Friday, April 01, 2005

Menyapa Sapardi Lewat Karya

Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Siapa Bertanya?Ada kursi
goyang dan koran pagi, di samping kopi. Huruf, seperti biasa
nya, bertebaran di halaman-halaman di bawah matamu, kau
kumpulkan dengan sabar, kausulap menjadi berita. Dingin pagi
memungut berita demi berita menyebarkannya di ruang duduk
rumahmu dan meluap sampai ke jalan raya. Ada berita apa hari
ini, Den Sastro? Kau masih bergoyang di kursimu ntar tidur
dan jaga, antara cerita yang menyelusuri lorong-lorong otakmu dan
berita yang kaukumpulkan dari huruf-huruf yang berserakan itu.

Sudah sejak lama cahaya pagi yang kaki-kakinya telanjang tidak
pernah lagi menyapamu Selamat Pagi; ia hanya berjalan -jalan di
depan rumahmu, tak dipahaminya timbunan huruf itu. Kausak-
sikan ia mengangguk kepada setiap orang yang lewat di muka
jendelamu Aneh, jendela bisa memandang ke dalam dan keluar
sekaligus. Kau tak pernah bisa memandang ke ke dalam dan
hanya bisa melihat huruf-huruf yang susul menyusul di koran
pagi, yang harus kaubujuk terlebih dahulu agar menjadi berita.

Ada berita apa hari ini, Den sastro? Suara itu sejak lama tidak
lagi terasa mengganggu, tidak lagi menimbang-nimbang apalagi yang
seharusnya terjadi, tidak lagi meragukan apa yang telah menjadi
berita, tidak lagi memaksamu kembali ke masa ketika kau suka
mendengar gemerincing uang logam dan seberkas kunci nenekmu.

