Monday, December 31, 2012

Sajak Tahun Baru Gus Mus

(Sketsa: Pedagang sate Madura. Aku bikin sketsa ini pukul 7 lewat malam tadi. Dermatograph di kertas)

SELAMAT TAHUN BARU KAWAN
Oleh: Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri)


Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisabNya
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?

Muslimkah, mukminin, muttaqin, khalifah Allah, umat Muhammadkah kita?
Khoira ummatin kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain
Atau bahkan lebih rendah lagi.
Hanya budak-budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan masa
Dan tiba-tiba buas dan binal justru disaat sendiri bersamaNya

Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug
Atau pernyataan setia pegawai rendah aja
Kosong tak berdaya

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai dari pada lamunan 1000 anak muda
Doa kita sesudahnya justru lebih serius, kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat
Ketika datang lapar atau haus, kita pun manggut-manggut ...
Oh, beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih dari berat terasa
Dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran
Upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri
Mencari pengalaman spiritual dan material
Membuang uang kecil dan dosa besar
Lalu pulang membawa label suci asli Made in Saudi, "HAJI"

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita bersamaNya
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifahnya
Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita,
Paling tidak kita semakin pintar berdalih
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian

Pendek kata demi semua yang baik, halallah semua sampai pun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendekiawan dan seniman
Para mubaligh dan kiai, penyambung lidah Nabi

Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka diatas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

Kawan, selamat Tahun Baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk, memandang diri sendiri

Saturday, December 29, 2012

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA - WS Rendra

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA
Oleh :

W.S. Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya :
“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba.
Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari
matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Jakarta 1 Desember 1977

Sunday, December 16, 2012

Video Bikin karikatur Dalai Lama

Going to school


Tragedi penembakan di sekolah anak-anak kembali terjadi di Amerika, 14 Desember 2012, Jumat pagi waktu setempat. 20 anak siswa Elementary Sandy Hook School, Connecticut menjadi korban tewas seketika dan beberapa orang dewasa. Adam Lanza (20) pelakunya.

Sekolah serasa menjadi tempat menakutkan, tak nyaman, untuk belajar dan bermain sekalipun. Bercermin pada lingkungan sekitar kita, di Indonesia tak hanya di sekolah, ruang publik kerap menjadi arena tawuran antar pelajar. Petuah-petuah guru (meski tak semuanya) seakan tak lagi memiliki kekuatan untuk merangsang pola pikir anak-anak. Guru (nampaknya) lebih memilih berperan sebagai pengajar ketimbang pendidik. Kurikulum juga tak mengubah hal lebih baik, kecuali semakin gencar mengejar akselerasi standar-standar empirik internasional dengan semakin menaikkan batas bawah nilai UAN yang meninggi. Kurikulum sudah abai pada porsi pembentukan watak dan nilai-nilai humanis. Juga anak-anak mengalami kekosongan atas tauladan-tauladan yang baik dari lingkungan sekitar, sampai pada pemimpin tertinggi.

Namun lingkungan keluarga justru yang paling mempengaruhi itu. Faktor kesejahteraan keluarga (menengah ke bawah) menjadi hal yang sungguh menyibukkan orang tua untuk mendapatkan kelayakan hidup dan pendidikan anak-anaknya. Sayangnya anak-anak luput dari perhatian mereka. Sebegitu kompleks.

Pendekatan melalui seni budaya patut didukung untuk lebih memiliki porsi besar dalam kurikulum baik oleh pemerintah pada taraf pendidikan nasional atau pun dalam lingkup kecil dalam sebuah keluarga.

Tuesday, December 11, 2012

Monday, December 10, 2012

Hak Asasi Disabilitas


Pemahaman tentang memiliki bakat dan (terutama) tidak memiliki bakat, atau keterbatasan sebagai benteng kokoh yang tak bisa dijebol sering menghambat, menurunkan, dan mematahkan semangat untuk terus berproses. Apapun proses itu. Berikut adalah salah satu contoh bahwa benteng-benteng keterbatasan itu tak berpengaruh bagi para anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) untuk mel akukan apa yang mereka ingin. Mereka adalah Disabilitas, salah satu bagian dari masyarakat. Disabilitas kata yang lebih halus dari penyandang cacat baik tuna rungu, tuna netra maupun lainnya. Di Pondok Indah Mall, mereka hadir untuk peringati hari HAM, terutama bagi Difabilitas untuk mendapatkan persamaannya dalam berbagai hal, pekerjaan, fasilitas umum dan lainnya, sebagai sesama manusia.