Saturday, January 26, 2013

You are the light of my eyes

You are the light of my eyes, I fell in love with you at first sight.
You are the first strike on my heart, come, let's celebrate life close together
You are the light of my eyes, you are the fragrance of our garden.
Oh my love, what is this separation? I have waited enough, my jasmine
You are the light of my eyes...


Alim Qasimov, seorang penyanyi tradisional Azerbaijan. Fargana, putri Alim.
Mereka seperti menyanyikan kesunyian yang damai. Lirik-lirik lagu yang sejuk. Sufistik.

Thursday, January 24, 2013

Ulang Tahun Nabi Muhammad SAW


Selamat Ulang tahun Muhammad SAW putra Ibu Siti Aminah dan Pak Abdullah. Sholawat serta salam selalu mengalir untukmu.
(Semoga tak ada yang cekcok berdebat hanya karena tahun ini bertepatan dengan tanggal 24 Januari, atau kenapa tidak hari jumat besok saja :D)

Kelahiran menjadi begitu disyukuri.
Sesuatu yang tak ada sebelumnya, lantas hadir.
Nongoooool begitu.
Sesuatu yang gelap, lalu benderang terang.
Sesuatu yang lesu lantas bersemangat.
Pantas dan maklum saja lah jikalau kita mengingat hari lahir dengan terus berlaku baik sebagai bentuk syukur. Ya rasa terima kasih lah begitu. Jika kita sadar makna itu.

Mengingat diri yang bermula.
Menyulut hati yang rendah hati karena tahu asal mula dari ke-ada-an kita.
Membuang kesombongan karena kita bercermin pada awal mula kita yang rapuh.
Menimbang langkah kita telah kemana saja, karena awal mula kita lahir lalu merangkak.

Peringatan dan acara Maulid itu bagus dan dianjurkan karena membawa pada kebaikan. Selain membaca sholawat, puja puji, Qasidah burdah dan Barzanji, menambah keakraban, kumpul-kumpul persaudaraan. Yang mula-mula orang saling cekcok berkumpul dan bertemu jadi baikan, bergerak dalam hal baik. Tidak ada yang isinya berjudi sambil minum-minuman keras atau menyembah setan atau semacamnya. Penekanan adalah pada isinya yaitu yang tak bertentangan dengan syariat, tentu kegiatan bagus.

Di pedesaan, di kampung, di lembaga pendidikan pesantren, maulid diisi dengan kegiatan seperti kegiatan rutin setiap malam hari Jum'at yaitu orang-orang membaca sholawat, Barzanji, Qasidah Burdah bersama. Mereka duduk bersila, berjejer melingkari ruangan lalu bernyanyi dengan suara-suara dan lagu-lagu indah dari syair-syair dahsyat kiai-kiai yang juga merupakan sastrawan abad-abad silam di Timur tengah. Selain bentuk syiar juga meningkatkan kecintaan terhadap nabi SAW.

Terlalu jauh jika dipandang dan dipermasalahkan sebagai sebuah bid'ah sayi'ah (sesuatu yang baru ada dan buruk). Sesuatu yang dianggap mengada-ada dan menyimpang dari Islam.

Memang tak terelakkan dari sejarah peringatan maulid nabi mulai ada. Itu sebagai media persatuan pada saat itu, karena pergolakan dan peperangan di timur tengah. Dan itu baru ada setelah nabi wafat. Peringatan maulid nabi yang pada umumnya dilaksanakan ITU JUSTRU "TELAT." Kalau kita jeli, membaca dan kaitkan dengan sejarah, kita hendaknya malu. Bahkan Nabi selalu melakukan peringatan (maulid, perbuatan syukur) terhadap hari lahirnya. Tidak cuma setahun sekali, tapi seminggu sekali.