Puisi itu adalah bagian pertama dari sembilan bagian puisinya yang berjudul “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” Puisi yang berstruktur mirip prosa ini termasuk dalam kumpulan puisi terbarunya yang juga berjudul sama dengan puisi di atas; “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?”
Dalam puisi itu, Sapardi memaparkan kehidupan seorang pria bernama Den Sastro yang dulunya adalah seorang wartawan, seorang “penyulap huruf menjadi berita” yang usianya makin menua. Ia tak bisa lagi menulis berita kecuali menghabiskan hari dengan duduk di kursi goyang, menikmati kopi, serta koran pagi. Meski demikian, Sapardi memberitahu kita bahwa Den Sastro adalah seorang idealis, atau tepatnya seorang yang berprinsip teguh. Ia tak mau menulis bukan karena sudah tak mampu, melainkan karena ia tak suka menulis menurut kehendak penguasa.
Sikap Den Sastro ini jelas menjadi kritik terbuka bagi insan pers Indonesia. Kritik dari Sapardi terhadap sebagian insan pers Indonesia yang memilih menghamba pada Penguasa, bukan pada kebenaran. Di puisi bagian pertama, keempat, keenam, serta ketujuh tampak jelas kritikan Sapardi dengan menggambarkan betapa tulisan seorang Den Sastro harus terbungkam karena adanya tangan-tangan penguasa.
Padahal, ia sebenarnya bukan orang yang suka menerka-nerka huruf-huruf menjadi berita. Dan itu, menyebabkan hati dan idealismenya sebagai penulis seolah-olah mati. Ia menyebutkan “tidak lagi menimbang-nimbang apalagi yang seharusnya terjadi, tidak lagi meragukan apa yang seharusnya menjadi berita, tidak lagi memaksamu kembali ke masa ketika kau suka mendengar gerincing uang logam…” dalam puisi bagian pertama (Sapardi Djoko Damono: 2002:1) serta ”Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Sudah berserakan lagi huruf-huruf yang bersikeras tidak mau kembali ke suara itu, yang tidak mau menyatu dengan teriakan ,gurauan, dan percakapan itu.”dalam puisi bagian ketujuh (Sapardi Djoko Damono, 2002:7)
Karena itulah, Den Sastro lebih memilih mengisi hidupnya di dalam rumah, di kursi goyangnya, ditemani secangkir kopi, dan memandang orang-orang lalu lalang dari jendela dalam rumahnya.
Sapardi Djoko Damono adalah seorang sastrawan kelahiran 20 Maret , 64 tahun silam. Sastrawan kelahiran Solo ini telah menulis puisi sejak masa SMA. Ketika menempuh studi di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, ia aktif dalam berbagai kegiatan seni seperti baca puisi, diskusi sastra, siaran sastra di RRI Yogyakarta dan Surakarta, bermain dan menyutradarai teater, serta bermain musik.
Publikasi karya-karyanya diawali di Tabloid Pos Minggu pada tahun 1957. Berikutnya sajak-sajaknya muncul di berbagai majalah seperti Merdeka (Jakarta), Mimbar Indonesia (Jakarta), Konfrontasi (Jakarta), Budaja (Yogyakarta), Basis (Yogyakarta), Budaya Jaya (Jakarta), Gelora (Surabaya), Horison (Jakarta). Sampai saat ini ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi, cerita pendek, kumpulan esai, dan buku pegangan penelitian.
Sapardi Djoko Damono tergolong sastrawan angkatan ’66. Ia lulus dari Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada tahun 1964. Setelah lulus ia langsung mengajar di IKIP Malang cabang Madiun selama empat tahun (1964-1968). Pada tahun 1968 ia menerbitkan karyanya yang pertama berupa kumpulan sajak berjudul DukaMu Abadi.
Sebelum itu, ia telah banyak menghasilkan karya puisi yang dimuat di berbagai media. Misalnya pada tahun 1958, semasa ia menjadi mahasiswa, puisinya yang berjudul “Tjerita Burung Merdeka” (No. 11, April 1958) dan “Tamu Malam Natal” telah dimuat di Mimbar Indonesia (No. 13, 24 Desember 1959). Selain itu, ia juga telah menghasilkan 21 buah puisi yang dimuat di majalah-majalah kenamaan lainnya seperti Konfrontasi, Merdeka, dan Widjaja.
Puncaknya, pada tahun 1963, ia menulis puisi balada berjudul “Ballada Matinya seorang Pemberontak.” Puisi inilah yang melambungkan namanya setelah memenangkan hadiah Pertama Majalah Basis.
Setelah berhenti mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, ia mengajar di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (1968-1974), ia sempat memperdalam pengetahuan kesusastraannya dengan mengikuti Non-degree program di Universitas Hawaii, Honolulu, AS (1970-1971). Ia pindah mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak tahun 1975, sampai saat ini. Di sana, ia sempat menduduki posisi puncak sebagai Dekan Fakultas Ilmu sastra tahun 1995-1999
Pada tahun 1989, ia menerima gelar Doktor ilmu sastra dari Universitas Indonesia. Kini ia menjadi Guru Besar di Fakultas Ilmu Sastra dan Kebudayaan di Universitas Indonesia. Ia juga menjadi dosen luar biasa di Program S2 Fakultas Sastra Universitas Diponegoro yang baru awal Maret 2003 lalu dibuka. Sebagai dosen luar biasa ia mengajar mata kuliah Sastra dunia serta Sosioliogi Sastra tahun ajaran lalu, sedang untuk tahun ajaran baru ini ia akan membimbing penulisan tesis mahasiswanya.
