku dan pak Manka yang melanjutkan satu sketsa lagi. Mungkin lain waktu bisa aku masukkan di sini.

Cikini, Jakarta.
Pena dan cat air di kertas. 16 Maret 2013.

Wednesday, February 06, 2013

Luthfi Hasan Ishaaq

Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terendus ada keterkaitan dengan kasus impor sapi. 2013

Karikatur Bu Anik

Anik Rakhmawati seorang dosen seni rupa.
Tak ada kecemberutan ketika tahu dan lantas menyikapi karikatur semacam ini. Apalagi menganggap ini sebagai sebuah penghinaan terhadapnya. Ya, justru beliau girang dengan ini, tampak gembira sekali. Aku hanya hormat padanya dengan bikin ini. Ya, seharusnya karikatur tak lagi disikapi sebagai sebuah bentuk pelecehan, tapi bisa menjadi bentuk lain yang sejak awal memang mengandung humor. Aku senang bahwa beliau gembira dengan ini.

Tuesday, February 05, 2013

Diskusi Penanda "Pengganggu" Logika

Berikut adalah apa yang saya tulis mengenai penanda pada gambar, atau bahasa visual di sebuah media jejaring sosial Facebook. Yang bila dipahami dengan logika linier tentu akan berbeda hasilnya. Maka kenapa di sekolah kita mempelajari gaya bahasa (majas dll), semiotika, dalam bahasa Arab ada ilmu Mantiq/Balaghah. Ternyata mendapat beragam respon dan reaksi dari apa yang saya tulis. Dan, terjadi saling berkomentar yang terkesan berdebat. Untuk menghindari perdebatan saya berusaha untuk mengundang kawan-kawan lain untuk barangkali saja memiliki pandangan berbeda, bukan untuk menguatkan atau menyudutkan salah satu pendapat. Inilah komentar-komentar itu.


Toni Malakian shared a photo.
21 hours ago ·
Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan setengah manusia dan setengah hewan. Sama seperti dalam kalimat yang mengandung metafora, kita tak bisa memaknai kalimat itu apa adanya. Pembubuhan atau pemuatan penanda-penanda itu cara "nakal" untuk membuat sesuatu menjadi satire. Dan itu mempermainkan logika kita, maka kita tak bisa hanya cuma mengandalkan logika matematis linier karena logika akan menolak itu.
LHI PKS

Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan setengah manusia dan setengah hewan. Sama seperti dalam kalimat yang mengandung metafora, kita tak bisa memaknai kalimat itu apa adanya. Pembubuhan atau pemuatan penanda-penanda itu cara "nakal" untuk membuat sesuatu menjadi satire. Dan itu mempermainkan logika kita, maka kita tak bisa hanya cuma mengandalkan logika matematis linier karena logika linier akan menolak itu.
LHI PKS

Gambar semacam ini kemudian tak berarti bahwa dia adalah manusia setengah hewan (sapi) dalam arti yang sesungguhnya, yaitu makhluk hidup berbadan seten...See more
2Like · · · · Promote
  • Anik Rakhmawati asiiikk wkwkkk ... lalu jenggot memang punya makna yg pada tempatnya ...
  • Arif Wahyudi hehehe..ketawanya khas
  • Toni Malakian wkwkwkwkwk wah jenggot (lagi) bu Anik Rakhmawati
    Arif Wahyudi
  • Dan Ardana Siswasumarta Ces Pleng kalau aku mengatakannya...
  • Husnawi I-a HAHAHAHAH......................SAPISAPISAPISAPI import
  • Toni Malakian Pak Sabariman Rubianto Sinung seharusnya tak berat
    Pak Dan Ardana Siswasumarta kayak puyer kepala ces pleng
    Pak Husnawi I-a banyakan impor ya
  • Dan Ardana Siswasumarta Karikatur anda bisa menghilangkan rasa pusing orang2 yang merindukan kejujuran dan bersih nya aroma kekotoran di negeri ini mas...
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov kalo kepalanya diganti kepala mas Toni gimana tuh...
  • Toni Malakian haha buatku nggak masalah mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov, kalaupun ada yang bikin begitu ya makasih sekali, tertantang mau bikin sapi berkepalaku? Silakan, dengan senang hati kuterima
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov sebelum menghina orang lain, coba hina dirimu, kakakmu, ibumu, ayahmu, gurumu dam orang2 yg kamu sayangi.... bagaimana? berani....?? apakah masih bisa menghilangkan rasa pusing ??
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov just kidding... cuma mau bilang, kalau sebuah karya yg jadi itu belumlah selesai, karena ttp harus ada pertanggung jawaban kepada publik, dan Tuhan (di akherat kelak)
  • Toni Malakian sebentar mas, nanti kita komen-komenan ya hehe, ada kerjaan revisi sbentar hehehe
  • Toni Malakian  siiip hehe... bahasan disini adalah bagaimana membaca sebuah gambar dengan penandanya/simbol. Bukan dalam tataran untuk hina menghina seseorang. Jauh dari itu. Dirasa itu adalah penghinaan atau pujian maka itu tergantung pada tafsir masing-masing atas gambar itu. Wilayah tafsir dan apresiasi memang luas. Apalagi dalam konteks seni karikatur yang juga sebagai bagian dari dunia kesenirupaan yang penuh dengan tanda, tafsir dan lain-lain. Apalagi dengan konteks jaman dengan apa yang terjadi di dalamnya. Semoga mas Taufiqov memahami konteks apa yg dibahas disini, menyoal bahasa tanda sebagai sesuatu yang "mengganggu" logika linier.