Itu sejarah kenapa kita (yang) melakukan puasa hari Senin. Itu kalau kita sadar dan tahu, jadi, menganggapnya tak hanya sekedar tahu sebagai sebuah kesunnahan, tapi tahu sejarah kenapa ada puasa hari Senin. Hari Senin adalah hari nabi Muhammad dilahirkan. Nabi peringati hari lahirnya dengan berpuasa Senin setiap seminggu sekali sebagai bentuk syukur pada Tuhannya. Indah kalau kita melihat dan meniru laku cara hidup Nabi SAW. Dan kita, di luaran sana juga di sini masih saja memperdebatkan antara maulid Nabi bagian dari Islam atau sesuatu yang mengada-ada (bid'ah sayi-ah). Yang penting itu tak bertentangan dengan syariat. Sudah, selesai. Mari kita hidupkan syiarnya. 


Kata Allah, "Aku tak bikin malaikat, surga, neraka, alam dan seisinya kecuali karna Muhammad." Itulah sejarah puasa senin, sejarah Islam, sejarah manusia, sejarah alam semesta, sejarah penciptaan.

Semoga kita mendapatkan tetesan sholawat dan salam dari cucuran ember nabi SAW karena kita panjatkan kepadanya terus menerus dan tertampung di ember-embernya sehingga meluber dan tumpahan salam itulah semoga dihibahkan untuk kita. Amin

إنّ الله وملائكته يصلّون على النّبيّ يايّهاالّذين امنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما

Sunday, January 20, 2013

Almarhum A Rafiq (5 Maret 1948 – 19 Januari 2013)

Waktu aku masih kecil sekali, sekitar 1996-1998, di layar kaca atau radio masih sering lagu-lagu A Rafiq diperdengarkan. Suaranya khas. Tak cuma itu, penyanyi dangdut satu ini nyentrik lain dari pada yang lain di Indonesia dalam hal penampilan. Kostum penampilannya bergaya kerah baju lebar dan celana longgar di ujung. Dia Elvis Presley-nya Indonesia dengan genre dangdut. Sabtu, 19 Januari 2013, kemarin ia meninggal dunia karena masalah kesehatan.

A tribute untuk mendiang A Rafiq.

Thursday, January 17, 2013

Atlit Kayak & Banjir


Humor atlit Kayak & Banjir :D

Yuriy Kosoboukin [1950-2013]

Master kartun Ukraina meninggal dunia. Mengetahui berita ini dari beberapa orang admin Irancartoon.com yang menuliskannya di facebook mereka. Saat buka website irancarton di sana terpampang slide kartun-kartun Yuriy. Berikut surat irancartoon kepada keluarga Yuriy.

A Letter To His Family
We were so very saddened and devastated by the news that Yuriy Kosoboukin is died.
We know words cannot really help you right now, but please know how very much we care and feel for you in your loss. 

Yuriy was such a caring and talented person, and he truly touched our lives.
We will never forget the trip that he came to Iran...

Such a sweet and inspiring soul, we will miss that smile very much.
We are so saddened by losing him from our lives.

Please, let us know if there is any way we can help you .
Our loves and support will always be here for you in your time of need. Once again, we are so sorry for your loss.
Our loves to you.
irancartoon


Goresan kartun Yuriy sangat khas. Bagi para kartunis maupun pemerhati dan pembacanya, dengan tanpa melihat tanda tangan/nama pembuatnya sudah bisa ditebak siapa kartunisnya. Seperti kartun dari master-master lainnya, kartun-kartun Yuriy nyaris tanpa kata (kartun non-verbal) namun pembaca tak sulit memahami maksudnya. Kepiawaiannya menggunakan simbol juga cara ungkapnya luar biasa.
Pengungkapan makna/maksud secara visual melalui tanda atau simbol ini sangatlah tidak mudah.

Memang ada kartun verbal, artinya kartun yang dapat dibangun kelucuan/humornya melalui menambahkan kata-kata ke dalam kartun itu. Biasanya itu seperti balon kata. Namun kartun non-verbal (tanpa kata) inilah yang lebih sulit diproduksi ketimbang kartun verbal. Selain kejelian dalam memahami persoalan juga yang lebih sulit bagaimana mengkomunikasikannya ke dalam media gambar melalui tanda-tanda/simbol, namun tetap mengandung unsur humor. Cara dan daya ungkap permasalahan yang kemudian bahkan diparodikan, komunikatif, humoris dan ironis semacam inilah yang jarang dikuasai orang. Tapi Yuriy adalah pengecualian. Ia ahlinya.