Sapardi merupakan tokoh sastra yang pertama kali secara nyata memperkenalkan teori kritik sosiologi sastra di Indonesia dengan menerbitkan buku berjudul Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1977). Dalam buku itu ia mengemukakan hubungan antara sastra, sastrawan, dan masyarakat yang bersifat timbal balik yang menimbulkan pertanyaan utama dalam lingkup sosiologi sastra. Diantaranya pertanyaan itu adalah apakah latar belakang pengarang menentukan isi karyanya?, apakah dalam karya-karyanya si pengarang mewakili golongannya?, apakah karya sastra yang digemari masyarakat sudah dengan sendirinya bermutu tinggi, dan lain sebagainya.
Sebagai seorang sastrawan, perjalanan hidup Sapardi dipenuhi dengan karya sastra. Puisi-puisi karyanya biasanya penuh imaji yang menekankan pada makna kata-katanya. Kini, di usia senja sekalipun, ia masih giat menulis cerpen atau prosa yang dipublikasikan di berbagai media massa. Ia juga sering menulis kritik sastra, dan sering diminta menjadi juri lomba-lomba penulisan Karya sastra dan novel yang bersifat nasional.
Beberapa karyanya memperoleh penghargaan nasional maupun internasional. Kumpulan sajaknya setelah Duka-Mu Abadi pada tahun 1974 adalah Mata Pisau dan Akuarium. Kumpulan sajaknya yang lain, Perahu Kertas (1983), diterbitkan oleh Balai pustaka dan menerima hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 1983. Pada tahun berikutnya, kumpulan sajak Sihir Hujan diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur dan menerima Anugerah Puisi Putera dari Malaysia 1983. Penghargaan lainnya yaitu Hadiah Sastra ASEAN (1986), Hadiah Seni dari pemerintah RI (1990). Buku puisi Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? di atas termasuk dalam 5 karya terbaik Anugerah Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award) 2002-2003.
Pada tahun 1986 sejumlah sajak dan esainya diterjemahkan di Jepang sebagai salah satu penerbitan sastra dunia. Yayasan Lontar pada 1988 menerbitkan Suddenly The Night yang merupakan terjemahan sejumlah karya Sapardi dalam bahasa Inggris yang dikerjakan oleh John H MacGlynn. Tak hanya bahasa Inggris, sajak-sajaknya juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Belanda, Cina, Perancis, Urdu, Hindi, Jerman, dan Arab.
Sapardi juga menulis buku-buku nonfiksi yang diantaranya berjudul Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979) Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1982), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999); Sihir Rendra:Permainan Makna (1999); Direktori Lembaga-lembaga Kesenian Jakarta di Indonesia (1999), Priyayi Abangan (2000).
Ia juga banyak menerjemahkan karya sastra-karya sastra terbitan luar negri. Terjemahannya antara lain: Lelaki tua dan Laut (Novel Hemingway, 1973), Puisi Brazilia Modern (kumpulan sajak,1973), Daisy Manis (Novel Henry James,1975), Sepilihan Sajak george Seferis (kumpulan sajak,1975), Puisi Klasik Cina (kumpulan puisi, 1976), Lirik Klasik Parsi (kumpulan puisi,1977), Kisah-kisah Sufi (Karya Idries Shah, 1986), dan Afrika yang Resah (Karya Okot p’Bitek, 1988), drama trilogi o’Neill Mourning becomes Electra (Dukacita Bagi elektra); Drama puisi T.S Eliot Murder in the Cathedral (Pembunuhan di Katedral). Karya John Steinbeck yang berjudul The Grapes of Wrath ( Shakuntala, Amarah)-mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai terjemahan terbaik tahun 2000.
Tak cukup dengan itu, Sapardi juga menjadi editor beberapa buku yakni diantaranya: Tifa Budaya (bersama Kasijanto, 1981), Seni dalam Masyarakat Indonesia (bersama Edi Sedyowati, 1983), dan HB Jassin 70 tahun (1987).
Karyanya yang terakhir adalah Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro 2002 (puisi); Mata Jendela, 2001 (puisi); Pengarang Telah mati, 2001 (fiksi); Ayat-ayat Api, 2000 (puisi),.Yang terbaru darinya adalah Kumpulan Cerpen Membunuh Orang Gila (2003)., serta novel Duong thu huong , Novel Without Name (Novel Tanpa Nama), 2003.Saat ini sedang menerjemahkan novel Duong thu huong, Paradise of the Blind, yang akan diterbitkan oleh IndonesiaTera 2004 ini. Selain itu pula ia bersama beberapa rekannya di UI ia menerjemahkan karya Annemarie Schimmel Mystical Dimensions Of Islam (Dimensi Mistik dalam Islam) di samping membantu ali Audah menerjemahkan tafsir Quran Karya Yusuf Ali.
Tetapi selain menjadi sastrawan dan mengajar ia juga telah terlibat dalam keredaksian sejumlah majalah sastra dan kebudayaan semenjak masih mahasiswa, seperti Basis (1964-1970), Horison (1973-1993), Kalam (1993-sekarang), dan puisi (1998-sekarang); country editor untuk Tenggara, Jurnal of South-east Asian Literature, Kuala Lumpur (1976-1980) dan contributing editor untuk Indonesia circle; SOAS , University of London (1991-1995). Ia juga sering diundang dalam kegiatan kesastraan di beberapa negara di Amerika, Asia, Australia, dan Eropa.
Sastrawan Sapardi Djoko Darmono dinilai telah memberi sumbangan besar di bidang kesusastraan lewat karya dan pengabdiannya. Karena itu jangan heran jika pada tanggal 13 agustus 2003 lalu, Ia memperoleh Penghargaan Achmad Bakrie Award.***