    Dari pengalaman beberapa media pers misalnya. ada beberapa tokoh politik yang dengan senang hati bahkan meminta karikatur tentang dirinya yang digambarkan terdistorsi dengan bentuk binatang (mungkin bagi orang lain ditafsirkan sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya) itu dikirimkan ke rumahnya. Terakhir dengar adalah dari seorang redaktur tv, dia cerita soal Sutan Bhatoegana yg meminta karikatur semacam itu, bahkan dia sangat senang dan tertawa terbahak-bahak dan berbuntut dia ingin memiliki karikatur itu.

    Cerita lagi, Pak Sukardi Rinakit, penulis dan juga beberapa predikat lain, pernah menelponku dan aku tak tahu siapa yg telpon waktu itu karena memang tak punya nomornya, dia perkenalkan diri. Di telpon dia tertawa menertawakan karikatur dirinya dan kedua orang temannya yang digambar olehku. Mungkin bagi orang lain itu hal sangat memalukan, karena sudah mereduksi dan menambahi bentuk-bentuk fisiknya yang jauh dari bentuk proporsi sebenarnya. Tak ada yang salah dengan itu, mereka bahkan sangat setuju, itulah dunia karikatur. Lagi, terakhir menggambar live di sebuah acara, anggap saja seseorang biasa, tampaknya adalah sopir dari tuannya, dia meminta untuk wajahnya "dihancurkan." Ternyata dia tertawa senang tak karuan. Beberapa yang lain tak suka, dan terutama memang di Indonesia. Aku tak perlu membandingkan Indonesia dengan apresiasi di Eropa dan Amerika. Di sana mereka jauh meninggalkan "kekolotan" berpikir kita.

    Artinya itu kembali pada diri sendiri bagaimana menafsirkan itu sebagai sebuah bentuk penghinaan atau bukan. Mereka yang pada saat terkena isu panas pun bahkan tertawa dan ingin memiliki karikatur itu. Ini masalah penafsiran masing-masing. Bagaimana kita mau berkembang kalau gambar yang semacam itu disikapi sebagai sebuah penghinaan yang merupakan bagian dari proses berpikir. Masa kita berpikir saja kok nggak boleh, sampai harus "ditakut-takuti" dengan pertanggungjawaban terhadap Tuhan sekalipun. Pertanggungjawaban terhadap Tuhan itu masing-masing lah, jangan khawatir. Tuhan sudah punya programnya sendiri.Bukan berarti menentang Tuhan loh, atau tak takut. Tapi biarkan akal kita dipergunakan untuk berpikir untuk mencari dan mencari hehehe...

    Beneran loh karikatur di Indonesia itu masih belum se"liar" dan gahar di luaran sana. Masih hangat, kemarin-kemarin karikatur Netanyahu muncul di sebuah media pers di Inggris bertepatan dengan peringatan Holocaust. Padahal mungkin baru sekali itu mereka tampilkan karikatur Netanyahu. Israel tak terima dengan itu. Apa bedanya dengan karikatur-karikatur yang sering memunculkan presiden Assad yg berlumuran darah, tapi publik juga diam saja, artinya ya itu ada masalah penafsiran yang berbeda. Bahkan pembuat karikatur Netanyahu sama sekali tak tahu kalau hari itu adalah hari peringatan Holocaust. Sama sekali pembuatnya tak berpikir bahwa itu untuk hari holocaust, dia bahkan berpendapat bahwa ya begitulah Netanyahu selama ini.

