Sunday, November 24, 2013

Drawing Dasar/Basic Drawing


Menggambar Drawing Dasar/Basic Drawing.

Menggambar, bagi yang merasa masih belum bisa, dirasakan begitu sangat susah untuk mempelajarinya. Tapi ketika melihat seseorang menggambar nampak begitu mudah dan menyenangkan saat seseorang itu mengerjakannya. Terutama melihat hasil akhir dari sebuah karya gambar/lukisan/produk kita sering terkagum-kagum. Melihatnya bisa juga timbul keheranan (dan tentu jangan sampai menjadi pening) hanya karena kita terlalu berpikir keras bagaimana cara membuatnya tapi tak menemukan jawabannya. 

Ada persoalan pola pikir/mind set.  Barangkali begini:

Dalam keseharian, pengalaman visual kita hanya terlalu sering dimanjakan oleh citra visual produk-produk yang sudah jadi. Sangat jarang kita (mau) berpikir bahwa produk jadi itu juga mengalami proses. Meski masih dalam tahap pikiran, kita hendaknya melihat dan memahami itu bahwa produk itu memiliki tahapan proses. Misal saja produk rumah tangga, alat elektronik, kemacetan, dan lain sebagainya. 

Kemacetan? Ya, kemacetan adalah sebuah produk. Bisa jadi itu hasil akhir atau masih tahap proses untuk hasil akhir yang lebih buruk. Ketika melihat (atau berada di dalam) kemacetan, kita mengeluh tanpa mencoba mengurai proses kenapa ada kemacetan. Jika sadar, kita akan tanggap untuk mencoba berpikir mencari akar-akarnya, tahapan-tahapannya dan lain-lain. Ada banyak kemungkinan; setiap orang ingin menaiki kendaraan masing-masing (ego besar), bertambahnya angkutan pribadi, kurang layaknya angkutan umum, tak bertambahnya infrastruktur, buruknya infrastruktur, kecelakaan mendadak, iring-iringan pejabat, lampu lalu lintas mati dan kemungkinan-kemungkinan lain. Nah, itu adalah rangkaian yang ketika berakumulasi menjadi sebuah rentetan proses timbulnya kemacetan. Ini hanya analogi terkait produk tadi.

Saat melihat produk-produk jadi itulah kita tak berpikir bahwa produk itu mengalami proses desain yang bisa saja meliputi tahap sketsa, drawing, sampai pada tahap pembentukan tiga dimensinya dalam bentuk hasil akhir. Produk telepon genggam, laptop, meja, kursi, juga dibuat berdasar sketsa (pola/rancangan) dan proses seterusnya. Termasuk film, juga ada story board (sketsa adegan yang berbentuk panel-panel bercerita). Kita memang jarang melihat proses-proses itu, apalagi memang secara umum tak dipublikasikan. Contoh, seperti belajar mengendarai sepeda, kita akan butuh banyak latihan, teknik, keseimbangan dan lain-lain. Paling tidak, kita memahami bahwa semua itu memiliki proses. Dan tentu kita akan mengalami proses untuk bisa menggambar. 

Ada masalah pemahaman pola pikir kita yang barangkali sering luput bahwa seakan semuanya tak memiliki proses. Ini bisa dikarenakan seringnya kita disuguhi citra visual akhir yang memukau. Yang terpenting lagi kita memang senang dan mau melakukannya. Karena senang itulah kadang-kadang kita lupa bahwa kita sedang berproses. Kita begitu menikmatinya. 

Itu soal pola pikir, selanjutnya diharapkan menikmati proses yang menyenangkan itu.



Contoh gambar di atas adalah menggambar bentuk. 
 => Pemahaman alat. Sketsa, perspektif, pemahaman pencahayaan, arsir, dimensi, dan lain-lain. Untuk gambar lebih besar/detil dari coret-coretan ini bisa klik di sini: GAMBAR.

Lalu bagaimana prosesnya? Alat bisa berupa apapun; pensil, bolpen, kertas, karton, dan lain-lain. Alat itu hanya medium, gunakan apa yang kita punya. Tidak punya apa-apa? Maka itu keuntungan kita untuk  terus berpikir bagaimana caranya untuk membuat sesuatu menjadi alat kita. Jika kita punya beberapa, kita bisa gunakan beberapa alat itu.