Kopeng, 29 Mei 2004 jam 02. 15 WIB.

        Kepulan asap rokok memenuhi ruang wisma Amalgamasi tempat Rapat Kerja Hayamwuruk berlangsung. Handoko, sang pemimpin sidang masih serius memandangi bendelan kertas di depannya. Sesekali ia memperhatikan para peserta rapat yang mulai mengantuk. Memang, malam sudah semakin larut, hampir pagi malah. Meski demikian, seperti malam sebelumnya, sidang Rapat Kerja Hayamwuruk ke-8 masih berlangsung, memaksa kami begadang semalam suntuk.

Hendra, kepala Litbang (kini berstatus alumni Hayamwuruk) meminta waktu untuk berbicara. Dia mengemukakan pendapat tentang kelanjutan penggarapan tabloid Hawepos yang terbit sebulan sekali. Menurutnya antara majalah dan tabloid akan lebih baik jika ditangani oleh keredaksian yang berbeda.

“Lebih baik keredaksian dibagi menjadi dua. Hayamwuruk sendiri dan Hawepos sendiri. Kira-kira berani ngga?” ucap Hendra serius. Usulan ini memicu munculnya banyak tanggapan dari para peserta rapat. Sebagian besar menolak, atau bimbang.

“Kalau tidak dimulai dari sekarang, mau kapan lagi? Justru malah bagus, Hawepos bisa lebih mandiri.” Tambah Hendra.

Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya dicapai kesepakatan bahwa redaksi majalah Hayamwuruk dan Hawepos dipisah. Tetapi keduanya masih satu induk, dibawah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk. Jadi kerja redaksi masing-masing terpisah. Personil Hayamwuruk pun terbagi dua. Di dua keredaksian ini yang tua berlepas, diganti yang muda. Terlebih lagi Hawepos. Tabloid yang sekarang di tangan Anda ini digawangi anak-anak yang baru “kemarin sore” lulus magang.

Meski demikian, keputusan besar sudah disepakati bersama. Mau tak mau kami semua harus siap memikul tanggung jawab yang lebih besar meski kami paham bahwa sebagai pemula, kekurangan dan keterbatasan selalu membayangi kerja kami. Singkat kata, kami harus banyak belajar.

Tapi satu hal yang perlu Anda ketahui, Pembaca, meski harus mempercepat proses, kami tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan Hawepos yang layak baca ke tangan Anda. Perubahan yang kami buat dalam Raker kemarin pun bersemangatkan “demi yang terbaik bagi Pembaca.”

Dengan semangat yang sama, pada tanggal 9 Juli 2004, redaksi tabloid Hawepos menggelar rapat redaksi yang pertama. Untuk edisi perdana ini, kami sepakat mengangkat tema utama yang tentang “pro-kontra kepindahan kampus Sastra ke Tembalang.” Kami memilih tema tersebut karena bagi kami, kepindahan ini adalah perubahan besar yang dampaknya akan dirasakan oleh semua pihak civitas akademika fakultas sastra. Karena itulah kita perlu mengetahui prosesi dan pernik di dalamnya.

