Wednesday, March 29, 2006

malam ini tak pulang

tak tahu saya jadi tak tidur lagi malam ini. kemarin saya baru saja datang dari rumah. pukul 12 saya sampai di kaliwungu. sekarang saya sudah di kampus dan ternyata malam ini saya tak pulang lagi. saya tak tidur di kaliwungu lagi.
tadi saya masuk kuliah. bukan masuk kuliah tapi saya cuma ke kampus. ada hal yang haruis saya cari di sana. saya cari info tugas kuliah. maklum saya tak masuk kuliah tiga minggu. saya tak tahu sama sekali tugas-tugas itu. sayang sekali orang-orang yang saya cari tak ada. pasti mereka sedang sibuk mengerjakan tugas itu. besok harus sudah dikumpulkan.
saya baru buat tadi jam tujuh malam. jam 10 saya beranjak namun tugas belum selesai. saya buat di rental komputer depan kampus.
habuis itu saya makan. dan rencana pulang ke kaliwungu gagal. saya mampir dulu ke warnet. rencana sebebntar tapi malah sampai hampir tiga jam ini saya masih nulis di blog. Sekian.

ketemu gegeremetan

saya benar-benar bertemu dengan gegremetan makhluk-makhluk maya yang biasanya cuma menampakkan kata di milist dan chat. tapi di sini saya benar-benar berada di depan muka mereka. ada gegeremetan yang saya kenal lewat room-room chat, ada yang cuma kenal lewat e-mail di milist dan ada juga yang kebetulan cuma browsing dan mendapatkannya di pojok google.

f*** c*******. dulu saya kenal di sebuah chat room luar negeri. waktu itu saya cuma chat untuk membunuh rasa bosan. setelah browsing dan checking e-mail sudah mentok akhirnya saya memeberanikan diri untuk chat. maklum baru kurang dari sepuluh kali saya chat. tak menyangka sembilan bulan lebih saya kontak dengannya.

tapi saat saya main di sebuah kota, saya ketemu dengannya. bukan di dunia maya lagi, tapi saya benar-benar menjabat tangannya.

masih di kota yang sama. saya sedang browsing soal kartun. saya kebetulan memakai google untuk melakukannya. saya temukan kata "kartun" di sebuah blog yang tampak termenung di pojok google. saya dibawa ke blog tersebut melalui kata kunci itu.

agak tercengang juga melihat blog itu. ternyata profile pemilik blog itu bertuliskan nama-nama asal daerah pemilik blog. saya kenal betul daerah itu. kampung tetangga saya.

akhirnya saya kontak melalui shout box miliknya. ternyata ada jawaban dan hampir setiap hari saya kontak melalui itu. dan akhirnya saya berkunjung ke rumahnya yang ternyata tinggal di kota dimana saya sekarang berada. berangkatlah saya sore itu ke alamat yang ia berikan. dan sore itu juga saya benar-benar makan puding (maaf bukan puting loh... ) buatan isterinya. lantas saya pulang dan dikasih oleh-oleh satu buku komik. bang, saya masih menunggu oleh-oleh yang lainnya.

yang ini lain lagi saya benar-benar menunggu di kantornya selama hampir satu jam. ia masuk sore hari. saya belum mengontak dia sebelumnya.

saya agak terkejut saat bertemu dengannya. saya tak menyangka kalau ia berbeda dari yang selama ini saya duga. saat saya jabat tanggannya maka saya baru tahu bahwa saya lebih cocok jadi anaknya ketimbang jadi temannya. ia hampir sama dengan usia ayah saya. ia sudah dua puluh tahun di kantor galeri foto jurnalistik antara itu, tapi baru usia 21 tahun ini saya baru benar-benar pertama kali menginjakkan kaki di galeri itu.