    Dan beneran tak merasa dihina meskipun ada kawan-kawan yg bikin karikaturku bahkan menurut orang lain memalukan. Aku pikir banyak sudah aku mempermalukan diri sendiri kok, hanya saja karena tak tahu malu, jadi nggak merasa malu hehe. Bukan itu, tapi ya karena itu kuanggap bukan sebagai sebuah penghinaan atau pelecehan fisik atau melecehkan ciptaan Tuhan. Kita kembali pada kemampuan diri untuk seberapa jauh memandang sebuah karya. hehe

    Apakah menurut mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov gambar di atas dianggap sebagai sebuah penghinaan?
  • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov bagi saya iya, padahal belum di putuskan LHI itu memang pelakunya.... sayapun sering juga berpikir liar, tapi saya belum punya jawabannya kalau nanti Tuhan meminta pertanggung jawaban karya2 saya yg liar itu..... dan bagi saya proses berpikir yg liar cukup dilakukan dalam inkubasi pikiran dan hati saya, tidak perlu semua orang ikut terlibat dan bagi saya pertanggung jawaban di hadapan Tuhan itu adalah keniscayaan, bukan sekedar ancaman utk menakut2i. Tapi Tuhan juga tidak diktator kok, karena masing2 pekerjaan akan berlaku hukum sebab-akibat, maka kita pun musti percaya ada konsekwensi yg akan kita terima..... just reminding mas...
  • Toni Malakian  Ya saya tak mengingkari perihal soal tuhan ya, soal kebaikan berbalas pahala, kejahatan berbalas neraka. Saya tak mau bermusuhan denganNya bahkan. Atau saya juga tak berarti mendahului keputusan pengadilan atau bahkan keputusan Tuhan. Kalau mas Taufiqov Ipotsky Yuniartonov menganggap itu sebagai sebuah penghinaan, ya itu nggak masalah, itu pendapat, itu jelas tafsir anda. Saya tak harus memaksa anda untuk memahami itu sebagai sesuatu yang lain.

    Sebenarnya paham apa nggak dengan konteks yang dibahas disini? Ini masalah penanda yang "nakal" terhadap logika. Ini bukan masalah dia bersalah atau bukan, dia bangsat atau alim, dia jelek atau baik. Bukan itu Sekali lagi bukan itu

    Coba dimana letaknya kalau saya menyatakan bahwa dia pelakunya, dia yang bersalah?
    Coba dipahami dulu konteksnya.
  • Toni Malakian Baiklah kita undang beberapa kawan-kawan barangkali bisa menambah pengetahuan soal ini. Ini bukan soal mencari yang pro dan kontra, tapi melihat pada sisi yang baiknya, karena ini wilayah diskusi. Baiknya kita juga minta dengar pedapat yang lain.

    Bag
    aimana pendapat kawan-kawan?
    Sabariman Rubianto Sinung

    Djoko Susilo

    Joko Luwarso

    Jan Praba

    Yoncah Yono
  • Sekar Baruna Dalam diri manusia itu ada naluri kebinatangan itu fakta lhoo .. Makanya dalam zodiak Leo misalnya orang yg lahir antara Juli-agustus digambarkan sebagai singa .. Aku rasa penggambaran seniman kalo dikaitkan dengan sisi spiritual dah pasti gak nyambung .. So lihatlah karya sebagai karya saja ..
  • Djoko Susilo ehem ehem.....dalam konteks ilustrasi kiita mengenal beragam bentuk dan cara untuk mewujudkannya.....dalam hal gambar diatas, lepas dari benar atau salah...menurut saya sebagai karya karikatur sudah mengena dengan konteks peristiwanya.....simpel dan ikonik , tak perlu menjelaskan panjang lebar....tentunya akan menimbulkan beragam tafsir, disitulah letak keberhasilan sebuah ilustrasi........
  • Ayun Wahyu semangat nakmas toni! bravo!
  • Toni Malakian Ayun Wahyu Saya undang kawan-kawan bukan karena untuk memperdebatkan atau mencari pro kontra, atau untuk menguatkan pendapat satu sama lain, tapi lebih kepada berdiskusi. Karena ternyata bahwa hal-hal semacam ini masih tabu.
  • Djoko Susilo betul....sebuah ilustrasi memang bisa menimbulkan multitafsir tergantung dari sudut mana membacanya....