Dan setelah melewati berbagai kesialan (data habis termakan virus ketika masih digawangi anak-anak magang 2002-2003) dan terpotong ujian dan libur, tabloid Hawepos akhirnya dapat menjumpai Anda di awal musim kuliah ini. Tak lupa, jika ada banyak kekurangan dalam edisi ini, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya dan siap menerima saran dan kritik berkenaan dengan hal itu.

Akhir kata, selamat membaca.


Pemimpin Redaksi

Antara Pleburan dan Tembalang:

Kisah di Balik Pemindahan Kampus Sastra

Pemindahan lokasi Jurusan Sejarah dan D3 Kearsipan ke Tembalang diwarnai penolakan sebagian dosen Sejarah.

Suatu sore menjelang Maghrib tanggal 21 Agustus 2004. Empat orang mahasiswa bergantian mengambil foto di beberapa lokasi kampus Sastra, Pleburan. Salah satu dari mereka adalah Risda, sang Ketua HMJ Sejarah. Ketika ditanya alasannya, Risda tersenyum lebar.

“Untuk kenang-kenangan. Kan besok Sejarah sudah pindah.”
Ya, mulai September ini, jurusan Sejarah dan D3 Kearsipan memang dipastikan menempati kampus baru Fakultas Sastra di Tembalang.

“.. kita mulai pindah ke sana awal semester depan, berarti bulan September ini. Tapi kita belum bisa menentukan secara pasti tanggalnya, tapi yang jelas bulan September ini kita mulai pindah. Sebagian besar barang- barang, buku-buku, almari juga sudah dibawa ke sana dan ditempatkan di lantai tiga.” jelas pak Singgih, Kajur Sejarah.

Pada awalnya, para “pejabat teras” jurusan-jurusan di Fakultas Sastra diundang Dekan untuk menghadiri rapat di ruang sidang. Agendanya adalah penentuan jurusan yang menempati kampus Tembalang pertama kali. Adegan saling lempar dan saling tunjuk pun terjadi karena hampir semua jurusan keberatan dipindah ke Tembalang. Tapi selanjutnya, jurusan Sejarah dan D3 Kearsipan diputuskan ketiban sampur untuk menghuni kampus Tembalang terlebih dahulu. Dalam rapat itu, para pejabat teras jurusan Sejarah dan D3 Kearsipan menyatakan bersedia pindah ke Tembalang.

Anehnya, meski di forum itu Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. (Ketua Jurusan Sejarah, Red,) menyatakan keputusannya sudah dibahas diinternal jurusan Sejarah, tapi beberapa dosen sejarah menolak keputusan itu dan menganggap bahwa itu belum keputusan akhir.

Setidaknya ada sepuluhan dosen Sejarah yang menolak kepindahan itu. Alasannya bermacam-macam. Mulai dari alasan ilmiah seperti sense of history hingga alasan personal seperti jarak rumah yang jauh dari Tembalang. Sayangnya, ketika dikonfirmasi para dosen tersebut menolak berkomentar lebih jauh. Mereka khawatir akan memperuncing masalah.

Karena merasa terpinggirkan, mereka bersatu mengajukan surat keberatan ke Dekan. Tapi Dekan menolak. Di rapat antar jurusan selanjutnya, perdebatan kembali terjadi.

Kali itu, yang kontra-kepindahan tampil ke muka. Hasilnya, permasalahan internal itu dikembalikan ke jurusan Sejarah. Sementara keputusan rapat tidak berubah. Jadilah jurusan Sejarah dan D3 Kearsipan menjadi penghuni baru kampus Sastra di Tembalang. Dan suara penolakan-penolakan itu berakhir sebagai gerundelan pihak yang kalah.

