Monday, April 29, 2013

Medium Cat Air (2)






Medium untuk membuat gambar ada banyak ragam, dari yang tradisional sampai digital. Medium tradisional juga bisa disebut medium konvensional yang memanfaatkan beberapa alat dengan menggoreskan, menuangkan, atau meletakkannya di satu bidang secara langsung.  Sementara medium digital berbeda dengan medium konvensional tradisional. Medium digital memanfaatkan seperangkat alat yang sudah dirancang khusus secara digital. Misal saja dengan menggunakan aplikasi/software yang diciptakan untuk itu, seperti Aplikasi Photoshop, Corel Painter, Art Rage, dan semacamnya dengan menggunakan mouse/mouse pen/touch pad.

Menggambar dengan menggunakan medium Cat Air (Watercolor/Aquarelle) memiliki tantangan tersendiri. Medium ini berbeda dari beberapa medium lainnya. Cat yang berbasis air dengan teknik-teknik tertentu (transaparan, wet on wet dan lain-lain) ini hampir hasilnya selalu tak terduga setelah gambar mengalami tahap akhir yaitu kering. Cat Air umumnya diaplikasikan pada medium lain sebagai bidang gambarnya, yaitu kertas. Kertas ini dibuat secara khusus untuk medium Cat Air, namun selain kertas jenis ini juga bisa dicoba. Tak tertentu pada hanya kertas khusus Cat Air atau kertas, Cat Air bisa juga diaplikasikan pada medium yang lain yang bisa terus dikembangkan. Misalnya pada kanvas, Hardboard, kain, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan semangat eksplorasi sehingga memunculkan alternatif medium-medium baru juga teknik-teknik yang lain. Melalui semangat ekslporasi inilah akan muncul berbagai macam hal yang berkaitan dengan medium Cat Air dan menjadikannya lebih kaya.

Ada semacam adagium bahwa medium Cat Air ini cukup "ditakuti" terutama orang-orang yang tak terbiasa dengan Cat Air. Karena karakteristiknya yang cair, mudah bercampur dan menyatu namun tak mudah dikendalikan, teknik sapuan yang secukupnya (karena secara umum menggunakan bidang kertas), juga kita tak tahu dari hasil akhirnya seperti apa karena ketakterdugaan itu. Berbeda dengan medium cat lain misalnya Cat Minyak (Oil Color) dan Akrilik (Acrylic) dimana medium-medium ini sekali salah masih mudah untuk dikoreksi dengan memberi sapuan berikutnya sesuai yang diinginkan. Namun, dibandingkan dengan medium Cat Air ini berbeda.


Semoga saja bisa mengulas lebih lanjut.

Sunday, April 28, 2013

Medium Cat Air




Medium untuk membuat gambar ada banyak ragam, dari yang tradisional sampai digital. Medium tradisional juga bisa disebut medium konvensional yang memanfaatkan beberapa alat dengan menggoreskan, menuangkan, atau meletakkannya di satu bidang secara langsung.  Sementara medium digital berbeda dengan medium konvensional tradisional. Medium digital memanfaatkan seperangkat alat yang sudah dirancang khusus secara digital. Misal saja dengan menggunakan aplikasi/software yang diciptakan untuk itu, seperti Aplikasi Photoshop, Corel Painter, Art Rage, dan semacamnya dengan menggunakan mouse/mouse pen/touch pad.

Menggambar dengan menggunakan medium Cat Air (Watercolor/Aquarelle) memiliki tantangan tersendiri. Medium ini berbeda dari beberapa medium lainnya. Cat yang berbasis air dengan teknik-teknik tertentu (transaparan, wet on wet dan lain-lain) ini hampir hasilnya selalu tak terduga setelah gambar mengalami tahap akhir yaitu kering. Cat Air umumnya diaplikasikan pada medium lain sebagai bidang gambarnya, yaitu kertas. Kertas ini dibuat secara khusus untuk medium Cat Air, namun selain kertas jenis ini juga bisa dicoba. Tak tertentu pada hanya kertas khusus Cat Air atau kertas, Cat Air bisa juga diaplikasikan pada medium yang lain yang bisa terus dikembangkan. Misalnya pada kanvas, Hardboard, kain, dan lain-lain. Tentu ini membutuhkan semangat eksplorasi sehingga memunculkan alternatif medium-medium baru juga teknik-teknik yang lain. Melalui semangat ekslporasi inilah akan muncul berbagai macam hal yang berkaitan dengan medium Cat Air dan menjadi lebih kaya.

Friday, April 26, 2013

Perbincangan Gelar antara Kabayan dan Presiden

Presiden kita mulai mempercayai si Kabayan, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasannya.

"Kabayan," katanya suatu hari, "jaman perkembangan Islam dulu setiap pemimpin negara dari beberapa dinasti memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya, Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al- Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, gelar apakah yang pantas untukku yang ada nama Allah semacam itu?"

Cukup sulit, mengingat presiden kita yang satu ini adalah presiden yang kurang tanggap, pelamun, cengeng tapi mudah tersinggung. Tapi tak lama, si Kabayan menemukan jawabannya.
"Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu Billah* saja."

*Aku berlindung kepada Allah (darinya)
Cerita ini disesuaikan dengan kisah sufistik Nasruddin Hoja