Kita bisa memulai dengan menggores-gores sederhana, entah bentuk apapun. Nikmati pengalaman menggores itu. Nikmat, apanya yang nikmat? Kita bisa mempermainkan tekanan ringan, sedang, dan kuat saat menggores. Juga, mempermainkan kecepatan, sedang dan lambat guratan-guratan itu. Termasuk pula gaya memegang alat itu. Kita lakukan terus menerus. Kita bisa amati dan pelajari garis dan coretan-coretan itu lalu bandingkan pada saat kita menggores. Termasuk goresan dari penggunaan alat yang berbeda itu. Ketika tekanan goresan dikuatkan, maka hasilnya akan berbeda dengan saat menggores dengan tekanan ringan. Itu akan membentuk pendapat/kesimpulan sederhana kita tentang dunia gores-menggores dari pengalaman sederhana itu. Sampai disini, kalau kita menikmatinya, kita sudah mulai lupa bahwa kita sedang mencapai satu tahapan proses. 

Selanjutnya kita bisa menggambar benda-benda di sekitar kita, tentu bisa dengan bentuk sederhana. Kita amati dan mencoba pahami bentuknya, mana yang lebih gelap, mana yang lebih terang dan seterusnya. Minimal setiap hari kita mencoba membuat goresan-goresan. Kita terapkan seperti tiap kali kita makan setiap hari.

Dari penggunaan alat yang berbeda itu akan memberi kita kesimpulan-kesimpulan sementara yang sederhana. Itu bisa terkait dengan karakteristiknya. Alat-alat/medium berbeda itu dibuat dengan bahan berbeda pula sehingga berkemungkinan besar akan menghasilkan efek yang berbeda pula.



Dibuat dengan menggunakan pensil, charcoal, dan pastel di kertas bertekstur. Lalu adakah perbedaan karakteristik material itu? Yang berwarna itu seperti kapur adalah pastel, sementara yang hitam pekat dan lunak adalah charcoal, dan garis-garis dengan kehitaman sedang dan sedikit mengkilat adalah pensil EB (setara dengan 7B). Untuk gambar lebih besar bisa klik kanan pada gambar, lalu pilih "Open Link in New Tab".

"Drawing" diartikan sebagai "gambar/menggambar". Namun, dalam terminologi kesenirupaan "drawing" tak sekadar sebagai gambar, namun ia menjangkau lebih dari sekadar "gambar" itu. Drawing merupakan salah satu bentuk ekspresi seni rupa yang menggunakan (sejumlah) alat gambar dengan yang berkaitan dengan goresan garis dan bidang. Alat gores ini biasanya berupa pensil grafit (karbon, salah satunya secara umum dikenal jenis pensil B=Black (2B, 3B, 4B dst.), HB=Hard Black dan lain-lain), tinta dan pena, charcoal, kapur, pastel, akrilik, penghapus dan beberapa lainnya. Selain itu material yang lain untuk medium drawing biasanya kertas, karton, kanvas, plastik, papan kayu dan lainnya.

Sementara itu terlebih dulu, selanjutnya bisa disumbang lagi, eh disambung lagi.

Tuesday, November 12, 2013

Gambar Nusantara/Hindia Belanda

Demi memberi informasi kepada kawan yang bertanya di media sosial Facebook terkait siapa ilustrator yang sering bikin ilustrasi nusantara. Lalu terutama ilustrator Belanda pada kurun tahun 1700-an. Untuk menanggapi secara pas akan lebih sulit dalam waktu singkat. Perlu waktu untuk riset. Namun segera saya buka buku karya seorang serdadu Inggris yang setelah bertugas di pulau Jawa pada tahun 1813. Berikut dua gambar yang saya unggah.


Gambar prosesi pemakaman seorang kapitan Batavia keturunan China, Oei Yoen Koa. Digambar oleh seniman dari Rach School pada tahun 1784. Johannes Rach, seniman asal Denmark, tinggal dan bekerja di Batavia sebagai pegawai perusahaan Hindia Belanda Timur Belanda antara tahun 1762 - 1783. Ia dan bersama rekan-rekannya banyak membuat gambar tentang Hindia Belanda.




Gambar berjudul "Semarang from the Land Side" digambar oleh Joseph Jeakes. Joseph Jeakes seorang pelukis yang juga ahli tatah asal London.  Gambar-gambarnya ia pamerkan di Royal Academy antara tahun  1796 - 1809.

Kedua gambar di atas adalah dua dari 30-an gambar yang ada dalam buku "PENAKLUKAN PULAU JAWA." Mayor William Thorn adalah penulisnya. Ia seorang serdadu kerajaan Inggris yang pernah bertugas dalam ekspedisi ke pulau Jawa. Ia berusia 30-an pada saat bertugas ke jawa, sama seperti Raffles. Ia mengundurkan diri dari kedinasan militer dan kembali ke Inggris pada Juli 1813. Ia lalu menyelesaikan bukunya ini dan menerbitkannya di London pada tahun 1815 dengan harga 3.3 poundsterling. Sebagian gambar-gambar sketsa dan drawing dalam bukunya kemungkinan ia menemukan di Jawa lalu dibawa ke London.