Menurut Singgih, Ketua Jurusan Sejarah, ada dua alasan pokok mengapa Sejarah dan D3 Kearsipan bersedia menempati gedung baru Sastra di Tembalang lebih dulu. Alasan itu adalah urgensitas dan filosofis. Dari segi urgensinya, menurut Singgih, jurusan Sejarah memang sangat membutuhkan lokasi kantor Jurusan yang lebih luas untuk menyimpan koleksi bahan kuliah dan peralatan mereka.

Maklum, semenjak mendapat dana semique (dana bantuan dari pemerintah yang diperoleh melalui seleksi dan kompetisi), jurusan sejarah memborong perlengkapan dan peralatan baru seperti OHP, komputer, dan buku-buku Sejarah. Namun sayang, menurutnya, kantor jurusan Sejarah terlalu sempit untuk menampung itu semua.

“Kalau barang-barang yang sudah ada ini tidak dipakai kan mubadzir. Lama-lama bisa rusak juga. Nah...kalau di Tembalang kan kita bisa memanfaatkan ruangan di sana. Selain itu, di sana dekat dengan perpustakaan pusat Widya Puraya. Kita bisa lebih mudah mencari buku-buku penunjang perkuliahan.”

Selain alasan kebutuhan, Singgih mengaku memiliki alasan filosofis-agak historis, yaitu jurusan Sejarah adalah salah satu jurusan paling tua di fakultas Sastra. Dan sebagai jurusan tertua, Sejarah diberi kesempatan pertama untuk menempati kampus baru, ditemani dengan program studi D3 Kearsipan yang sebagian besar dosennya adalah dosen Sejarah, masih “seguru”.

Meski demikian, tak semua dosen sependapat dengan Singgih. Seorang dosen sejarah yang enggan disebutkan namanya memberi komentar bahwa kepindahan jurusan ini dirasa kurang tepat. Menurutnya, jurusan sejarah adalah jurusan yang kurang marketable atau kurang diminati. Bila ruang kuliah Sejarah dipindah ke Tembalang yang keadaanya masih sepi dan jauh dari pusat kota, ia khawatir jumlah peminat jurusan ini makin menurun.

“Kita semua tahu kalau jurusan sejarah itu kurang marketable, tetapi kenapa jurusan ini yang disuruh pindah dahulu ke Tembalang. Seperti kelinci percobaan saja.” ungkapnya gusar.

“Sebetulnya kami sangat keberatan apabila harus pindah. Tapi mau bagaimana lagi, keputusan sudah dijatuhkan.” Lanjutnya. Kali ini dengan nada pasrah.

Ia justru menyesalkan sikap mahasiswa yang terkesan diam dan tak responsif alias mlempem. Padahal, menurutnya, mahasiswa adalah unsur terpenting dalam masalah ini.
“Saya yakin pasti banyak juga yang tidak setuju atas kepindahan ini.” ujarnya tegas.

Menanggapi perbedaan itu, dengan tersenyum lebar Singgih berkomentar pendek. “Ya.. yang namanya musyawarah, beda pendapat itu wajar.”

Ia mengaku memang ada beberapa dosen yang menolak kepindahan ini. Menurutnya, alasan utamanya adalah ikatan emosional dengan kampus Pleburan dan alasan jarak, “Karena sudah terbiasa di sini. Kalau harus pindah, mereka merasa keberatan. Dan juga alasan sarana yang ada di sana jelas kurang. Transportasi susah dan jauh dari pusat kota.” jelas Pak Singgih.

Menanggapi usaha para dosen Sejarah kontra-kepindahan untuk membatalkan keputusan itu, ia menjawab enteng, “kalau itu sudah keputusan pimpinan, kita bisa apa?” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan Drs. Djuhar Nur, S.U., Ketua Program Studi D3 Kearsipan. Ia mengakui ada perbedaan pendapat yang terjadi di ruang sidang beberapa waktu yang lalu. Tapi ia menganggapnya wajar. Ia sendiri mengaku menyambut baik kepindahan ke Tembalang. Menurutnya, kampus Pleburan sudah terlalu sempit dan kurang optimal lagi digunakan sebagai sarana pembelajaran oleh ribuan mahasiswa Sastra sekarang.

