Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts

Sunday, May 08, 2016

Sketsa Pementasan "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer"



Mula-mula hening beberapa saat seusai Dhyta Caturani, pembawa acara, memberi pengantar bahwa pementasan monolog drama di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Sabtu malam, 7 Mei 2016 segera dimulai. Waktu pukul 20.15. 

Cahaya ruangan meredup. Lalu gelap. Lampu tiba-tiba menyoroti satu pojok belakang penonton. Seorang perempuan berkebaya dan bertopeng putih tampak berdiri di sana. Ia beranjak maju sembari menari pelan. Suaranya menggumam di balik topeng terus menerus hingga ia naik ke panggung melalui tangga di sisi kiri. Sorot lampu terus mengikutinya hingga tepat ia berada dimana sebuah kursi rotan bundar diagonal dengan bantal berwarna merah di atasnya dan satu meja bundar berdiameter 50cm bertaplak kain yang juga berkaki empat telah menungguinya di tengah panggung.

Ia melepas topeng dan menaruhnya di meja, lalu bercerita mengenai dirinya, tepatnya mengenai penderitaannya akibat tuduhan atas hal yang tak pernah ia lakukan dan mengerti. Pagi buta ia dikejutkan dengan penangkapan orang-orang termasuk dirinya oleh tentara. Ia membuka mata dan menemukan sebuah moncong senjata tepat di mukanya. Ia dibawa dan diinterogasi, namun dipaksa menjawab dan mengakui hal yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu lalu membungkuk dengan dan duduk menutupi dadanya memperagakan bagaimana ia dan kawan-kawannya menutup kemaluan dan payudaranya seusai mereka ditelanjangi. Lanjutnya, ia dipaksa untuk mengakui melakukan tembang genjer-genjer. Ia lantas menirukan nyanyian tembang genjer-genjer. Ia terus bercerita bahwa ia tak tahu menahu dengan apa yang dituduhkan.

Sebuah lampu berwarna kekuningan terpancar dari bagian tengah belakang bagian panggung mengarah padanya. Perempuan itu mengambil topeng dan memakainya. Ia berbalik membelakangi penonton dan berjalan ke arah cahaya yang menyorotinya. Ia makin dekat dan dekat hingga ia menutupi lampu kekuningan itu. Lampu kemudian menggelap. Dan benar-benar gelap. Tepuk tangan riuh penonton memecah. Monolog berakhir.
* * * *

Itulah pementasan pembuka dalam peluncuran buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" oleh penulisnya, Faiza Mardzoeki dan monolog drama "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" diperankan Pipien Putri. Acara ini masih dalam rangkaian Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016.

Usai drama monolog, Faiza berikan kenang-kenangan kepada tiga orang; Syamsinar Hasan Raid, Isti, dan Mariana Amiruddin. Syamsinar sekarang berusia 92 tahun, salah seorang penyintas korban 1965. Dengan tongkat di tangan, ia dibantu Isti berdiri dan lalu duduk. Isti salah satu putri Lukman Njoto yang semasa lahir hingga umur 4 tahun hidup bersama ibunya (istri Njoto) di penjara Bukit Duri. Lukman Njoto atau dikenal dengan Njoto adalah seorang menteri Negara pada pemerintahan Soekarno dan ia juga merupakan wakil ketua PKI. Dan, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan.

Banyak perempuan dituduh terlibat dengan gerwani atau terlibat dengan PKI yang kemudian mereka ditangkap, dilecehkan dan dipenjarakan. Mereka ada yang dipenjarakan di penjara perempuan Bukit Duri. Yang paling banyak adalah di kamp penjara Plantungan. Banyak perempuan asal penjara Bukit Duri dipindahkan ke kamp Plantungan.

Kamp Plantungan terletak di bagian selatan kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia bekas rumah sakit para penderita lepra yang diisolasi di desa ini. Ia dibangun pada 1870. Saat penjajahan Jepang ia pernah dipakai tempat penampungan Jugun Ianfu (perempuan korban perbudakan untuk melayani kebutuhan seks tentara Jepang) yang dikirim kembali dari luar pulau Jawa. Pada 1970-an ia digunakan untuk menampung eks-tapol perempuan. Ia adalah Pulau Burunya eks-tapol perempuan. Penulis buku "Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer" melakukan riset kurang lebih dua tahun, termasuk mengunjungi kamp Plantungan.

