"Menggambar sebuah objek dengan
spontan dan tak punya kewajiban untuk
mempermanis gambar tersebut rasanya
menjadi kebebasan mutlak mereka."
Sketcher atau penyeket, yang tergabung dalam Indonesia’s Sketchers, memang mengamini kebebasan
tersebut. Bagaimana tidak, jika kebanyakan hasil dari menggambar akan lebih menarik perhatian dan disebut indah ketika goresan gambar tersebut tertata dengan rapi, disketsa, keindahan itu terlihat bila sebuah gambar dengan garis-garis yang agak karutmarut berhasil menunjukkan
ciri ataupun sisi humanis dari sebuah objek.
Bebas, spontan, dan tidak membutuhkan keakuratan garis barangkali menjadi paham yang digunakan oleh para penyeket. Mensketsa objek nyata yang ada di hadapan mereka dalam beberapa menit dilakukan oleh para penyeket dengan menggunakan paham tersebut.
nasoke.jpg) |
| Kawasan Pasar Antik, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. |
Koordinator Program Indonesia’s Sketchers Nashir Setiawan mengatakan, meski spontan dan bebas,sketsa yang dilakukan kelompoknya tersebut memang tidak dilakukan lewat objek yang hanya ada di khayalan atau tidak nyata.”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan. Makanya, digambarnya pun langsung pakai pen. Jika ada garis yang salah atau kurang akurat, tidak masalah jika langsung ditabrak. Tapi yang pasti sketsa itu hasil dari gambar melihat langsung sebuah objek,bukan dari foto ataupun imajiner,”tuturnya.
Penyeket yang juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu menceritakan bahwa aktivitas yang dilakukan Indonesia’s Sketchers selama ini memang tidak memiliki kriteria khusus dalam penentuan objek. Meski begitu, program bernama Sketsa Bersama yang dilakukan satu bulan sekali itu biasa memilih tempat tempat pusat keramaian.
”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan.
Makanya, digambarnya pun
langsung pakai pen.”
NASHIR SETIAWAN
[Koordinator Program
Indonesia’s Sketchers]
Sebelum menggelar Sketsa Bersama, mereka terlebih dahulu berkumpul dan
berembuk untuk menentukan lokasi menggambar mereka. ”Biasanya kalau
sudah ketemu lokasinya, kita akan menentukan objek apa dari sekitar
tempat tersebut yang dapat digambar. Tidak semua bisa digambar karena
yang digambar itu harus objek yang bisa mencirikan atau salah satu
keunikan wilayah tersebut,”katanya.
Nashir mengatakan, tempat
wisata ramai menjadi salah satu tempat yang tepat untuk gelaran rutin
mereka. ”Kita pilih tempat yang lebih terbuka. Ini juga agar dapat
diapresiasi oleh orang lain,” imbuhnya. Pada saat itulah, tambah Nashir,
Indonesia’s Sketchers kemudian menemukan orangorang baru yang tertarik
dengan dunia gambar-menggambar ini. Tidak sampai di situ,kegiatan
mensketsa ini pun kemudian mempersilakan para anggota Indonesia’s
Sketchers atau masyarakat yang baru bergabung untuk menggelar hasil
sketsa mereka.
Sketsa-sketsa tersebut digelar bukan untuk
dijual, melainkan dipajang agar dapat langsung dikomentari apakah masih
kurang atau sudah bagus. Kegiatan para anggota Indonesia’s Sketchers ini
juga dapat dilihat dengan mudah di ruang seni terbuka seperti Taman
Suropati ataupun Kota Tua. Mereka lebih sering mensketsa bangunan atau
landscape.
 |
| Pertunjukan Wayang kulit di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. |
Menurut Nashir,objek tersebut dapat disketsa dengan
lebih cepat dibandingkan menggunakan manusia sebagai objek. ”Memang
kalau bertemu itu kita lebih banyak menggambar landscape karena lebih
cepat. Objek yang stay dan tidak bergerak, lebih membutuhkan sedikit
waktu. Sedangkan menggambar orang itu pasti akan lebih banyak waktu
karena mereka bergerak,”katanya.
Salah satu anggota Indonesia’s
Sketchers Toni Malakian menceritakan pada awalnya sebuah sketsa dibuat
tanpa perlu menggunakan teknik. Sulit mungkin,namun ada kesenangan
tersendiri yang dihasilkan dari sketsa-sketsa tersebut. ”Untuk awalnya
sebenarnya enggak perlu pakai teknik. Kita pakai intuisi aja, pakai
feeling, dan kejelian mengamati,” katanya.
Dari sana, kata Toni,
penyeket akan mengasah kepekaannya dalam mengamati sebuah objek. Merekam
objek dengan cepat dalam ingatan adalah hal yang penting. ”Saya sering
menggambar orang.Lagi asyikasyiknya bikin sketsa, eh dia pergi. Tapi,
itulah asyiknya. Karena kita sudah menghafal bentuk kaki atau elemen
lainnya, jadi bisa kita teruskan sendiri,” akunya.
Indonesia’s
Sketchers awalnya dibentuk karena keinginan seorang wanita bernama Atit
Dwi Indarty, 27, yang merasa penyeket di Indonesia tidak memiliki wadah
sendiri. Padahal di dunia sudah ada Urban Sketchers yang anggotanya
terdiri atas para penyeket dari seluruh dunia. Usut punya usut, Atit
akhirnya bertemu Dhar Chedar,43,yang merupakan kontributor Urban
Sketchers di Indonesia.
Dari sanalah keduanya mengumpulkan para
penyeket Indonesia dalam satu komunitas dan akhirnya terbentuk pada
Agustus 2009. Nashir mengatakan bahwa Indonesia’s Sketchers saat ini
sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota, baik yang aktif ataupun
tidak aktif dari seluruh Indonesia.
Di Jakarta ada sekitar 1.500
orang,yang aktif di angka 30-50 orang. Dalam waktu dekat ini, Nashir
mengatakan, Indonesia’s Sketchers berencana bertemu untuk membahas
program lebih lanjut yang akan mereka lakukan. ●
Harian Seputar Indonesia | Reporter: Megiza
*Liputan
Indonesia's Sketchers di Harian Seputar Indonesia.