“Kita di sini merasa sempit. Ibaratnya, dikasih rumah baru yang lebih longgar kan harusnya seneng to...? Saya masih merasa heran sama yang tidak setuju. Saya pikir kalau masalah sarana yang kurang, jauh dari keramaian, transportasi susah, itu bisa diatasi. Sambil berjalan kita bisa melengkapi sarana yang belum ada. Tapi memang harus bertahap. Kita melihat kemampuan yang kita punya, jangan terlalu dipaksakan.” Jelas Djauhar panjang lebar. Tapi jika mau jujur, Djauhar sendiri mengaku sangat berat meninggalkan kampus Pleburan.

“Ada ikatan emosional.” jelasnya pelan. Ketika ditanya alasan mengapa ia malah mendukung kepindahan itu, alasan praktis keluar dari mulutnya, “...kita kan pegawai negeri, harus taat pada pemimpin (Dekan, Red.). Kalau pemimpin sudah memutuskan demikian, mau bagaimana lagi?” katanya dengan nada pasrah.

Dengan nada serupa, Dra. Chusnul Hayati, melontarkan alasan serupa. Semula, ia pribadi kurang sreg dengan kepindahan itu. Meski semula terkesan menghindar ketika dikonfirmasi Hawepos, ia akhirnya memberitahu alasannya berubah sikap.

“Gimana ya, Mbak. Masak dosen yang lain sudah melambaikan tangan tanda setuju, saya kok masih sendirian? Jadi ya saya harus melambaikan tangan juga.” katanya hati-hati.

Tak seperti dosen Sejarah yang menolak kepindahan dengan berani dan kritis, mahasiswa Sejarah ironisnya justru tunduk dan patuh. Tak ada respon berarti dari mahasiswa Sejarah (khususnya) maupun Sastra (umumnya). Padahal, nasib merekalah yang tengah diombang-ambingkan, antara hidup di Tembalang atau di Pleburan, antara dekat dengan pusat kota, atau tersingkirkan.

BEM Sastra dan HMJ Sejarah sendiri tak bersikap atau bersuara. Lebih menyedihkan, Presiden BEM Sastra mengaku tak terlibat (dan melibatkan diri) dalam pengambilan keputusan itu.

“Saya tidak pernah dilibatkan dalam rapat di ruang sidang tentang kepindahan ini. Memang, BEM pernah mengadakan sarasehan tentang kepindahan Sastra ke Tembalang…, tapi tentang pengambilan keputusan di ruang sidang, saya tidak tahu menahu”. aku Oktora Rahmat, mahasiswa Sastra Inggris angkatan ’99, yang juga masih menjabat sebagai presiden BEM Sastra.

Suara-suara penolakan dari pihak mahasiswa hanya terlontar dari mahasiswa senior. Salah satunya adalah Doel, bukan nama sebenarnya, mahasiswa angkatan 1998.

“Tembalang kan jauh dari pusat keilmuan, jurusan sejarah harus banyak mengamati kehidupan sosiologis masyarakat secara langsung, sedangkan Tembalang jauh dari peradaban.” Lebih jauh, ia melihat pemindahan ini adalah sebentuk pemaksaan. Alasannya?

“Saya tak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan kepindahan jurusan sejarah.”
Memang, tak seperti adik kelasnya yang hanya berani menyatakan ‘keberatan’, mahasiswa-mahasiswa “angkatan tua” seperti Doel itulah yang berani menyatakan menolak. Sayangnya, mereka hanya berani berteriak di kos atau di pelataran kampus. Tidak di dalam ruang sidang, ketika dosen Sejarah mengundang mahasiswa membahas kepindahan itu.

“Waktu diundang dalam rapat, mereka (angkatan tua [2000-1998], Red.) tidak datang. Salah sendiri! Yang datang justru anak-anak baru.” kecam Risda, Ketua Jurusan Sejarah.

