Tuesday, August 23, 2005

Sekedar mengigau

Rabu malam 5 mei ’05
Malam yang dingin. Aku bergerombol bersama teman-teman. Ada satu acara yang harus mereka kunjungi, kata mereka malam itu. Inaugurasi fakultas sastra. Bagiku tak harus. Aku pun beringsut dari acara itu, dari orang-orang itu.

Malam yang dingin. Aku hanya ngeloyor tak tentu arah. Warnet !.. ya warnet ...! hari ini aku belum ke sana. Tak tahu juga untuk apa aku berlama-lama nongkrong di tempat itu, Tempat yang selalu mengorek hampir seluruh jatah bulananku. Paling-paling akau cuma jawab buka e-mail tiap ditanya teman-teman. Padahal aku belum pasti melakukannya. Tapi setidaknya aku tahu sesuatu yang lagi hangat, entah dari milist-milist yang aku ikuti atau dari sekedar berselancar (browsing).

Malam yang dingin. Jam 11 malam cukup dingin memang. Aku hanya buka beberapa pesan di e-mail, dan kadang tak pernah selesai membacanya. Sudah buntu juga aku masukkan kata kunci di yahoo atau google. Eureka!!!.... Iseng chatting!.. ya chatting!... Jujur saja aku hanya kurang dari delapan kali sign in di Yahoo Messenger. Makanya aku tak tahu betul bagaiamana menggunakananya. Malam itu aku mulai masuk ke chat room satu ke lainnya. Tak ada yang istimewa.

Malam yang semakin dingin. Aku coba lagi masuk entah chat room apa aku lupa. Ada satu nick yang sepertinya mungkin bisa diajak bincang-bincang. Nick-nya tak aneh-aneh. Dua kata nama sesorang. Tapi aku tak yakin. “hi,” sapaku malu-malu. “kroeng!!!!!...,” bunyi Messenger itu mengagetkanku setelah beberapa detik. Orang di ujung sana membalasnya, “hi juga asl plz.” Dan aku tak menyangka ini berakhir pagi pukul 5. Pembicaraan cukup menyenangkan yang kadang mirip orang bego gara-gara nggak konnek, salah paham, atau malah salah respon. Aku tertawa geli usai sign out. Kami mengakhirinya saat pagi datang. Hari sudah pagi dan tampaknya tak dingin lagi.
Minggu 3:41 PM 8/7/2005

Thursday, August 18, 2005

PROKLAMASI

Toedjoeh belasan

Perajaan toedjoeh belasan tadi pagi, ja tadi pagi 17 Agoestoes 2005 bangsa Indonesia merajakan hari kemerdekaan... jang ke 60. 60 tahoen... ja enam poeloeh tahoen.

enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...

enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...

enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...
enam poeloeh tahoen jang laloe... enam poeloeh tahoen jang laloe...

Presiden Soekarno memproklamasikannja...

KKL

Kegiatan KKL 2005 program Bahasa Inggris Undip dilaksanakan pada tanggal 19-23 juli 2005. Ada beberapa obyek yang dikunjungi baik dari obyek KKL di Semarang maupun obyek KKL dan obyek-obyek wisata Bali.


          Stelan jas almamater dengan kemeja warna putih dipadu bawahan hitam bersepatu, mahasiswa Sastra Inggris berkumpul di depan gedung fakultas. Mereka rapi-rapi seperti pegawai kantor saja. Beberapa mahasiswa mengambil moment dengan tustel masing-masing. Ada yang berpose bergerombol, ada yang sendiri dan ada yang cuma jadi model. Mereka tampak lucu-lucu. Sungguh. Maksudnya katrok dan wagu...
          Waktu menunjukkan jam 08.00. Mereka telah berada di bus masing-masing jurusan. Selanjutnya bus-bus itu melaju berpencar menuju tujuannya masing-masing.
          Jurusan Office Management menuju ke PT. Telkom. Mahasiswa Periklanan berkunjung ke Bisnis Indonesia. Kalau mahsiswa Public Relation (PR) saya lupa ke mana kunjungannya. Tourism berkunjung ke Dinas Pariwisata (Diparta) kota Semarang. Saya ada di jurusan yang terakhir. Kunjungan dijadwalkan mulai pukul 08.00 hingga 10.00 wib.
          Kantor Diparta berada di lantai delapan gedung Pandanaran. Gedung pandanaran ada di jalan Pemuda. Letaknya persis di sebelah utara bundaran Tugu Muda Semarang atau menghadap ke selatan. Di seberang tugu museum Perjuangan berhadapan dengan gedung Pandanaran. Di samping kiri berdiri bangunan kuno Lawang Sewu.
          Kami memasuki gedung itu melewati pintu samping kiri. Lift menuju lantai delapan ada di sana, tepat setelah melewati pintu. Hanya ada dua lift. Di samping kanan lift ada tangga manual. Tapi kami tak mau dengkulnya copot hanya gara-gara naik ke lantai delapan. Kami harus antrean. Ada sekitar 45 orang lebih dari jurusan pariwisata.
          Dengan beralaskan karpet hijau para peserta dan tuan rumah Diparta duduk lesehan. Persis pengajian di kampung-kampung. Suasana kunjungan itu lumayan tenang dan syahdu. Aula “ekslusif” yang dipakai itu adalah mushola kantor Diparta.
          “Kami salah terima informasi,” kata pembicara itu menanggapi kunjungan rombongan kami. Menurutnya kunjungan ini mendadak dan hanya lima orang yang akan datang dalam koordinasi sebelumnya. Ada kesalahan koordinasi, pikir saya.
          Cukup tenang dan berjalan lancar “pengajian” itu. Hanya beberapa orang saja yang mengajukan pertanyaan. Suasana masih tetap sepi hanya terdengar suara pembicara. Setengah jam kemudian peserta tampak berseri dan mulai antusias setelah beberapa penganan kecil plus minuman gelas disuguhkan.
          Musik pop barat mengalun dari komputer kantor. Banyak lampu kantor yang masih menyala. Inpres no.10/tahun 2005 tentang hemat energi yang sudah lama digembar-gemborkan tak berlaku di sana.