Informasi masih dari Irancartoon, berikut ini biografi, foto-foto dan juga karya-karyanya:
Biografi
Galeri foto
Galeri foto2

Wednesday, January 16, 2013

Melawan Kata-kata

Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974 bisa jadi awal mula sejarah demonstrasi massal Indonesia yang masiv. Penjagaan yang super ketat di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma membuat massa bergerak ke arah lain. Namun kerusuhan justru tak terelakkan. Hingga kini tak jelas siapa dalangnya. Termasuk peristiwa demonstrasi besar lainnya, peristiwa Mei 1998 misalnya.

Thursday, January 10, 2013

Spontanitas dalam Goresan Sketsa


"Menggambar sebuah objek dengan
spontan dan tak punya kewajiban untuk
mempermanis gambar tersebut rasanya
menjadi kebebasan mutlak mereka."

Sketcher atau penyeket, yang tergabung dalam Indonesia’s Sketchers, memang mengamini kebebasan
tersebut. Bagaimana tidak, jika kebanyakan hasil dari menggambar akan lebih menarik perhatian dan disebut indah ketika goresan gambar tersebut tertata dengan rapi, disketsa, keindahan itu terlihat bila sebuah gambar dengan garis-garis yang agak karutmarut berhasil menunjukkan
ciri ataupun sisi humanis dari sebuah objek.

Bebas, spontan, dan tidak membutuhkan keakuratan garis barangkali menjadi paham yang digunakan oleh para penyeket. Mensketsa objek nyata yang ada di hadapan mereka dalam beberapa menit dilakukan oleh para penyeket dengan menggunakan paham tersebut.

Kawasan Pasar Antik, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Koordinator Program Indonesia’s Sketchers Nashir Setiawan mengatakan, meski spontan dan bebas,sketsa yang dilakukan kelompoknya tersebut memang tidak dilakukan lewat objek yang hanya ada di khayalan atau tidak nyata.”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan. Makanya, digambarnya pun langsung pakai pen. Jika ada garis yang salah atau kurang akurat, tidak masalah jika langsung ditabrak. Tapi yang pasti sketsa itu hasil dari gambar melihat langsung sebuah objek,bukan dari foto ataupun imajiner,”tuturnya.

Penyeket yang juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu menceritakan bahwa aktivitas yang dilakukan Indonesia’s Sketchers selama ini memang tidak memiliki kriteria khusus dalam penentuan objek. Meski begitu, program bernama Sketsa Bersama yang dilakukan satu bulan sekali itu biasa memilih tempat tempat pusat keramaian.

”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan.
Makanya, digambarnya pun
langsung pakai pen.”
NASHIR SETIAWAN
[Koordinator Program
Indonesia’s Sketchers]


Sebelum menggelar Sketsa Bersama, mereka terlebih dahulu berkumpul dan berembuk untuk menentukan lokasi menggambar mereka. ”Biasanya kalau sudah ketemu lokasinya, kita akan menentukan objek apa dari sekitar tempat tersebut yang dapat digambar. Tidak semua bisa digambar karena yang digambar itu harus objek yang bisa mencirikan atau salah satu keunikan wilayah tersebut,”katanya.

Nashir mengatakan, tempat wisata ramai menjadi salah satu tempat yang tepat untuk gelaran rutin mereka. ”Kita pilih tempat yang lebih terbuka. Ini juga agar dapat diapresiasi oleh orang lain,” imbuhnya. Pada saat itulah, tambah Nashir, Indonesia’s Sketchers kemudian menemukan orangorang baru yang tertarik dengan dunia gambar-menggambar ini. Tidak sampai di situ,kegiatan mensketsa ini pun kemudian mempersilakan para anggota Indonesia’s Sketchers atau masyarakat yang baru bergabung untuk menggelar hasil sketsa mereka.

Sketsa-sketsa tersebut digelar bukan untuk dijual, melainkan dipajang agar dapat langsung dikomentari apakah masih kurang atau sudah bagus. Kegiatan para anggota Indonesia’s Sketchers ini juga dapat dilihat dengan mudah di ruang seni terbuka seperti Taman Suropati ataupun Kota Tua. Mereka lebih sering mensketsa bangunan atau landscape.

