Monday, October 20, 2014

Ambiguitas Harga Tiket Kereta Api


Pendingin udara gerbong kereta berfungsi baik pada jam pemberangkatan awal pagi kereta Ekonomi AC Menoreh, Jum’at 17 Oktober 2014 jurusan Semarang - Jakarta. Menjelang pukul 07.50-an penumpang mulai memasuki gerbong. Kereta berangkat pukul 08.00. Seorang ibu datang menemukan nomor dan menempati kursinya, bertepatan aku datang. Ia angkat kardus ke tempat penyimpanan bagasi. “Sudah. Kuat,” sahutnya saat aku tanya apakah itu berat. Aku taruh ranselku di sebelah kardusnya. Kami duduk bersebelahan.

Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.

“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.

Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.

Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.

Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.

Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.

Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.

Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.


1 comment:

  1. sekedar info, setelah sy tanyakan ke petugas yg berwenang di PJKA perbedaan itu ternyata gerbong kereta itu ada yg kepunyaan DISHUB dan PJKA, yg pnya DISHUB lebih mahal karena kursinya seat 2-2, sedangkan PJKA 2-3. tapi pas ditanya kenapa harga beda dalam 1 gerbang, petugas itu mulai senyum kecut.. tanda bahwa sy ga boleh nanya2 lagi... hehehehehe...

    ReplyDelete