    • Sekar Baruna Aku rasa sejak jaman dulu .. Seniman-seniman kartunis melakukan protes atau demo akan hal yg tidak di sukainya melalui karya2nya .. Sebagai contoh ya seperti karya mas Toni ini .. Ini menurutku adalah bentuk protes akan ketidakadilan dan kesewenangan .. Seniman tdk berdemo di jalanan .. Tapi berdemo dgn karya-nya
    • Ayun Wahyu seorang seniman bebas mengekpresikan gejolak dan kegelisahan hatinya melalui karya seni yg dihasilkannya.. pun seperti juga karikatur..illustrasi atau apapun itu... dan orang lain pun bisa dan bebas menafsirkannya atau memberikan apresiasinya... namun satu sudut pandang saja tak cukup untuk memberi 'vonis' terhadap sebuah karya seni.. spt karya di atas...
    • Mufty Fairuz menurut saya bebas bebas saja bro! namun yang jelas siapapun akan menghadapi pengadilan tertinggi kelak tanpa kebohongan karena yang menjadi saksi bukan mulut tapi tangan dan kaki. hehe..
    • Yoncah Yono aku suka gambar diatas, aku melihat dan menyukai gambar bukan dari tafsirnya tapi dari bentuk gambarnya, kesulitannya... terserah nanti tafsirnya seperti apa, karena tiap orang pasti bakal beda penafsiran....
    • Toni Malakian hehehehe Kalaupun saya ganti kepalanya dengan kepala yang lain, kepala saya misalnya, apakah kemudian bahwa disana dikatakan bahwa saya bersalah, atau saya pelakunya? Nah kan tidak, logikanya semacam itu. Coba dipahami dulu apa yang dibahas. Dengan penanda semacam itu apakah itu sebuah penghakiman dia bersalah? Ini hanya masalah membaca tanda bukan dengan keterkaitan peristiwa yang menghangat saat ini? Lalu hanya karena itu peristiwanya seperti itu kemudian penanda-penanda itu dianggap sebagai vonis yg bersangkutan bersalah?

      Saya kira sangat berbahaya ketika gambar semacam ini disikapi sebagai alat untuk memvonis yang bersangkutan. Makanya kita kembali pada konteks penanda itu dengan peristiwa aktual ini.

      Oya, Mufty Fairuz yang beragama Islam tentu mempercayai hukum Tuhan begitu, itu sudah jadi pengetahuan umum dalam konteks Islam. Baiklah sedikit contoh bahkan dalam ayat Al Qur'an ada penanda begini, saya harap anda tahu itu Yadullaha fawqo aydiyhim...Tangan Allah ada di atas tangan mereka. Apakah kita akan menafsirkan bahwa tangan allah seperti tangan yg kita punyai? Kemudian bertengger di atas tangan kita? tentu tidak begitu kan. Nah seperti itulah konteksnya dengan ini, yaitu penanda. Belum pada persoalan hukumnya apalagi pada pengadilan hukum tertinggi Tuhan. Terlalu jauh dan tinggi bahas itu.

      Tenang kawan-kawan hehehe...
    • Toni Malakian Saya hanya mengetengahkan topik ini pada masalah penanda dan logika, bukan pada aspek hukumnya.
    • Yoncah Yono aku pernah lihat karikatur anjing kepala manusia, itu karya orang bule.. terus apa kita berpikir kalau modelnya itu koruptor anjing,.. ternyata modelnya itu justru pencinta anjing... hhe
    • Toni Malakian Saya kira penting bahwa hal-hal semacam itu kita seyogyanya punya wawasan yang lebih luas tak selalu terpatri pada soal penghinaan dll tapi ada kemungkinan-kemungkinan lain seperti yang dibilang mas Yoncah Yono

      Perkembangan-perkembangan pengetahuan kebudayaan semakin meluas, jadi ya kita seharusnya tak perlu mengurung diri dalam tempurung ketabuan semacam itu.
      4 minutes ago · Like