tapi spiritnya anak muda. saya salut. ia tak berhenti berdiskusi. saya dulu mengenalnya di milist kajian kartun. saya pernah membuat kartun untuk mengilustrasikan dirinya. seseorang sedang tidur. lantas ia angkat kepalanya dan mengigau terus ngomong sembarangan. sedang tangan dan selimutnya masih tetap berada di atas dada. sementara dua sandal japit berlainan ada di bawah dipan ia tidur. lumayan kartun itu membuat situasi jadi hangat yang sebelumnya panas dan sengit. yang saya ilustrasikan mungkin cuma cengar-cengir. katanya, toni jangan ganggu si janggo. si janggo, begitu waktu itu ia menyebut dirinya, mungkin artinya ayam jantan.

saya masih ingat pesannya. katanya, saya harus memulai dari orang-orang seperti saya untuk membuat karya karikatur yang menceritakan periode masa pemerintahan negeri sendiri. ia terinspirasi setelah melihat karya-karya karikaturis-karikaturis belanda yang dipamerkan di galeri utan kayu.

karikaturis-karikaturis belanda justru membuat karikatur-karikatur yang mengkritik ulah negaranya sendiri berkaitan dengan penjajahan belanda terhadap indonesia. karikatur-karikatur itu dibuat dalam rentang waktu tahun masa perjuangan hingga tahun berapa saya lupa.

saya mendengarkan ceritanya.

begitulah karya kartun dan karikatur di sana justru bebas dibuat tanpa kekangan dan justru disimpan aman dan sekarang dipamerkan di utan kayu. untuk orang indonesia.

tapi di negeri kita yang justru terjajah karya-karya seperti itu hangus entah dibakar atau dicekal karikaturisnya. tapi justru berkat karikatur karya karikaturis belanda itulah pemerintah belanda meminta maaf kepada indonesia.

"dalam katalog bukunya, entah siapa yang membuat tulisan di katalog itu, tertulis bahwa sudah sangat terlambat untuk meminta maaf," katanya kepada saya.

begitulah ia. semangatnya.

kali ini saya ketemu orang lain lagi ceritanya. suatu kali saya kebetulan ketemu orang di entah dunia apa namanya yang jelas saya ketemu dia sama seperti saya ketemu dengan orang-orang yang saya sebut tadi. dan ternyata, kebetulan, ia mempunyai sesuatu yang saya sedang butuh. ia mahasiswi sebuah sekolah tinggi jurusan manajemen tarnspor udara di ibu kota.

saya cuma kontak beberapa kali, kadang ketemu lewat chat, e-mail, dan untuk sms ia sering tak punya pulsa hahahaha (yang lagi dicritain trus baca ini pasti nggak terima ya.. hahhahaha). saya beberapa kali hubungi lewat sms bahwa saya akan ada di kota dimana ia kuliah. sayang ia tak menjawab. saya baru mendapatkan jawaban itu setellah saya baru mau kembali ke kota saya berasal alias pulang kampung.

untung sore itu saya ketemu dia di chat. suatu kebetulan. ia mengatakan alasannya saat itu juga. katanya, sesuatu miliknya hilang. oo.. pantas saja status sms saya tak pernah delivered to bla-bla. lantas ia memberi nomor barunya. saat saya hubungi hari-hari berikutnya ternyata ia menganut lagu lama kaset kyusut, tak berpulsa (nah bener kan tak berpulza hahahahahaha).

ia juga mengatakan bahwa ia baru sembuh dari tipus dan mag. liburan semester kali ini ia "liburan" di rumah sakit. kasihan juga.

akhirnya saya beruntung bisa bertemu juga. tak tahu kali ini saya jadi banyak omong tak seperti biasanya, diam dan diam. pantas saja ia tak mengakui saya seorang pendiam. pertama kali saya ketemu dengannya, saya diajak ke kampusnya. dan akhirnya saya jadi mengantarnya sampai ke rumahnya. ia pun jadi mengantar saya pulang ke kos. tapi sayang cuma ngantar sampai di jalan di depan rumahnya hahahahahahahaha....