Pertunjukan Wayang kulit di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta.

Menurut Nashir,objek tersebut dapat disketsa dengan lebih cepat dibandingkan menggunakan manusia sebagai objek. ”Memang kalau bertemu itu kita lebih banyak menggambar landscape karena lebih cepat. Objek yang stay dan tidak bergerak, lebih membutuhkan sedikit waktu. Sedangkan menggambar orang itu pasti akan lebih banyak waktu karena mereka bergerak,”katanya.

Salah satu anggota Indonesia’s Sketchers Toni Malakian menceritakan pada awalnya sebuah sketsa dibuat tanpa perlu menggunakan teknik. Sulit mungkin,namun ada kesenangan tersendiri yang dihasilkan dari sketsa-sketsa tersebut. ”Untuk awalnya sebenarnya enggak perlu pakai teknik. Kita pakai intuisi aja, pakai feeling, dan kejelian mengamati,” katanya.

Dari sana, kata Toni, penyeket akan mengasah kepekaannya dalam mengamati sebuah objek. Merekam objek dengan cepat dalam ingatan adalah hal yang penting. ”Saya sering menggambar orang.Lagi asyikasyiknya bikin sketsa, eh dia pergi. Tapi, itulah asyiknya. Karena kita sudah menghafal bentuk kaki atau elemen lainnya, jadi bisa kita teruskan sendiri,” akunya.

Indonesia’s Sketchers awalnya dibentuk karena keinginan seorang wanita bernama Atit Dwi Indarty, 27, yang merasa penyeket di Indonesia tidak memiliki wadah sendiri. Padahal di dunia sudah ada Urban Sketchers yang anggotanya terdiri atas para penyeket dari seluruh dunia. Usut punya usut, Atit akhirnya bertemu Dhar Chedar,43,yang merupakan kontributor Urban Sketchers di Indonesia.

Dari sanalah keduanya mengumpulkan para penyeket Indonesia dalam satu komunitas dan akhirnya terbentuk pada Agustus 2009. Nashir mengatakan bahwa Indonesia’s Sketchers saat ini sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota, baik yang aktif ataupun tidak aktif dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta ada sekitar 1.500 orang,yang aktif di angka 30-50 orang. Dalam waktu dekat ini, Nashir mengatakan, Indonesia’s Sketchers berencana bertemu untuk membahas program lebih lanjut yang akan mereka lakukan. ●  Harian Seputar Indonesia | Reporter: Megiza

*Liputan Indonesia's Sketchers di Harian Seputar Indonesia.

Tuesday, January 08, 2013

Hari Menulis Sedunia


Pak Pram (Pramoedya Ananta Toer) memang telah tiada, tapi kemarin berkesempatan menghampiriku, membisikiku dan bilang: "Nak Toni, orang boleh pandai setinggi langit." Ia berhenti dan suaranya sedikit serak.

Makna yang dalam bersemayam di balik kata-katanya. Saat ia katakan itu anganku bergerilya berusaha menemukan pengalaman-pengalaman visual dalam bilik otakku yang tak kunjung pandai. Di sana kutemukan gambaran betapa begitu banyak orang mengejar kepandaian, setiap pagi hingga malam hari orang pergi bersekolah. Menghabiskan banyak hal; biaya tenaga dan merepotkan banyak orang. Di luar sekolah ada pendidikan informal yang diikuti; les, kursus, bimbingan belajar. Semua demi kepandaian (dalam hal apapun). Lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun informal meluluskan anak didiknya setiap tahun, bulan. Bahkan hasilnya adalah pasti ada lulusan-lulusan terbaik, cumlaude dan predikat terbaik lain yang mengikutinya. Orang pandai tercetak sudah, secara akademik.

Bayangan pengalaman-pengalaman visual itu belum juga tuntas, aku terhenyak mendengar lanjutan bisikannya, "tapi nak Toni, selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." Kepalaku makin rumit dibuatnya. Dadaku berdentam tak karuan. Semakin tertohok dan malu. Aku memejam mata dan menunduk. Aku salah satu dari lulusan-lulusan itu, paling tidak, pernah melewati lembaga pendidikan macam itu. Mmeski sampai sekarang aku masih belajar tentang apapun yang sempat aku bisa pelajari.