      • Ayun Wahyu ini ada sdikit kemiripan dg gambar suap 10jt saya, ada yg menganggap saya melecehkan perempuan.. weh..lha saya sendiri perempuan mosok mau merendahkan kaum saya sendiri.. saya menggambarkan fenomena.. tapi tafsir orang lain beda.. ya begitulah..
      • Yoncah Yono ternyata perempuan .. aku baru tahu kalau Ayun Wahyu itu perempuan... hahaha
      • Ayun Wahyu wekeke terpaksa ngaku deh. asem ki..
      • Sekar Baruna Biyen aku hampir naksir mbak ayun .. Tak pikir cowok .. Lha ganteng hare .. Bhahahah
      • Mufty Fairuz weitss saya tidak bermaksud berkontroversi dgn anda bro.. saya tenang tenang saja dan tidak mempermasalahkan karyamu.
      • Toni Malakian hahaha... lah siapa yang bilang mau berdebat bro, nggaklah bro Mufty Fairuz masa kaya nggak tahu ente brooo... bukan gitulah maksudku, tadi aku cuma menimpali tentang pengadilan tertinggi itu. Artinya kita tempatkan dulu di kamar lain permasalahan soal...See More
      • Mufty Fairuz ooh.. maksud saya, tentu saja karya tersebut muncul ketika hangat hangatnya kasus beliau diangkat. di pihaknya menganggap jebakan (mungkin bisa dibilang begitu) dan di lain pihak merupakan fakta. ya saya hanya menanggapi ringan dengan komen awal tadi bro! apakah kasus itu benar atau tidak saya ndak tahu..
      • Toni Malakian ya begitu itu, bukan membicarakan itu benar atau bersalah dalam pandangan keputusan hukum. Kasus itu memang benar sebagai sebuah fakta bahwa ada kasus semacam itu. Dia pelaku atau bukan, soal putusan bersalah atau tidak itu bukan wilayah kita, kecuali pengadilan dan perangkat terkait. ya begitulah namanya bahasa tulisan, terkadang perlu dibaca berulang-ulang untuk dipahami maksudnya. hehe
      • Mufty Fairuz apalagi kurang liat yg ijo ijo.. matanya jadi eror di depan kompi terus seperti saya ini..
      • Toni Malakian ya memang baiknya selingan kluyuran lihat yang ijo-ijo juga, maksudku pepohonan dan alam ...
      • Jan Praba beda kaca mata....
        12 minutes ago · Like


        • Taufiqov Ipotsky Yuniartonov memang, akhirnya penafsiran sebuah ilustrasi secara pribadi masing2, saya juga gak memaksa bahwa penafsiran saya yg betul, cuma saya ingin menyampaikan bahwa ada yang tidak sependapat dan tidak sreg dgn penampilan ilustrasi ini....
        • Toni Malakian ya setuju, itu dikembalikan lagi soal memandang karya sebagai apa dan itu wajar saja. Kepala masing-masing berbeda. Yang saya bahas di sini adalah soal logika tanda, majas dll, lebih kepada semiotikanya. Karena sempat disinggung soal aspek hukum dia be...See More
        • 8 hours ago · Unlike · 1


          • Jiwenk Wae saluuuuut untuk penjabarannya, master Toni Malakian! untuk saya, seni adalah dunia kebebasan sesungguhnya, seni tidak mengenal benar dan salah karena dia bukan hukum, yang ada hanya bagus dan...... kurang bagus (hehe..). seni hanya pengungkapan pendapat sang seniman melalui karyanya, bukankah setiap orang bebas berpendapat? adalah kewajaran ada yang pro dan kontra, karena isi setiap kepala dipengaruhi oleh seberapa banyak wawasan yang di dapatnya. namun sangat tidak etis bila sebuah karya seni dihakimi oleh kepicikan berfikir, melihat sesuatu dari sudut sempit sebuah sisi, akan lebih bijak bila kita berusaha berempati pada sisi fikir sang seniman, memahami sesuatu bukan hanya dari apa yang dilihat mata telanjang, tetapi harus dipahami juga apa yang ada dibalik itu. untuk kontek agama, saya kira 'setiap perbuatan itu tergantung niat' dan itu sudah bukan urusan pendapat seseorang, tetapi urusan sipembuat dengan tuhannya. Dari isi diskusi di atas, saya mulai memahami kenapa dunia karikatur di Indonesia kurang berkembang dan diapresiasi publik.
          • Toni Malakian Menarik sekali pendapat yang disampaikan mas Jiwenk Wae .

            Meski dengan kaca mata yang berbeda, seperti yang disampaikan mas Jan Praba, seyogyanya bukan halangan untuk menemukan satu titik poin yang sama. Ibarat masuk ke rumah, tak mesti selalu harus d
            ari pintu depan, bisa juga melalui pintu samping atau belakang, ada banyak jalan, ada banyak kaca mata. Tentu saja bisa memahami jika kaca mata yang dipakai dalam posisi yang benar.

            Menarik bahkan menohok kepala kita dengan pernyataan ini " Dari isi diskusi di atas, saya mulai memahami kenapa dunia karikatur di Indonesia kurang berkembang dan diapresiasi publik."