ya begitulah se-upil pengalaman kemaren ketemu penduduk bangsa maya.

tapi kalo ditanya mana yang paling menyenangkan, menyakitkan, menguntungkan, merepotkan, menyebalkan, me-lucu-kan, meng-hahahahaha-kan,dan meng.. meng... lainnya. ya saya nggak bakalan jawab. kenapa? ya saya belum ditanya kok. tar kalo dijawab jadi kayak dalang.

hahahahaha....

sekedar cerita

13 pebruari 2006
saya sekedar bercerita.

tanggal 20 januari 2006. hari itu kamis dan saya sudah punya tiket kereta tujuan jakarta. tiket itu bukan saja hanya untuk saya seorang tapi juga dua teman saya. jadi, kami bertiga pergi ke jakarta. mereka teman satu kelas dan yang lain teman beda jurusan.

bukan tanpa alasan saya pergi ke sana. beberapa bulan sebelumnya saya sudah punya rencana tepatnya pernah berkeinginan untuk ke sana. dulu saya cuma pernah berkeinginan PKL di suatu bandara entah itu di mana tapi saya justru PKL di BUSH, bandar udara soekarno-hatta. mungkin dalam batok kepala tiap orang ada pertanyaan sama, kenapa harus jauh-jauh kalau hanya untuk sekedar PKL. semarang-jakarta memang tidak dekat. tapi tak hanya untuk PKL saya pergi ke sana, ada hal lain yang ingin coba saya alami. apakah itu? hehehe... saya tak bisa mengatakannya sekarang ini. terlalu rawan.

saya sudah mencoba menghubungi pihak perusahaan via surat elelektronik atau orang bilang e-mail jauh sebelumnya. bukannya e-mail-e-mail itu tak dijawab tapi saya hanya mendapatkan e-mail dengan subjek "notice failed" tiap sehabis mengirim e-mail. tak satu dua kali memang. saya telpon pun pada bulan-bulan terakhir yang ternyata gagal juga. akhirnya berangkatlah saya ke jakarta, hanya memberikan surat pengantar PKL.

saya sudah di jakarta selama tiga hari. senin pagi saya akan menyerahkan surat itu. tapi apa yang terjadi? saya tak menyangka surat itu masih di semarang. malam senin atau minggu malam itu kontan saja saya pusing keliling tujuh kali. untung saja orang yang saya hubungi tahu apa yang harus diperbuatnya, tentunya setelah saya kasih tahu (hehehe...) dia mengirimnya lewat fax saat itu juga.

saya jadi terharu kalau mengingat bagaimana ia melakukannya. malam itu jam delapan-an. "loh kok nggak ada yang angkat, bos?" tanyanya dari telpon wartel. saya baru ingat kantor tutup jam setengah lima sore. akhirnya ia mengirimnya esok paginya. saya cengar-cengir ketika bertemu dengannya di semarang. ia terbahak-bahak.

saya tak sendiri ke kantor cabang utama angkasapura2. teman satu kelas saya yang mengajak saya PKL di situ beserta ayahnya ikut mengantar. kebetulan ayahnya bekerja di basarnas, di seberang jalan kantor angkasapura2. saya jadi tak enak terlalu merepotkan mereka.

usai dari kantor cabang utama angkasapura2 saya pulang. sementara teman saya menjenguk temannya di rumah sakit di tangerang. ia diantar ayahnya. bus, seperti yang disarankan ayah dan anak itu tak kunjung tiba. namanya garuda sebelas, biasanya jam sebelas sampai sini, kata ayahnya sebelum pergi ke rumah sakit. dari jam 10.45 sampai jam dua belas saya masih bengong di bawah pohon yang biasa dijadikan halte bus garuda sebelas itu.

