Friday, October 31, 2014
Friday, October 24, 2014
Revolusi Mental
Foto: salah satu karya seni patung dalam pameran Trienal "VERSI" di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran dibuka Rabu 22 Oktober lalu, dan akan terus dipamerkan beberapa hari ke depan.
Barangkali kita ingat cerita batu yang berlubang sebab tetes demi tetes air yang terjatuh diatasnya, yang barangkali telah berlangsung sekian puluh bahkan ratusan tahun.
Jargon Revolusi Mental kental kaitannya dengan babak baru kemenangan kepemimpinan pemerintahan yang baru saja dimulai. Revolusi Mental, jika dipahami benar-benar, tidak mudah hanya memerlukan waktu singkat apalagi hanya dengan 5 tahun,10 tahun, 15 tahun dan seterusnya.
Contoh saja. Jika kita pergi ke satu tempat kita akan lihat pada bagaimana keruwetan akibat pola pikir pengguna jalan, misal saja pengendara kendaraan bermotor dan lain-lain, atau pengguna kereta. Mengamati kekacauan mereka barang sejenak, paling tidak kita akan dapat menyimpulkan meski tak banyak. Keruwetan itu produk kebiasaan pola pikir yang dilakukan selama bertahun-tahun.
Lalu bagaimana mengharapkan kebiasaan orang yang dilakukan selama
bertahun-tahun bahkan puluhan tahun dapat diubah dalam sekejap
(revolusi). Tentu saja dalam kaitan pemerintahan yang baru, Revolusi
Mental bukan jaminan akan sesegera terwujud. Adalah pemerintah dan
rakyat yang saling bergerak sinergi satu sama lain. Pemerintah mendukung
dan menyediakan sarana prasarana, membenahi aparaturnya dan lain
sebagainya sementara rakyat juga perlu berbenah diri, mengubah kebiasaan
buruk.
Tentu bukan hanya 5 tahun, 10 tahun untuk mengobati "penyakit" kebiasaan mental. Dalam bahasa ungkap Gus Mus (KH. A. Musthofa Bisri), kepala semua orang harus dicopot dan diganti dengan yang baru karena kepala yang lama sudah rusak.
Tentu bukan hanya 5 tahun, 10 tahun untuk mengobati "penyakit" kebiasaan mental. Dalam bahasa ungkap Gus Mus (KH. A. Musthofa Bisri), kepala semua orang harus dicopot dan diganti dengan yang baru karena kepala yang lama sudah rusak.
Monday, October 20, 2014
Ambiguitas Harga Tiket Kereta Api
Pendingin
udara gerbong kereta berfungsi baik pada jam pemberangkatan awal pagi
kereta Ekonomi AC Menoreh, Jum’at 17 Oktober 2014 jurusan Semarang -
Jakarta. Menjelang pukul 07.50-an penumpang mulai memasuki gerbong.
Kereta berangkat pukul 08.00. Seorang ibu datang menemukan nomor dan
menempati kursinya, bertepatan aku datang. Ia angkat kardus ke tempat
penyimpanan bagasi. “Sudah. Kuat,” sahutnya saat aku tanya apakah itu
berat. Aku taruh ranselku di sebelah kardusnya. Kami duduk bersebelahan.
Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.
“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.
Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.
Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.
Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.
Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.
Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.
Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.
Kami saling sapa dan mulai berbincang sembari menunggu kereta berangkat. “wah, petugas kereta sekarang muda-muda. Lihat itu, mereka ada upacara segala sebelum berangkat,” katanya. Aku melongok ke jendela. Aku lihat seorang polsuska (Polisi Khusus Kereta) berbaret oranye, pegawai pembersih dan beberapa lainnya berbaris dipimpin petugas penarik karcis. Mereka berdoa. Mereka muda. Dalam hati, ah mereka seusiaku.
“Dapat tiket (kereta) kapan, mas?” tanyanya. Aku jawab kemarin. Ia membelalak. Ia dapat tiket justru satu minggu sebelumnya setelah petugas pelayanan tiket memberi tahu bahwa kereta yang pagi itu kami tumpangi sudah hampir habis dan hanya tinggal satu tiket yang sekarang ia gunakan seharga Rp 155.000,-. Aku bilang tiketku juga dengan harga yang sama.