Sunday, January 17, 2016

Kartun Nakal | Naughty Cartoon

Kartun karya Danny Shanahan

Danny Shanahan bekerja hampir 30 tahun di majalah The New Yorker, sebuah majalah Amerika yang khas berilustrasi kartun penuh. Selama 25 tahun ia menempati posisi salah satu staf kartunis. Meski demikian, karya-karyanya beserta karya kartunis lainnya tak serta merta dimuat. Dalam sekali terbit satu edisi mingguan, ada 500 ratusan lebih kartun yang masuk ke redaksi. Biasanya hanya 20 kartun yang diseleksi untuk dipajang. Salah satunya kartun ini. Wajar saja dengan jumlah sebanyak itu, meski sebuah kartun dengan ide bagus, lucu dan nakal akan menghadapi persaingan ide yang sama dengan ratusan lainnya yang juga kartunis reguler/biasa mengirim.


Kartun-kartun yang tak masuk seleksi dari mulai yang paling lucu, dungu, tolol, nakal, tidak dibuang di tempat sampah. Mereka dikumpulkan dan dipilih untuk diterbitkan menjadi buku. Isinya, tentu, tak hanya kartun-kartun Shanahan, tapi juga kartun dari kartunis-kartunis bagus lainnya. 


Adalah Matthew Diffee, seorang penulis yang juga kartunis kontributor The New Yorker. Banyak karyanya yang tampil di majalah tersebut dan majalah Texas Monthly. Ia yang mengumpulkan dan menamai koleksi kartun-kartun "buangan" tersebut menjadi buku "The Best of the Rejection Collection: 293 Cartoons That Were Too Dumb, Too Dark, or Too Naughty for The New Yorker." Ia juga menyunting dua seri buku koleksi kartun yang sama; The Rejection Collection Cartoons You Never Saw, and Never Will See, in The New Yorker dan The Rejection Collection Vol. 2 The Cream of the Crap. Sayangnya buku-buku ini, seperti buku bergambar yang diimpor lainnya, belum banyak ditemui di toko buku di Indonesia, kecuali hanya sedikit saja. Dan, MAHAL. :D


Apa yang dilakukan Diffee, sekilas saya pikir, adalah sebuah ikhtiar/usaha menyelamatkan kartun itu sendiri, ide, menghindari plagiasi (penjiplakan), repetisi (pengulangan) ide, menjadi arsip yang berharga dan tentu menjadi kekuatan daya hidup; humor.


Sunday, May 25, 2014

Ilustrasi Sampul Buku


Jum'at, 23 Mei 2014, lalu saya menyempatkan kunjungi JakartaBookFair 2014 di Istora Senayan, Jakarta. Jum'at  adalah hari pertama pembukaan Jakarta Book Fair 2014.

Di ruang Kenanga 3, saya lihat ilustrasi di sampul sebuah buku. Tentu saya tak asing dengan itu. Ada nama penanda siapa pembuatnya. Nama saya ada di bawah pojok kanan gambar. Entah saya tak tahu darimana ilustrasi itu bisa ada di sampul. Saya hanya tak menyangka menemukannya di tumpukan buku. 




Beberapa tahun lalu, sempat saya diberi informasi dan melihat sendiri salah satu ilustrasi saya mengenai kampanye pemilihan umum juga dipakai sebuah majalah politik. Hanya saja "credit title" karya ditulis keliru darimana ia didapatkan.

Drs. Jeni Akmal menulis buku BINTANG REDUP DI KALA KILAT DATANG, kegelisahan intelektual seorang serdadu.

Ia melihat bahwa intelektualitas masih seringkali dianggap belum mumpuni jika tidak tenar, katakanlah keselebritian. Berkaca dari kasus briptu Norman, misalnya, ia memandang keprofesionalitasan sebagai serdadu dikalahkan oleh dunia keselebritian yang ia anggap dan gambarkan sebagai bintang redup.

Jeni Akmal berpangkat Mayor. Ia mantan serdadu. Pangkat Serda ia dapat setelah lulus wamil (Wajib Militer). Terakhir kali ia berpangkat Mayor.

A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026

Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...