akirnya teman saya menyarankan untuk naik mobil kijang satya ardhia dan turun di terminal rawa bokor. mobil kijang itu ternyata mobil angkutan yang biasa hilir mudik di bandara milik koperasi karyawan angkasapura2. saya kira itu mobil khusus untuk jemputan. setelah itu kamu naik bus jurusan grogol ntar turun di pancoran, sarannya lagi. saya masih seperti masuk hutan belantara yang belum saya kunjungi jadi saya menuruti apa katanya.

pukul setengah satu saya sudah duduk manis di jok belakang bus jurusan grogol. saya tak tahu bisa duduk semanis itu. bus melaju sementara saya tengok ke kanan kiri. di depan beberapa bangunan di antara rumah penduduk terdapat tabel bertuliskan kabupaten tangerang. banyak siswa-siswi sekolah jalan kaki di pinggir jalan. saya tak tahu mereka pulang sekolah atau sebaliknya.

di sepanjang jalan tabel petunjuk arah ke cawang atau pancoran menjadi harapan. saya khawatir bus yang saya tumpangi tak mengikutinya. sampailah di lingkungan universitas trisakti. di seberangnya universitas tarumanegara bersebelahan dengan mall ciputra. terminal grogol di depan kampus trisakti. saya jadi ragu.

benar saja ternyata bus berbalik arah dan menuju terminal kalideres, jakarta barat. saya tak tahu sebelumnya dimana kalideres itu. dari terminal kalideres bus menuju ke rawa bokor lagi, pikir saya. sekonyong-konyong saya turun di halte depan mal ciputra. lama saya duduk di sana sambil mengamati bus-bus yang lewat.

saya akhirnya jatuh pada pilihan bus jurusan tanah abang-roxy. saya harus turun juga setelah beberapa menit bus melaju. bukan di tanah abang. bang, nggak boleh ke tanah abang tuh sama polisi, kata kondektur.

di seberang jalan beberapa polisi berdiri dengan gagahnya. sesekali lari ke tengah jalan, balik lagi ke pinggir. mereka mencegat pengendara sepeda motor yang dianggap melanggar. tak jelas apa pelangggarannya. si pengendara melaju semakin cepat sambil tersenyum, polisi pun tersenyum. ia dikecoh si pengemudi. beberapa pengemudi mobil diminta berhenti di depan kantor polisi, yang lain dibiarkan. beberapa menit si pengemudi keluar dan melanjutkan perjalanannya. beberapa yang lain masih di dalam kantor. masih tak jelas apa kesalahan mereka tapi sepertinya saya yang tak paham.

akhirnya saya naik angkot jurusan tanah abang-lima. hampir saja saya naik angkot yang menuju lima. untungnya saya turun sebelum angkot berangkat dan saya naik angkot yang jurusan tanah abang. melajulah angkot itu dan sampailah di tanah abang. justru saya malah semakin bingung. angkot ternyata tak lewat daerah karet, tempat saya tinggal. akhirnya cuma muter-muter

pukul setengah empat sore hujan turun. saya pun ikut turun. tentu dari angkot. hujan tak mau mengalah untuk berhenti padahal saya sudah basah kuyup. mampirlah saya ke satu halte. namanya RSUD Tarakan. Di belakangnya berdiri rumah sakit tarakan itu. sampai jam delapan malam saya masih berteduh di halte itu. tak tahu juga apakah saya sudah mulai suka dengan halte itu atau saya memang lagi sial. yang jelas saya belum dapat taksi dari jam empat tadi.

barulah saya naik taksi setelah satu taksi saya stop. "kemana bang?" kata pengemudi taksi itu. wisma bisnis indonesia di jl. kh mas mansur no 12A itu, kata saya. yang bertanya malah bingung. "kan dulu bisnis indonesia itu kantornya nggak d situ, di kramat. nah taon 2005 kmaren itu pindah ke karet," jelas saya sok tahu. akhirnya ia baru mudheng (paham).

bukannnya malah tambah tenang saya sudah naik taksi. saya malah tambah khawatir. jalanan macet. sedangkan panel tarif itu tak kunjung macet tapi semakin melipat gandakan diri. kalau saya bawa uang banyak saya tak masalah. tingggal dua puluh lima ribu. hmmm..... beruntung akhirnya saya sampai di seberang gedung wisma bisnis indonesia dan saya tak jadi ngutang sama tukang taksi. saya dikasih kembalian 3000.