* * *

          Rombongan KKL meninggalkan Semarang menuju bali pukul 11:30 wib. Sambil makan siang di bus rombongan melaju melewati jalur pantai utara Jawa. Kota Demak, Kudus, Pati, Rembang, Lasem dan berhenti di kota Tuban untuk makan malam.
          Rumah makan itu terletak di pinggir pantai. Suasananya tenang. Pukul 18.30 rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Melalui kota-kota di Jawa Timur yaitu Gresik, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, dan Situbondo, akhirnya rombongan tiba di Banyuwangi sekitar pukul 03.00 dini hari. Jam masih menggunakan setting-an wib. Kurang lebih setengah jam rombongan menunggu di pelabuhan ketapang untuk menyebrang ke pelabuhan Gilimanuk, Bali.
          Tiba di Gilimanuk pukul 06.00 WIT. Restoran Soka Indah yang di pinggir pantai itu menjadi tujuan selanjutnya. Di sana rombongan makan pagi dan membersihkan diri. Pagi itu waktu menunjukkan pukul 08.30 WIT. Bus bertolak ke lokasi berikutnya.
          Sebelum tiba di tempat tujuan, bus sempat berhenti di tengah perjalanan. Dua orang naik masing-masing dari pintu depan dan belakang. Seorang yang di depan langsung memegang mike. “Perkenalkan nama saya I Nyoman Made Triasa. Panggil saja Beli Nyoman,” kata orang berpakaian adat Bali itu. Ucapannya terdengar lucu. Ternyata ia seorang guide.
          “Kalo temen saya itu namanya I Nyoman Juwana. Nah sekarang kita menuju ke Tanjung Benoa,” lanjutnya masih dengan dialek Bali yang kental.
          Tanjung Benoa, pantai berpasir putih. Di sana adalah tempat pusat permainan air. Tiba pukul 12.30 WIT. Rombongan segera disuguhi berbagai macam mainan air. Tarifnya lumayan untuk jatah sebulan. Satu kali jalan ke pulau penyu misalnya dipatok Rp.300.000 per boat. Handoko Sapoetro, mahasiswa Tourism hanya cengar-cengir kecut mendengarnya. Saya merasa iba melihatnya. “Bukannya aku nggak punya duit, tapi aku pikir ini sudah tak sesuai dengan konsep awal KKL,” ucapnya membela diri dengan alasan menimpali tarif mainan itu kepada saya.
          Ada banyak mainan terdapat di sana. Ada para sailing, banana boat dan jet ski. Ada penyeberangan ke Pulau Penyu untuk menikmati pemandangan di penangkaran penyu hijau dan suaka burung. Tapi siang itu hanya beberapa orang saja yang bermain. Sepi sekali.
          Usai makan siang rombongan menuju pusat penjualan kaos Joger. Kaos dan pabrik kata-kata khas bali yang hanya buka di Kuta, Bali. Tempatnya ramai. Ukurannya kira-kira 15x10 meter. Banyak souvenir mulai dari kaos, mug, dan aksesoris lainnya. Pengunjung yang masuk akan ditempeli stiker joger di bajunya. Saya juga dapat satu. “Good morning, slamat pagi,” suara speaker di dalam ruangan sana menyalami. Padahal waktu menunjukkan jam 4 sore.
          Selepas dari kios joger rombongan pergi menikmati matahari terbenam di pantai Kuta. Sekarang keadaannya tak seramai dulu. Mungkin ada travel warning dari negara-negara barat untuk warganya.
          Selanjutnya rombongan menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang menjadi Landmark Bali. Di sana ada patung Dewa Wisnu dan patung Garuda Kencana. Tempat Garuda Kencananya mirip Grand Canyon, dengan bukit-bukit yang dipotong membentuk balok-balok raksasa. Tanahnya luas dan rata. Di depan patung garuda terhampar sebuah panggung. “Ini untuk tempat pertunjukan,” kata guide yang lain.
          Kemudian rombongan menuju hotel untuk check in, makan malam dan beristirahat.

