Monday, December 14, 2015

Thursday, December 03, 2015

Tentara dan Polisi (di Papua)

"Jadilah tentara dan polisi yang baik. Jangan sewenang-wenang. Biar dia sudah tua, warga akan tetap kasih hormat," ujar seorang lelaki Papua usia 40 tahunan.
=========================================================
Sore itu dengan seorang kawan, aku berkeliling ke kampung-kampung, keluar masuk hutan. Di dalam perjalanan hendak pulang kami menawari tumpangan kepada seorang bapak yang hendak berjalan kaki ke rumahnya yang jauh. Kebetulan kami satu arah. Sudah sore. Usianya sekitar 60-an tahun.
Di dalam perjalanan kami bicara-bicara. Ia bilang bahwa ia dulu anggota polisi. Kesatuan Brimob. Karena anggota brimob ditugaskan di kota, ia jarang bisa berkumpul bersama keluarga di kampung. Ia lalu diberi pilihan bisa pindah tugas dekat dengan keluarga seperti keinginannya, asal ia keluar dari anggota brimob. Ia lalu memilih kembali menjadi polisi biasa, polisi atur lalu lintas sehingga ia bisa bertugas di tempat dekat keluarga. Ia lalu pensiun.
Kami lalu mampir ke rumah seseorang yang kami kenal. Kami bicara soal tanaman kebun di samping halaman rumahnya. Soal memarut kelapa buat bikin minyak obat. Soal bikin pupuk buat kasih subur tanaman. Aku lihat tanaman daun bawangnya tumbuh bagus. Bapak pensiunan polisi juga ikut bercengkerama bersama. Semakin sore ia lalu berpamitan buat melanjutkan perjalanan pulang dengan jalan kaki.
Bapak rumah yang kami sambangi itu lalu bercerita soal si bapak pensiunan polisi. Dulu bapak tadi itu polisi, anggota brimob. Dia sama kita punya kulit dan rambut. Dia orang Papua juga. Tapi saat jadi anggota brimob perlakuannya kasar sama warganya sendiri. Dia polisi jahat. Suka pukul-pukul orang tanpa tahu apa alasannya. Setelah dia pensiun, warga tak pernah menghormatinya sama sekali. Dibiarkan saja. Tidak dianggap. Kasihan.
"Jadilah tentara dan polisi yang baik. Jangan sewenang-wenang. Biar dia sudah tua, warga akan tetap kasih hormat," katanya.