Nyasar, padahal ini hari ke empat di kota orang. Tapi saya suka melakukannya.

saya mendapatkan jawaban lain dari kebanyakan orang ketika ditanya soal nyasar. jawaban itu justru mendukung apa yang telah saya alami. teman-teman selebritisnya biasa memanggilnya "dokar." aneh memang. tapi begitulah. ia orang paling kontroversial di milist. pertama kali saya kenal cuma di milist kajian kartun, pakarti. tapi minggu kemarin saya benar2 jalan bareng bersamanya di stasiun kereta juanda. "ya harus begitu kalau pergi ke suatu tempat, harus ada nilai petualangan," ungkapnya saat saya ceritakan pengalaman emas saya ini. benar saya betul-betul menikmatinya.


jakarta,


toni

Thursday, March 02, 2006

sekedar crita

13 pebruari 2006

saya sekedar bercerita.

tanggal 20 januari 2006. hari itu kamis dan saya sudah punya tiket kereta tujuan jakarta. tiket itu bukan saja hanya untuk saya seorang tapi juga dua teman saya. jadi, kami bertiga pergi ke jakarta. mereka teman satu kelas dan yang lain teman beda jurusan.

bukan tanpa alasan saya pergi ke sana. beberapa bulan sebelumnya saya sudah punya rencana tepatnya pernah berkeinginan untuk ke sana. dulu saya cuma pernah berkeinginan PKL di suatu bandara entah itu di mana tapi saya justru PKL di BUSH, bandar udara soekarno-hatta. mungkin dalam batok kepala tiap orang ada pertanyaan sama, kenapa harus jauh-jauh kalau hanya untuk sekedar PKL. semarang-jakarta memang tidak dekat. tapi tak hanya untuk PKL saya pergi ke sana, ada hal lain yang ingin coba saya alami. apakah itu? hehehe... saya tak bisa mengatakannya sekarang ini.

saya sudah mencoba menghubungi pihak perusahaan via surat elelektronik atau orang bilang e-mail jauh sebelumnya. bukannya e-mail-e-mail itu tak dijawab tapi saya hanya mendapatkan e-mail dengan subjek "notice failed" tiap sehabis mengirim e-mail. tak satu dua kali memang. saya telpon pun pada bulan-bulan terakhir yang ternyata gagal juga. akhirnya berangkatlah saya ke jakarta, hanya memberikan surat pengantar PKL.

saya sudah di jakarta selama tiga hari. senin pagi saya akan menyerahkan surat itu. tapi apa yang terjadi? saya tak menyangka surat itu masih di semarang. malam senin atau minggu malam itu kontan saja saya pusing keliling tujuh kali. untung saja orang yang saya hubungi tahu apa yang harus diperbuatnya, tentunya setelah saya kasih tahu (hehehe...) dia mengirimnya lewat fax saat itu juga.

saya jadi terharu kalau mengingat bagaimana ia melakukannya. malam itu jam delapan-an. "loh kok nggak ada yang angkat, bos?" tanyanya dari telpon wartel. saya baru ingat kantor tutup jam setengah lima sore. akhirnya ia mengirimnya esok paginya. saya cengar-cengir ketika bertemu dengannya di semarang. ia terbahak-bahak.

saya tak sendiri ke kantor cabang utama angkasapura2. teman satu kelas saya yang mengajak saya PKL di situ beserta ayahnya ikut mengantar. kebetulan ayahnya bekerja di basarnas, di seberang jalan kantor angkasapura2. saya jadi tak enak terlalu merepotkan mereka.