Aku cerita bahwa kemarin aku berencana beli tiket ekonomi yang seharga Rp 50.000,-an untuk keberangkatan malam sebelumnya. Hanya saja tampaknya sudah habis seperti tertera pada layar monitor. Aku pilih kereta ekonomi AC lain yang seharga Rp 100.000.-an. Aku diberitahu pelayan hanya ada tiket harga Rp 215.000,- untuk jenis kereta Ekonomi AC dengan waktu berangkat malam. Aku menolak itu karena yang aku cari tiket yang termurah. Aku bilang apakah besok ada tiket yang Rp 100.00,-an. Pelayan bilang ada tiket harga Rp 155.000,-. Aku membelinya, meskipun aku pikir itu masih belum masuk akal.
Pada beberapa kereta kategori Ekonomi AC ada perbedaan besaran harga tiket yang entah itu berdasarkan apa aku masih tak mengerti. Kereta yang sama, gerbong yang sama, tapi harganya berbeda. Untuk kereta Ekonomi AC Menoreh dari Rp 120.000, Rp 155.000, Rp 185.000, dan Rp 215.000. Informasi ini bisa dilihat pada website tiket.kereta-api.co.id. Aku coba cari informasi seperti tampak pada gambar yang aku unggah. Demikian juga ini terjadi pada beberapa jenis pelayanan kereta lainnya.
Aku sempat pergi iseng untuk lihat toilet saat kereta berhenti di Tegal. Toilet sedang dipakai penumpang. Beberapa orang merokok di dekat pintu, hilangkan jenuh. Salah seorang menanyaiku soal berapa harga tiketku. ”Tuh kan, beda-beda harganya, saya cuma Rp125.000, bapak ini malah Rp 120.000,-” jelasnya. Mereka juga tak mengerti dengan perbedaan harga ini, padahal jelas-jelas kami berada dalam gerbong yang sama. Mereka duduk dengan nomor yang sama hanya saja di seberang kursiku. Seorang petugas datang dan meminta mereka mematikan rokok.
Aku ceritakan percakapanan dengan bapak-bapak tadi dan ibu disampingku kesal. "Kok bisa kacau begini," gerutunya. Ia juga tak mengerti dengan perbedaan harga padahal di kereta yang sama.
Kereta sudah melaju beberapa jam jauh meninggalkan stasiun pemberangkatan. Seorang penumpang meminta seorang petugas yang kebetulan lewat gerbong kami untuk menambah suhu dingin ruangan. “Sudah maksimal,” kata petugas. Ia berlalu. Beberapa penumpang merasa pendingin tak menghambat terik matahari.
Aku amati ini kereta baru. Plastik pembungkus kursi masih belum dilepas. Atap gerbong juga didesain untuk pendingin ruangan. Yang membuat penasaran dan saling pandang antar penumpang adalah terdengar beberapa kali suara bebatuan berbenturan dengan bagian bawah gerbong kereta dan suaranya keras sekali. Tidak seperti biasanya. Dari segi waktu kereta ini tiba lebih awal dari kereta biasa yang aku tumpangi pada jam yang sama. Kereta tiba satu jam lebih awal. Pukul 14.20-an kereta berhenti dan kami bergegas turun.
Barangkali ada kawan-kawan yang bekerja pada dinas perhubungan khususnya perkereta api-an bisa memberitahu perbedaan harga semacam ini. Tentu itu akan sangat membantu untuk kejelasan.

Friday, October 03, 2014
Subscribe to:
Comments (Atom)
A Glimpse of The Journey Idul Fitri 2026
Sabtu pagi, 21 Maret 2026, pukul 6:00 WIB setelah berkendara santai lebih dari 4 jam sejak pukul 01:30 WIB, aku berhenti sejenak di sebuah j...
-
BIENNALE JAKARTA 2006 179 Pengurutan Nama di bawah ini berdasarkan Abjad ABAS ALIBASYAH, Jakarta Pelukis Abas Alibasyah, lahir di Purwakarta...
-
On Dec. 10, 2019 the first female flogger whipped a woman in public, in Banda Aceh.