"Apakah harus menulis?" batinku beringsut, aku tak sanggup menanyakan padanya. Aku belum bisa dan apalagi pandai menulis. Dan aku..(belum sempat aku lanjutkan acara membatinku) ia melanjutkan bisikannya: "Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Itu terakhir ia bisikkan sebelum entah lenyap kemana. Tapi sempat aku rasakan hempasan udara bekas ia pergi.

Aku terus diam seharian, duduk dan melanjutkan aktifitas. Hanya saja kata-katanya itu tak ubahnya seperti aku sedang menghafal kalimat. Ia mengiang terus menerus. Bahkan menggema. Melampaui hal lain apa yg aku pikirkan.

Lagi-lagi aku membatin, kenapa menulis. Ah, pikirku, menulis hanya satu penanda, hanya kunci,  semacam metafora atas ribuan bahkan jutaan maksud, makna. Kata "menulis" hanya medium. Menulis adalah hasil. Menulis adalah ketekunan. Menulis adalah bekerja. Menulis adalah mengabdi. Menulis adalah sesutau yang dibaca. Menulis adalah berkarya. Menulis adalah kemanfaatan. Ah, pasti ada banyak sekali maksud dari memaknai "menulis" ini. Batinku mengangguk-angguk.

Berkarya tentu banyak ragam. Melakukan hal baik apa yang bisa kita lakukan yang memiliki manfaat baik terhadap diri sendiri, keluarga, dan jika mampu berlebih untuk orang lain. Yang bisa menulis jadilah penulis menulis yang baik. Yang jadi agamawan jadilah agamawan yang cinta damai. Yang aparat, jadilah aparat yang tak keparat. Yang guru, jadilah guru yang baik dan mendidik. Yang ibu rumah tangga, jadilah yang terbaik. Yang pedagang, berdaganglah yang baik dan jujur. Dan masih banyak lagi profesi orang-orang. Berkarya melalui apa yang mampu bisa dilakukan dengan perpaduan otak dan hati. Keduanya harus selalu ada. Lagi-lagi aku mengangguk, sok mengerti analisa diri sendiri terhadap "menulis."

Melibatkan hati?

Mungkin banyak orang dengan tingkat intelijensia tinggi tapi tidak dengan hatinya, banyak orang pandai untuk dirinya sendiri, banyak orang pandai tak mau berbagi, sedikit orang pandai yang bijak, sedikit orang baik tapi banyak orang pandai. Paling tidak perbandingan dari jumlah lulusan (dan atau populasinya). Hanya sedikit orang menulis.

Dan tiba-tiba pekerjaan menggambarku mulai tak mau berjarak; deadline. Aku harus melanjutkan "menulis." Tapi, hari ini 8 Januari 2013 adalah Hari Menulis Sedunia, jadi selamat Hari Menulis Sedunia.
:)



Sunday, January 06, 2013

Jaya Suprana?

Sempat bikin beberapa sketsa Jaya Suprana di sela keterbatasan waktu, karena ada beberapa pekerjaan yang ketat yang harus diselesaikan. Sketsa-sketsa itu rencana diikutkan untuk lomba karikatur Jaya Suprana tahun 2013 ini. Salah satu sketsa itu adalah yang ini. Entah ada beberapa hal yang menurut pribadi masih banyak kekurangan dengan penggarapan ini terutama pada anatomi sekitar mata. Tapi memang menikmati ketika membuat ini, coret-coreta arsir misalnya, itu menyenangkan. Itu serasa tanpa beban, spontan. 

Ada banyak yang bisa dieksplorasi dari tokoh ini baik dari ide maupun bentuk secara anatomikal untuk dieksagerasi/dilebih-lebihkan. Namun, membuat sketsa-sketsa ini tampaknya hanya mengisi jeda waktu istirahat dari kepala yang penat dari pekerjaan yang lain. Meski ada beberapa ide lain untuk mendeformasi pada bagian wajah dan isi di dalam kepalanya. Sketsa-sketsa ini tak terselesaikan menjadi karya final untuk dikirim ke panitia lomba. Secara keseluruhan mengerjakannya memang menyenangkan.