Dan anak-anak baru itulah yang kemudian bersepakat untuk pindah ke Tembalang. Alasannya sangat sederhana. Mereka dijanjikan akan diberi fasilitas lebih lengkap di Tembalang. Hal itu diketahui dari pengakuan salah satu mahasiswa baru angkatan 2003, sebut saja namanya Andi.

“Awalnya kami tidak mau. Namun dari Ketua Jurusan memberikan jaminan fasilitas yang lebih baik di Tembalang seperti OHP, laboratorium sejarah, dan perpustakan jurusan Sejarah.” jelas Andi.

Mendapati janji demikian, Andi dan kawan-kawannya tergiur, dan akhirnya bersepakat. Sementara itu, Doel dan kawan-kawan seangkatannya, memilih tak berkomentar. Mereka lebih memikirkan nasib sendiri (skripsi yang mulai dan tengah mereka garap).

“Ngga sempet mikir gituan (gerakan atau suara penolakan, Red.), mending mikir skripsi.” tukas Toto, bukan nama sebenarnya, mahasiswa Sejarah ’99 yang tengah merevisi skripsinya. Yang masih getol menolak, belum memikirkan skripsi pun mau tak mau mulai mengalah, “dibereskan” Risda.

“Kini semua sudah beres.” tegas Risda ketika ditanyai tentang sikap para seniornya. Untuk “membereskan” para angkatan tua itu, Risda harus rela mendekati mereka satu persatu. Itu adalah tugas tambahan buatnya selain harus mengurusi ruang sekretariat yang belum juga dialokasikan di lokal kampus Tembalang. Maklum, student centre/ Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) memang belum dialokasikan di kampus Sastra Tembalang.

“Kalau sekretariat HMJ masih tetap dipusatkan di sini (Pleburan, Red.). Sebab mahasiswa paling menggunakan sekretariat kalau mau mengadakan kegiatan saja. Jadi tidak setiap hari mereka menempati sekre HMJ.” Jelas Drs, Mulyono, M. Hum., Pembantu Dekan III.

Di tahun ajaran baru ini, mahasiswa Sejarah dan D3 Kearsipan dipastikan memulai perkuliahan di kampus Tembalang, meninggalkan kampus Pleburan, yang sebenarnya merupakan situs sejarah. Memang, gedung berarsitektur Belanda yang mirip SD inpres ini masuk dalam daftar Benda Cagar Budaya yang harus dilindungi dan dihargai.

“Bangunan yang berada di sekitar Simpang Lima termasuk gedung sastra adalah cagar budaya yang harus dijaga. Oleh karena itu walaupun bangunan sudah reot tapi tidak akan direnovasi, akan tetap dipertahankan bentuknya.” Jelas Dekan Sastra, Prof. Dr. Th. Sri Rahayu Prihatmi, M.A., ketika dikonfirmasi mengenai hal itu.

Bangunan bernilai sejarah inilah yang telah lebih dari dua puluh tahun ditempati para dosen sastra untuk berkarya. Di gedung mirip SD Inpres-tapi rindang dan nyaman-inilah mereka melakukan proses pengembangan dan transfer ilmu. Selama itu juga, sebutan ‘kampus rakyat’ tersemat baginya akibat kekritisan anak didiknya yang “menggeliat” ditempa keadaan dan situasi.

Namun, beberapa tahun lagi, gedung bersejarah itu dipastikan hanya akan ditempati mahasiswa S1 Ekstensi dan D3 Inggris. Sementara sebagian besar mahasiswa lainnya (terutama S1 reguler, yang sering diidentikkan sebagai sumber mahasiswa berpotensial dan kritis) harus hijrah ke Tembalang, .

Ironis, memang. Jika kampus Pleburan tak boleh diubah bangunannya karena alasan sejarah, ternyata dengan alasan (klaim) sejarah juga, Singgih dan para pucuk pimpinan Sejarah sepakat meninggalkan tempat bersejarah ini, menuju “dunia lain” yang sepi dan terasing.***