usai dari kantor cabang utama angkasapura2 saya pulang. sementara teman saya menjenguk temannya di rumah sakit di tangerang. ia diantar ayahnya. bus, seperti yang disarankan ayah dan anak itu tak kunjung tiba. namanya garuda sebelas, biasanya jam sebelas sampai sini, kata ayahnya sebelum pergi ke rumah sakit. dari jam 10.45 sampai jam dua belas saya masih bengong di bawah pohon yang biasa dijadikan halte bus garuda sebelas itu.

akirnya teman saya menyarankan untuk naik mobil kijang satya ardhia dan turun di terminal rawa bokor. mobil kijang itu ternyata mobil angkutan yang biasa hilir mudik di bandara milik koperasi karyawan angkasapura2. saya kira itu mobil khusus untuk jemputan. setelah itu kamu naik bus jurusan grogol ntar turun di pancoran, sarannya lagi. saya masih seperti masuk hutan belantara yang belum saya kunjungi jadi saya menuruti apa katanya.

pukul setengah satu saya sudah duduk manis di jok belakang bus jurusan grogol. saya tak tahu bisa duduk semanis itu. bus melaju saya tengok ke kanan kiri. di depan beberapa bangunan di antara rumah penduduk terdapat tabel bertuliskan kabupaten tangerang. banyak siswa-siswi sekolah jalan kaki di pinggir jalan. saya tak tahu mereka pulang sekolah atau sebaliknya.

di sepanjang jalan tabel petunjuk arah ke cawang atau pancoran menjadi harapan. saya khawatir bus yang saya tumpangi tak mengikutinya. sampailah di lingkungan universitas trisakti. di seberangnya universitas tarumanegara bersebelahan dengan mall ciputra. terminal grogol di depan kampus trisakti. saya jadi ragu.

benar saja ternyata bus berbalik arah dan menuju terminal kalideres, jakarta barat. saya tak tahu sebelumnya dimana kalideres itu. dari terminal kalideres bus menuju ke rawa bokor lagi, pikir saya. sekonyong-konyong saya turun di halte depan mal ciputra. lama saya duduk di sana sambil mengamati bus-bus yang lewat.

saya akhirnya jatuh pada pilihan bus jurusan tanah abang-roxy. saya harus turun juga setelah beberapa menit bus melaju. bukan di tanah abang. bang, nggak boleh ke tanah abang tuh sama polisi, kata kondektur.

di seberang jalan beberapa polisi berdiri dengan gagahnya. sesekali lari ke tengah jalan, balik lagi ke pinggir. mereka mencegat pengendara sepeda motor yang dianggap melanggar. tak jelas apa pelangggarannya. si pengendara melaju semakin cepat sambil tersenyum, polisi pun tersenyum. ia dikecoh si pengemudi. beberapa pengemudi mobil diminta berhenti di depan kantor polisi, yang lain dibiarkan. beberapa menit si pengemudi keluar dan melanjutkan perjalanannya. beberapa yang lain masih di dalam kantor. masih tak jelas apa kesalahan mereka tapi sepertinya saya yang tak paham.

akhirnya saya naik angkot jurusan tanah abang-lima. hampir saja saya naik angkot yang menuju lima. untungnya saya turun sebelum angkot berangkat dan saya naik angkot yang jurusan tanah abang. melajulah angkot itu dan sampailah di tanah abang. justru saya malah semakin bingung. angkot ternyata tak lewat daerah karet, tempat saya tinggal. akhirnya cuma muter-muter

saya jarang tanya ke orang, satu hal yang membuat saya ada di mana-mana alias tersesat. jadi betul kata-kata malu bertanya sesat di jakarta itu. hehehehe...

debukaki

I made it as my gift for his S1 graduate in 2005, Debujalanan