* * *


          Tanggal 21-7-05, rombongan Tourism melakukan kunjungan KKL di bandara internasional Ngurah Rai. Hampir menunggu satu jam di kantor. Lagi-lagi ada kesalahan koordinasi. Akhirnya rombongan diterima langsung di bandara. Materinya tentang prosedur orang mau naik pesawat. Rombongan diajak keliling bandara.
          Dari Ngurah Rai dilanjutkan menuju pusat oleh-oleh Cah Ayu di kawasan Batu Bulan. Di sini pusat oleh-oleh kue. Saya jadi teringat cerita beli Nyoman tentang kue di sana. Di Bali ada kue namanya Gember. Rasanya manis. Dibungkus dari daun jagung. Kalau di jual dan dipajang itu namanya kue Gember. Kalau dibeli itu namanya Kueku. Kalau tak jadi dibeli namanya Kuemu. Saya jadi senyam-senyum. “kok bisa ya, lucu,” gumamku. Tapi saya tak jadi membelinya. Saya harus mematuhi instruksi presiden nomor 10 tahun 2005 tentang hemat energi (apa hubungannya? . . . ya kalo “bahan bakar” kering jangan-jangan saya nggak bisa makan ya . . . hahahaha ).
          Selanjutnya diteruskan ke Sokawati. Pasar khas dan beberapa cinderamata khas Bali ada di sana.
          Pukul 13.00 WIT perjalanan dilanjutkan menuju Kintamani untuk makan siang sambil menikmati pemandangan danau Batur dari atas. Usai makan siang rombongan menuju pantai Sanur kemudian kembali ke hotel untuk makan malam.
          Tanggal 22-7-05, rombongan bersiap untuk check out setelah sebelumnya makan pagi. Lantas menuju objek wisata Tanah Lot dengan pesona pura di atas batu karang. Kian lama ombaknya semakin menggunung. Peringatan penjaga pantai sering terdengar. “priiiiiiiittt....... priiiiiiiitttttt,”suara peluit penjaga pantai. Handoko, penerima MURI rambut terkeriting award tak merasa dirinya ditegur setelah sekian menit berburu ombak bersama saya.
          Pukul 10.30 rombongan menuju danau Bedugul. Airnya tenang dan hawanya sejuk khas pegunungan. Rombongan juga menikmati santap siang di restoran kawasan ini. Seusai dari danau Bedugul, rombongan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Gilimanuk untuk kembali ke Semarang. Dan tiba di Semarang pada Sabtu pagi.

Bener-bener pusing . . .

Saya tak tahu kenapa kepala ini semakin tak karuan. Untuk melihat ke depan saja mata saya tak sanggup, tapi ya saya masih juga menulis di blog. Tadi malam saya sama sekali tak tidur. Saya sendiri tak tahu kenapa saya selalu tak bisa tidur. Saya kena insomnia-kah? Teman-teman saya menyarankan untuk pergi ke dokter, tapi sampai saat ini saya tak pergi ke mana-mana.

Dulu saya pernah kepenginan minum obat tidur. Tapi saya hanya minum obat yang ditawarkan di tv-tv. Kalau tidak salah namanya obat Lelap. Saya meminumnya dan tak ada perubahan sama sekali. Hebat ya sakit saya, pikir saya. Saya sih belum berani minum obat tidur beneran. Rada takut ketagihan ntar saya bisa sakau, kayak orang kena narkoba itu.

Eh siang-siang seperti ini saya malah nongkrong di warnet. Padahal kepala rasanya pengin pecah, kalau saya sih kepala saya jangan sampai pecah. Sudah dulu ah saya mau pulang. Tidur nyenyak kepenginnya sih.


Tuesday, June 28, 2005
11:20 AM

Sunday, August 14, 2005

My sadness . . . . . .


photographs for TIME by Kemal Jufri/IMAJI
Desperate to get out, the people on this truck waited four hours before their flight to safety began. About 30,000 people were eventually shipped out of Borneo...



Photographs for TIME by Kemal Jufri/IMAJI

Madurese refugees in Sampit rely on small handouts of food donated by private groups. For now, the killings may have halted; yet fear is still very much in the air.





=======================


All the photographs below belongs to James Nachtwey.

SoutH AfRiCa 1gg2

SoutH AfRiCa 1gg2



Southern Sudan 1gg3

Southern Sudan 1gg3



photo by James Nachtwey

Zimbabwe, 2000.
In a tuberculosis ward where the great majority of the patients suffer from AIDS




Koso\/o 1ggg

KosoVo 1999



RoMaNia 1ggo

RoMaNia 1ggo


Somalia 1gg2

SomaLia 1gg2






CHeCHNYa 1gg6

CHeCHNYa 1gg6


Czechoslovakia 1gg0

Czechoslovakia 1990


iNd0N3sia 1ggg

Indonesia 1996

Kawan mlc, Multi Language Center, Undip


Sama tmn2 MLC (Multi Language Center) Undip 2002. Dika, Icha [Mirza], Nungki, Rhosna, Puput dan Nunung. Sekarang mereka berpencar entah dimana.